image
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Buta dan Budek dalam Politik

Image

Pasangan Calon Presiden-Wapres Joko Widodo (kedua kanan)-Ma'ruf Amin (kanan) dan Prabowo Subianto (kedua kiri)-Sandiaga Uno (kiri) menunjukkan nomor urut Pemilu Presiden 2019 di Jakarta, Jumat (21/9/2018). Pasangan calon Presiden dan Wapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin mendapatkan nomor urut 01, dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat nomor urut 02. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO Akhir-akhir ini, politik Indonesia diwarnai komentar, perdebatan, hiruk pikuk, dan pertentangan yang menihilkan kebenaran. Awan kelabu kampanye politik, masih diwarnai kampanye saling serang. Belum memunculkan pelangi kebenaran yang mencerahkan. Kampanye politik Capres dan Cawapres, masih dikuasai amarah, dendam, dan saling membusuki satu sama lain.  

Kebenaran dipinggirkan, dikebiri, bahkan dinafikan. Objektivitas dikesampingkan. Bagi Capres dan Cawapres yang mengungkap kebenaran, akan disebut pencitraan. Namun yang berkomentar negatif diviralkan. Kita sudah tercerabut dari akar kebenaran, sehingga apa yang kita katakan, jauh dari nilai-nilai kebaikan dan adat ketimuran. Oleh karena itu, tidak heran, jika langit politik kampanye Pilpres, diisi oleh kebohongan.

Kebenaran, sejatinya datang dari siapapun dan dari manapun, harus diterima dengan lapang dada. Bukan dicerca dan dihina. Bagi Capres, Cawapres, dan tim suksesnya yang mengungkap kebenaran, harus didukung. Kebenaran harus diungkapkan, walaupun pahit. Begitulah pesan Rasullullah Saw kepada kita. “Kullil haqo walau kaana morron”. Katakanlah yang benar, walaupun pahit.

baca juga:

Narasi yang dikembang dalam kampanye, sejatinya merujuk pada nilai-nilai kebenaran dan kebaikan. Bukan nilai-nilai kebohongan yang menghinakan. Kebohongan berkembang dan mewarnai kampanye politik di republik ini, karena kita terbiasa mengingkari nilai-nilai kebenaran. Karena kita juga telah menumbuhkan dan menebarkan kemunafikan.

Jika kita sudah dibutakan dengan kebenaran, maka mata, telinga, mulut, dan hati kita akan tertutup kabut tebal kemunafikan. Sifat-sifat munafik, telah merasuk pada jiwa-jiwa elit politik, sehingga sulit untuk menerima dan berkata kebenaran.

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan Presiden ke lima RI, pernah berkata, maju tak gentar, membela yang benar. Dan akhir-akhir ini, ucapan Gus Dur tersebut, telah dimaknai lain oleh para politisi, dengan dipelintir sehingga menjadi kata berkonotasi negatif, maju tak gentar, membela yang bayar.

Cawapres nomor 01 KH. Ma’ruf Amin, menyindir para politisi yang tidak mengakui prestasi-prestasi Jokowi, sebagai orang yang “buta” dan “budek”. Sebagai ulama, tentu dia paham betul dengan apa yang dikatakannya, karena bisa jadi, dia merujuk pada Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 18, yang berbunyi, summum, bukmun, umyun: mereka tuli, bisu, dan buta.  

KH. Ma’ruf Amin tentu tidak menuduh siapapun, tidak menghina siapapun, dan tidak menghakimi siapapun. Karena perkataan tersebut bersifat umum. Dan berlaku kepada siapa saja yang menutup, dan tidak mengakui kinerja kesuksesan Jokowi. Kata “Buta dan “Budek”, menjadi kata-kata yang seolah-olah menyerang kubu lawan. Dan seolah-olah mendeskreditkan kelompok tertentu.

Tahun politik memang menjadi tahun penuh warnai-warni. Setiap perkataan Capres dan Cawapres, termasuk tim sukses yang tidak pada tempatnya, akan digoreng hingga gosong. Kesalahan ucapan akan membahayakan. Oleh karena itu, kita dianjurkan menjaga lisan. Banyak orang besar dan hebat, jatuh dan tersungkur dari singgasana kekuasaannya, karena tidak mampu menjaga lisannya.

Pepatah dalam bahasa Arab mengatakan, “salaamatul insan fii hifdzil lisan”. Keselamatan manusia, tergantung dalam menjaga lisannya. Atau kita lebih mengenal dengan istilah, mulutmu adalah harimaumu. Orang yang tidak bisa menjaga mulut, pasti akan celaka.

