image
Login / Sign Up
Image

Ahada Ramadhana

Jurnalis AKURAT.CO

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image

Ilustrasi - Hoax | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, Kenapa orang bisa begitu yakin seyakin-yakinnya pada apa yang mereka percayai? Salah satu faktor pendukungnya adalah internet.

Ada sebuah konsep filter buble yang memungkinkan kita terus-menerus mendapat asupan berita sesuai yang pernah kita cari, lewat kanal ‘recommended for you’. Filter buble didefinisikan sebagai algoritma pencarian yang memungkinkan kita mendapat feed hanya dari berita yang kita suka dan kita lihat paling sering.

Tema apa yang paling sering kita cari, itulah yang ditawarkan internet. Filter buble ini membuat autoindoktrinasi, yaitu kondisi pendoktrinan dari diri sendiri melalui ide dan pemikiran kita.

baca juga:

Pandangan lain yang berseberangan hampir tidak mungkin sampai kepada kita dan membuat diri semakin terisolasi oleh pandangan yang selingkar dengan kita. Misalnya kita pernah search antikomunisme, maka internet akan menawarkan terus topik tersebut sehingga kita akan meyakini kebenaran hanya dari versi antikomunisme.

Hidup kita, isi kepala kita, cara memilah mana benar mana salah, menjadi disetir oleh internet. Dampaknya, pengetahuan kita seolah luas padahal makin sempit.

Kita semakin tidak peka pada pikiran yang berbeda karena selalu dijejali dengan kebenaran versi yang kita yakini. Dalam hal ini, internet tidak sedang menampilkan mahatahunya, tapi sedang melayani selera kita.

Kebenaran yang kita yakini, dengan bantuan internet, membuat kita semakin keras, semakin susah keluar dari situ. Kita dicecoki argumen dan data yang mendukung apa yang hari ini kita yakini sebagai kebenaran. Kalau kita tidak suka sosok A, mencari berita yang menjelekkannya, besok akan ditawari itu lagi.

Fenomena di atas adalah gambaran membiaknya peradaban yang mengarah pada post-truth. Secara terjemahan kata, Post-truth berarti pascakebenaran atau kebohongan.

Post-truth menjadi word of the year 2016 di Kamus Oxford lewat fenomena British Exit dan kampanye Donald Trump hingga media terus mengulang-ulang kata ini.

Menurut Kamus Oxford, post-truth mendeskripsikan situasi di mana fakta/objektifitas kurang berpengaruh dalam membentuk opini publik, kalah oleh daya tarik emosi dan apa yang diyakini orang. Kebohongan, jika mendukung apa yang diyakini, maka dianggap kebenaran.

Sebaliknya, seterang apapun kebenaran tapi tidak mendukung gagasan yang diyakini maka ditolak. Itulah ciri peradaban post-truth. Contoh post-truth yang dampaknya besar adalah Perang Dunia II, di mana salah satu pemicunya adalah ketika Adolf Hitler membuat laporan perang Inggris-Polandia dengan menyebut bahwa ‘tentara Polandia menembaki tentara Inggris’.

Bagaimana post-truth bisa laku? Setidaknya ada tujuh akar kelahiran post-truth, berdasarkan pemaparan Fahruddin Faiz dalam Ngaji Filsafat edisi Post-truth Communication pada Rabu terakhir bulan Agustus 2018.

Fahruddin Faiz adalah doktor Ilmu Agama jebolan UIN Sunan Kalijaga sekaligus pendidik tetap Fakultas Ushuluddin di kampus sama. Sejak 2013, Fahruddin faiz menjadi pengisi tetap Ngaji Filsafat yang digelar setiap Rabu malam di Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta.

Pertama, manusia suka pandangan baru. Meski itu bohong tapi mendukung yang kita yakini maka cenderung diterima. Adalah manusiawi orang suka ketika kebenaran yang diyakininya mendapat dukungan, meski dengan cara palsu dan bohong. Makanya basa-basi iselalu terasa menyenangkan. Ini adalah salah satu yang membuat kebohongan/post-truth menjadi laku.

“Misalnya kamu merasa cowok yang ganteng, tapi sebenarnya tidak terlalu jugalah, biasa-biasa saja. Terus ada temanmu yang bilang, ‘Sampeyan sekarang kok ganteng mas’. Meski itu basa-basi tapi kan kamu terima. ‘Ya, sebenarnya ya aku orangnya ganteng,” tutur penceramah memberi contoh.

Pendukung post-truth yang kedua adalah media. Karena media mengejar profit, jadi apa yang dibutuhkan masyarakat itulah yang ditampilkan media. Pandangan media cenderung kapitalis sehingga mengejar rating, oplah, atau klik.

Menurut Fahruddin, kalau beritanya lugu mana ada yang ngeklik. Berita sensasional memberi jaminan ketertarikan orang untuk membaca. Dan berita seperti itulah yang di-blow up, sebab media memang mencari untung.Pendukung yang menjadi akar kelahiran post-truth berikutnya adalah komodifikasi, yaitu membisniskan atau menjadikan komoditas.

