image
Login / Sign Up

Hanya Bahas Korupsi Soeharto, ICW Dinilai Tak Adil dan Tendensius

Deni Muhtarudin

Image

Diskusi Umum yang bertema "Jangan Lupakan Korupsi Soeharto" dengan pembicara : Bonnie Triyana (Sejarawan), Usman Hamid (Direktur Amnesty International – Indonesia - Aktivis 98), Abdul Fickar Hadjar (Akademisi/Praktisi Hukum), Emerson Yuntho (Peneliti ICW) di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata Timur, Jakarta Selatan, Kamis (6/13/18) | AKURAT.CO/Oktaviani

AKURAT.CO, Indonesia Corruption Watch (ICW) dinilai tidak adil dan terlihat tendensius dalam membahas persoalan korupsi di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Gerindra, Andre Rosiade, saat menanggapi diskusi yang digelar ICW dengan tajuk 'Jangan Lupakan Korupsi Soeharto' di kantornya, Kalibata, Jakarta, Kamis (6/12/18).

Andre Rosiade melihat, diskusi yang menghadirkan narasumber sejarawan Bonnie Triyana, Direktur Amnesti Internasional Indonesia Usman Hamid, akademisi Abdul Fickar Hadjar dan Peneliti ICW Emerson Yuntho itu sangat tendensius dan menyudutkan pemerintah di zaman Orde Baru (Orba). Andre mengungkapkan, seharusnya diskusi memiliki spektrum yang lebih luas.

baca juga:

"Karena kan kita cari solusi penyelesaian korupsi. Bukan menghakimi seseorang," ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima AKURAT.CO, Jakarta, Jumat (7/12/18).

Menurut Andre, pihaknya tidak bermaksud mengatur-atur materi yang dibahas oleh ICW. Namun sebagai lembaga yang netral, Andre mengatakan, seharusnya ICW memiliki sikap serupa. Artinya, pembahasan mengenai penanggulangan korupsi harus menyeluruh.

"Terserah mau bikin apa, tapi kan di semua zaman ada korupsi. Itu yang harusnya dibahas," ujarnya.

Dari zaman Belanda di Indonesia, Andre menyebut, perilaku koruptif sudah terlihat. Sehingga kasus-kasus korupsi memang terjadi dari satu rezim ke rezim lain. Namun yang perlu perhatian lebih, menurutnya, zaman reformasi usai Soeharto turun.

Pasalnya, Andre menilai, reformasi dianggap menawarkan jawaban atas sistem tata negara yang lebih baik dari Orba. Namun kenyataannya, kasus korupsi masih marak terjadi. Sehingga pembahasan mengenai hal ini nampak lebih relevan.

"Kenapa reformasi yang katanya jadi pembaharuan, tapi kok masih ada korupsi," katanya.

Jika ingin netral, Andre berharap, ICW bisa menjadi pemberi solusi. Artinya, kasus korupsi yang dibahas harus menyeluruh dan tidak parsial. Sehingga betul-betul jawaban kongkrit yang diberikan pada masyarakat.

"Jadi jangan satu rezim saja gitu," ungkapnya.

Sementara itu, Sekjen Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Ustadz Haikal Hassan Baras, menilai bahwa diskusi itu tidak bermutu dan sengaja hendak menjatuhkan Partai Berkarya yang diinisiasi keluarga Cendana. Ia menegaskan, justru korupsi besar-besaran terjadi pada zaman sekarang.

"Normal enggak ICW mengungkap korupsi orang yang sudah meninggal dan mengejar aset-aset yang digunakan untuk pembangunan seluruh masyarakat?," tanya Haikal usai menghadiri diskusi yang digelar ICW tersebut.

Seharusnya, lanjut Haikal, ICW fokus dalam membahas korupsi sejak zaman Megawati hingga Presiden Joko Widodo yang saat ini menjabat. Di antaranya kasus kapal tanker Pertamina, BLBI dan Bank Century.

"Bagaimana ceritanya orang-orang pengusaha dan penguasa saat ini berkomplot untuk menggenjot, menggencet dan menekan kehidupan rakyat. Kan berasa makin susah. (Diskusi) ini enggak mutu gitu lho," katanya.