Kampanye politik, memang membutuhkan lisan (mulut), untuk menyampaikan pesan kebaikan dan kebenaran. Menyampaikan visi, misi, dan program-program terbaik, yang bisa diimplementasikan dan dirasakan kenikmatannya oleh rakyat. Menyampaikan ide dan gagasan pembangunan bangsa ke depan.

Namun lisan yang digunakan untuk berkampanye, sejatinya harus meniupkan dan menghembuskan nilai-nilai positif, optimisme, kebaikan, dan kebenaran. Bukan mengutarakan kebencian, sumpah-serapah, pesimisme, dan memecah belah. Berdebat silahkan. Adu argumen tidak dilarang. Namun berdebat dan berargumenlah yang mencerdaskan.

Sehingga kampanye yang diucapkan oleh para elit, menjadi kampanye yang dapat membawa kesejukan, kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan. Bukan kampanye agitasi yang memutar balikan fakta dan keadaan. Berkampenyelah dengan penuh kesantunan, masyarakat akan lebih respek kepada Capres, Cawapres, dan tim sukses yang menebarkan kebaikan dan kebenaran, dalam segala ucapakan dan tindakannya.

Kecerdasan Capres dan Cawapres dalam berkampanye sedang diuji. Langit politik nusantara perlu pencerahan. Butuh keteladanan. Menginginkan keindahan. Memimpikan keadilan. Dan sedang mencari kebenaran.

Jagat raya politik republik ini, jangan diisi oleh perang kata-kata yang menyebalkan. Nyinyiran yang menjijikan. Respons yang menjengkelkan. Serangan yang menjungkir balikan keadaan. Nyanyian sumbang yang tak bermakna. Miskin substansi. Kaya kebohongan. Dan melanggengkan dan memelihara kemunafikan.

Buta dan budek, sejatinya bukan mengarah pada kelompok yang buta dan tuli secara fisik. Namun buta dan tuli, bagi kita dan mereka yang telah tertutup dan tidak mengakui kebenaran. Kebenaran harus tetap ditegakkan, siapapun pilihan kita, dimanapun posisi kita. Tak peduli di kubu kawan atau lawan. Yang pasti kebenaran harus menjadi pijakan.

Buta dan budek politik, tidak dan bukan untuk kita yang waras. Memegang rasionalitas. Menegakkan objektivitas. Meyakini kebenaran. Menjauhi kemunafikan. Berkata dan bertindak penuh kebaikan. Buta dan tuli politik, bisa dianalogikan bagi kita, dan mereka yang menghalalkan yang haram. Dan tertutup mata batin kita dalam melihat kebenaran.

Apapun yang dikatakan Capres, Cawapres, dan tim suksesnya, jika itu mengandung kebaikan dan kebenaran, wajib kita ikuti. Namun jika berkata lain, maka abaikan. Dan jangan ditiru. Mengatakan yang benar, memang sulit dan pahit. Namun berkata benar, akan menjadi nilai tambah (Value added) tersendiri.

Buta dan budek politik, jangan diulik. Dan bukan mengarah pada bentuk fisik. Buta dan budek, merupakan penggambaran bagi kita dan mereka yang menutup kebenaran. Hati, mulut, hati, dan mata yang tertutup oleh matahari kebenaran. Dan terhalangi oleh sinar rembulan kebaikan. Maka, membuka mata, telinga, hati, dan pikiran untuk kebenaran merupakan keniscayaan.

Mari bangun narasi kampanye politik yang mencerdaskan. Politik yang dapat membangun peradaban. Bukan politik adu nyinyiran. Menihilkan dan menafikan substansi. Dan mengembangkan narasi cangkang, dari pada isi. Mumpung kampanye masih lima setengah bulan lagi. Berikan masyarakat, politik yang mencerdaskan dan mencerahkan. Jangan sampai masyarakat terus menerus dibuta dan dibudekkan oleh para elit. Wallahu’alam.[]  

Editor: Arief Munandar

Sumber:

berita terkait

Image

News

Soal Indonesia Punah, Wiranto Tantang Prabowo Taruhan Rumah

Image

News

TKN Optimistis Elektabilitas Kiai Ma'ruf Amin Terus Naik

Image

News

Jokowi dan Prabowo Diterima Gus Sholah di Ruang yang Sama

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Soal Pernyataan Prabowo, TKN Jokowi: Politik Itu Mendidik Bukan Mengancam

Image

Ekonomi

Gerindra Tampilkan Iklan Pengangguran Buat Ikatan Profesi Arsitek Tersinggung

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Gerindra Sebut Logistik Jokowi Lebih Banyak Dibanding Prabowo

Image

News

Anies Optimis Sandi Bakal Mengulang Kesuksesan di Ibu Kota, Pras: Jadi Manusia Gak Boleh Takabur

Image

News

Soal Perusakan Atribut Demokrat, Ma'ruf Amin: Jangan Buat Kesimpulan yang Belum Jelas

