image
Login / Sign Up

Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Maidian Reviani

Juru Pijat

Image

Tunanetra bernama Martini dan Maimunah dan anggota paguyuban lainnya | AKURAT.CO/Siswanto

AKURAT.CO Acara arisan anggota Paguyuban Tunanetra Pondok Gede yang berlangsung di Bumi Mutiara, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, siang itu, penuh canda tawa. Kegiatan itu diadakan di rumah anggota, pasangan suami istri Subakat dan Yani.

Setelah doa-doa selesai, dilanjutkan dengan kata sambutan dari tuan rumah. Rangkaian acara berikutnya sambutan lagi dari Soleh yang sudah dianggap sebagai sesepuh.

Soleh mengapresiasi terselenggaranya arisan pada bulan Maret 2019 ini, meskipun tidak semua anggota paguyuban bisa hadir.

baca juga:

“Walaupun bingung, keder, tapi hari ini kita tetap bisa ketemu.”

Tunanetra Titik, Saleh. AKURAT.CO/Siswanto

Ibu-ibu tunanetra yang kumpul di ruang tengah sesekali cekikikan kalau mendengar kalimat lucu terlontar dari sambutan Soleh.

Usai Soleh menyampaikan sambutan, acara dilanjutkan lagi dengan sambutan dari tokoh tunanetra yang lain. Baru kemudian, setelah sebagian orang di dalam ruangan itu keringatan karena kipas anginnya berukuran kecil, sementara yang hadir ada belasan orang, pengocokan kertas arisan dimulai.

“Kocok, kocok.”

Tapi, pengocokan tak kunjung dimulai. Rupanya, kertas dan wadah untuk mengocok nama anggota paguyuban masih di tas tunanetra yang ketika itu duduk-duduk di teras.

Dia pun dipanggil ramai-ramai.

Lintingan kertas yang diambil dari wadah dibaca-baca beberapa orang untuk memastikannya. Nama Iswanto yang siang itu beruntung. Tapi, Iswanto sedang dagang kerupuk. Dia tidak bisa hadir. Tapi tidak masalah, aturannya siapapun yang nama nya muncul berhak untuk mendapatkan uang arisan.

Tunanetra. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Acara arisan berlangsung singkat dan lancar. Kemudian acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan diakhiri makan-makan dengan menu sederhana.

Usai makan-makan, mereka ngobrol-ngobrol. Menurut Soleh, arisan ini diadakan sebulan sekali. Tempatnya pindah-pindah, dari satu rumah anggota ke anggota yang lain.

“Ini buat menghibur, kumpul-kumpul, sekaligus mengikat persaudaraan,” kata Soleh.

“Juga buat menopang pendapatan, buat bayar kontrakan,” Yani menambahkan.

Tak ada sekat apapun, ketika saya ikut nimbrung di tengah-tengah mereka. Semua orang welcome, meskipun saya orang baru di lingkungan itu.

Titik Purwati (61) merupakan salah satu tunanetra yang siang itu menceritakan pengalaman pernah menjadi korban kriminal yang dilakukan oleh pasien di panti daerah Molek, Lubang Buaya, Pondok Gede. Dengan nada suara tenang, ibu dari empat orang anak dan tujuh cucu itu berkisah.

“Saya pernah kayak dihipnotis di kontrakan. Ceritanyakan ada ibu-ibu datang untuk urut. Dia bawa tas gede. Lha terus, pas urut, cerita macem-macem. Awalnya dia cerita gini, sekarang nabung di bank itu mulai nggak nyaman yo, gitu. Kalau gini, enaknya sekarang nyelengi dewe. Saya jawab dengan bilang begini, nabung di bank biasa aja sih, aman aja sih,” kata Titik yang sudah menjadi pemijat sejak 1973.

Tunanetra Titik Purwati dan Yani. AKURAT.CO/Siswanto

“Tapi kan banyak yang kebobolan, dia bilang gitu kan. Mendingan nyelengi di rumah aja bu,” kata Titik menirukan pelaku. Waktu itu, dia belum sadar kalau sebenarnya pasiennya sedang memancing-mancing informasi tempat penyimpanan uang.

