image
Login / Sign Up
Image

Mahfut Khanafi

Direktur Kenanga Institute dan Pengurus Besar HMI.

Quo Vadis Golput di Pilpres 2019?

Menuju Pilpres 2019

Image

Capres dan Cawapres nomor urut 01 dan 02 Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebelum mengikuti Debat Perdana Capres di Hotel Bidakara, Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (17/1/2019). Dalam debat ini kedua calon presiden dan wakil presiden harus memaparkan tema materinya meliputi isu penegakan hukum, korupsi, HAM dan terorisme. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Pesta demokrasi tinggal dua bulan lagi. Wacana publik mulai diramaikan dengan diskusi klasik antara golongan memilih dengan golongan putih.

Masih teringat satu bulan terakhir media sosial ramai dengan viralnya akun Nurhadi-Aldo. Pasangan calon  presiden dan wakil presiden fiktif yang diusung Koalisi Indonesia Tronjal-Tronjol Maha Asyik melalui Partai Untuk Kebutuhan Iman. Paslon yang populer dengan  sebutan Dildo ini hadir dengan konten-konten lucu, bahkan tidak sedikit kalimat yang digunakan cenderung bernada mesum.

Nurhadi-Aldomemberi angin segar ditengah kegaduhan politik yang terjadi antara kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Adanya akun fiktif calon presiden Nurhadi-Aldo menjadi salah satu indikator bahwa masyarakat mulai bosan dan gundah dengan iklim politik  di Indonesia.

baca juga:

Kehadiran Nurhadi-Aldo seolah menjadi sosok alternatif pilihan politik baru di tengah aksi saling hujat yang dipertontonkan antar dua paslon.

Melihat kondisi tersebut, tentu ada makna dan implikasi fenomena ini terhadap konteks perpolitikan di Indonesia.

Meski fenomena guyonan politik atau humor politik bukanlah hal baru, kemunculan capres fiktif ini disinyalir membuat beberapa pihak ketar-ketir dengan adanya gerakan golput yang makin tinggi khususnya jelang Pilpres di bulan April nanti.

Jika diperhatikan, data memang mencatat bahwa angka golput selalu meningkat dari tahun ke tahun.

Pada pemilu 1999, tingkat partisipasi pemilih mencapai 90 persen lebih. Setelahnya, golput selalu melebihi angka 15 persen dari jumlah pemilih pada Pemilu legislatif maupun eksekutif. Pada Pemilu legislatif (Pileg) 2004, jumlah golput mencapai 15,9 persen.

Angka itu meningkat di pemilu selanjutnya hingga pemilu terakhir di tahun 2014. Angka golput saat Pilpres dan Pileg 2004 mencapai 21,8 persen dan 23,4 persen dan meningkat hingga 28,3 persen pada Pilpres 2009.

Keberadaan golput yang tinggi juga berlanjut di Pileg 2014. Mekipun cenderung turun, namun tak cukup signifikan dimana sebesar 24,89 persen masyarakat tak gunakan hak pilihnya.

Dengan adanya fenomena tersebut, tentunya menjadi pertanyaan besar kali ini adalah, jika angka golput semakin tinggi, mengapa fenomena golput selalu dianggap angin lalu dalam sistem politik di Indonesia? Benarkan golput memang tak memiliki arti dalam sebuah prosesi perebutan kekuasaan lima tahunan?

Belajar Dari Mesir dan Malaysia

Vox Populi, Vox Dei : suara rakyat, suara Tuhan. Begitulah ungkapan bijak yang selalu menjadi landasan berdemokrasi di suatu negara. Maka bisa dikatakan munculnya fenomena golput harus juga menjadi bagian dari suara Tuhan. 

Jika belajar dari negara lain, fenomena Nurhadi-Aldo sebetulnyahampir sama dengan kejadian Pemilu Mesir dan Malaysia. Di pemilu Mesir, Mohamed Salah mampu menjadi representasi simbol perlawanan dan kekecewaan terhadap sistem pemilu dan politik yang ada di Mesir.

Padahal, Salah bukanlah kandidat resmi Pilpres. Ia adalah atlit sepak bola yang berasal dari Mesir. Sementara kandidat resmi gelaran kontestasi elektoral itu adalah petahana Abdel Fattah al-Sisi dan Moussa Mostafa Moussa.

Di Pilpres Mesir, masyarakat yang datang ke tempat pemungutan suara menuliskan nama Salah di kertas suara. Bahkan, hasil pemilu menempatkan perolehan suara Salahdi urutan kedua jumlah suara terbanyak dengan perolehan sekitar 1,7 juta atau setara dengan 7,27 persen.