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Menangkan Jokowi-Ma'ruf, Relawan: Kami Siap Berdarah-darah

komentar

Image

1 komentar

Image
Ebyshelby Anugrah

bener banget min artikel ini setuju banget. kami butuh kebenaran, pembuktian, dan kejujuran dari para capres dan cawapres. Hindari pencitraan, dan saling serang. Buktikan bahwa para calon bisa mensejahterakan dan keadilan untuk rakyat

terkini

Image
News

Diperiksa 8 Jam, Habib Bahar Resmi Ditahan

"Yang bersangkutan sudah dilakukan penahanan di Mapolda Jabar,"

Image
News

Pemeriksaan Habib Bahar Dilanjutkan Besok

"Masih diproses selama 1x24 jam, sebagaimana ketentuan KUHAP,"

Image
News

OTT di Kemenpora, KPK Segel Sejumlah Ruangan

Salah satu ruangan tersebut yakni ruangan Asisten Deputi Olahraga dan Prestasi.

Image
News

Mayat Perempuan Ditemukan di Apartemen Kebagusan City

Korban berasal dari Kebunmangu Gunung, Sukabumi, Jawa Barat.

Image
News

Pendukung PKR Desak Nurul Izzah Batalkan Keputusan Mundur

Desakan itu muncul sehari setelah Nurul Izzah mengumumkan pengunduran dirinya

Image
News

Pria Thailand Ini Bangun Toko Perhiasan Palsu untuk Tipu Korban

Dalam aksinya ia berhasil mendapatkan berlian milik pengusaha India senilai 10 juta Baht (Rp4,3 miliar)

Image
News

Kapolres Jakpus Perintahkan Propam Periksa Kapolsek Sawah Besar

Roma juga meminta Propam Polres Jakarta Pusat untuk mengecek tanda tangan anggota Polsek Sawah Besar di surat perdamaian kedua belah pihak

Image
News

Soal Indonesia Punah, Wiranto Tantang Prabowo Taruhan Rumah

Kalau sehabis pemilu Prabowo kalah dan Indonesia tetap utuh tidak punah, maka rumah Hambalang diserahkan kepada saya.

Image
News

Kabinet Inggris Siapkan Skenario Brexit Tanpa Kesepakatan

Parlemen tampaknya masih menolak kesepakatan Brexit yang dihasilkan Perdana Menteri (PM) Theresa May dengan Uni Eropa (UE)

Image
News

Guru Ngaji di Kabupaten Tangerang Menghamili Muridnya

Kepada polisi terduga pelaku pencabulan mengaku sudah menikahi muridnya, namun orang tua murid tidak mengetahuinya

trending topics

terpopuler

  1. PKPI Sindir Demokrat, Jansen: Urusi Aja Partaimu, Tak Usah Kau Campuri Hal yang Tak Kau Ketahui

  2. Polisi Dalami Apakah Kapten Komarudin Turut Melakukan Pemukulan

  3. Merasa Dihina Hotman, Farhat: Kalau Orang Miskin Itu Diperhatikan, Bukan Dihina

  4. Unggah Foto Secantik Bidadari, Cowok Ini Sukses Bikin Banyak Cewek Minder

  5. Baliho PSI Dirobek, Ferdinand: Jangan Samakan Partai Lu Sama Partai Gue

  6. DPW PAN Pendukung Jokowi Langsung Ditindaklanjuti oleh Ketua DPP

  7. 10 Potret Kajol dan Ajay Devgn yang Selalu Tampil Mesra

  8. Ini Smartphone yang Dianggap Buruk dan Diremehkan Sepanjang 2018

  9. Rush: Klopp Bakal Bawa Liverpool Singkirkan Bayern Muenchen

  10. Bangun Masjid, Wali Kota Solo Dipolisikan

fokus

Kaleidoskop 2018
Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI

kolom

Image
Bambang Soesatyo

Refleksi Akhir Tahun 2018 Ketua DPR RI

Image
Ujang Komarudin

Isu PKI Serang Jokowi

Image
Achmad Fachrudin

Problematik Pemilih Perumahan Mewah

Image
Awalil Rizky

Mencermati Penerimaan Negara yang Melampaui Target APBN

Wawancara

Image
Hiburan

Ketinggian Falsafah Sastra Melayu Tidak Tertandingi oleh Sastra Moderen

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (2)

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

Sosok

Image
Ekonomi

Buka-Bukaan Alasan Erick Thohir Jadi Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf Amin

Image
Ekonomi

Intip 10 Milenial yang Berpotensi Berada di Deretan Orang Terkaya Selanjutnya

Image
Ekonomi

Kalah dengan Transportasi Online, Bos Blue Bird Terlempar dari Daftar Crazy Rich RI