“Kalau aku sih terus terang yo. Di rumah ada, di sono ada. Aku bilang gitu,” kata Titik sambil ketawa.

Waktu itu, Titik sama sekali tidak menaruh curiga karena pembawaan dan aroma perempuan itu bagi dia amat meyakinkan.

“Orangnya itu bau wangi banget lho, mbak. Tiga hari itu minyak wanginya nggak ilang,” katanya kepada Yani yang duduk di sebelahnya.

Ketika Yani bercerita, sebagian orang di dalam rumah Bakat mendengarkan dengan antusias. “O itu kali yang hipnosis,” kata Yani yang sejak tadi menimpali cerita Titik. “Nah itu,” kata Titik.

Titik melanjutkan cerita. Pelaku terus menerus menggali informasi dari Titik. “Kalau gitu ibu yang hati-hati, kalau naruh celengan. Jangan sampai anaknya tahu, nanti malah diambil anaknya. Dia bilang gitu, pokoknya mancing-mancing,” kata Titik sambil ketawa.

“Pokoknya ibu hati-hati. Sayang, kalau misalnya ini. Sekarang ibu punya celengan?” pelaku mulai mendesak.

“Ya punyalah, aku yo bilang gitu.” Titik terpancing. Sambil cerita itu, dia kembali ketawa.

“Dimana bu,” kata pelaku.

Waktu itu, Titik tidak menyebutkan tempat penyimpanan uang dan perhiasan. Kemudian, pasien bicara berbagai macam hal yang intinya dia ingin Titik ceritakan tempat harta karun. Dia bicara, antara lain tentang rencana ingin menyumbangkan baju daster sampai ingin mempromosikan jasa pijat Titik.

“Nah, selesai ngurut. Ngasih uang Rp100 ribuan. Nih bu, kembaliin Rp50 ribuan. Lha aku ini biasanya nggak pernah ngembaliin pas ada orang di situ. Lha duit itu di kamar itu dan orangnya kok yo ora metu, itu lho. Padahal celengan itu rencananya mau tak buka, mau tak masukin bank. Terus keburu ada orang ngurut itu.”

“Lha aku tuh kok yo ora ngeh, pas ngambil jujulan, lemariku digeser-geser gitu. Lha dia jongkok-jongkok itu, lha celengan itu nongol di lemari. Biasanya itu tak taruh tas. Lha itu kok enggak,” kata Titik.

“Duitnya berapa,” kata Yani.

“Yo nggak tahu, pokoknya isinya cepekan dan Rp50 ribuan doang mbak,” kata Titik.

“Nah, waktu itu ya saya kembalikan Rp50 ribu. Orangnya baik, ya pamit. Pamitan juga sama anakku. Waktu itu yo ada bocah-bocah. Pada ketiduran, lho,” kata Titik.

“Lha itu, disirep,” kata Yani.

“Wanginya, bener-bener wangi. Waktu itu, aku sampai ngomong ke dia. Bu, parfummu wangi banget sih,” kata Titik kepada pelaku sebelum pergi ketika itu.

“Moso sih,” jawab pelaku.

“Ini minyak wangi harga jutaan ya,” kata Titik.

“Oh iya, ibu nggak salah tuh. Minyak wangi beli dari Paris,” kata perempuan tak dikenal itu.

Setelah perempuan jahat itu pergi, Titik baru tersadar setelah anaknya minta uang.

“Aku langsung tratap. Lha kok celenganku nggak ada yo. Celenganku kemana ya. Aku nangis segelem-geleme dewe,” kata Titik.

“Uang di celengan, duit yang di dompet, dibawa juga dompetnya. Ada cincinlah, ada. Pokoknya jumlahnya berapa nggak tahu. Ilang semua itu,” katanya.

