image
Login / Sign Up

Walau Terseok-seok, Juru Pijat Tunanetra Harus Tetap Berjalan

Maidian Reviani

Juru Pijat

Image

Plang klinik pijat tunanetra 'Mitra Harapan' diletakkan di pagar kontrakan Hamim Baidhowi. | AKURAT.CO/Maidian Reviani

AKURAT.CO Di tengah kehidupan yang penuh persaingan ketat, sebagian pemijat tunanetra tertatih-tatih sendirian. Kalangan yang menekuni bidang pijat memijat kini tak hanya difabel, mereka yang non disabilitas pun terjun ke ceruk yang sama. Itu sebabnya, para tunanetra harus bersaing dengan usaha serupa yang punya posisi tawar tinggi.

Bagi difabel yang memiliki modal barangkali dapat membuka praktik pijat di rumah sendiri atau kontrakan, meski tentu saja harus berjuang keras agar tetap eksis. Atau barangkali memutar modal untuk buka usaha sektor lain. Tapi bagi tunanetra yang tak punya modal, sementara penghasilan dari keliling mencari pasien tak lagi bisa diandalkan, bagaimana? Tentu harus memutar otak lebih keras lagi.

***

baca juga:

Slamet Agus (52) turun dari sepeda motor ojek di depan kompleks Puri Botanical, Jalan Joglo Raya, Jakarta Barat, Selasa, 12 Maret 2019, sore. Slamet memakai kemeja putih dan celana warna coklat. Salah satu tangannya memegang berbungkus-bungkus kerupuk, tangan yang lain memegang bangku kecil berwarna biru dan tongkat.

Slamet mengenakan topi, kemudian duduk di atas bangku kecil di tepi jalan, depan Puri Botanical. Puluhan bungkus kerupuk rasa ikan yang diikatkan pada sebuah tongkat ditaruh di sampingnya.

“Saya tunanetra dari umur dua tahun. Awalnya saya sakit panas dingin. Terus jadilah begini,” kata Slamet ketika saya temui.

Slamet Agus (Tunanetra). AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Saya jualan kerupuk sejak tahun 2008. Ya saya jualan karena pengin aja kan ada temen yang jualan dulu sih, terus dia nawarin kalau saya mau. Ya udah saya terus mau karena pijat sepi, karena pemasukan jarang.”

Sebelum mangkal di pinggir jalan raya, Slamet dulu berjualan kerupuk dengan cara keliling pemukiman penduduk dengan resiko keselamatan. “Yang jalan sempit, gotnya itu dalem-dalem. Dulu sering banget nyemplung, kadang kalau ada truk parkir, saya nabrak. Kerupuknya pada hancur, kalau hancur saya akhirnya nombok. Laku enggak, kan kalau ancur yang beli pada gak mau,” ujarnya.

Slamet biasanya jualan kerupuk pada sore hari bersamaan dengan banyak warga pulang dari tempat kerja. “Jadi cari orang pulang kerja yang beli. Kalau siang gak ada yang beli.”
Slamet dan istrinya sama-sama tunanetra. Pasangan suami istri ini dikaruniai lima orang anak – satu di antaranya telah berkeluarga. Slamet, istri, dan sebagian besar anak-anaknya tinggal di daerah Meruya Selatan, Jakarta Barat.

Sebelum jualan kerupuk, mata pencaharian utama Slamet jasa memijat. Usaha pijatnya berakhir tragis dan kondisi ketika itu memaksanya untuk beralih mata pencaharian. Dapur rumah tangga Slamet harus tetap mengepul.

“Sebetulnya kan gimana ya saya terpaksa karena pijit sepi, kadang ada kadang gak ada. Dari pada nganggur ya sudah ini yang penting halal,” kata dia. “Saya jualan dari sore sampai nanti jam 7 malam.”

Penghasilan dari jualan kerupuk, meskipun tak seberapa, sudah amat disyukurinya. Slamet juga bersyukur memiliki tukang ojek langganan yang setiap hari setia mengantar ke tempat jualan kerupuk. Terkadang tukang ojek mau menerima pembayaran di bawah tarif normal yang disepakati sebesar Rp30 ribu. “Kadang ngasih sedapat rejekinya saja.”

Pilihan menjadi pedagang keliling mengundang resiko yang besar, mulai dari ketemu jalanan berlubang, ketemu got menganga, hingga menyeberangi jalan raya yang ramai kendaraan. Kecemplung got, bagi Slamet sudah menjadi hal biasa.