Aspek apapun dalam kehidupan baik pendidikan, agama, dan sebagainya, dicari jalan yang menguntungkan kelompok dalam hal finansial, status, posisi, atau lainnya. Apapun dilakukan untuk mendukung kebohongan, termasuk kebohongan atas nama pendidikan, atas nama kesehatan, dan lainnya.

Pendukung lahirnya post-truth yang lain adalah kemajuan teknologi tidak diiringi kemampuan adaptasi dari masyarakat maupun pemerintah. Media bergerak begitu pesat sedangkan mental dan kecerdasan kita belum bisa mengimbangi.

Akhirnya orang memanfaatkan media untuk hal-hal tidak semestinya. Fahruddin memberi contoh, di antara komentar pujian di ajang Asian Games kita dapat emas, itu ada saja netizen yang menjelekkan, itu bukan benci tapi cuma iseng. Anehnya kita ikut terpancing menanggapi. Ini berkaitan dengan literasi kita menghadapi perkembangan teknologi informasi.

Alasan lain orang mendayagunakan kebohongan adalah pragmatisme yang berorientasi hasil jangka pendek. Disampaikan Fahruddin, ‘bohong sedikit nggak papa yang penting menang, curang sedikit nggak papa asal cepat lulus’.

Akar post-truth lainnya adalah karakter masyarakat ‘epilepsi’ alias gampang kaget, suka yang ‘waw’. Begitu ada berita ‘waw’ cepat-cepat nge-share dan mengaminkan tanpa lebih dulu diuji dan dibuktikan. Seandainya masyarakat tidak ‘epilepsi’, kebohongan bisa diminimalisasi. Kalau masyarakatnya cerdas maka setiap berita akan dibuktikan dulu. Di masyarakat epilepsi, berita bohong yang waw tersebar lebih cepat.

Pendukung terakhir kelahiran post-truth adalah populisme dalam politik praktis yang berupa sekadar retorika. Populisme yang menomorsatukan populasi masyarakat hingga tahap tertentu bagus, namun sayang jika dipakai hanya untuk retorika.

Biasanya menggunakan dalil ‘demi rakyat’ atau ‘membela umat’. Menyerukan untuk rakyat padahal untuk dirinya sendiri. Gaya inilah yang dipakai Donald Trump sehingga dia terpilih jadi presiden.

Untuk mengimbangi wacana post-truth, kita bisa berfokus pada empat hal berikut.

Pertama, fakta/data, bukan asumsi. Misal faktanya orang membuang tumpeng di laut. Apakah itu mubazir, musyrik, income pariwisata, semua asumsi itu nanti dulu. Yang penting adalah faktanya. Jika asumsi didahulukan maka itu tergolong post-truth.

Kedua, analisis kausalitas. Ditelaah kenapa itu terjadi, kejadiannya seperti apa, sumbernya dari mana. Ketiga, interpretasi. Kalau kejadiannya begitu berarti begini. Keempat, kesimpulan. Ini bukan berarti mengevaluasi karena evaluasi terkesan menghakimi dan menjadi sumber konflik.

“Intinya ada berita apapun jangan kesusu dibenarkan atau diasumsikan. Pelan-pelan ditelaah. Usul fiqh ada namanya maukuf, dipending dulu. Sebelum ada data jelas, nanti dulu. Kalau tidak begitu, kebohongan bakal menyebar karena terus diulang-ulang,” pesan Fahruddin.

Untuk itu diperlukan cara mengenali post-truth supaya kita tidak termasuk golongan yang terjebak pemberitaan. Langkah-langkah ini bisa menjadi panduannya.

Pertama, ingat setiap berita adalah konstruksi dari pembuat berita. Maka menjadi penting untuk mencari tahu siapa yang membuat berita, sumbernya dari mana.

Jika sudah, tahap berikutnya adalah memahami framing. Setiap berita ada yang ditonjolkan. Cek faktanya apa dan framing apa.

Lalu ingat bahwa orang berbeda bisa menangkap fakta yang sama secara berbeda. Kira-kira fakta seperti ini dipahami grup sana seperti apa. Mempertimbangkan kemungkinan makna.

Dan, setiap media punya nilai dan sudut pandang. Arah media ke mana, sudut pandang mana yang dipakai dan mana yang disingkirkan.

Terakhir, tujuannya, bahwa setiap media mengejar keuntungan tertentu. Pahami apa yang media dapat ketika kita memahami berita seperti yang media inginkan.

Cara melek terhadap berita/media bisa juga dengan rumus dari Socrates yaitu teori tripel filter ketika menerima berita.