Kejadian itu benar-benar membuat Titik trauma. Trauma itu sampai berlangsung lama. Sampai-sampai setiap kali menerima tamu, apalagi perempuan, dia selalu kepikiran yang tidak-tidak.

Cerita Titik rupanya memancing tunanetra yang hadir di rumah Subakat ikut meneritkan pengalaman pahit.

“Saya juga pernah, radio dibawa lari,” kata Yani. “Waktu itu, katanya pelaku mau manggil, eh baru ditinggal ganti baju, eh, radio dibawa lari.”

“Kalau yang kecil-kecil itu banyak, kalau radio-radio gitu, waktu masih di Tebet, saya juga sering. Duit juga sering,” Titik menimpali.

Titik punya pengalaman yang juga susah dilupakan sampai sekarang. Suatu kali, dia kedatangan orang yang katanya ingin dipijat. Seperti biasa, sebelum berangkat memijat, dia minta tamu untuk menunggu dulu sampai ranjang untuk memijat selesai dirapikan.

“Lucunya pelaku sudah kerjasama dengan temannya, yang satu bilang mau manggil, tar sini rapi-rapi, yang satu operasi. Tar terus ngomong tunggu dulu ya, anunya udah datang, bawa mobil, terus dia kabur karena udah dapat (barang curian). Padahal dia gak bawa mobil sebenarnya. Banyak kayak gitu, aku udah kenyang ngadepin yang seprti itu.”

Meski sudah berkali-kali menjadi korban kejahatan, Titik tidak pernah membuat laporan ke kantor polisi. Dia pesimistis duluan.

“Nggaklah, percumalah lapor. Nggak ada ininya. Kan nggak bisa ngelihatin ciri-cirinya kayak apa, ininya kayaka apa. Nggak bisa bayar, kalau nggak bayar kan nggak bakalan bisa diurut, kan. Nah itu makanya,” katanya.

Menurut Yani panti pijat di Jakarta dan sekitarnya sering dijadikan sasaran empuk penjahat. “Rawan.” Yani punya teman bernama Rubiono yang juga pernah menjadi korban kriminal setelah mendapat arisan sebesar Rp2,5 juta.

Tunanetra bernama Maimunah. AKURAT.CO/Siswanto

“Pelakunya datang untuk minta pijat. Setelah itu numpang salat. Eh tahunya, ngambil ponsel,” katanya.

Sambil ngakak, Titik kembali cerita pengalaman tahun 1991. Suatu kali, dia bersama cucu-cucunya membeli sate. Dasar bocah, mereka bermain terus dan berisik di sekitar gerobak sate.

“Aku geregeten. Tak jewerin semua. Tak tahunya yang tak jewerin sapa, tukang satenya. Dia (tukan sate) sampai bilang, ini aku bu. Sori yo mas, sori yo mas. Saya inget aja cerita itu sampai sekarang,” katanya.

Yani juga punya pengalaman mengesankan, salah satunya ketika dia bersama suami, Subakat, masih mencari pasien dengan cara keliling.

“Cerita lucu yang menggelikan sih banyak mas. Masuk got bareng-bareng, yo pernah. Itu waktu masih zaman keliling sama bapake,” kata dia.

“Bapake Fajar (anak pasangan Subakat dan Yani) itu pernah, keliling udah nggak dapat pelanggan, eh malah dikejar anjing. Mlayu-mlayu, terus mentok, ternyata ke sana mentok, ke sini mentok, akhirnya jongkok ae neng ngarep pintu. Terus yang punya anjing lagi metu. Itu sih sering.”

Titik mengatakan juga sering masuk got. Dia pernah masuk got ketika sedang menggendong anak.

Hampir semua tunanetra yang saya temui di rumah Subakat pernah menjadi korban kejahatan. Di depan Titik, duduk seorang ibu bernama Maimunah. Maimunah selain memijat, nyambi jualan parfum.