Slamet Agus (Tunanetra). AKURAT.CO/Maidian Reviani

Pengalaman serupa juga dirasakan Saleh, tunanetra asal Boyolali, Jawa Tengah. Sebelum alih mata pencaharian, Saleh mengelola panti pijat sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan bagi rekan-rekannya. Dengan bangga, dia bercerita pernah memiliki lima juru pijat. Tapi lagi-lagi, kondisi perekonomian zaman itu tak memihak padanya. Panti yang didirikan Saleh dengan susah payah gulung tikar. 

Dari segi keterampilan pemijatan tubuh, hampir tak ada orang yang meragukan tunanetra. Mereka umumnya bersertifikat sebagai juru pijat profesional. Tapi dari segi mobilitas, kata Saleh, tunanetra kalah dari orang non disabilitas.

“Sebenarnya pijet tunanetra itu insyaallah udah mumpuni, cuma kita kalah dimobilitas. Contoh gini, kalau orang awas itu ada panggilan di komplek A misal, dia dateng langsung cepet, jam segini minta mijet, langsung datang. Kalau kami kan kendala cari ojek dulu, sampe di rumah pasien harus nuntun ke kamarnya. Orang yang kurang sreg kan, mending yang cepet aja. Pijet sekarang ini dikatakan mati ya belum, mati surilah,” kata dia.

Mau tidak mau, Saleh mesti mencari kerja yang lain. Pilihannya adalah dagang keliling dan tentu saja siap dengan segala resiko di jalan.

“Saya fokusnya sekarang 90 persen dagang kerupuk,” kata anggota Persatuan Tunanetra Indonesia itu ketika saya temui di Bojong Kulur, Bogor.

Awalnya, Saleh dan istri gotong royong dagang keliling. Setelah ditimbang-timbang dari segala sisi, akhirnya istri Saleh tidak ikut dagang keliling. Dia bertugas menjaga rumah sekaligus melayani pijat urut kalau sewaktu-waktu ada panggilan.

“Nggak nyambung dagang sama pijet. Misal, kalau lagi dagang ada yang nelepon. Akhirnya masa dagangan saya saya tinggal. Saya dapet Rp50 ribu urut, nanti gak dapet lagi. Hari ini pijet jam 10 siang, kalau terus sampai sore aku gak dagang, ya cuma dapet satu pasien itu. Tapi saya meski bayar sekolah anak, arisan, kontrakan,” ujarnya.

Modal belanja kerupuk sekitar Rp1,6 juta. Saleh biasa berjualan di daerah Halim, Jakarta Timur. Dalam sehari, rata-rata dia bisa menjual 18 bungkus hingga 40 bungkus kerupuk. Berapapun hasil penjualan yang didapat, Saleh tetap bersyukur.

Saleh (Tunanetra). AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Alhamdulillah. Target saya 40 bungkus tiap hari,” ujar dia. “(Harganya) Macem-macem, saya jual tiga macem. Ada 11 ribu, 15 ribu, dan 16 ribu.”

Rohim (47) yang tinggal di Jalan Haji Najih, Joglo Raya, RT 2, RW 1, nomor 10, Joglo Raya, Jakarta Barat, juga menjadi salah satu pemijat profesional yang terseok-seok karena dihantam keadaan. Keadaan memaksanya untuk tidak menjadikan jasa pijat sebagai satu-satunya sumber penghidupan.

“Untuk bertahan pijet susah. Akhirnya pada turun ke jalan ngamen untuk mencukupi kehidupan sehari-hari gitu loh mbak. Kadang jualan kerupuk, mungkin mbak sering lihat di jalan orang jualan kerupuk. Ya itu karena pijetan sepi,” kata Rohim.

Rohim dan istri, Sadiah, awalnya secara bergiliran dagang keliling. Kalau Rohim yang keliling, istrinya yang bertugas jaga anak yang masih berusia enam tahun sambil menunggu pelanggan pijat datang. Tapi sekarang, Rohim yang lebih banyak di rumah, sementara Sadiah yang banyak keliling untuk dagang kerupuk.

Suami istri ini hidup harmonis di sebuah rumah kontrakan dengan uang sewa Rp900 ribu perbulan. Mereka sudah tinggal di rumah itu sejak 15 tahun yang lalu.

