image
Login / Sign Up
Image

Pangi Syarwi Chaniago

Pengamat Politik Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Berebut Ceruk Segmen Suara Santri

Menuju Pilpres 2019

Image

Ribuan santri penghafal Alquran memenuhi ruang utama masjid saat hadir dalam acara Wisuda Akbar 8 yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Minggu (22/10). Wisuda Akbar dilakukan dengan melakukan hafalan Alquran terutama surat Al Fath berjamaah yang serentak digelar di 17 kapupaten/kota, 12 provinsi di Indonesia serta 12 negara lainnya. Turut hadir dalam acara ini pendiri sekaligus Dewan Pembina Yayasan Daarul Quran Yusuf Mansur, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno, Penyanyi Syahrini dan Imam Masjidil Haram, Syeikh Abdurrahman bin Jamal Al Ausy. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Dalam setiap hajatan pemilu, suara kalangan santri selalu menjadi rebutan, mulai dari kontestasi tingkat lokal sampai pada level nasional. Wajar, karena ceruk segmen suara santri ini cukup besar dan bisa mendongkrak elektabilitas.

Para politisi sangat paham akan keberadaan kaum santri yang secara proporsi sangat besar dan akan sangat mempengaruhi peta politik (mapping elektoral), sehingga sangat wajar dukungan dari segmen ini memberi kontribusi yang sangat besar dan nyata terhadap tingkat keterpilihan dalam setiap hajatan kontestasi elektoral.

Secara kultural, para santri sangat manut, taat dan patuh pada titah para kiai yang mereka anggap sebagai pemimpin dan guru mereka. Dengan demikian, suara santri ada di tangan kiai.

baca juga:

Ketaatan para santri ini menjadikan pola kepemimpinan dalam pesantren menjadi paternalistik, di mana pengaruh kepemimpinan (kiai) mempunyai legitimasi dan penerimaan (akseptabel) yang sangat kuat dan pemimpin dianggap sebagai pelindung yang dapat mengayomi layaknya seorang bapak terhadap anak-anaknya.

Untuk mendapatkan dukungan politik dari kalangan santri, para politisi mutlak harus melakukan pendekatan yang intens pada para kiai sebagai pemegang otoritas di wilayah pesantren.

Namun, para politisi saat ini harus memutar otak dan harus lebih sensitif, karena para kiai juga sudah sangat berpengalaman serta lihai dalam menghadapi situasi politik yang menempatkan mereka dalam pusaran perebutan dukungan.

Sensitifitas para politisi yang dimaksudkan adalah pertama, belum tentu memberikan dukungan. Bahwa sambutan dan keramahtamahan para kiai dan santri ketika datang untuk berkunjung ke pesantren bukanlah berarti mereka telah memberikan dukungan politik 'gratis'.

Para kiai secara adab tentu akan sangat memuliakan para tamu, calon gubernur, calon presiden dan kepala daerah lain yang datang berkunjung, itu kewajiban seorang Muslim menjamu tamu dan membangun silaturahim namun belum tentu akan memberikan dukungan politik dalam bentuk suara di TPS (Tempat Pemungutan Suara).

Kedua, fragmentasi kiai dan pesantren. Sebaran dan jumlah pesantren di seluruh Indonesia (terutama di pulau Jawa) menjadikan para kiai bersifat lebih otonom dalam membina dan mengurus pesantrennya masing-masing, bahkan sampai urusan politik.

Tidak ada alur komando dan instruksi yang membuat para kiai hanya mengikuti arus dukungan terhadap kandidat tertentu bahkan yang tergabung dalam satu organisasi sekali pun.

Situasi ini tentu membuka ruang kepada masing-masing kubu pendukung capres-cawapres untuk melakukan pendekatan yang lebih intensif, karena peluang untuk mendapatkan dukungan dari kalangan santri masih terbuka lebar.

Pendekatan yang intensif dan kemampuan memberikan janji 'angin syorga' yang meyakinkan bisa menjadi kunci dalam pendekatan ini, bukan hanya terpaku pada kandidat yang pernah 'nyantri' atau tidak.

Karena kalangan santri juga sadar dan punya kalkulasi politik sendiri, dan mereka tidak lagi mau hanya dimobilisasi mendukung kandidat tertentu dan di kemudian hari mereka diabaikan dan ditinggalkan.

Tak mau terulang kasus 'mendorong mobil mogok, setelah mobil jalan, yang mendorong ditinggalkan'. Kiai dan santri minta kontrak politik sampai pembayaran berupa bantuan yang kongkrit diselesaikan di depan.

Suara santri dan kiai seringkali hanya dijadikan sebagai komoditas politik semata, seringkali dimanfaatkan, dipakai hanya untuk kepentingan kendaraan politik semata.

Setelah kepentingan politik selesai, selesai pula kunjungan ke pesantren dan cium tangan kiai. Begitu mendekati pemilu, penyakit politisi kambuh lagi dan terus berulang.