“Saya sering dibohongi orang, pernah ada orang datang mau ngegadein barang. Saya kasih duit, tak taunya pas dicek ke toko mas, bukannya barang. Bukan asli, maksudnya bukan emas asli. Saya mah sering dibohongi,” kata dia. “Udah nggak kaget.”

Suatu hari, Maimunah mengajak anaknya pergi ke toko emas. Ketika hendak menyeberang jalan, tiba-tiba seorang lelaki datang dan menawarkan bantuan. Belakangan, pria yang berlagak menjadi orang baik itu ternyata bandit.

“Waktu ditanyain orang itu, saya bilang mau ke Matahari,” kata dia.

Pada waktu menyeberang jalan, pria itu berusaha merangkul Maimunah. Dia tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi.

“Dalam hati gua, nih orang kok udah kayak saudaranya aja yak. Sampai ngrangkul-ngrangkul. Ya mungkin waktu itu kesempatan. Waktu itu saya naruh dompet di sebelah kiri.

Tapi saya nggak terasa dompet diambil dan dikembalikan. Heran kan. Waktu itu pikiran saya tenang aja, namanya ditolongi. Nggak curiga.”

Sesampai di seberang jalan, Maimunah diajak keliling dulu oleh pria itu.

Tunanetra bernama Maimunah dan Martini. AKURAT.CO/Siswanto

“Waktu itu saya diajak muter-muter dulu, ke toilet. Kok saya diajak ke tempat sepi mas. Iya, sini enak, kata pelaku,” katanya.

Sampai akhirnya, pria itu pergi. Maimunah dan anaknya melanjutkan perjalanan ke toko emas. Dia baru sadar jadi korban kejahatan setelah sampai ke toko untuk tukar tambah anting anaknya yang patah sebelah.

“Eh, pas saya periksa dompet, tinggal KTP doang. Duit kagak ada. Saya bingung aja. Ditanya satpam, saya bilang inalilahi. Kenapa bu, saya cerita aja tadi abis ditolongin orang , diseberangi, eh tak tahunya uang diambil.”

“Tapi alhamdulillah, Allah memang maha adil. Waktu itu, saya baru dapat arisan Rp1,5 juta. Saya bawa duitnya cuma Rp200 ribu. Coba kalau misal saya bawa semua. Pingsan gua di situ. Itu tahun 1999 di pasar perumnas Klender.”

Umumnya, tunanetra yang saya temui hari itu tetap gembira, meskipun mereka menceritakan pengalaman pahit. Bagi Yani kuncinya adalah ikhlas.

“Ya terima nasib aja. Bukan hak kita. Bukan rejeki kita. Kayak-kayak gini mah udah biasa, malah kayaknya ada yang jadikan komoditas (menipu tunanetra),” kata Yani.

“Tapi saya mah nggak pernah nangis, mau apa,” Maimunah, ibu dari tiga orang anak, menambahkan.

“Mau diapain, kalau aku juga gitu, bukan rejeki kita. Sering. Emas 5, 10 gram juga pernah. Udah biasa,” kata Martini.

Teman-temannya kembali mendengarkan dengan antusias ketika Maimunah kembali bercerita. Beberapa tahun yang lalu, dia ditolong orang ketika hendak naik angkutan umum.

“Yang saya heran, ada pernah ada orang nyetopin angkot. Eh, herannya ngapain dia ngikut naik ke atas. Terus duduknya mepet ke saya. Mepet terus ke saya. Saya geser ikut, saya geser lagi ikut lagi. Eh, begitu dia turun, saya sadar, tas saya mangap, resleting kebuka semua.”

“Sering mas. Jadi masalah begitu, ibarat kayak buat lalap buat saya.”

Dia juga pernah nyaris jadi korban penipuan melalui telepon. Dia ditelepon seseorang untuk mengabarkan telah mendapat undian mobil Kijang Kapsu. Tapi sebelum itu, dia disuruh mengirimkan uang ke rekening pelaku dengan alasan uang itu untuk pembayaran pajak.

