image
Login / Sign Up

Kisah Menegangkan Sekretaris KPUD Sigi Peluk Pohon Berjuang Mati-matian Saat Tsunami Menerjang

Siswanto

Gempa Donggala

Image

Sekretaris KPUD Kabupaten Sigi M. Taufik | AKURAT.CO/Siswanto

AKURAT.CO Setelah melewati Jalan Trans Sulawesi, mobil Avanza yang dikemudikan oleh mantan anggota Aliansi Jurnalis Independen Kota Palu M. Syarif belok kiri, menuju Pelabuhan Pantoloan. Pintu gerbang pelabuhan dijaga ketat oleh marinir bersenjata laras panjang.

Syarif memencet tombol untuk menurunkan kaca jendela mobil dan dia langsung ditanya oleh seorang marinir.

“Mau kemana?”

baca juga:

“Mau jemput korban yang dirawat di rumah sakit, pak,” jawab Syarif yang merupakan pengurus divisi KPUD Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Marinir kemudian memberitahukan tujuan Syarif masuk kawasan pelabuhan ke tentara lain yang berdiri di dekat gerbang. Syarif menjawab hal yang sama ketika ditanyai lagi.

Waktu itu, saya dan Jecko Simanjuntak, wartawan Beritasatu TV, ikut mobil yang dibawa Syarif. Syarif hendak menjemput saudaranya yang bernama M. Taufik yang sejak dua hari terakhir dirawat di kapal rumah sakit apung KRI dr Soeharso.

Taufik adalah sekretaris KPUD Kabupaten Sigi yang menjadi salah satu korban gempa dan tsunami pada 28 September 2018 petang. Salah satu tulang tumit kakinya remuk gara-gara  lompat dari lantai empat ke plafon Hotel Mercure, Kota Palu, untuk menyelamatkan diri.

Sekretaris KPUD Kabupaten Sigi M. Taufik. AKURAT.CO/Siswanto

Mobil kami bergerak pelan-pelan, memasuki kawasan pelabuhan. Ada ratusan orang di sana. Di ujung bagian kiri pelabuhan, sebuah kapal ferry berlabuh untuk menunggu kedatangan penumpang. Di sebelah ferry, sebuah kapal tengah menurunkan logistik untuk bantuan kemanusiaan bagi korban bencana Sulawesi Tengah.

Di samping kapal bermuatan logistik itulah rumah sakit apung bersandar. Saya awalnya tidak mengira itu kapal rumah sakit. Setelah melihat lambang palang merah berukuran besar di bagian tengah kapal, saya baru menyadari.

Tangga menuju ke bagian atas kapal sebentar-sebentar dilewati warga yang sakit. Mereka dibopong atau dibantu orang lain untuk berjalan. Di samping kapal, setelah parkiran mobil, berderet tenda-tenda yang belakangan saya tahu itu adalah bagian untuk menangani pasien pada waktu mendaftar atau hendak pulang.

Salah satu tenda dipakai untuk pendaftaran calon pasien korban bencana. Waktu saya datang ke sana, beberapa warga tengah duduk mengantri untuk dicatat dokter tentara.

Tenda yang sebelahnya dipakai untuk tempat duduk para pimpinan rumah sakit apung. Tenda berikutnya dipakai untuk tempat istirahat pasien yang baru selesai ditangani. Taufik, di antaranya. Dia terlentang di ranjang.

Syarif segera menyapa Taufik juga istri, Suwarni, dan beberapa anak yang duduk di ranjang sebelah. Di sebelah ranjang Taufik ada dua dua alat penyangga badan yang disiapkan untuk membantunya berjalan.

Saya duduk di ranjang sebelah yang dipakai Taufik. Setelah perkenalkan diri, saya ajak dia ngobrol-ngobrol sambil menunggu proses penyelesaian administrasi.

Sekretaris KPUD Kabupaten Sigi M. Taufik. AKURAT.CO/Siswanto

Dia cerita detik-detik gempa dan tsunami menghajar area dekat bibir pantai, termasuk Hotel Mercure. Jumat itu, dia bersama para perwakilan KPUD seluruh provinsi Sulawesi Selatan (13 kabupaten dan kota) rapat koordinasi perencanaan pendanaan pemilu 2019.

Sore hari jelang Maghrib dia masuk ke kamarnya yang terletak di lantai empat, nomor 72. Tiba-tiba bangunan hotel bergoyang keras. Kemudian dia merasakan gempa lagi dan merasakan bangunan hotel ambles.