“Istri tunanetra. Anak lima. Tinggal di sini dua. Tiga lagi di luar. Ada yang kos ada yang di Jawa,” tuturnya.

Sebelum memutuskan dagang keliling, pada tahun 2003, dia pernah menjadi pengamen di sekitar pasar Cipulir dan Tanah Abang.

“Ngamen di pasar, nggak berani door to door. Kalau tunanetra di pasar. Paling setahunlah,” kata dia.

Menekuni pekerjaan tak selalu berujung dengan keuntungan. Setelah setahun menjadi pengamen jalanan, Rohim memutuskan berhenti dan mencoba peruntungan lain. “Ya saya gak ada di situ. Kalau gak di situ kan bertentangan, kalau gak terpaksa.”

Sadiah kemudian ikut nimbrung dalam obrolan saya dengan Rohim. Sadiah menceritakan awal mula dia dan suami dagang keliling. Dulu, Rohim sering keliling untuk menawarkan jasa pijat. Tapi, Rohim lebih banyak pulang tanpa membawa uang sepeserpun karena tidak mendapatkan pasien. Sampai akhirnya seorang teman cerita tentang peluang dagang kerupuk.

Juru pijat tuna netra sedang arisan. AKURAT.CO/Siswanto

“Ada temen cerita kalau pijet kosong ya jualan kerupuk berani nggak, saya ada kenalan, dia pendeta. Cuma dia gak keliling, dia di gereja gitu. Dia mah kayak jualan sama temen-temen gereja. Akhirnya dah kepepet banget ambil 10 bungkus, abis dah tuh di jalan pulang. Kan kalau abis besoknya ada timbul pengin jualan lagi,” kata Sadiah.

Penghasilan Sadiah dari menjual kerupuk tidaklah besar, bahkan terkadang nombok seperti pagi hari sebelum saya mewawancarainya. Hal ini seringkali membuat Sadiah putus asa, tetapi dia dan suaminya tetap berusaha tabah dan berharap hari esok lebih baik lagi. Sadiah menjual kerupuk dengan harga bervariasi, mulai dari Rp4 ribu hingga Rp10 ribu.

Sadiah menunjukkan dagangannya kepada saya ketika itu.

“Satu kerupuk ada harga 10 ribu ada 4 ribu. Nih ada nih contohnya cuma lagi gak banyak. Nih 4 ribu cuma dua buah. Kalau ini ada sambal isinya 8 harganya 10 ribu. Temen saya jual 11 ribu, 12 ribu, saya jual 10 ribu aja susah, tapi ya udahlah,” kata dia.

“Saya jualan tadi pagi gak laku sama sekali, jam 8 saya keluar, karena panas saya pulang aja. Saya males kalau jauh-jauh meski pake ongkos, tapi dagangan gak laku. Temen-temen saya banyak jualan gak laku, tapi ongkos gede, itungan jadi nombok,” tambah dia.

“Kemarin aja saya kerupuk gak laku-laku, putus asa. Saya bagiin aja ke temen-temen tunanetra aja akhirnya,” tuturnya.

Kalau sudah nombok begitu, biasanya Sadiah harus memutar otak lagi untuk membayar uang setoran.

“Kalau suami saya mijet, terus dah diminta setor ya akhirnya uangnya dipakai dulu. Cuma mau gimana lagi ya, kita mau menyerah bener-bener masa kita mau diem aja, masa kita mau selesai dengan diem. Jadi kayak gini juga terpaksa,” kata dia.

Dalam sebulan, total penghasilan Sadiah dan Rohim masih di bawah Upah Minimum Provinsi Jakarta. Tapi, mereka tetap tersenyum. Mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya.

“Di bawah UMR ya. Rp3 juta paling. Sehari Rp100 ribu paling. Dibawah UMR. Kontrakan listrik Rp1.5 juta. Kontrakan Rp900 ribu, listrik kita yang voucher. Tarif dasar listrik naik terus. Hidup sebulan 3 juta itu udah sehari-hari tekan sana tekan sini. Apalagi si kecil, dia kan gak paham kondisi kita kayak apa ya,” kata Rohim.

Sadiah sesungguhnya memiliki pemikiran untuk mengembangkan usaha kerupuk. Dia ingin menjadi pemasok untuk restoran-restoran. Tapi, nyalinya ciut duluan. Takut ditolak pengelola restoran karena dia seorang difabel.

“Saya penginnya tuh gini, orang-orang yang jualan usaha tempat makan yang ramai mereka membuka diri. Gak apa-apa ya kita bagi persentase,” kata dia.

