image
Login / Sign Up
Image

Ma'mun Murod Al-Barbasy

Direktur Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) FISIP UMJ

Politik Tanpa Nilai

Image

Warga memasukkan jarinya ke dalam tinta usai melakukan pencoblosan surat suara di TPS 9, Jalan Abdul Sahab, Sawangan, Depok, Jawa Barat, Rabu (27/6/2018). Di TPS 9 Sawangan, Kota Depok ini ada sekitar 237 pemilih yang tertera di daftar pemilih tetap (DPT) untuk ikut dalam pelaksanaan pilkada serentak 2018 di kawasan Jawa Barat. Ada empat calon pasangan yang maju dalam pemilihan Gubernur Jabar 2018 ini, mereka adalah Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum (Nasdem, PPP, PKB, dan Hanura), Hasanuddin - Anton Charliyan (PDI-Perjuangan), Sudrajat - Ahmad Syaikhu (PKS, PAN, dan Gerindra), Deddy Mizwar - Dedi Mulyadi (Golkar dan Demokrat). | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Bicara soal nilai (value) dalam politik biasanya merujuk pada pemikiran-pemikiran politik klasik era Yunani Kuno yang direpresentasikan oleh setidaknya Plato dan muridnya Aristoteles. Politik dalam pengertian klasik dimengerti bahwa politik hadir tak lain adalah untuk mewujudkan "kebaikan bersama" (public good, al-maslahah al-ammah).

Dalam pemikiran politik Islam klasik, pemikir seperti al-Farabi sering diposisikan sebagai representasi "pemikir nilai", disamping tentu ada nama-nama lain, seperti Abi Rabi, al-Ghozali, al-Mawardi, Ibnu Khaldun, dan Ibnu Taimiyah. Al-Farabi bahkan menulis buku berjudul Madinah al-Fadhilah yang kerap “dituduh” sebagai copy paste dari karya Plato: Republic. Al-Farabi hidup di era Daulah Abbasiyyah yang saat itu tengah mengalami kekacauan. Maka pemikiran-pemikiran yang ditawarkan adalah bagaimana mewujudkan negara (Daulah Abbasiyyah) yang ideal.

Konteks Indonesia, pemikiran-pemikiran yang berkembang di seputar jelang kemerdekaan (persidangan BPUPKI), yang kemudian menghasilkan rumusan Pancasila adalah produk dari politik nilai. Sila-sila dalam Pancasila sarat dengan nilai-nilai agung dan mulia, sebagaimana ditawarkan Plato mapun al-Farabi.

baca juga:

Saat ini, terlebih di era liberal politik, politik dalam pengertian klasik (nilai) nyaris menjadi hal yang asing (gharib). Politik telah benar-benar dipahami hanya dalam pengertian yang pragmatis, sebagai perebutan kekusaan dan kepentingan. Saya tentu sangat paham bahwa politik memang (di antaranya) bicara soal bagi-bagi kekuasaan dan kepentingan. Tak ada kawan atau lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan. Ini ungkapan yang kerap kita dengar, yang menggambarkan bahwa politik semata dimengerti sebagai kepentingan tanpa berusaha melibatkan politik nilai meskipun hanya secuil. Tentu boleh dan sah memahami politik sebagai kekuasaan dan kepentingan, tapi sertakanlah atau selipkanlah politik nilai meski hanya sedikit saja.

Coba tengok saja, praktek politik di Indonesia, terlebih pasca Orde Baru, praktis yang tampil menjadi mainstream adalah politik tanpa nilai. Saya lebih suka menyebutnya sebagai “politik comberan”, politik yang semata bicara soal kekuasaan dan kepentingan, sementara politik sebagai nilai begitu dimarjimalkan. Hasil dari praktik politik yang sebatas kekuasaan dan kepentingan, kita sekarang menyaksikan betapa bobroknya kehidupan politik saat ini. Politik nyaris berlangsung tanpa nilai. Nyaris tanpa komitmen, tak ada kepercayaan, dan tak ada integritas dalam berpolitik. Melanggar komitmen, melanggar kepercayaan, tipu-tipu, berkhianat, mengorbankan atau menikam kawan sendiri dan apalagi lawan seakan menjadi sebuah keniscayaan dalam praktik politik kita saat ini.

