image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Republik Darurat Hoaks

Image

Ilustrasi - Hoax | AKURAT.CO/Ryan

AKURAT.CO, Hoaks di republik ini, sepertinya sudah menjadi komoditas. Komoditas yang sengaja diproduksi oleh kelompok tertentu, untuk menghancurkan lawannya. Hoaks tak akan bermakna, jika tak ada yang memproduksi, menyebar, dan membacanya. Hoaks tak akan besar, jika tidak diolah dan digoreng.

Hoaks sangat berbahaya, bukan hanya bagi proses demokrasi. Tetapi juga dapat menghancurkan bangsa. Hoaks yang tumbuh dan berkembang secara masif, akan menjadi hantu pembunuh dan menghanguskan bangunan persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. Dan hoaks dapat mendegradasi dan mendelegitimasi sebuah rezim.

Bangsa ini, sedang mengalami dan menjalani darurat hoaks. Hoaks terjadi dimana-mana. Menyebarkan hoaks, seperti sudah menjadi rutinitas dikursus di ruang publik. Hoaks menyebar bagaikan virus mematikan, yang mengancam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

baca juga:

Hoaks bisa menjadi pembunuh nomor satu di Indonesia. Melebihi ganasnya penyakit jantung, strok, kangker, hipertensi, dan HIV AIDS. Hoaks mengudara, membesar, dan menyebar akan menabrak tembok besar kekuasaan. Hoaks bisa menerjang siapapun yang sedang berkuasa.

Jika dibiarkan, hoaks akan banyak memakan banyak korban. Bukan hanya penguasa politik yang akan menjadi santapan. Siapapun akan terkena. Siapapun akan menjadi objek. Dan siapapun akan menderita dan merana, karena serangan hoaks yang membabi buta.

Bangsa besar dan kuat adalah bangsa yang mampu melawan dan membunuh hoaks. Negara harus hadir dalam memberantas hoaks. Negara tidak boleh kalah, oleh serangan-serangan hoaks yang disebar untuk menghancurkan, memecah-belah, mendegradasi, dan mendeligitimasi pemerintah.

Republik ini, tidak boleh kalah oleh hoaks. Bangsa yang tak berdaya dan kalah oleh hoaks, hanya akan menjadi negara hancur. Tentu Indonesia tidak mau menjadi negara yang hancur. Oleh karena itu, melawan hoaks adalah keniscayaan. Melawan hoaks adalah tugas kita semua. Tak peduli miskin atau kaya, tua atau muda, pejabat atau rakyat jelata, semuanya harus bergerak untuk melawan hoaks.

Hoaks yang dibiarkan akan menjadi kebenaran. Dan hoaks yang diproduksi secara terstruktur, sistematis, dan masif, jika tidak diantisipasi dan dihentikan, akan dapat memporak-porandakan nilai-nilai kebaikan. Dan menjungkir-balikan fakta, dan objektifitas.

Jika bangsa sudah dikuasai hoaks, maka tinggal tunggulah kehancurannya. Republik yang kita cintai ini, tentu tak mau hancur. Dan tak boleh hancur. Kedewasaan kita sebagai anak bangsalah, yang dapat menghalangi hancurnya bangsa dari serangan hoaks. Kedewasaan dalam memverifikasi berita yang datang. Kedewasaan dalam “tabayun”, ketika informasi diterima. Dan kedewasaan, untuk tidak menyebarkan berita, yang belum jelas kebenarannya.

Cara lain untuk melawan dan menghentikan hoaks, yaitu dengan cara menegakkan hukum secara adil dan konsekwen. Tangkap, adili, dan hukum siapapun yang memproduksi dan menebar hoaks. Agar ada efek jera. Jika penegakkan hukum tidak dijalankan, maka hoaks akan merajalela. Dan akhirnya, masyarakat tidak takut lagi untuk menyebar hoaks.

Demokrasi harus selaras dan sejalan dengan penegakkan hukum. Demokrasi yang tidak dibarengi dengan penegakkan hukum yang baik, akan menjadi demokrasi abal-abal yang tanpa arah. Demokrasi yang akan mudah diserang hoaks. Demokrasi yang rapuh dan tak bermakna.