Haikal pun menduga, menjelang tahun politik ada motif pihak tertentu yang sengaja ingin menjatuhkan partai yang diinisiasi oleh keluarga Cendana, yakni Partai Berkarya.

"Motifnya ya menyerang Partai Berkarya. Dia takut Partai Berkarya besar. Kenapa? Karena potensinya luar biasa. Saya keliling daerah, orang pada simpati dengan Partai Berkarya. Partai Berkarya diidentikkan dengan anak-anaknya Pak Harto," ujarnya.

"Padahal enggak perlu takut. Partai Berkarya nggak sampai dua persen kok. Tetapi potensi (Partai Berkarya) luar biasa dan ingin dimatikan oleh mereka. Partai Berkarya akan menjadi Partai Besar," sambung Haikal.

Karena itu, Haikal meminta sejumlah pihak mulai dari politisi hingga aparatur negara untuk tidak melupakan jasa baik Soeharto dalam membesarkan dan membantu mereka.

"Surya Paloh (Ketum Nasdem) darimana dia hidup saat itu? Hanura, siapa di belakangnya? Wiranto. Darimana dia dibesarkan? Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati para pahlawannya," katanya.

Senada dengan Andre dan Haikal, Pakar Hukum Pidana Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakir, mengatakan bahwa tidak adil jika berbagai pihak terus mengalamatkan kasus korupsi ke masa kepemimpinan Soeharto.

"Silakan hitung statistik jumlah rata-rata per tahun sekarang. Banyak mana? Saya tidak mengatakan korupsi tidak ada pada saat itu. Kalau banyak sekarang, pertanyaannya, yang guru korupsi siapa?," ungkapnya.

Seharusnya, menurut Mudzakir, pemerintah, LSM dan media lebih fokus menyoroti aksi teroris separatis yang dilakukan secara berulang dan mengancam kedaulatan NKRI.

"Hari ini LSM dan pers semuanya tumpul dan tidur nyenyak. Tigapuluh satu orang mati dibunuh separatis, ngomongnya Kelompok Kriminal Bersenjata. Tidak ada kritik. Padahal itu pelakunya kelompok makar," ujarnya.[]

Editor: Ainurrahman

Sumber:

berita terkait

Image

News

Seleksi Selesai Digelar, Posisi Sekjen KPK Masih Tetap Kosong

Image

News

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng KPK untuk Kawal Proses Jamsos 2029

Image

News

KPK Cegah Kasatker SPAM KemenPUPR Bepergian ke Luar Negeri

Image

News

Korupsi DAK Kebumen, KPK Cecar Saksi Terkait Proses Penganggarannya

Image

News

KPK Amankan Bukti Korupsi Proyek Fiktif PT WK dari 3 Lokasi Berbeda

Image

News

KPK Didesak Selidiki Aliran Dana e-KTP ke Kantor Advokat Rudy Alfonso

Image

News

Eni Saragih Dituntut 8 Tahun Penjara dan Denda 300 Juta

Image

News

ICW Sebut Kepala Daerah dengan SDA Melimpah Sering 'Main' di Perizinan

Image

News

20 Tahun Reformasi, HMI: Indonesia Baru Belum Terwujud dengan Baik

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Polri Temukan Hasil Komunikasi Korban Mutilasi dengan Pelaku dan Bukti Transfer

Hasil percakapan itu akan dijadikan bahan penelusuran kasus oleh pihak PDRM.

Image
News

Ini Penjelasan Ketua DPR Terkait Kronologis Pembahasan RUU Permusikan yang Jadi Polemik

Bamsoet menyerahkan sepenuhnya kepada mekanisme yang ada, terkait Rancangan Undang-undang (RUU) Permusikan yang ditarik dari Prolegnas.

Image
News

Jakarta Siaga 3, Sejumlah Wilayah Tergenang Banjir

Pada pukul 01.00 WIB, ketinggian muka air meningkat menjadi 480 centimeter (Siaga 3) dengan kondisi cuaca hujan.