Cepat-cepat Taufik keluar dari jendela karena tidak mungkin keluar lewat jalur tanggap. Dia lihat lantai satu dan dua hotel sudah ambrol. Tak ingin tertimpa bangunan yang hampir porak-poranda, apalagi dia melihat ombak besar bergulung ke arah hotel, tanpa piker panjang, Taufik melompat ke atap lobi.

“Setelah lompat, saya lihat tsunami sudah dekat. Saya harus selamatkan diri dengan panjat pohon depan hotel. Tapi waktu saya mau berdiri, sakit sekali kaki, gak bisa digerakkan,” kata ayah sepuluh anak itu.

Tapi gulungan ombak sudah terlihat di depan mata.

“Saya paksa berdiri. Kaki kiri sakit sekali, kaki kanan tak bisa gerak. Saya seret. Saya langsung panjat pohon di depan hotel,” kata Taufik.

Belum juga selesai cerita, seorang anggota TNI AL bernama Deny datang dengan membawa kursi roda. Ngobrol-ngobrol sebentar. Kemudian, Taufik diangkat oleh tentara dan anggota keluarganya untuk dibawa ke dalam mobil yang parkir di dekat tenda.

Waktu itu, Jecko Simanjuntak masih berada di tenda sebelah. Dia wawancara Kepala RS TNI AL dr. Soeharso 990 Kolonel Laut (K) dokter Imam Hidayat.

Saya juga ikut mendengarkan wawancara Jecko Simanjuntak sambil sebentar-sebentar melihat kea rah mobil yang membawa Taufik, takut kalau-kalau ditinggal. Imam Hidayat bercerita. Rumah sakit apung ini dulunya kapal perang yang diperbantukan untuk kebutuhan medis. Rumah sakit ini setara dengan rumah sakit kelas B dan menangani berbagai macam jenis masalah kesehatan secara gratis untuk korban bencana Sulawesi Tengah.

Kami tidak bisa wawancara terlalu lama karena mobil yang menjemput Taufik tadi akan segera berangkat.

Setelah kami masuk, mobil meluncur keluar dari Pelabuhan Pantoloan. Taufik tinggal di Kabupaten Sigi, tepatnya di Jalan Palu – Kulawi Dolo, Desa Kotapulu, Kecamatan Dolo.

Begitu mobil keluar dari gerbang pelabuhan, dia kembali melanjutkan cerita peristiwa mencekam hari itu.

Dia berhasil memanjat pohon dan menggenggam erat rantingnya ketika tsunami datang. Dari atas pohon, dia menyaksikan dengan jelas, orang-orang kebingungan di dekat bibir pantai setelah terjadi gempa. Mereka tidak tahu kalau ombak tinggi mendekat.

“Saya lihat, penjual dange di pinggir pantai dihempas gelombang,” kata Taufik.

Taufik tidak bisa berbuat apa-apa meskipun waktu itu banyak orang minta tolong di bawah sana. Dia masih ingat ketika nenek-nenek dibawa arus air yang deras sekali. Kemudian terombang-ambing dan nenek itu tidak bisa berbuat apa-apa.

“Ada yang teriak-teriak minta tolong, tetapi gak ada yang bisa menolong karena orang-orang menyelamatkan diri,” katanya.

Di atas pohon, Taufik bimbang. Jangan-jangan ombak berikutnya akan lebih besar dan lebih tinggi lagi sehingga menenggelamkan pohon. Dia memperkirakan ketinggiannya sekitar tujuhmeter.

“Saya sama sekali tidak kena air, tapi saya bimbang sekali,” kata dia.

Dia melihat air menerobos masuk ke dalam hotel. Suara minta tolong terdengar dengan jelas sekali dari pohon. Ada yang berhasil keluar dan selamatkan diri. Ada pula yang tidak keluar-keluar.

Di berbagai tempat terlihat benda-benda besar terbara arus laut.

Amuk tsunami menurut perkiraan Taufik terjadi sekitar empat menit. Setelah air surut, dia tidak segera turun dari pohon. Dia melihat warga dibantu aparat berusaha menyelamatkan orang-orang yang berada di dalam hotel.

“Itu kalau cuma satu dua orang pasti tidak bisa selamatkan. Itu banyak orang untuk mengangkat benda-benda,” katanya.

Taufik baru berani minta pertolongan setelah beberapa jam kemudian.

“Pak, satu orang di atas pohon, tidak bisa turun karena kaki patah,” katanya.