Sementara itu di Malaysia,  pada Pemilu ke-14 negeri Jiran tersebut, ada gerakan yang dikenal dengan sebutan Undirosak (merusak kertas suara) yang tujuannya sama dengan istilah golongan putih di Indonesia, yakni menghadiri tempat pemungutan suara dengan mencoblos kertas putih atau kedua calon sekaligus.

Sedangkan di Indonesia,gerakan golput mulai dikenal di Indonesia pada Pemilu tahun 1971. Para mahasiswa dan pemuda yang lebih dikenal dengan aktivis 66memprotes penyelenggaraan Pemilu danmendeklarasikan gerakan yang disebut Golput.

Kelompok yang diprakarsai oleh Arief Budiman pada mulanya menyatakan bahwa alasan mereka golput karena pemerintah melangar azas demokrasi, khususnya kebebasan berpolitik dan berserikat.

Dalam konnteks Indonesia, Gerakan golput awalnya memang sebagai gerakan politis, ada nilai perlawanan yang dibawa. Bukan seperti golput yang difahami belakangan ini yang bentuk praktisnya tidak jauh beda dengan apatisme politik.

Hingga akhirnya, Golput dimaknai sebagai wujud apatisme politik bisa disematkan ketika seseorang memilih untuk tidak memilih hanya karena dia tidak peduli pada situasi politik yang terjadi.

Misalnya, dalam buku  Golput dan Pemilu di Indonesia disebut bahwa lonjakan golput pada 2004 merupakan konsekuensi ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintahan Megawati serta bangunan sistem politik yang ada pada saat itu, seperti tidak berfungsinya lembaga seperti DPR, DPRD, dan MPR serta maraknya kasus KKN yang melibatkan anggota parlemen.

Lalu mungkinkah gerakan golput ala Nurhadi-Aldo ini akan mampu menghasilkan sebuah daya dobrak bagi sistem pemilu yang ada di negara kita?

Hukum Golput

Secara moral, kita berada di persimpangan jika berbicara soal golput. Di satu sisi, Golput adalah representasi kekecewaan masyarakat terhadap sistem politik yang ada. Sehingga perlu rasanya eksistensi Golput untuk di akomodir.

Golput yang terorganisir pada kadar tertentu sesungguhnya mampu memberikan efek yang signifikan sebagai tolak ukur legitimasi kepemimpinan seseorang.

Bahkan mantan presiden Abdurrahraman wahid, atau yang akrab di sapa Gus Dur, berpendapat bahwa gerakan golput tidak hanya untuk memberikan kritik pada sistem demokrasi yang dianggap melenceng namun juga memperbaiki sistem demokrasi pascareformasi yang belum menemukan formulasi idealnya.

Maka mungkin saja metode Arief Budiman pada tahun 66 itu yang masih bisa disebut sebagai satu-satunya gerakan golput yang benar-benar memberi efek bagi konstelasi politik yang ada.

Namun di sisi lain, gerakan Golput memiliki konsekuensi hukum di Indonesia. Melalui pasal 523 UU Pemilu, seseorang yang mengajak golput atau mengorganisir Golput akan terancam hukuman pidana.

Jika belajar dari negara lain, Australia juga adalah salah satu negara yang menerapkan hukum wajib coblos karena keterlibatan semua warga dalam pemilu dianggap dapat meningkatkan keterwakilan suara semua lapisan masyarakat, terutama kelas bawah dan menengah.

Bagi mereka yang tidak memilih di Australia akan dikenakan denda sebanyak A$20 atau sekitar Rp 200.000 jika gagal memberikan alasan kenapa tidak memilih.

Peraturan tersebut pada akhirnya memang berhasil menekan angka golput di negeri kanguru terebut. Pada 2016, persentase jumlah orang yang tidak memilih di Australia termasuk yang terendah di dunia yaitu sekitar 0,9% atau sekitar 1,4 juta orang.

Sementara itu dalam konteks politik di Indoneia, jika sudah ada peraturan yang mengatur bahwa golput adalah tindakan yang salah di mata hukum, lalu mengapa hal tersebut tak sebanding dengan penurunan angka golput?

Tentu ada yang salah dalam sistem peraturan kita baik pada level kebijakan maupun makna Golput yang selama ini tak tuntas di mengerti oleh para pembuat kebijakan kita.