“Disuruh nyiapin uang 7,5. Saya dapat undian mobil kijang kapsul, katanya. Dia minta bayar pajaknya dulu, lalu ngasih nomor rekeningnya. Akhirnya saya bilang ke pelanggan saya, kan banyak yang pinter pelanggan saya, mereka bilang, elu jangan mau. Itu dibohongi. Tar elu keluar duit, mobil dapta kagak. Terus, akhirnya gini ditelepon lagi, dia bilang, bu mau ditransfer nggak uang pajaknya, kalau enggak mau dilelang. Saya giniin aja sambil ketawa: Udah lelang aja, buat apaan, disini juga gak ada yang bawa, saya tunanetra,” kata Maimunah yang merupakan pemijat profesional sejak 1983.

Maimunah sekarang tinggal di Jatimakmur, Kota Bekasi. Kalau sedang tidak praktik memijat, perempuan berusia 49 itu dagang parfum. “Saya seneng dagang parfum karena kan enak, dideketin orang wangi, memang hobi saya dagang parfum,” kata dia sembari ngakak.

Ketika ibu-ibu tunanetra sedang cerita-cerita, telepon seluler seorang bapak tunanetra yang dari tadi bersandar ke dinding rumah berbunyi terus. Lama-lama, suaranya mengusik perhatian ibu-ibu.

“Pak, itu hapenu banting aja kenapa pak. Hape kok bunyi terus,” kata Yani sambil ngakak.

“Itu alarm,” kata bapak tunanetra.

Tunanetra bernama Martini, Maimunah, dan Yani. AKURAT.CO/Siswanto

Maimunah punya satu cerita lagi siang itu. Ceritanya, pasiennya mengaku asli warga pemukiman elite, Pondok Indah, Jakarta Selatan. Pasien itu juga mengaku datang dengan membawa mobil, pokoknya dia cerita yang wah-wah.

“Eh ternyata saya dibohongi pak, dibayar cuma Rp1.000 perak. Iya itu beneran. Saya sering begitu dibegitukan,” kata Maimunah sambil ngakak.

Dia juga sering mendapati pasien yang tidak membayar jasa pijat. Misalnya, suatu hari pernah datang seorang pria. Selesai dipijat, orang itu mengaku akan memanggil istri dulu dan nanti akan kembali lagi untuk membayar.

“Tar saya ke sini lagi. Lha, abis itu kagak balik-balik. Saya sih, udah inalilahi ajalah, ikhlasin sajalah,” kata Maimunah.

“Saya juga sering dibegitukan. Pernah malah ada yang bayar 500 perak (waktu itu tarif Rp5.000),” kata Martini.

Cerita suka duka tunanetra menutup rangkaian acara arisan siang itu. Satu persatu anggota paguyuban pamit. Maimunah dan Sumartini menjadi orang terakhir yang meninggalkan rumah suami istri Subakat dan Yani. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

Tulisan 2: Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Tulisan 3: Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Tulisan 4: Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tuna Harus Tetap Berjalan

Tulisan 5: Harapan Tukang Pijat Tunanetra Tak Muluk-muluk

Tulisan 7: Apa Kata Mereka yang Selama Ini Dampingi Tunanetra

Editor: Siswanto

Sumber:

berita terkait

Image

News

Juru Pijat

Apa Kata Mereka yang Selama Ini Mendampingi Tunanetra?

Image

News

Juru Pijat

Harapan Juru Pijat Tunanetra Tidak Muluk-muluk

Image

News

Juru Pijat

Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tunanetra Harus Tetap Berjalan

Image

News

Juru Pijat

Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Image

News

Juru Pijat

Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Image

News

Juru Pijat

Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

komentar

Image

1 komentar

Image
Nazwa Akifah

Semoga sehat selalu ibu bapak<3

terkini

Image
News

Presiden China: Selamat Atas Keberhasilan Indonesia Selenggarakan Pemilu

Presiden China Xi Jinping mengucapkan selamat kepada Pemerintah Indonesia atas penyelenggaraan Pemil serentak yang aman dan lancar

Image
News

Anggaran Pemungutan Suara Ulang di Makassar Capai Rp139 Juta

Anggaran pelaksanaan PSU di Makassar diperkirakan mencapai Rp139 juta.