Petugas hotel dan aparat segera membawa tangga dan menurunkan Taufik. Setelah itu, dia dan orang-orang lainnya dievakuasi ke sekitar masjid agung. Dia sempat mendapatkan penanganan medis. Pada jam 24.00 WIB, dia dijemput anggota keluarganya untuk dibawa pulang ke rumah.

Waktu itu, media-media memberitakan jumlah korban jiwa bertambah terus, bahkan sampai lebih dari 500 orang (sekarang lebih dari 2000 orang).

Enam hari kemudian setelah dirawat di rumah, Taufik dapat kabar dari saudaranya bahwa ada rumah sakit apung yang bersandar di Pelabuhan Pantoloan. Dia segera dibawa ke sana.

Waktu itu, kaki kanannya bengkak besar sekali. Sesampai di rumah sakit kapal, dia segera ditandu ke atas, ke UGD untuk rontgen. Selanjutnya, dia langsung dioperasi.

“Pelayanannya sangat lembut. Mereka sabar meskipun ada yang menjerit-jerit, tetap sabar obati pasien,” katanya.

Taufik mengapresiasi layanan rumah sakit tersebut. Dia sama sekali tak mengira pada waktu mau pulang, diberi tongkat, dana, juga sembako.

“Saya berterimakasih, dan semua pelayanan di sana tidak bayar,” katanya.

Tidak terasa, setelah melakukan perjalanan sejauh 45 kilometer, mobil yang dikemudikan Syarif belok ke kiri dan masuk ke halaman. Di depan rumah ada tenda tempat mengungsi keluarga Taufik.

Saya melihat sebelum mobil sampai rumah Taufik, tadi melewati sungai yang beberapa hari sebelumnya tertutup lumpur dari proses likuifaksi usai gempat 7.4 skala richter. Lumpur itu keluar dari perut bumi dan merendam banyak rumah dan sekolah yang terletak di bagian atas.

Kedatangan Taufik disambut anak-anaknya juga saudara-saudaranya. Dia langsung dibawa ke tenda. Warga di sekitar daerah itu belum banyak yang berani tidur di dalam rumah karena masih trauma terjadi gempa.

Tak lama setelah kami sampai, kawasan setempat hujan deras sekali. Lumayan, air hujan menurunkan tingkat panas.

Selama ini saya selalu berpikir tentang para pengungsi di tenda-tenda, bagaimana kalau seandainya hujan, apakah tidak kena air. Setelah melihat tempat pengungsian keluarga Taufik, terjawab sudah pertanyaan itu. Ternyata memang terpal tenda cukup kuat menahan derasnya air. Dan air tidak merembes lewat bawah karena pada waktu membangun tenda sudah dipikirkan agar bagian bawah tidak sampai kena air.

Rumah Taufik cukup besar untuk menampung seluruh anggota keluarganya. Anaknya saja ada sepuluh, belum lagi orangtua dan saudaranya. Seperti pada umumnya warga di provinsi itu, atap rumah Taufik juga terbuat dari bahan seng. “Biar tahan lama,” kata Taufik menjelaskan soal kenapa sebagian besar warga Sulawesi Tengah pakai atap seng. []

Editor: Siswanto

Sumber:

berita terkait

Image

News

Gempa 4,2 SR Guncang Tenggara Kabupaten Alor

Image

News

Besok, Presiden Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Korban Gempa Mataram

Image

Gaya Hidup

Kemenpar Terus Pantau dan Dukung Penanganan Banjir Sentani dan Gempa Lombok

Image

News

Ini Pemicu Gempa yang Renggut Dua Nyawa di Lombok Timur

Image

News

Dua Orang Meninggal Kena Longsoran Sekitar Air Terjun Tiu Kelep Usai Gempa 5,8 SR

Image

News

40 Wisatawan Asing Berada di Air Terjun Tiu Kelep Saat Gempa 5,8 SR

Image

News

Enam Jam Terakhir, Gunung Merapi Alami 16 Kali Gempa Guguran

Image

News

FOTO DPR Gelar Rapat Kerja Bahas Evaluasi Bencana Gempa

Image

News

Gempa Bumi Berkekuatan Magnitudo 5, 8 Guncang Sumatera Utara

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Relawan Merahhati Buka Pendaftaran untuk Jadi Pemantau dan Pengawas TPS

Tidak ada uang pengganti transport untuk relawan yang mau menjadi Pemantau TPS

Image
News

APK Caleg PDIP Ditempeli Tulisan 'Pohon Aja Disakitin, Apalagi Rakyat'

Pemasangan sticker persis di poster-poster Caleg yang dipaku dipohon mengundang perhatian warga yang melintas

Image
News

Anto Purnomo, Sosok di Balik Sukses Evakuasi KRL 1722 di Bogor

Bagi Anto, mengevakuasi kereta yang mengalami kecelakaan atau anjlok dari rel seperti sudah menjadi takdirya.

Image
News

Paska Banjir Bandang Sentani, Petugas Puskesmas Harapan Layani Pengungsi

Pelayanan kesehatan sudah dilakukan sejak Minggu (17/3/2019).

Image
News

BMKG Prediksi akan Terjadi Hujan Disertai Petir di Beberapa Kawasan Jakarta

Suhu udara Jakarta pada Minggu berkisar pada angka 28 derajat celcius.

Image
News

WALHI Desak KLHK Agar Selamatkan Orangutan yang Tersebar di Kawasan Hutan Liar

"Meskipun demikian, penyelamatan satwa langka yang dilindungi itu bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga warga masyarakat,"

Image
News

Seorang Pria Ditahan Polisi Gara-gara Bacok Nenek-nenek

Korban yang mengalami luka-luka, yakni Ngatemi (60), Paramita Susanti (25), dan Riki Prapanca (23) warga Jalan Pancing.

Image
News

Kapolri Imbau Penggunaan Anjing Pelacak di Sentani Sesuai Prosedur

“Anjing pelacak yang digunakan untuk mencari korban banjir bandang hendaknya tidak diforsir dan digunakan sesuai prosedur,”

Image
News

Ma'ruf Amin Mengaku Ditunjuk Para Ulama untuk Menjadi Calon Wakil Presiden

"Adanya permintaan dari ulama kepada saya untuk mendampingi Pak Joko Widodo,"

Image
News

Seorang Pria Dicokok Polisi karena Diduga Edarkan Narkoba Jenis Sabu

Penangkapan terhadap pelaku, berinisial De alias Ay (44) di Jalan Raya Muntok-Pangkalpinang tersebut tidak terlepas informasi masyarakat.

trending topics

terpopuler

  1. Buron 5 Tahun, Musmulyadi Ditangkap tanpa Ada Perlawanan

  2. Terciduk Ngobrol di Pesta Ultah BCL, Ariel 'Noah' dan Luna Maya Didoakan Balikan

  3. Seret Nama Khofifah dan Kiai Asep, Mahfud MD: Merekomendasi Orang Tak Selalu Ada Korupsi

  4. Jadi Taruna Polisi, Postur Tubuh Umay Shahab Dipertanyakan

  5. Berduka Meninggalnya Seknas Jokowi, Rachland Nashidik: Kami Beda Pilihan Tapi Rukun dalam Demokrasi

  6. Terungkap Motif Oknum Dosen UNM Nekat Habisi Nyawa Rekan Kerjanya

  7. Bangga Bertemu dan Salaman dengan Jokowi, Pria Ini Nangis Sesegukan

  8. Serius Berpolitik, 10 Gaya Blusukan ala Dina Lorenza

  9. Politikus Gerindra Ingin Tarif MRT Gratis

  10. Menteri Susi Sindir Sandiaga hingga Andi Arief Pertanyakan Truk Kontainer Gambar Jokowi-Ma'ruf

fokus

Kisah Juru Pijat Tunanetra
Teror Masjid Selandia Baru
Di Balik Pakaian Bekas Impor

kolom

Image
Ujang Komarudin

Ribut-Ribut Survey Litbang Kompas

Image
Achmad Fachrudin

Dilema KPU Mengatasi Problem DPT

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Cawapres: Perang Kartu Sakti

Image
Ujang Komarudin

Menanti Kejutan di Debat Ketiga

Wawancara

Image
Hiburan

Jais Darga: Pelukis Indonesia Harus Lebih Agresif

Image
Gaya Hidup

Kampung Investasi Hati dan Cerita dari Tabanan

Image
Video

VIDEO Kampung Investasi Hati dan Cerita dari Tabanan

Sosok

Image
News

Anto Purnomo, Sosok di Balik Sukses Evakuasi KRL 1722 di Bogor

Image
News

Sibuk Kampanye, 8 Potret Hangat Sandiaga Uno saat Luangkan Waktu Bersama Anak

Image
News

Serius Berpolitik, 10 Gaya Blusukan ala Dina Lorenza