Sekadar contoh dan mengingatkan memori publik, saat Pilpres 2009, Megawati memutuskan berpasangan dengan Prabowo Subianto. Saat itu nyaris tak ada gugatan dari kubu, termasuk pengikut-pengikut setia Megawati kepada Prabowo terutama terkait dengan dugaan pelanggaran HAM yang pernah dilakukannya di akhir kekuasaan Orde Baru, 1998. Namun ketika Pilpres 2014, di mana Prabowo kembali maju, menjadi capres berpasangan dengan Hatta Radjasa, Prabowo mendapat hujatan hebat dari para pendukung Joko Widodo (Megawati) yang maju berpasangan dengan Jusuf Kalla. Seakan lupa peristiwa hampir lima tahun yang lalu di mana Megawati dan Prabowo berpasangan mesrah. Dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Prabowo dikuliti habis. Mereka seakan lupa dengan fakta-fakta bahwa di sekeliling Megawati dan Joko Widodo juga terlalu banyak jenderal-jenderal yang tangannya berlumuran darah rakyat dan umat Islam yang tak berdosa.

Bukan hanya soal pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada Prabowo, ada satu hal mendasar yang menjadi ciri khas dari “politik comberan”, yaitu melanggar komitmen (janji) seakan menjadi hal biasa dan tanpa merasa dosa. Menjelang Pilpres 2009 Megawati dan Prabowo menandatangani (di atas materai) apa yang disebut “Perjanjian Batu Tulis”, tanggal 16 Mei 2009. Isi perjanjian ini beredar luas di masyarakat. Salah satu isi perjanjian ini (poin 7) disebutkan: “7. Megawati Soekarnoputri mendukung pencalonan Prabowo Subianto sebagai calon presiden pada Pemilu Presiden tahun 2014.”

Ketika tiba waktunya (jelang Pilpres 2014), di mana komitmen terebut seharusnya dijalankan, dengan entengnya Megawati mengkhianati sebuah komitmen bersama. Megawati justru mendukung calon presiden lain bernama Joko Widodo, yang dengan berbagai polesan, termasuk dugaan kecurangan yang terjadi saat Pilpres 2014, akhirnya terpilih menjadi Presiden. Inilah gambaran nyata dari “politik comberan” tanpa nilai. Melanggar komitmen dianggap hal biasa dan bahkan mungkin suatu keharusan. Kalau mendasarkan pada politik nilai, pengingkaran atas komitmen yang dibuat bersama adalah hal yang sangat prinsip.

Begitu pun yang dilakukan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menjadi “pembantu” (Menkopolkam) Presiden Megawati. Dengan gayanya yang sok santun, juga melakukan “pengkhianatan” terhadap Megawati. Memanfaatkan kelebihan fisiknya, tutur katanya yang bagus, dan ditambah tampilannya yang terkesan didhalimi seiring dengan pernyataan Taufiq Kiemas yang menyebut dirinya sebagai “jenderal kekanak-kanakan”, SBY memanfaatkan pernyataan Taufiq Kiemas tersebut dan juga pengunduran dirinya dari Kabinet Gotong Royong untuk membangun citra sebagai orang yang didzalimi Megawati. Cara-cara politik seperti ini juga gambaran nyata dari berpolitik yang miskin nilai.

Akibat peristiwa ini, hingga saat ini hubungan Megawati dengan SBY berlangsung tidak mesrah. Megawati masih merasa tersakiti oleh “pengkhianatan” yang dilakukan SBY. Saya tidak tahu, apakah pengkhiatan yang dilakukan SBY ini juga mengingatkan Megawati atas “pengkhianatan” yang pernah dilakukannya terhadap Prabowo? Bersambung. []

Editor: Ainurrahman

Sumber:

berita terkait

Image

News

Kolombia Curhat ke BNN Soal Peredaran Kokain

Image

News

Bantuan AS Tiba di Perbatasan Kolombia Meski Ditolak Maduro

Image

News

Kampanye Ofensif

Image

News

Ketum PB HMI: Saatnya Kaum Milenial Menata Masa Depan Bangsa

Image

News

Persekusi Digital 3 Bermain Detektif: Kasus Pemerkosaan

Image

News

20 Tahun Reformasi, HMI: Indonesia Baru Belum Terwujud dengan Baik

Image

News

Indonesia Dorong DK PBB Dukung Perdamaian Kolombia

Image

News

Kutuk Terorisme, Presiden Kolombia Bersama Ribuan Warga Gelar Aksi Damai

Image

News

Bom Mobil Meledak di Kolombia, 11 Orang Tewas

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Bawaslu Diminta Awasi Ketat Pencairan Dana PKH

Dana PKH naik signifikan.

