image
Login / Sign Up
Image

Damai Mendrofa

Jurnalis. Tinggal di Kota Sibolga

Hoaks Tsunami di Sibolga, Antara Kepanikan dan Peluang yang Mempersatukan

Image

Ilustrasi - Hoax | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, Suara gedoran dipintu rumah kami, di jalan Hiu Kota Sibolga, Sumatera Utara, Kamis (10/1/2019) dini hari, tak pelak membangunkanku dan istriku. Gedoran yang sangat kasar diikuti suara-suara keributan di luar rumah. Padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 02:00 WIB. Waktu yang seharusnya dihabiskan menikmati mimpi-mimpi indah.

"Bangun-bangun, tsunami-tsunami," teriak orang-orang dari luar. Masih dalam keadaan setengah sadar, saya pun bangun. Dengan langkah gontai, saya pun berjalan keluar rumah.

Benar saja. Diluar rumah, suasana horor tampak terlihat. Semua tetangga sudah berada di jalan, bahkan beberapa sudah menggunakan sepeda motor dan mobil. Sebagian lahi masih berdiri-diri dengan gestur tubuh penuh kepanikan telpon sana sini. 

baca juga:

Semua menyandang tas, tentu di dalam tersemat barang-barang berharga semisal emas atau buku tabungan. Beberapa lainnya menggendong anak-anak dan sibuk menelpon yang mungkin lebih tahu persis terkait kabar yang beredar. Semua sudah siap menyelamatkan diri.

"Boha disan? Dison ma naeng tu gunung sude (Disana bagaimana? Disini semua udah mau ke gunung)" ucap seorang ibu dalam bahasa Batak.

Aku yang baru saja 'mengumpulkan nyawa' karena baru terjaga buru-buru ingat kabar serupa yang terjadi di Kecamatan Sorkam persis sebelum saya memejamkan mata malam itu. Sadar informasi itu tidak benar, aku berusaha menenangkan para tetangga.

"Coba dulu bapak-ibu, itu informasinya dari mana? Dipastikan dulu, karena tadi di Sorkam Barat juga ada informasi serupa dan ternyata tidak benar," kataku.

"BMKG yang bilang, katanya," ucap seorang ibu dengan tangkas.

"Iya bu, kalaupun ada tsunami, pantai kita kan ada banyak pulau-pulau, tidak perlu terlalu panik," kataku menjelaskan.

Sibolga dan kawasan pesisir Sumatera Utara memang berada dilindungi oleh beberapa pulau besar di sekitarnya. Yang terbesar tentu saja Pulau Nias. Lalu ada Pulau Mursala dan pulau-pulau kecil lainnya. Sehingga potensi terjadinya tsunami tidak terlalu besar. Pada tahun 2004 saat tsunami menghantam Aceh dan Nias, dampaktsunami kawasan Sibolga dan Tapanuli Tengah tidak separah di Aceh dan Nias. Keyakinan itu yang membuat saya tidak terlalu panik.

"Agia pe da, dang sai binoto aha na terjadi (walaupun begitu, gak tahu kita apa yang akan terjadi)" seorang bapak lain menjawabku.

Tak mau kalah, aku yang beruntung menyimpan nomor telepon Kapolres dan Wali Kota Sibolga. Buru-buru menghubungi mereka berdua. Jawabannya sama: tidak ada peringatan dini tsunami di perairan Sibolga.

Lantas, aku juga membuka website resmi BMKG. Didalam website, tidak ada satu peringatan pun menyebut soal tsunami di perairan pantai barat Sumut.

"Tapi semua orang udah mengungsi?" celetuk bapak lainnya.

Tak habis akal, akupun bergegas mengeluarkan sepeda motor, membawa kamera dan menuju Ancol (tentu bukan Ancol di Jakarta), yang tak jauh dari rumahku. Di Ancol ini laut terhampar lebih bebas dipandang. Pasang surut air laut akan terlihat jelas.

Disana, orang-orang juga berkerumun. Memastikan apakah benar tidaknya air laut surut parah lalu menyisakan ikan-ikan bergelimpangan seperti 2004 lalu saat tsunami melanda Aceh?. Bammmm. Faktanya, air laut memang surut, tapi surut sebatas pandangan. Artinya, ya surut biasa saja.

"Tapi biasa sajanya, gimana info sebenarnya?" pertanyaan demi pertanyaan serupa saling ditanyakan warga ke warga yang lain. Pertanyaan yang mereka sendiri sulit menjawabnya.

Dengan nada sok meninggi, aku mengulang pernyataan yang sama. Tidak ada tsunami, BMKG juga tak ada mengeluarkan pernyataan dini.