Santri dan kiai sebetulnya mereka sadar bahwa mereka hanya dijadikan sebagai komoditas politik dalam rangka mendulang elektoral dalam setiap hajatan kontestasi elektoral seperti pilpres, pileg dan pilkada.[]

Editor: Deni Muhtarudin

berita terkait

Image

News

Menuju Pilpres 2019

FSI Bakal Jadikan Jokowi Sebagai 'Bapak Santri Indonesia'

Image

News

Cak Imin Minta Didoakan kepada 4 Pemenang Jalan Sehat Sarungan

Image

News

Pemerintah Luncurkan Program Beasiswa Khusus Santri

Image

News

MPR

MPR Ajak Santri dan Pramuka Amalkan Pancasila

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Ke Kalteng, Ma'ruf: Tak Ada Jokowi, Tak Ada Hari Santri

Image

News

Peringatan HSN Jadi Pengingat Perjuangan Darah Para Santri

Image

News

Jokowi: Ada Peran Besar Kiai dan Santri Dalam Menjaga NKRI

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Ma'ruf Amin Akui Akan Fokus Gaet Milenial dari Kalangan Santri

Image

News

Menuju Pilpres 2019

Gelar Long March, 500 Santri Bogor Sampaikan 3 Aspirasi ke Jokowi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Bawaslu Beberkan Data Dugaan Pelanggaran Kampanye Pemilu 2019

Ada 192.129 laporan yang diterima Bawaslu berupa laporan pemasangan alat peraga hingga melakukan kampanye sebelum masanya.

Image
News

Rustam: Penolakan, Perusakan Poster atau Baliho Bisa Saja Dilakukan Pihak Sendiri

Pernyataan Rustam Ibrahim muncul di tengah peristiwa pengerusakan atribut Partai Demokrat Di Riau

Image
News

Persija 17 Tahun Minim Prestasi, Anies: Tahun Ini Babak Baru

Anies bangga Persija Jakarta mendapat tiga tropi di 2018.

Image
News

Serahkan Sertifikat TORA, Gubernur Riau: Dukung Terus Pemerintahan Jokowi

Banyak program Pemerintahan Jokowi yang dirasakan masyarakat Riau.

Image
News

Racun Kalajengking Biru Jadi Obat Populer di Kuba

Meskipun negerinya terisolasi, Kuba disebut sebagai salah satu negara dengan layanan kesehatan terbaik di dunia.

Image
News

Polisi Amankan Satu Orang dalam Kasus Perusakan Atribut yang Bikin Anak Buah SBY Mencak-mencak

"Apa motif pelaku maupun aktor di balik kejadian pengrusakan spanduk dan atribut Partai Demokrat ini."

Image
News

Politisi PSI: Melarang Poligami Bisa Disebut Sunnah

Putri-putri Nabi Muhammad Saw tidak ada yang dipoligami.

Image
News

Jakmania Tagih Janji Stadion, Anies: Dalam Waktu Dekat Akan Berdiri

Anies mengatakan yang menjadi janji kala Pilkada DKI 2017 akan dilunasi.

Image
News

Petugas di Inggris Selamatkan Domba yang Hampir Membeku di Sungai, Salut!

Para penyelamat mengatakan dari 16 domba yang terjebak, 9 domba berhasil diselamatkan, sementara 7 lainnya mati

Image
News

Perludem: Kampanye Pilpres hanya Sensasional bukan Substansial

Kampanye peserta pemilu banyak citra diri dibanding pendidikan politik.

trending topics

terpopuler

  1. Jari 98 Soroti Keseleo Lidah Prabowo Subianto, Willy: Kami Tunggu Sikap Ksatria

  2. Ini Kronologis Sebenarnya Pengeroyokan Kapten Komarudin

  3. Saling Membenci, Lyra Virna Enggan Tatap Wajah Lasty Annisa Saat Sidang

  4. 10 Potret Geng Mom Sweet Moms, Kompak Sekeluarga!

  5. Laporan Abdul Fakhridz Ditolak Bawaslu, Fahira: Alhamdulilah Ya Allah!

  6. 10 Potret Kehangatan Tasya Kamila dengan Mertua

  7. Perang Yaman, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab Masih Hutang Triliunan Rupiah kepada AS

  8. Pengrusakan Polsek Ciracas Diduga Anggota TNI, Kapendam: Kami Masih Selidiki

  9. Benarkah Permen Karet yang Tertelan Akan Menempel di Usus Bertahun-Tahun?

  10. Ganda Denmark Berharap Marcus Cepat Pulih

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air

kolom

Image
Ujang Komarudin

Isu PKI Serang Jokowi

Image
Achmad Fachrudin

Problematik Pemilih Perumahan Mewah

Image
Awalil Rizky

Mencermati Penerimaan Negara yang Melampaui Target APBN

Image
Hendra Mujiraharja

Pantaskah Persija Ungguli PSM?

Wawancara

Image
Hiburan

Ketinggian Falsafah Sastra Melayu Tidak Tertandingi oleh Sastra Moderen

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image
Olahraga

Eko Yuli Irawan (2)

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

Sosok

Image
Ekonomi

Buka-Bukaan Alasan Erick Thohir Jadi Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf Amin

Image
Ekonomi

Intip 10 Milenial yang Berpotensi Berada di Deretan Orang Terkaya Selanjutnya

Image
Ekonomi

Kalah dengan Transportasi Online, Bos Blue Bird Terlempar dari Daftar Crazy Rich RI