Pada akhirnya, nampaknya gerakan yang diusung oleh Koalisi Tronjal-Tronjol Maha Asik  Nomer 10 melalui partai Untuk Kebutuhan Iman ini hanya akan berhenti sebagai sebuah satir politik yang tak akan memberikan efek apapun.

Lalu Bagaimana Nasib Golput di Pilpres 2019?

Golput ini memang urusan yang cukup pelik. Selain mengajak golput dalam kadar tertentu sudah termasuk pelanggaran hukum pidana. Namun tidak dipungkiri juga perkembangan angka golput selalu meningkat.

Dalam konteks pilpres 2019, kelompok golput percaya bahwa pada pilpres tahun 2019 kita dipaksa memilih calon yang sama-sama buruk.

Untuk mengujinya, taruhlah pelabelan ini ‘ada benarnya’ karena sebagai petahana, Jokowi memang tak mampu memenuhi target yang dijanjikan. Sementara Prabowo juga bukan sosok kandidat yang diharapkan.

Tetapi dalam perspektif anti golput, landasan argumentasi dari asumsi ini lemah.  Jika alasan tak memilih Prabowo karena Prabowo adalah orang yang memiliki catatan buruk pada masa Orde Baru, hal ini berpotensi menjadi sebuah genetic fallacy atau kekeliruan genetis di mana seseorang membuat penghakiman terhadap sesuatu berdasarkan masa lalu seseorang.

Parahnya nilai golput yang semakin meningkat tidak ditanggapi serius oleh penyelengara pemilu. Golput masih dianggap hal sepele dan tidak di wadahi sebagai aspirasi dalam sistem pemilu Indonesia. Namun mengapa makna golput selama ini seolah tak ada artinya, utamanya di Indonesia?

Ada persoalan yang serius sekaligus keliru dalam sistem legitimasi kekuasaan yang selama ini telah dipercayai oleh sistem hukum yang berlaku dan sudah terlanjur di percayai juga oleh masyarakat kita.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah pemilihan lokal, kemenangan kotak kosong dalam Pilwali di Makasar Sulawesi Selatan seharusnya mampu menjadi koreksi bersama atas sistem pemilu yang ada di Indonesia.

Pemilu tersebut seolah menjadi simbol, bahwa legitimasi seorang pemimpin tak melulu harus berdasarkan hukum mayoritas yang selama ini di percayai dalam sistem pemilu kita. Dalam kasus tersebut, idealnya para pembuat kebijakaan menyadari, bahwa suara-suara orang yang tak menginginkan kepemimpinan seorang kandidat dalam pemilu menjadi sebuah hal yang harus di akomodir.

Namun kenyataanya tak demikian. Belakangan ini golput yang dilandasi alasan ideologis maupun tidak ideologis sama-sama tidak mengubah proses demokrasi karena sikap tersebut tidak dianggap dalam sistem pemilu.

Nilai golput diatas 60% bahkan tidak akan menjadikan sebuah hasil pemilu gagal secara hukum.

Maka bisa disimpulkan, fenomena tersebut semakin mengukuhkan bahwa selama ini sistem pemilu kita hanya mengakomodir kepentingan-kepentingan golongan atau individu yang hanya ingin bernafsu menduduki jabatan politik.[]

 

Editor: Dedi Ermansyah

Sumber:

berita terkait

Image

News

Didukung Pengusaha Nasional, Sandiaga: Saya Sangat Terharu

Image

News

Profesor UI Kritik Sandi yang Tak Mampu Potret Masalah

Image

News

Relawan KerJo Siap Kawal Suara Jokowi-Ma'ruf Amin Hingga Ke TPS

Image

News

Prabowo Berjanji Akan Wujudkan Pemerintahan yang Pro Bisnis Dan Rakyat

Image

News

Erwin: HIPMI Kepalanya di Sana, Tapi Hatinya di Sini dan Nyoblos Prabowo-Sandi

Image

News

Anwar Usman: MK Siap Tangani Sengketa Pemilu 2019

Image

Ekonomi

Pengusaha Ajak Masyarakat Tak Golput Dengan Iming-iming Ini

Image

Ekonomi

Ketua Kadin Beberkan Capaian Pemerintahan Jokowi di Sektor Ekonomi

Image

News

Pemilu 2019

Banyak Masyarakat yang Tak Tahu Jika Pilpres dan Pileg Digelar Serentak

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Didukung Pengusaha Nasional, Sandiaga: Saya Sangat Terharu

Sekitar 1.000 pengusaha yang tergabung dalam Aliansi Pengusaha Nasional untuk Indonesia Menang mendeklarasikan dukungan kepada Prabowo-Sandi

Image
News

Profesor UI Kritik Sandi yang Tak Mampu Potret Masalah

Profesor UI mengkritik gaya komunikasi Sandiaga Uno yang kerap mengeksploitasi kasus individu.