Beberapa percaya, tapi beberapa orang lain, usai menyaksikan air laut yang surut, buru-buru meniggalkan Ancol dan masih dalam gestur tubuh penuh kepanikan.

Gejolak kepanikan juga terjadi di kecamatan Pandan. Beberapa kerabat menelepon, bahkan beberapa pejabat teras sebuah instansi juga menghubungi. Jawabanku sama, tidak ada tsunami.

Sekitar sejam kemudian, pesan berantai bantahan mulai menyebar. Jelas, informasi kali ini dari BMKG. Pesan yang nampil di halaman facebook itu di screenshoot lalu disebarkan. Kepanikan berangsur-angsur mereda berganti emosi dan amarah yang amat teramat sangat.

Meski tulisan ini tidak ingin ikut-ikutan marah dengan sensasi emosional mengernyitkan kening sembari mengetik artikel ini. Tulisan ini juga tidak ingin membahas darimana asal hoaks itu, siapa pelakunya atau apakah sudah ditangkap dan apakah pantas bibirnya diseret-seret di rigid beton kota Sibolga atau jempolnya di kasih lintah agar diisap darahnya sampai kering.

Secara pribadi, saya seyakin Pulau Mursala, bapak-bapak polisi akan bertindak dengan segenap kewenangan borgolnya. Jikapun tidak, aku juga seyakin ombak mendebur, si pelaku penyebar hoaks akan diganjar Tuhan dan alam semesta dengan 'tsunami' yang berbeda.

Tulisan ini hanya berusaha menjumput makna dibalik tragisnya informasi hoaks yang meluluhlantakkan segenap kesadaran fikir ribuan warga tidak saja di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah, tapi juga menular ke beberapa daerah lain, seperti Nias dan beberapa daerah di sebelah Selatan.

Panik, takut, khawatir! Jelas! Siapa yang mau mati sia-sia terseret air laut yang pasang atau terjebak kehabisan oksigen di dalam rumah saat air laut menggulung? Siapa yang tak mau melanjutkan hidupnya? Dan siapa pula tak merinding menyaksikan ratusan jasad bergelimpangan usai disapu tsunami atau ombak besar di Banten Sunda dan Lampung?

Potret berbagai peristiwa tsunami menyisakan duka berkepanjangan dan menjadi momok. Kata 'tsunami' lantas bersejajar dengan 'malaikat pencabut nyawa'. Tsunami di mix dengan hoaks, maka komplitlah sudah. Malaikat Isroil pun akan mempersilahkan keduanya bekerja meruntuhkan segenap sisi-sisi kemanusiaan bahkan keimanan kita.

Lantas bagaimana kita? Ujian hoaks terus terjadi, tidak saja soal tsunami kali ini. Tapi banyak isu lain yang juga begitu menyentuh sendi-sendi kehidupan sosial kita. Sebut saja beberapa yang terheboh, misalnya kasus penganiayaan Ratna Sarumpaet dan teranyar kasus Surat Suara tercoblos.

Isu tsunami kali ini mungkin tidak menyasar-nyasar sentimen politik kita. Tapi, polarisasinya sama: hoaks, berantai dan menakutkan. Jika mau berfikir waras, maka terkhusus masyarakat di Kota Sibolga dan Tapanuli Tengah serta beberapa daerah lain yang terimbas, hoaks tsunami adalah pembelajaran penting betapa kita perlu bersatu: bersatu melawan hoaks.

Sisi lain yang menyiratkan makna hakiki kebangsaan kita, yakni kebersatuan masyarakat sepanjang isu hoaks tsunami, juga sangat jelas terlihat dalam hal-hal sederhana namun hakiki. Misalnya saling menggedor pintu tetangga, saling meneriaki, saling bertelepon bertanya kabar dan himbauan agar waspada, saling berkomen di media sosial atau saling mendoakan satu dengan yang lain. 

Persoalannya, apakah kebersatuan kita hanya akan muncul disaat-saat genting nan sinting? Menurut saya, ini menjadi pertanyaan penting, agar masuk dalam ruang-ruang refleksi kita. 

Bahwa andai saja kebersatuan kita terawat dengan baik, maka hoaks hanya akan mendapat porsi dalam celah-celah kecil saja, tak lebih dari sekadar bahan candaan dan tertawaan kita semata.

Bahwa andai saja nilai keeratan di antara kita tak sekadar berkamuflase di ruang-ruang maya, maka informasi bohong hanya angin lalu pengisi desah nafas di tengah malam.