Image
News

Ma’ruf Harap Korpri Setjen MPR Tingkatkan Profesionalitas ASN

Pengurus Korpri di lingkungan Setjen MPR yang baru dikukuhkan agar dapat meningkatan profesionalitas, netralitas dan akuntabilitas.

Image
News

Katulampa Siaga 1, Warga Jakarta Diimbau Waspada

"Aliran air dari bendungan Katulampa diperkirakan memakan waktu 12 jam ke depan baru sampai di DKI Jakarta."

Image
News

Wiranto Ajak Negara ASEAN Tingkatkan Kerja Sama MLA dalam Masalah Pidana

"Tidak ada negara yang bisa berdiri sendiri dalam melawan kejahatan seperti itu ataupun memberantasnya"

Image
News

Pengawas dan Saksi Keberatan, Dua PPK di Jember Bongkar Kotak Suara

Dua PPK di Jember belum selesai melakukan rekapitulasi perhitungan suara di tingkat Kecamatan karena selisih data perolehan suara.

Image
News
Pemilu 2019

Soal Kecurangan Pemilu, Irfan Pulungan: Lucunya Mereka Teriak-teriak di Media

"Banyak juga warga negara Indonesia dari luar negeri melaporkan pengaduan kepada kami."

Image
News

Bawaslu Rekomendasikan PSU Dua TPS di Jayapura

Dua TPS tersebut adalah TPS 10 di Kelurahan Bhayangkara, Distrik Jayapura Utara, dan TPS 39 Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan.

Image
News
Pemilu 2019

Farhat Abbas: Kalau Prabowo Tidak Jadi Presiden, Mau Jadi Apa Mereka?

"Prabowo gak punya kapasitas nunjuk menteri karena kalah."

Image
News

Besok, Gubernur Jawa Timur Diperiksa Terkait Suap Jual-Beli Jabatan

Pemeriksaan masih terkait kasus suap Jual-Beli jabatan di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) yang melibatkan Eks Ketum PPP Romahurmuziy

trending topics

terpopuler

  1. Banyak Makan Korban, Ketua BPN Prabowo: Sistem Pemilu Paling Jelek

  2. Awet Mesra, 7 Potret Kebersamaan Bima Arya Sugiarto Wali Kota Bogor dan Istri

  3. 10 Meme Kocak Kekalahan MU dari Man City, Lesu Deh

  4. Para Pelaku Bom Sri Lanka Berasal dari Kalangan Terdidik dan Kaya

  5. 5 Fakta yang Jarang Diketahui tentang Sadio Mane, Bangun Sekolah sampai Santuni Keluarga Miskin

  6. Ruhut: Bohong, Bohong, Bohong Lagi Kau Fadli Zon

  7. Paranormal: Maafkan Bila Saya Salah Duga, Seolah Pak Prabowo Dijadikan Presiden Taman Mini oleh Para Pendukungnya

  8. Sebulan Menikah, Dhawiya dan Suami Cerita Kehidupan Rumah Tangga

  9. Pakar Hukum: Deklarasi Kemenangan Prabowo Melanggar Konstitusi

  10. Polisi Pastikan Berita Gedung KPU Dibakar di Jakabaring Hoaks

fokus

Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019
Revolusi Museum

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image
Ujang Komarudin

Saatnya Rekonsiliasi

Image
Achmad Fachrudin

Menyikapi Polemik Proses Penghitungan Suara

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

Sibuk jadi Politisi, 8 Potret Miing Bagito saat Bersama Cucu yang Manis Banget

Image
News

5 Potret Yane Ardian, Istri Wali Kota Bogor Bima Arya yang Curi Perhatian

Image
Hiburan

10 Potret Nadine Kaiser, Anak Menteri Susi yang Bikin Susah Kedip