“Cuma saya gak pernah (menawarkan), takut ditolak duluan. Cuma saya penginnya cari yang ramai. Misal kayak masakan Padang. Kadang-kadang tunanetra belum masuk aja udah ditanya mau apa bu mau apa. Gitu, jadi mereka udah negatif dulu aja. Difabel-difabel gini gak ada daya lihat dia anggap rendah. Dugaannya kurang baguslah.”

Rohim yang sejak tadi ikut mendengarkan cerita istrinya, menimpali. Menurut Rohim istrinya merupakan salah satu perempuan tunanetra pertama yang berani berjualan kerupuk dengan keliling.

“Dia tuh mbak, perempuan-perempuan pertama yang jualan kerupuk,” kata Rohim.

“Iya dulu aja laki-lakinya dikit belum ada,” Sadiah menambahkan.

Suka duka, bagi Sadiah sudah menjadi bagian dari kehidupan. Hidup adalah anugerah dan harus disyukuri. Menjajakan kerupuk dengan keliling, berarti dia harus siap dengan segala resiko, mulai dari menjaga kualitas kerupuk kalau musim hujan tiba hingga antisipasi supaya tidak masuk got.

“Waktu di jalanan, jualan kerupuk susahnya kalau musim hujan. Udah jauh dari rumah mau pulang juga jauh. Kalau (matanya) total (tidak bisa lihat) kaya gini kan susah ya cari tempat teduhan, kalau kita gak dipanggil orang untuk neduh ya repot. Belum lagi kendaraan-kendaraan,” ujar Sadiah.

“Karena saya jalannya lama, saya siasati, saya gak mau cepet, tapi nyusuruk. Takut kecebur, saya jaga kualitas barang saya. Nanti takut dagangan saya ancur-ancur. Sedangkan barang gak bisa kita pulangin. Ambil ya setor. Meskipun ada sisa tetap setor. Gak kayak warung kalau belum abis ya diganti.”

Suatu kali, dia pernah punya pengalaman yang kurang mengenakan hati. Itu terjadi tahun 2008 di Pasar Mayestik, Jakarta Selatan. Tiba-tiba, Sadiah ditegur pedagang kerupuk non disabilitas yang merasa sudah lebih dulu jualan di sana. Orang itu meminta Sadiah minggat.

“Saya jualan kerupuk, di situ ada jualan mobil-mobil kerupuk. Saya ditegur sama bosnya, saya ditelepon ke Purnama (merek kerupuk). Saya ditanya, kurang baik gitu deh tanggapannya. Intinya saya gak boleh jualan di sana, dia bilang dah duluan di sini. Kayaknya dia dapet laporan dari karyawannya kayak kok sepi si pelanggannya,” tutur Sadiah.

“Saya ditegur, harusnya kamu tuh gini gitu. Kita jualan produk sama, kamu gak tau ya saya jualan di mobil, saya lebih duluan, kamu cari tempat lain. Dalem hati, ko dia tega ya, saya kan tunanetra, dia kan normal. Saya jadi kurang berani lagi tuh ke Mayestik.”

Meskipun menjadi terapis lebih nyaman, Heru Santoso sekarang lebih memilih menjadi pedagang keliling. Semenjak usaha pijat meredup, dia dagang apa saja yang penting halal dan menguntungkan.

"Sekarang saya rasanya lebih happy dagang daripada mijat. Saya pengalaman dagang tidak hanya kerupuk doang mas, pernah jualan arem-arem, kaya lontong gitu, peyek. Tapi alhamdulillah yang ngangkat kerupuk."

"Kalau cocok saya lebih memilih dagang kerupuk ya. Cuma cara kerjanya yang lebih enak pijat. Kalau massage (pijat) itu kita duduk doang, dapat minum. Tapi kalau dagang kan harus jalan, belum di rumah ngerapih-rapihin, bungkus-bungkusinya, terus di bersihin satu persatu. Jadi supaya rapih. Kemudian belum ngiket pikulan, dirangkai, terus jalan, teriak kerupuk, kerupuk, kerupuk, kan kita harus berani. Kalau kita diam aja orang gak ada yang tahu."

Itu sebabnya, saking capek keliling-keliling untuk jualan kerupuk, kalau Heru sudah pulang ke rumah, biasanya sudah tidak menerima layanan pemijatan.
“Karena aku udah capek dagang, tinggal nyantai sambil dengerin radio, putar musik mandarin Indonesia sama lagu pop," tuturnya.