Hoaks 7 kontainer yang berisi kertas suara, yang sudah dicoblos untuk pasangan 01, Jokowi-Ma’ruf. Sungguh merupakan hoaks yang sangat berbahaya. Ya, sangat berbahaya. Karena seolah-olah pemerintah akan bermain curang dalam Pemilu 2019. Dan seolah-olah, penyelenggara pemilu, seperti KPU dan Bawaslu juga membiarkan kejadian tersebut.

Jika dilihat dari pola gerakan dan penyebarannya. Hoaks tersebut, bukan hanya untuk mendegradasi dan mendeligitimasi pemerintah dan penyelenggara Pemilu saja. Tetapi juga, untuk menumbuhkan ketidak percayaan publik kepada pemerintah dan KPU. Jika hoaks tersebut berhasil, maka tentu akan bisa memecah belah sesama anak bangsa.

Syukurlah, pihak kepolisian bergerak dan bertindak cepat. Sudah ada pelaku, yang dijadikan tersangka, dalam kasus penyebaran hoaks tersebut. Namun yang harus diselididki dan diinvestigasi adalah, siapa sesungguhnya aktor intelektual di belakangnya. Karena tak mungkin mereka bekerja asal-asalan dan sendirian.

Mengusut tuntas para penyebar hoaks adalah jalan terbaik. Jalan kebaikan untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara. Jalan keindahan, untuk menjaga kewibaan pemerintah dan penyelengara pemilu. Jalan kesuksesan, untuk menjadikan republik ini hebat dan jaya.

Kita sudah jenuh, lelah, dan terluka dengan narasi kampanye konyol yang saling serang, fitnah, dan saling menjatuhkan. Ditambah lagi dengan sebaran hoaks yang membabi-buta. Mari kita sudahi kampanye yang saling menyakiti dan melukai.

Ditengan kejenuhan tersebut, wajar jika muncul capres dan cawapres fiktif, Nurhadi-Aldo. Sebuah pesan, sindiran, dan kritikan atas fenomena dan realitas kampanye kedua kubu, Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi yang masih mempertontonkan kampanye yang tidak mencerdaskan dan mencerahkan.

Munculnya capres dan cawapres fiktif, Nurhadi-Aldo jangan dianggap enteng. Jangan dianggap biasa-biasa saja. Walaupun bisa saja sebagai bentuk hiburan. Namun jika dibiarkan, akan menjadi fenomena menarik, yang bisa saja akan menambah Golput dalam pemilu nanti.

Apapun bentuk, isi, dan polesannya, hoaks menjadi musuh bersama. Musuh kita semua. Musuh sesama anak bangsa. Dan musuh negara.  Jangan beri ruang hoaks untuk tumbuh dan berkembang. Sekali saja kita lengah, maka kita bisa menjadi korbannya.

Republik ini harus diisi dengan kreatifitas dan inovasi. Bukan dengan memproduksi dan menebar hoaks. Karena dengan kreatifitas dan inovasi, bangsa ini bisa menjadi bangsa besar yang disegani dalam percaturan politik internasional. Namun jika hoaks yang diproduksi dan kembangkan, maka tunggulah kehancuran bangsa ini. Mari kita jaga republik ini dari hoaks. Wallahu’alam.[] 

 

 

Editor: Sunardi Panjaitan

Sumber:

berita terkait

Image

News

Kolom

Hantu Debat Perdana

Image

News

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Image

News

Hoaks Tsunami di Sibolga, Antara Kepanikan dan Peluang yang Mempersatukan

Image

News

Sesat Pikir Calon Wakil Rakyat

Image

News

Media Massa dan Pemilu 2019

Image

News

Kerawanan Pemilu di Daerah Bencana

Image

News

Muslim Uighur diantara Tragedi Kemanusiaan dan Separatisme

Image

News

Gaya Baru Kampanye Pilpres

Image

News

Natal dan Iman Kita

komentar

Image

1 komentar

Image
Muhamad Wahyudi

Jadi makin bingung sekarang kalau ada kabar atau berita, harus dicari sumbernya dulu

terkini

Image
News

Guntur Romli: Saya Tidak Peduli Abu Bakar Ba'asyir Dukung Siapa di Pilpres 2019

"Iya, termasuk kondisi kesehatan masuk dalam pertimbangan itu," katanya.