Image
News

Arus Lalu Lintas Macet di Monas Disebabkan Umat Islam yang Gelar Doa Bersama Bubarkan Diri

Arus lalu lintas menuju Jalan Medan Merdeka Selatan, yang merupakan akses pintu masuk kawasan Monas dan Jalan Medan Timur, mengalami macet.

Image
News
Menuju Pilpres 2019

Kiai Sarang Buat Buku dengan Judul "Memilih Ir Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin Perspektif Fikih”

Pasangan Pak Jokowi- KH Ma’ruf ini merupakan bagian dari kepemimpinan ulama, walaupun bagian ulama itu adalah wakilnya.

Image
News
Debat Pilpres 2019

Debat Capres ke-2, Isu Lingkungan Akan Tenggelam, Kalah Pamor dengan Energi dan Pangan

Berbeda dengan isu energi dan pangan yang diprediksi akan panas dalam perdebatan nantinya pada debat capres Minggu (17/2).

Image
News

Mayat Wanita Ditemukan Warga di Sungai Aceh Selatan, Dibunuh?

Mayat tersebut sudah dibawa ke Puskesmas dengan menggunakan mobil ambulance untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Image
News
Debat Pilpres 2019

Jelang Debat ke-2, Prabowo Malah Asyik Berjoget Bersama Emak-emak

Goyang Gandong ini tarian untuk kita semua. Artinya gandong itu adalah, gantian dong.

Image
News

Minggu Dini Hari Jabodetabek Diguyur Hujan Lebat Hingga Pukul 02.00 WIB

Kondisi itu diperkirakan berlangsung hingga Minggu (17/2) pukul 02.00 WIB.

Image
News
Debat Pilpres 2019

Tommy Tjokro Sebut Jokowi dan Prabowo Akan Debat Terbuka Tanpa Pembatasan Waktu

Segmen empat ini yang dikembangkan berbeda dari debat pertama dan isinya adalah debat terbuka, tidak ada timer di masing-masing calon.

trending topics

terpopuler

  1. Jarang Terekspos, 10 Kemesraan Romy Rafael dan Istri yang Harmonis

  2. Cak Imin: Gara-gara Uninstall Saya Jadi Kerepotan

  3. Prabowo Tidak Pamer Salat Jumat, Tengku: Khawatir Massa Histeris Ingin Menyalami

  4. CEO Persija: Perempuan yang Dilecehkan Simic dari Indonesia

  5. Pendiri Bukalapak Sebut 'Presiden Baru', Rian Ernest: Menurutku Dia Sudah Jelas Dukung 02

  6. Pramono Anung Sebut Jokowi Telah Menerima Permintaan Maaf CEO Bukalapak

  7. Ada yang Baru di Kota Tua

  8. Ketua BTP Mania Dipolisikan Alumni 212, Fahri Hamzah: Ahok Kembali Jadi Masalah

  9. Fahri Hamzah: Debat Pilpres Kedua Harus Ungkap Siapa Mereka Sebenarnya

  10. 'Skenario' Ahok Gantikan Ma'ruf Amin, Rustam: Pikiran Konspiratif yang Merendahkan

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Kejutan Debat Kedua

Image
Hervin Saputra

Al Araibi: Olahraga, Politik, atau Hak Asasi Manusia?

Image
Cosmas Kopong Beda

Masihkah Sepak Bola Modern Membutuhkan Kapten Ikonik?

Image
Cosmas Kopong Beda

The Blues (Harus) Bersabar dengan Kerja Maurizio Sarri

Wawancara

Image
Hiburan

Cerita Egy Fedly Saat Pandangan Pertama Menjemput Jodoh

Image
Olahraga

Susy Susanti

"Sekarang Saatnya Pemain Putri Mengubah Mindset"

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sosok

Image
News

Dari Ketemu Raisa hingga Pejuang Kanker, 10 Potret Sutopo Purwo yang Menginspirasi

Image
Hiburan

Ingin Sukses Jadi Youtuber seperti Jess No Limit? Berikut Tipsnya!

Image
Olahraga

Valentino Rossi

Rossi, Sosok yang Penuh Perhatian dan "Kepala Dingin"