"Nggak kapok (memijat), cuma saya lebih memilih jualan kerupuk kalau hitung-hitungan saya. Bagi saya bagaikan burung yang bebas di alam bebas.”

Lain lagi cerita Hamim Baidhowi (48) yang tinggal di Jalan Musyawarah II, nomor 9A, RT 17, RW 2, Joglo, Jakarta Barat. Setelah jasa pijat tunanetra tak selaku dulu karena marak tempat refleksi modern yang menawarkan kenyamanan, tunanetra asal Banyumas itu makin tertantang. Dia tidak ingin keprofesionalannya sebagai pemijat terkubur zaman.

Kalau dulu dia hanya mengandalkan promosi jasa pijat lewat papan di jalan raya atau paling banter pakai brosur, kini lebih modern. Dia memanfaatkan Google untuk memudahkan masyarakat mencari alamat praktiknya.

“Iya dia melihat di Google, nanti pas cari ada itu ada rumahnya, telepon saya, langsung nyambung ke WhatsApp saya,” katanya.

“Kebutulan anak saya di bidang IT, dia yang buat itu.”

Tunanetra. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Meski empot-empotan, dia bersyukur dengan pendapatannya. Dia tunjukkan kepada saya buku tulis berisi catatan lengkap pemasukan dari jasa pijat sehari-hari. Dia tulis sendiri pakai tangan. Urut-urutannya rapi. 

“Kalau sehari biasanya minimal sehari 60 ribu – 100 ribu. Kita ada pembukuannya,” kata dia.

“Kalau cukup ya relatif ya, cukup ya dicukup-cukupin. Namanya manusia ya apa aja kurang. Tergantung mindset kita mengurus keuangan. Kalau sehari si mentok-mentokin. Kalau sebulan bisa dapat di atas tigalah.”

Hamim dapat memaklumi rekan-rekannya yang kemudian menjadi pedagang keliling atau ada pula yang mengamen. Semua pekerjaan, asalkan halal, bagi dia sah-sah saja dilakukan.

“Dagang kerupuk, ngamen, dan lain sebagainya saya bisa memaklumi karena persaingan juga ketat, karena gak mungkin mereka bertahan hidup tanpa berkarya,” ujarnya.

Hamim pernah merasakan dagang kerupuk bersama temannya. “Namanya juga bersosialisasi sama temen-teman jadi apa aja dilakoni. Itu tahun 2007-2008. Tapi cuma iseng aja. Bawain punya temen. Terus ternyata abis diongkos,” kata Hamim yang kini aktif di organisasi Persatuan Tunanetra Indonesia.

Sekarang ini, sebagian terapis tunanetra mencoba peruntungan dengan bergabung ke aplikasi pemesanan Go Massage. Tapi, kata terapis bernama Hariono (50), mereka tetap kalah dengan terapis non disabilitas dari segi mobilitas. Tapi tentu saja cerita Hariono ini tidak mencerminkan secara keseluruhan. Dari berita-berita di media, tak sedikit terapis tunanetra yang mendapatkan penghasilan lumayan setelah gabung dengan aplikasi itu.

"Ada teman-teman saya masuk Go Massage, tetapi kalah sama teman-teman yang bisa melihat. Kendalanya waktu, misalnya dari Jatinegara ke Cengkareng sana, jauh kan. Kita kan banyak kendala, naik angkutan umum dulu dan sebagainya," kata Hariono.

Peruntungan lain yang dijalani oleh tunanetra yaitu dagang pulsa. "Ada juga teman saya yang jualan pulsa, yang ngerti Android. Kalau saya nggak ngerti, jualan kerupuk saja," ujar dia.

Sore itu, selain bertemu Hariono, saya juga berjumpa terapis senior Maimunah di rumah Subakat yang berada di perumahan Bumi Mutiara, Blok JF, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor.

Maimunah yang kala itu memakai kerudung warna oranye bercerita bahwa dia belum lama ini ikut mendaftarkan ke aplikasi khusus yang katanya berfungsi untuk menjembatani para tunanetra mendapatkan pelanggan. Namun sampai sekarang dia tak tahu bagaimana kelanjutannya.