Image
News

Pengamat: Pembebasan Ba’asyir bukan Kompromi dengan Teroris

Ba’asyir telah menjalani masa hukumannya selama 9 tahun sejak divonis 15 tahun penjara.

Image
News

Janji Ma'ruf Amin kepada Petani Kalau Menang

"Terimakasih atas dukungan yang diberikan. Saya sangat bersyukur dan yakin bahwa kita bisa menang dan meraup suara tinggi di Jabar."

Image
News

KPU Tinjau Proses Percetakan Surat Suara di Makassar

Hari ini 20 Januari pukul 11.15 WITA, kita mulai pencetakan perdana suara suara Pemilu 2019.

Image
News

Pendukung Ahok: Gua yang Jemput Pertama BTP, Gua yang Gendong, Gua Mau Arak

Victor Simanjuntak mencoba menawar. Dia mengatakan nanti tidak akan membuat macet.

Image
News

Polisi Ringkus Pelaku Pembunuhan Dua Pria yang Jenazahnya Diikat di Pasuruan

Ketiganya saat ini sedang menjalani pemeriksaan.

Image
News
Pemilu 2019

Gandeng Partai Koalisi, PDIP Targetkan Kursi DPR di Jakarta Bertambah

"Kalau kalkulasi dengan sistem perhitungan sesuai UU baru, sekarang 2 sampai 3"

Image
News

Kronologi Penemuan Dua Jenazah Korban Pembunuhan di Pasuruan

Saudara Nurul huda bersama warga sempat menyiramkan air kepada kedua orang korban.

Image
News

Kini Warga Malaysia yang Mengkritik Keluarga Kerajaan Bisa Dipenjara

Undang-Undang Penghasutan melarang segala tindakan, ucapan, atau publikasi yang mengkritik pemerintah atau penguasa sembilan negara bagian

Image
News

Unik, Memorandum Dukungan ke Jokowi-Ma'ruf Ditulis di Kertas Daluang

"Terima kasih atas dukungan yang diberikan. Saya yakin bisa menang dan meraup suara tinggi di Jawa Barat," kata dia.

trending topics

terpopuler

  1. Wali Kota Cirebon Nasrudin Aziz Deklarasikan Dukungan untuk Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019

  2. Ricuh di Tanah Abang, Pengamat: PKL Berani Serang karena Tahu Kelemahan Satpol PP

  3. Habiburokhman: Jangan Ada Pihak-pihak yang Mempolitisasi Pembebasan

  4. Doa Dedeh Sebelum Ketemu Jokowi: Lihat TV, Yakinkanlah Ya Allah, Pertemukan dengan Presiden

  5. Tuai Banyak Cibiran, Foto Liburan Syahrini Ini Diduga Editan

  6. PDIP Minta Publik Beri Ahok Kesempatan Nikmati Urusan Pribadinya

  7. Ini Dia, Sejumlah Vitamin yang Bisa Cegah Jerawat Meradang

  8. Giggs: Saya Tidak Terkejut Apa yang Solskjaer Lakukan

  9. Pemerintah Tawarkan Rumah Subsidi Seharga Rp130 Juta Bagi Tukang Cukur

  10. Pengaruh Erick Thohir, Milenial Lebih Banyak Memilih Jokowi-Ma'ruf

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Meneropong Debat Perdana Pilpres 2019

Image
Ujang Komarudin

Hantu Debat Perdana

Image
Ahada Ramadhana

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image
Achmad Fachrudin

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Wawancara

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Image
Hiburan

Ternyata Egi Fedly Inisiator Konser Musik Gratis untuk Umum di IKJ

Image
Hiburan

Sisi Lain di Balik Wajah Seram Egi Fedly

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

Image
Hiburan

Debat Pilpres 2019

10 Fakta Ira Koesno, Moderator yang Curi Perhatian di Debat Capres

Image
Ekonomi

Ekonom Tony Prasetiantono Meninggal Dunia, Rizal Ramli dan Chatib Basri Kenang Masa Debat