Image
News

Pesan JK Kepada Jokowi: Teruskan Gaya Merakyat

Wakil Presiden, Jusuf Kalla, berpesan kepada Presiden Joko Widodo apabila terpiih lagi nanti agar meneruskan gaya merakyatnya.

Image
News

Keluarga Tak Ikut Jejak Terduga Teroris Asal Klaten

Keluarga terduga teroris berinisial Y alias Khodijah asal Klaten, Jawa Tengah tidak mengikuti jejaknya menjadi radikal.

Image
News

Kemendikbud: UN 2019 Dilengkapi Dengan Angket

Kemendikbud menyatakan Ujian Nasional (UN) 2019 dilengkapi dengan angket yang bertujuan menggali informasi nonkognitif siswa.

Image
News

Relawan KerJo Siap Kawal Suara Jokowi-Ma'ruf Amin Hingga Ke TPS

KerJo mendeklarasikan dukungan kepada Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (Capres-Cawapres) nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.

Image
News

MPR Ingatkan Semua Komponen Bangsa Agar Tetap Rawat Persatuan

Seluruh komponen bangsa diingatkan agar tetap merawat persatuan dan kesatuan.

Image
News

Prabowo Berjanji Akan Wujudkan Pemerintahan yang Pro Bisnis Dan Rakyat

"Pengusaha memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional," kata Prabowo.

Image
News

Erwin: HIPMI Kepalanya di Sana, Tapi Hatinya di Sini dan Nyoblos Prabowo-Sandi

Sebagian besar para pengusaha diklaim telah menentukan pilihan yakni mendukung pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02, Prabowo-Sandiaga Uno.

Image
News

Pesan JK kepada Generasi Milenial Agar Tidak Ketinggalan

JK menyampaikan pesan kepada generasi milenial yang tergabung dalam wadah #Inikerjaku untuk memiliki semangat untuk maju.

trending topics

terpopuler

  1. Mantap Berhijab, 10 Gaya Simpel Tika Bravani yang Bisa Kamu Tiru

  2. Baca Karakter Reino Barack, Pablo Benua Khawatirkan Hal Ini dalam Rumah Tangga Syahrini

  3. Banyak Perempuan Mulai Berhijab, Ini Masalah yang Sering Dihadapi

  4. Rekaman Suara Kokpit Lion Air Gambarkan Kepanikan Para Pilot

  5. 10 Pesona Dewa Dayana, Anak Gusti Randa yang Terjun ke Dunia Hiburan

  6. Ejek PM Selandia Baru, Mantan Atlet Australia Panen Hujatan

  7. 5 Momen Haru Pemain Leicester City Hadiri Kremasi Mendiang Bos Klub, Vardy Amat Terpukul

  8. Ribut-Ribut Survey Litbang Kompas

  9. 200 Orang Terdampak Banjir Bandang di Distrik Ravenirara

  10. Foto Kakek Buyutnya Digunakan untuk Raup Untung, Cicit Tuntut Universitas Harvard

fokus

Kisah Juru Pijat Tunanetra
Teror Masjid Selandia Baru
Di Balik Pakaian Bekas Impor

kolom

Image
Ujang Komarudin

Ribut-Ribut Survey Litbang Kompas

Image
Achmad Fachrudin

Dilema KPU Mengatasi Problem DPT

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Cawapres: Perang Kartu Sakti

Image
Ujang Komarudin

Menanti Kejutan di Debat Ketiga

Wawancara

Image
Iptek

Sepeda Listrik Jadi Polemik, Migo Beri Jawaban!

Image
Gaya Hidup

Chief Company Barbershop

Jatuh Bangun Chief Barbershop di Tangan Fatsi Anzani dan Oky Andries

Image
Hiburan

Dik Doang: Aku Sedang Berjalan di Kesunyian

Sosok

Image
News

5 Potret Blusukan ala Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo yang Memesona

Image
News

Jarang Tersorot, 8 Momen Manis Amien Rais saat Momong Cucu

Image
News

10 Momen Manis Djarot Saiful Hidayat Bersama Istri, Bak Pengantin Baru!