“Waktu itu daftar terbuka untuk umum udah daftar. Ceritanya sebetulnya ada rapat dikasih penjelasan. Saya dah tanyain, itu isi pulsa, terus ada nomernya. Saya tanyain cuek-cuek aja. Sebulan yang lalu. Saya udah kasih KTP sama ijazah, tapi gak ada beritanya lagi,” kata Maemunah.

Padahal, tadinya Maimunah berharap sekali keterampilannya memijat dapat dimaksimalkan lagi dengan adanya kemudahan mendapatkan pelanggan baru lewat aplikasi.

“Karena di rumah sepi. Ikut online itu, di rumah gak ada pasien, jadi lewat online itu. Supaya ada pemasukan perkembangan,” tuturnya.

Maimunah juga menceritakan pengalaman teman-temannya yang sudah gabung Go Massage, tetapi mereka tetap kalah saingan dengan tukang pijat non disabilitas.

Tunanetra. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

“Jangankan baru ini, yang dulu ikutan Go Massage gak dapet-dapet. Karena begini mbak, kita bersaing dengan orang awas ya rebutan,” ujarnya.

Maimunah menceritakan kisah salah seorang temannya. Dia ditolak mentah-mentah oleh orang yang memesan jasa pijat lewat aplikasi begitu mengetahui yang datang tunanetra.

“Ada namanya Aziz lakinya tukang ojek. Bininya teman saya, dia Go Massage jam 3-4 pagi baru balik,” kata dia.

“Temen saya orang Kuningan, Go Massage udah ditelepon jauh-jauh di apartemen, udah sampai rumahnya malah ditolak. Katanya saya gak minta tunanetra. Coba gak nyesek coba. Makanya pada keluar. Makanya ditawarin sumur-umur Go Massage, gua ogah,” kata dia.

Kebutuhan hidup terus bertambah. Seperti rekan-rekan lainnya, Maimunah harus kreatif menangkap peluang di luar layanan pijat. Maimunah memilih berjualan parfum.

“Banyak sambilan, dagang. Dagang parfum. Saya senengnya parfum, karena wangi,” kata Maimunah. Maimunah tertawa lebar. “Hobi dagang parfum.”

Maimunah yang berpembawaan periang itu mengatakan bisnis parfum memberinya penghasilan yang lumayan. “Biasa aja standar-standar, yang penting ada isinya aja.”

Betapa susah hidup sebagai tunanetra di negeri ini. Mereka tidak boleh dibiarkan jalan sendiri, bersaing dengan usaha serupa yang dijalankan non disabilitas. Ketua II Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Tunanetra Indonesia Mahertta Maha mengatakan tunanetra harus mendapatkan perlindungan usaha, khususnya panti pijat. Seperti di negara Korea, kata dia, orang-orang non disabilitas tidak boleh membuka usaha pijat demi melindungi tunanetra.

“Kalau seperti di negara-negara lain, ada semacam perlindungan. Jadi kita tunanetra diberikan hak khusus untuk membuka usaha itu, dan dilindungi pemerintah,” kata dia. "Dan tersertifikasi dan seterusnya."

Tapi kalau hal seperti itu masih belum memungkinkan diterapkan di negeri ini, harapannya pemerintah melakukan strategi lain. Sebagai contoh, menyisakan salah satu ruang di tempat-tempat publik untuk jasa pijat tunanetra. Siapapun yang mengelola itu tidak jadi soal, yang penting tunanetra bisa bekerja di sana. [Maidian Reviani, Herry Supriyatna, Yudi Permana]

Baca juga:

Tulisan 1: Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

Tulisan 2: Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Tulisan 3: Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Tulisan 5: Harapan Tukang Pijat Tunanetra Tak Muluk-muluk

Tulisan 6: Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Tulisan 7: Apa Kata Mereka yang Selama Ini Dampingi Tunanetra

Editor: Siswanto

Sumber:

berita terkait

Image

News

Juru Pijat

Apa Kata Mereka yang Selama Ini Mendampingi Tunanetra?