Bahwa andai kita semakin cermat menelaah informasi dan kabar serta menahan diri serta ikut menganjurkan teman, kerabat dan tetangga atau sahabat dunia maya agar tak buru-buru menyebarkan kabar yang belum terkonfirmasi kebenarannya, maka agen-agen hoaks, bahkan termasuk agen robotik yang di disain menciptakan dan menyebarkan hoaks sekalipun, akan berfikir 1.111.111.111 kali sebelum bekerja. Karena kita bersatu.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

Sumber:

berita terkait

Image

News

Kolom

Hantu Debat Perdana

Image

News

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Image

News

Republik Darurat Hoaks

Image

News

Sesat Pikir Calon Wakil Rakyat

Image

News

Media Massa dan Pemilu 2019

Image

News

Kerawanan Pemilu di Daerah Bencana

Image

News

Muslim Uighur diantara Tragedi Kemanusiaan dan Separatisme

Image

News

Gaya Baru Kampanye Pilpres

Image

News

Natal dan Iman Kita

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Kisah James Berjam-jam Menunggu, Akhirnya Berhasil Jadi Pusat Perhatian Jokowi

James terlihat menangis karena tak percaya dapat bertemu Jokowi.

Image
News

Pencari Suaka, Imigran, dan Pengungsi, Apa Bedanya?

Pengungsi berbeda dengan migran atau imigran karena perpindahan mereka didorong oleh faktor yang tidak mereka kehendaki.

Image
News

Guntur Romli: Saya Tidak Peduli Abu Bakar Ba'asyir Dukung Siapa di Pilpres 2019

"Iya, termasuk kondisi kesehatan masuk dalam pertimbangan itu," katanya.

Image
News

Pengamat: Pembebasan Ba’asyir bukan Kompromi dengan Teroris

Ba’asyir telah menjalani masa hukumannya selama 9 tahun sejak divonis 15 tahun penjara.

Image
News

Janji Ma'ruf Amin kepada Petani Kalau Menang

"Terimakasih atas dukungan yang diberikan. Saya sangat bersyukur dan yakin bahwa kita bisa menang dan meraup suara tinggi di Jabar."

Image
News

KPU Tinjau Proses Percetakan Surat Suara di Makassar

Hari ini 20 Januari pukul 11.15 WITA, kita mulai pencetakan perdana suara suara Pemilu 2019.

Image
News

Pendukung Ahok: Gua yang Jemput Pertama BTP, Gua yang Gendong, Gua Mau Arak

Victor Simanjuntak mencoba menawar. Dia mengatakan nanti tidak akan membuat macet.

Image
News

Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Dua Pria yang Jenazahnya Diikat di Pasuruan

Ketiganya saat ini sedang menjalani pemeriksaan.

Image
News
Pemilu 2019

Gandeng Partai Koalisi, PDIP Targetkan Kursi DPR di Jakarta Bertambah

"Kalau kalkulasi dengan sistem perhitungan sesuai UU baru, sekarang 2 sampai 3"

Image
News

Kronologi Penemuan Dua Jenazah Korban Pembunuhan di Pasuruan

Saudara Nurul huda bersama warga sempat menyiramkan air kepada kedua orang korban.

trending topics

terpopuler

  1. Wali Kota Cirebon Nasrudin Aziz Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019

  2. Ricuh di Tanah Abang, Pengamat: PKL Berani Serang karena Tahu Kelemahan Satpol PP

  3. Habiburokhman: Jangan Ada Pihak-pihak yang Mempolitisasi Pembebasan

  4. Doa Dedeh Sebelum Ketemu Jokowi: Lihat TV, Yakinkanlah Ya Allah, Pertemukan dengan Presiden

  5. Tuai Banyak Cibiran, Foto Liburan Syahrini Ini Diduga Editan

  6. PDIP Minta Publik Beri Ahok Kesempatan Nikmati Urusan Pribadinya

  7. Ini Dia, Sejumlah Vitamin yang Bisa Cegah Jerawat Meradang

  8. Giggs: Saya Tidak Terkejut Apa yang Solskjaer Lakukan

  9. Pemerintah Tawarkan Rumah Subsidi Seharga Rp130 Juta Bagi Tukang Cukur

  10. Paslon Nurhadi-Aldo Jadi Sorotan Media Internasional

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Meneropong Debat Perdana Pilpres 2019

Image
Ujang Komarudin

Hantu Debat Perdana

Image
Ahada Ramadhana

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image
Achmad Fachrudin

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Wawancara

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Image
Hiburan

Ternyata Egi Fedly Inisiator Konser Musik Gratis untuk Umum di IKJ

Image
Hiburan

Sisi Lain di Balik Wajah Seram Egi Fedly

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

Image
Hiburan

Debat Pilpres 2019

10 Fakta Ira Koesno, Moderator yang Curi Perhatian di Debat Capres

Image
Ekonomi

Ekonom Tony Prasetiantono Meninggal Dunia, Rizal Ramli dan Chatib Basri Kenang Masa Debat