Image
News

Muhammed Bin Salman ke Indonesia, Polri Kerahkan 307 Personel untuk Pengamanan

Polri akan mengamankan jalur yang akan dilalui rombongan MBS.

Image
News

Aktivasi Jalur Ganda Kroya-Purwokerto Akibatkan Gangguan Kedatangan KA

"Atas terjadinya gangguan perjalanan KA ini, PT Daop 1 Jakarta menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada penumpang KA,"

Image
News

Kemenkumham Papua Perketat Penggunaan HP Bagi Warga Binaan

"Di Papua Barat kami pun sudah mulai melaksanakan razia. Lapas dan rutan kami instruksikan untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin,"

Image
News

Cawapres Nomor Urut 01 Ingin Ciptakan Petani Muda

"Kita akan membangun sumber daya manusia misalnya dengan menciptakan petani-petani muda,"

Image
News

Ada 16.538 e-KTP Belum Diambil Pemiliknya di Jakarta Utara

"Untuk itu kami menghimbau warga yang belum mengambil fisik KTP-e ini agar segera mengambilnya di kelurahan masing-masing,"

Image
News

10 Potret Harmonis Keluarga Ridwan Kamil yang Mencuri Perhatian

Keluarga Kang Emil terlihat dipenuhi dengan kasih sayang

Image
News

Satpel SDA Perbaiki Saluran PHB Gading Kirana

"Pengerjaan ini juga menindaklanjuti aduan warga ke Sudin. Penyebabnya hujan deras beberapa hari lalu,"

Image
News

Ganjar Jalani Pemeriksaan Bawaslu Jateng Selama 1,5 Jam

Tadi ditanya beberapa hal, apakah kegiatan itu yang mengundang saya, saya jawab iya,"

Image
News

KPAI Akan Awasi Tempat Tinggal Anak Pengidap HIV

"Anak-anak ini ditempatkan di sebuah rumah yang cukup jauh dari kampung, tapi di dalam rumah tersebut kita belum sempat datangi,"

trending topics

terpopuler

  1. CEO Bukalapak Ingin 'Presiden Baru', Abu Janda: Yawis, Kita Pengen Aplikasi Baru #UninstallBukalapak

  2. Tengku: Kalau Mau Salat Jum'at Saja Dilarang Gara-gara Umumkan Tempat, Banyak Khotib dan Kiai yang Mestinya Dilarang

  3. Aksi #UninstallBukalapak Ingatkan Boikot Sari Roti, Yunarto: yang Ngaco Mereka atau yang Memboikotnya? Pikir

  4. Indef: Pendiri Bukalapak Menyelamatkan Pengangguran, Buzzer-buzzer Itu yang Tak Berguna

  5. Tidak Pernah Disorot Media, Ribuan Warga Berbaris untuk Dukung Nicolas Maduro

  6. Alasan si Migo Kebal Hukum hingga Ganjar Minta Bawaslu Tegas terkait Pelanggaran Pemilu

  7. Ramai #UninstallBukalapak, Selebgram: Perusahaan Menghidupi Banyak Orang, Cepatlah Berakhir Pilpres!

  8. Polisi: 'Jengukin Kita Dong' Kode Kelompok Geng Motor Jakarta Barat Mencari Musuh

  9. Ganjar Pranowo Diperiksa Siang Ini

  10. Jadi Perbincangan, 10 Potret Gaya Pacaran Al Ghazali dan Alyssa Daguise

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Kejutan Debat Kedua

Image
Hervin Saputra

Al Araibi: Olahraga, Politik, atau Hak Asasi Manusia?

Image
Cosmas Kopong Beda

Masihkah Sepak Bola Modern Membutuhkan Kapten Ikonik?

Image
Cosmas Kopong Beda

The Blues (Harus) Bersabar dengan Kerja Maurizio Sarri

Wawancara

Image
Hiburan

Cerita Egy Fedly Saat Pandangan Pertama Menjemput Jodoh

Image
Olahraga

Susy Susanti

"Sekarang Saatnya Pemain Putri Mengubah Mindset"

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sosok

Image
News

10 Potret Harmonis Keluarga Ridwan Kamil yang Mencuri Perhatian

Image
News

10 Potret Darma Hutomo, Putra Tommy Soeharto yang Warisi Bakat Sang Ayah

Image
News

10 Potret Zinedine Alam, Anak Ganjar Pranowo yang Jarang Tersorot