Image

News

Juru Pijat

Makanan Empuk Bandit, Tunanetra: Sering Mas, Ibarat Kayak Lalap Buat Saya

Image

News

Juru Pijat

Harapan Juru Pijat Tunanetra Tidak Muluk-muluk

Image

News

Juru Pijat

Ketika Sandaran Hidup Tunanetra Mati Suri

Image

News

Juru Pijat

Ujian Berat Bagi Juru Pijat Tunanetra

Image

News

Juru Pijat

Pijat Tunanetra Berjaya Zaman Soeharto

komentar

Image

1 komentar

Image
Galuh Parantri

tetap semangat bapak dan ibu. Salut dan hormat

terkini

Image
News

Presiden China: Selamat Atas Keberhasilan Indonesia Selenggarakan Pemilu

Presiden China Xi Jinping mengucapkan selamat kepada Pemerintah Indonesia atas penyelenggaraan Pemil serentak yang aman dan lancar

Image
News

Anggaran Pemungutan Suara Ulang di Makassar Capai Rp139 Juta

Anggaran pelaksanaan PSU di Makassar diperkirakan mencapai Rp139 juta.

Image
News

Ma’ruf Harap Korpri Setjen MPR Tingkatkan Profesionalitas ASN

Pengurus Korpri di lingkungan Setjen MPR yang baru dikukuhkan agar dapat meningkatan profesionalitas, netralitas dan akuntabilitas.

Image
News

Katulampa Siaga 1, Warga Jakarta Diimbau Waspada

"Aliran air dari bendungan Katulampa diperkirakan memakan waktu 12 jam ke depan baru sampai di DKI Jakarta."

Image
News

Wiranto Ajak Negara ASEAN Tingkatkan Kerja Sama MLA dalam Masalah Pidana

"Tidak ada negara yang bisa berdiri sendiri dalam melawan kejahatan seperti itu ataupun memberantasnya"

Image
News

Pengawas dan Saksi Keberatan, Dua PPK di Jember Bongkar Kotak Suara

Dua PPK di Jember belum selesai melakukan rekapitulasi perhitungan suara di tingkat Kecamatan karena selisih data perolehan suara.

Image
News
Pemilu 2019

Soal Kecurangan Pemilu, Irfan Pulungan: Lucunya Mereka Teriak-teriak di Media

"Banyak juga warga negara Indonesia dari luar negeri melaporkan pengaduan kepada kami."

Image
News

Bawaslu Rekomendasikan PSU Dua TPS di Jayapura

Dua TPS tersebut adalah TPS 10 di Kelurahan Bhayangkara, Distrik Jayapura Utara, dan TPS 39 Kelurahan Entrop, Distrik Jayapura Selatan.

Image
News
Pemilu 2019

Farhat Abbas: Kalau Prabowo Tidak Jadi Presiden, Mau Jadi Apa Mereka?

"Prabowo gak punya kapasitas nunjuk menteri karena kalah."

Image
News

Besok, Gubernur Jawa Timur Diperiksa Terkait Suap Jual-Beli Jabatan

Pemeriksaan masih terkait kasus suap Jual-Beli jabatan di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) yang melibatkan Eks Ketum PPP Romahurmuziy

trending topics

terpopuler

  1. Edy Rahmayadi: Siapa Cepat Menghadap Allah, Dialah yang Paling Bahagia

  2. Beda Dari yang Lain, Tata Letak Pintu Rumah Ini Aneh Banget

  3. Ketika Tokoh Tionghoa Pekik Takbir di Acara Syukuran Prabowo-Sandiaga

  4. Bulan Ramadan, Al Ghazali Kangen Icip Semur Lidah Buatan Maia Estianty

  5. Penampakan Sosok Misterius Berdiri di Tengah Jalan Tol Cipali

  6. Baru Melahirkan, DJ Katty Butterfly Umumkan Nama Anak Pertamanya

  7. Tidak Terlihat di TMII, Ternyata Sandi Kawal Penghitungan Suara di Jakarta Selatan

  8. Pemilik 5 Karung Sabu-sabu Ternyata Kakak Beradik

  9. 9 Fakta Anders Povlsen, Orang Terkaya Denmark yang 3 Anaknya jadi Korban Tewas Bom Sri Lanka

  10. Acara Syukuran Prabowo-Sandiaga, Tokoh Tionghoa Sindir Jokowi dan KPU Soal Kecurangan

fokus

Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019
Revolusi Museum

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image
Ujang Komarudin

Saatnya Rekonsiliasi

Image
Achmad Fachrudin

Menyikapi Polemik Proses Penghitungan Suara

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

Sibuk jadi Politisi, 8 Potret Miing Bagito saat Bersama Cucu yang Manis Banget

Image
News

5 Potret Yane Ardian, Istri Wali Kota Bogor Bima Arya yang Curi Perhatian

Image
Hiburan

10 Potret Nadine Kaiser, Anak Menteri Susi yang Bikin Susah Kedip