Cek kebenarannya, cek kebaikannya, cek manfaatnya. Kalau berita itu benarnya belum pasti, membicarakan hal tak baik, tak memberi manfaat apapun, lebih baik tak usah disampaikan.[]

Editor: Sugeng Wahyudi

berita terkait

Image

News

Viral Video Ibu-ibu Plester Tas Sekolah Anaknya Demi Meja Paling Depan

Image

News

Lihat Video Ini Bikin Warganet Terharu

Image

News

Cobaan Jadi Ojol, Antar Pesanan Malah Digonggong Anjing Galak

Image

News

Sony Subrata: Berapi-api, Pidato Jokowi Jadi Trending Topic Indonesia

Image

Gaya Hidup

Generasi Milenial Jarang Bercinta dan Sering Tunda Menikah

Image

Gaya Hidup

Stop Unggah Kabar Duka di Media Sosial

Image

Ekonomi

Sindir Iuran untuk Habib Rizieq, Denny: Sisanya Banyak, Bisa Buat Beli Rubicon

Image

Gaya Hidup

INFOGRAFIS Social Climber, Penyakitnya Para Milenial?

Image

News

Viral Wanita Cantik Berpakaian Bak Hakim, Siapa Dia?

komentar

Image

1 komentar

Image
Resta Apriatami

autoindoktrinasi, ini nih yang bikin kita cuma percaya sama satu hal dan stag disitu-situ aja. pikiran jadi nggak terbuka

terkini

Image
News

GNPF Ulama Tegaskan Belum Nyatakan Sikap Terkait Pertemuan Jokowi-Prabowo

"Pertemuan kemarin, kami senang juga nggak, tidak senang juga nggak, jadi biasa-biasa saja,” tegas Ketua PA 212 Slamet Ma'arif.

Image
News

Bakesbanpol DKI Berjanji Perbaiki Fasilitas Pengungsi Pencari Suaka

Bakesbanpol Provinsi DKI Jakarta berjanji akan terus memperbaiki fasilitas serta sarana-prasarana pengungsian

Image
News
Haji 2019

Kemenag: Calon Haji Aceh 36,5 Persen Berusia 60 Tahun Berangkat 20 Juli

Sekitar 36,5 persen calon haji asal provinsi ini Aceh berusia 60 tahun lebih dijadwalkan bakal berangkat 20 Juli 2019.

Image
News

Dinsos DKI Berencana Adakan Belajar Bersama Anak Pengungsi Pencari Suaka

Para petugas Dinas Sosial DKI Jakarta berencana mengadakan belajar bersama untuk para anak pengungsi pencari suaka di Kalideres.

Image
News

Kemenag Ajak Umat Islam Salat Khusuf Saat Gerhana Bulan 17 Juli, Ini Tata Caranya

"Pelaksanaan shalat gerhana disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerahnya masing-masing," kata Muhammadiyah Amin.

Image
News

Hormati Pertemuan Jokowi-Prabowo, PKS Akan Tetap Dampingi Prabowo-Sandi

"Pertemuan tersebut sebenarnya menunjukkan sikap ksatria dari Prabowo, beliau selalu mengedepankan kepentingan bangsa dan negara"

Image
News
Haji 2019

Dua Jemaah Haji Asal Surabaya dan Batam Meninggal di Madinah

Penyebab wafat Subli adalah hipertensi yang menyebabkan pecahnya pembuluh darah ke otak. Sementara Soeratno akibat gastritis dan dehidrask.

Image
News

Lanjutkan Proses Hukum Sjamsul Nursalim, Sikap KPK Dinilai Mengecewakan

Saat ini KPK berbalik mengklaim bahwa peran dan perbuatan SN dan IN berbeda dengan SAT.

Image
News

Polisi Indramayu Selamatkan 19 anak dari Tindak Pidana Perdagangan Orang

Kapolres Indramayu AKBP Yoris M.Y Marzuki mengungkapkan, polisi mengetahui adanya TPPO tersebut berkat adanya laporan dari para orang tua.

Image
News

Ketua PA 212 Akan Berjuang Sekuat Tenaga Terlaksananya Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta

Ijtima Ulama ke-4 siap digelar di Jakarta.

trending topics

terpopuler

  1. Inter Milan Buka Pramusim dengan Kemenangan

  2. Sindir Iuran untuk Habib Rizieq, Denny: Sisanya Banyak, Bisa Buat Beli Rubicon

  3. Pria Jepang Ini Jadikan Kekasihnya PSK untuk Bayar Utang dan Judi

  4. Istana Tak Main-main Pindahkan Ibu Kota Negara

  5. Paranormal Terawang Pidato Presiden Jokowi

  6. Jemaah Calon Haji Termuda Asal Asahan Seorang Mahasiswa SPN

  7. Raffi Ahmad Dibolehkan Nagita Slavina Menikah Lagi, Asalkan...

  8. Viral, Potret Stadion GBLA Gedebage Tak Terawat yang Bikin Warganet Prihatin

  9. Tak Ada Tabayyun ke Ulama Bertemu Jokowi, PA 212: Prabowo bukan Pemimpin Kami

  10. Roach: Thurman akan KO di Ronde Kesembilan

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image
Hasan Aoni

Berhenti Mengisap yang Belum Niscaya

Image
Hasan Aoni

Puzzle Kehidupan Puisi Tiyo

Image
UJANG KOMARUDIN

Bagi-bagi Jatah Menteri

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik