image
Login / Sign Up
Image

Ma'mun Murod Al-Barbasy

Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) FISIP UMJ

Politik Tanpa Nilai

Image

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono memberikan keterangan kepada wartawan terkait kunjungan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7/2018). Pertemuan tersebut merupakan bentuk komunikasi politik untuk berkoalisi yang dibangun Partai Demokrat dan Partai Gerindra jelang Pilpres 2019. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Selanjutnya, dalam kasus yang tentu saja saya sangat paham adalah penghancuran secara sistematis dan terencana terhadap karir politik Anas Urbaningrum. Saya tentu paham betul dengan kasus Anas. Penghancuran atas karir politik Anas dimulai sejak menjelang Kongres Bandung 2010. Sebagaimana tertuang dalam buku yang saya tulis: “Anas Urbaningrum Tumbal Politik Cikeas”, terang bahwa SBY memang tidak merestui Anas maju sebagai calon Ketua Umum pada Kongres Bandung. Namun citra yang dibangun, seolah SBY merestui semua calon ketua umum: Anas Urbaningrum, Marzuki Alie dan Andi Alfian Mallarangeng.

Dengan rekayasa sedemikian rupa, tentu dengan memanfaatkan kuasa yang ada di tangannya, SBY akhirnya berhasil “mengandangkan” Anas dari hiruk-pikuk politik dengan memenjarakannya sebagai koruptor. Kejam banget bukan? Inilah contoh dari politik comberan tanpa nilai.

baca juga:

Sebelum kasus Anas, SBY juga telah tega “membiarkan” besannya Aulia Pohan masuk penjara 2009. Mungkin SBY terilhami oleh hadits, “demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fatimah putri Muhammad mencuri niscaya aku akan memotong tangannya.” Sayangnya, hadis tersebut justru hanya sebatas pencitraan. SBY hanya mencoba membangun citra bahwa dirinya mempunyai komitmen untuk menegakkan hukum. Buktinya, besannya pun bisa masuk penjara. Kalau memang komitmen menegakakkan hukum, kenapa sikapnya terhadap Aulia Pohan ini tidak diberlakukan juga kepada misalnya putranya Edhy Baskoro Yudhoyono (Mas Ibas) yang namanya terlalu kerap disebut dalam beberapa persidangan Tipikor?

Saat Pilpres 2014, terlihat SBY yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden mencoba memposisikan diri sebagai King Maker, namun peran ini gagal dimainkan dengan baik. Karena gagal, SBY akhirnya memilih untuk bersikap “netral”. SBY mengambil posisi untuk tidak mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla maupun Prabowo-Hatta Radjasa. Sikap SBY ini sebenarnya semakin menegaskan bahwa yang ada dalam pikirannya itu hanya yang terkait dengan kepentingan diri dan keluarganya. Padahal tengok saja, pada Pilpres 2014 itu, besannya Hatta Radjasa menjadi kontestan cawapres dari Prabowo. Dengan segala kelebihan dan kelemahan yang dimiliki Hatta Radjasa, sepatutnya SBY mendukung pasangan Prabowo – Hatta Radjasa. Namun hal ini tidak (bisa) dilakukan oleh SBY.

Belakangan, dari informasi terbatas yang saya terima, tidak didukungnya pasangan Prabowo – Hatta Radjasa karena SBY memang merasa lebih nyaman dengan pasangan Jokowi – Jusuf Kalla. Bahkan dari informasi terbatas yang saya terima tersebut, SBY sebenarnya yang menjadi “penentu” kemenangan Jokowi – Jusuf Kalla.

Kemudian sikap SBY pada saat Pilkada Jakarta 2017. SBY mempunyai calon bernama Agus Harimurti Yudhoyono (Sang Putra Mahkota). Wajar kalau SBY mendukungnya. SBY tentu saja juga menikmati pertarungan “politik identitas” yang berbau SARA selama berlangsungnya Pilkada, sesuatu yang sah saja dalam politik. Tak ada yang salah dari politik identitas. SBY ikut memainkan sentimen-sentimen keagamaan umat Islam yang anti Ahok. Beberapa kali SBY membuat pernyataan yang menyudutkan Ahok. Ketika Sang Putra Mahkota dinyatakan kalah di putaran pertama, sekali lagi, info terbatas yang saya terima, SBY sebenarnya lebih mendukung pasangan Ahok – Djarot. Konon SBY tidak yakin kalau Anies – Sandi akan berhasil mengalahkan Ahok – Djarot yang modal pendanaannya nyaris tak terhingga. Pilihan dukungan SBY kepada Ahok – Djarot rasanya sulit menyebut sebagai pilihan penuh nilai.

Dengan rentetan sikap SBY yang demikian, menjelang akhir-akhir masa penetapan pasangan capres dan cawapres untuk Pilpres 2019, saya dibikin kaget (tentu dengan pendekatan politik nilai) ketika SBY mendekat ke Prabowo. Apa SBY tidak ingat hampir lima tahun lalu ketika dirinya lebih memilih bersikap netral meski di akhirnya justru menjadi “penentu” kemenangan Jokowi – Jusuf Kalla daripada mendukung Prabowo yang berpasangan dengan besannya Hatta Radjasa? Kalau konsisten dengan sikapnya, mestinya SBY memilih lagi sikap netral pada Pilpres 2019. Capresnya hampir pasti tidak berubah, yaitu Jokowi dan Prabowo (masih memungkinkan Prabowo mendorong Gatot Nurmantyo). Dan kalaulah tidak suka dengan besannya, sekarang Hatta Radjasa tidak mencalonkan lagi.

Saya menggunakan sebutan “mendekat”, karena sejatinya SBY yang lebih membutuhkan Prabowo ketimbang Prabowo membutuhkan SBY. Untuk mendekat ke kubu Jokowi (Megawati) hampir mustahil akan terwujud. Penyebabnya lebih karena belum membaiknya komunikasi SBY dengan Megawati. Sementara mengambil posisi netral jelas secara politik (kekuasaan) tidak menguntungkan SBY. Maka pilihannya –meski harus menabrak nilai-nilai politik yang selama ini sudah dinafikan SBY– adalah mendekat ke kubu Prabowo.

Politik tanpa nilai bukan hanya dilakukan para “tetua” bangsa ini, di kalangan politisi muda pun tak jauh berbeda. Kalangan politisi muda saat ini lebih sibuk menawarkan (menjual) dirinya untuk sebatas menjadi wakil presiden. Wajah sebagai negarawan yang semestinya sibuk dan prihatin memikirkan nasib bangsa dan negaranya, sama sekali tak terlihat pada diri wajah-wajah politisi muda yang menonjol saat ini, tak terlihat ada politik nilai yang ditawarkan, kecuali hanya sebatas perebutan kekuasaan dan kepentingan itu. Sekian.

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Tidak Cukup 10 Hari, Anies Tambah Waktu Kunker di Luar Negeri

Image

News

Golkar DKI Bedah Kiprah Tokoh Senior Sarwono Kusumaatmadja

Image

News

Berhenti Mengisap yang Belum Niscaya

Image

News

Kejaksaan Kolombia Keluarkan Surat Perintah Penangkapan Eks Pemimpin Pemberontak FARC

Image

News

Kering Melanda, Kelangkaan Air Terasa: Bijak Menabung Air, Berhemat Gunakan Air

Image

News

Perpres Jabatan Fungsional TNI Dinilai Akan Mengundang Masalah Baru

Image

News

Politik Cinta

Image

Olahraga

Piala Amerika Brasil 2019

Gelandang Chile Akui Timnya Lebih Percaya Diri

Image

Olahraga

FOTO Chili Kalahkan Kolombia Lewat Drama Adu Penalti

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Virus Malaria Afrika Selatan yang Dibawa Orang Cimahi Ditemukan di Kupang

Virus malaria itu, kata dia, diderita oleh Garanta setelah sebelumnya yang bersangkutan sempat bertugas di daerah endemis.

Image
News

Lima Cara Penuhi Air Bersih di Tengah Kemarau Panjang

Untuk menekan dampak kekeringan agar tak semakin parah, warga maupun otoritas setempat melakukan berbagai cara.

Image
News

Usai Dikunjungi PM India, Istiqlal Direnovasi, Target Kelar Maret 2020

Lanskap kawasan masjid juga ditata ulang dengan penambahan tanaman dan pot bunga.

Image
News
Haji 2019

Jelang Berangkat ke Tanah Suci, Karimun Meninggal Dunia

Jemaah calon haji Kloter 16 itu berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ilir, Penungkal Abab Lematang Ilir dan Palembang.

Image
News
Haji 2019

6.233 Calon Haji Telah Diberangkatkan dari Embarkasi Padang

Jamaah termuda kloter 17 atas nama Shakila Nuza Qitshi usia 18 tahun dan tertua atas nama Lisma Zein Muhammad usia 88 tahun.

Image
News

Pesan Tengku Buat 260.000 Pengikut: Kritiklah Pada Hal yang Substansial, Jangan Serang Orangnya

"Alhamdulillah sudah 260.000 followers. Terimakasih atas dukungan, kritik, dan saran," kata Tengku Zulkarnain.

Image
News

Lima Desa di Lima Kecamatan di Temanggung Dilaporkan Membutuhkan Bantuan Air Bersih

Setiap hari BPBD Kabupaten Temanggung mendistribusikan air bersih ke daerah kekeringan sebanyak enam tangki.

Image
News

Rapat Paripurna Pemilihan Wagub DKI Jakarta Kembali Diundur

Alasan pembatalan Rapimgab itu yakni banyaknya anggota dewan yang mangkir pada pembahasan ini.

Image
News

Tetapkan Legislator Terpilih, KPU Bekasi: Kita Masih Tunggu Putusan MK

Pleno penetapan caleg terpilih paling lambat lima hari sejak putusan MK diterima

Image
News

Alami Kekeringan, Lima Desa di Temanggung Butuh Bantuan Air Bersih

sumber air di sejumlah daerah tersebut sudah mengering

trending topics

terpopuler

  1. Nunung Ditangkap Narkoba, Indro Warkop: Buat Gua yang Seperti Itu Banci

  2. Kritik Ridwan Kamil, Tengku: Jika Banyak Pengangguran, Perbaiki Mutu dan Ciptakan Pekerjaan, Kok Malah SMK Mau Dibubarkan?

  3. Jemaah Diimbau Tak Langsung Pulang Usai Ibadah di Masjidil Haram

  4. Cibiran Teddy Gusnaidi ke Anies: Prestasinya ketika Dia Tidak Melakukan Apa-apa

  5. Rustam: Bagi-bagi Kekuasaan 55 : 45? Mungkin Amien Rais Lupa Sistem Pileg Beda dengan Pilpres

  6. Balas Donald Trump, Michelle Obama: Negara Kita Besar berkat Keberagamannya

  7. Polemik Baru Setelah Anies Bongkar Instalasi Bambu Setengah Miliar Rupiah

  8. Syamsuddin Haris: Amien Rais Tidak Pernah Konsisten dengan Ucapannya, Ujungnya Minta Bagi Kekuasaan

  9. Lima Pernyataan Kontroversial Amien Rais, Mulai Perang Badar hingga Pembagian 55-54

  10. Dihadiri Presiden Jokowi, 7 Potret Momen Pernikahan Anak Sudjiwo Tejo

fokus

Menuju Negara Ketiga
Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude