image sungai 6
Login / Sign Up

Ahmad Agus Setiawan: ‘Milenial Lebih Cepat Beradaptasi pada Sisi-sisi Tertentu, Terutama Digital’

Wean Guspa

Debat Pilpres 2019

Image

Ahmad Agus Setiawan saat ditemui Laboratorium Energi Terbarukan Universitas Gajah Mada (UGM) Kamis (14/2/2019) | AKURAT.CO/Wean Guspa

AKURAT.CO Ahmad Agus Setiawan melempar senyum ramah kala berjalan di lobby Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika (DTNTF) Universitas Gajah Mada (UGM), Rabu (13/2) pagi. Langkahnya tenang. Di sekelilingnya ada kerumunan mahasiswa yang tengah menjalani Ospek dan mengerjakan tugas dari kakak tingkatnya. Di antara mahasiswa baru itu, ada pula yang tengah bertukar data diri.

Pagi itu, ia datang tepat waktu. Hanya berselang 15 menit setelah AKURAT.CO tiba di DTNTF. Rumah Agus tak jauh dari UGM. Hanya sekitar empat kilometer ke arah timur. Tepatnya, di dekat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

baca juga:

Meski belum pernah bertemu, tak sulit baginya mengenali kami. Sekali kontak mata, ia langsung menyalami kami. Seraya berjalan ke tempat absensi dosen dan staff departemen, percakapan pun dimulai

“Mas wartawan ya? Mau dimana Mas wawancaranya? Sebentar ya, Mas, absen dulu ?” tanyanya ramah.

Suasana makin ramai. Matahari pun sudah tinggi. Muncul serombongan mahasiswa laki-laki yang potongan rambutnya sama. Bisa ditebak, rombongan itu adalah mahasiswa baru. Sebab, rambutnya plontos alias botak satu centimeter.

Tak hanya laki-laki, ada pula rombongan mahasiswa perempuan. Mereka memakai name tag, bertulis nama dan asal fakultasnya. Juga ada logo UGM dan logo panitia Ospek di pojok kiri atas.

Mahasiswi yang mengenakan baju putih bergaris kecil dengan jilbab dan rok coklat itu menuruni dari tangga. Ia memakai kacamata. Di tangannya, ada buku bersampul biru. Kurang jelas bertulis apa buku tersebut. Yang jelas, di sampul buku itu, ada foto dirinya.

Mahasiswi itu lantas menyodorkan buku yang ia bawa pada mahasiswa yang sedang berdiri di depan tangga. Dari sekian banyak mahasiswa di situ, ia hanya memilih satu orang untuk diajak bicara. 

Setelah saling tukar tanda tangan, ia mengajak swafoto rekan yang baru ditemuinya itu.

“Makasih ya, nanti fotonya aku kirim WA,” tutupnya seraya berlalu.

Ahmad Agus Setiawan saat ditemui di ruang Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gajah Mada (UGM), Kamis (14/2/2019). AKURAT.CO/Wean Guspa

Banyak Diperbincangkan

Selesai absen, Agus mengajak masuk ke dalam ruangan Common Room, sebuah ruangan berkumpul dosen yang di departemen tersebut. Ruangan itu juga biasa digunakan untuk rapat dosen. Kebetulan, hari itu Agus ada rapat. Untungnya, rapat baru dimulai beberapa jam kemudian.  

Monggo Mas, di sini saja nggih,” ajaknya untuk duduk berhadapan di sebuah sofa panjang.

Belakangan, namanya diperbincangkan banyak orang. Bukan tanpa sebab, ia masuk dalam daftar Panelis Debat Calon Presiden 2019 putaran kedua. Ia ditunjuk berkat kepiawaiannya, yaitu faqih dalam bidang Reneweble Energy System and Planing.

Ya, isu itu memang sedang ramai diperbincangkan. Publik juga menunggu ketegasan calon presiden terkait energi terbarukan yang kian lama kian kritis ketersediannya.

Kebetulan, mulai tahun ini Agus mendapatkan amanah baru dari UGM. Ia ditugaskan sebagai kepala laboratorium energi terbarukan UGM. Menurutnya, peran itu adalah kesempatannya untuk kembali ke khittoh-nya sebagai akademisi di bidang sains dan teknologi.

Dunia itu memang telah digelutinya sejak duduk di bangku kuliah. Dulu, ia pernah bekerja sebagai partimer di Fakultas Kehutanan sebagai asisten riset. Kala itu, ia aktif pada beberapa penelitian bersama dosennya dan melakukan banyak kegiatan laboratorium. Itu semua ia lakukan agar lebih fokus pada dunia sains.

Ahmad Agus Setiawan sedang mengecek alat Photovoltaic Based Power Supply and Rechager Unit for Disaster Area di Laboratorium Energi Terbarukan Universitas Gajam Mada Kamis (14/2/2019). Alat ini pernah diperbantukan ketika terjadi gempa Padang. AKURAT.CO/Wean Guspa

Hingga kini, Agus masih konsisten di bidang sains dan teknologi. Berkat konsistensinya dalam bidang tersebut, Agus mendapat kepercayaan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ya, ia didaulat sebagai salah satu panelis dalam acara Debat Calon Presiden 2019 Kedua yang baru saja berlangsung.

Agus kaget ketika pertama kali dihubungi KPU via email. Kebetulan kala itu ia sedang berada di Lombok, mendampingi penerjunan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa UGM. Dalam email tersebut, Agus diminta menjadi salah satu panelis dalam Debat Calon Presiden 2019 putaran kedua.

Mak jegagik lah ya! Wah, ada apa ini? Tapi semangat, Bismilah. Saya siap. Gitulah kira-kira,” ungkap Agus. 

Surat resmi soal ketersediaan menjadi panelis menyusul. Agus menerima permintaan KPU secara resmi pada minggu pertama bulan Februari.

“Pada awal Februari itu saya mulai ketemu dengan wartawan di Jakarta. Kemudian saya diberikan surat resminya. Kalau surat kertas kan agak terlambat sampai ke sininya,” kata Agus.

Agus terpilih menjadi panelis tak sendiri. Ia ditemani sejumlah akademis dan aktivis lingkungan lainnya sesuai bidang keahlian masing-masing. Mereka antara lain; Rektor ITS Profesor Joni Hermana, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nur Hidayati, Rektor IPB Arif Satria, juga ahli pertambangan ITB Profesor Irwandy Arif.

Selain itu, ada pakar lingkungan hidup Undip, Sudharto P. Hadi, dan Sekretaris Jenderal Konsorsium Pengembangan Agraria Dewi Kartika juga terlibat sebagai panelis.

Generasi Milenial adalah Generasi Digital

Ahmad Agus Setiawan saat ditemui Laboratorium Energi Terbarukan Universitas Gajah Mada (UGM) Kamis (14/2/2019). AKURAT.CO/Wean Guspa

Debat calon presiden putaran pertama banyak menuai cibiran. Banyak yang menilai debat tersebut kurang greget. Bahkan ada yang menyebut seperti cerdas cermat. Hal itu tak pelak membuat KPU kali ini menggunakan haknya dalam memilih panelis tanpa persetujuan kedua belah pihak.

Selama hampir 50 menit Agus bicara bagaimana tim panelis mempersiapkan debat putaran kedua. Debat tersebut, salah satu fokusnya, membahas energi terbarukan dan suara milenial. Dan memang, itu adalah keahliannya. Nah, berikut tanya jawab dengan Agus seputar Debat Calon Presiden 2019.


Treatment untuk moderator seperti apa?

Kalau dari panelis lebih kepada isi kontennya. Kalau soal moderator, KPU yang punya kapasitas itu. Tapi kita punya kapasitas untuk nanti bertemu dengan moderator, kemungkinan nanti di situlah kita akan diskusi lebih jauh.

Kemarin kita sudah beberapa kali ketemu dengan mereka. Meskipun singkat-singkat saja, besok kita akan masuk ke finalisasi. Tentunya kita harus meng-eksposure para moderator dan kita berharap nanti pesan-pesan seperti ini bisa jadi action selanjutnya.

Bagaimana Anda melihat para milenials yang mengikuti debat?

Peran milenials yang sadar akan politik menjadi penting. Sebab, pada tahun 2045 kelak yang hidup memegang kekuasaan itu kan milenials ini. Jadi, you ketika memilih ini pada dasarnya untuk kamu (kaum milenials). Sisi energinya, lingkungannya, SDA, pangan, dan energinya.

Semuanya harus ngeh. Pada isu-isu strategis, pangan juga besar isunya. Energi juga sama. Kita punya tantangan satu Indonesia, bukan hanya Jawa dan sumatera. Tapi ribuan kepulauan yang kita punya.

Bagaimana Anda melihat energi terbarukan di negeri ini?

Ada dua kepentingan yang menarik di sini. Dari segi bisnis dan juga dari segi proteksi. Ketika kita berbicara energi terbarukan semangat yang ingin disampaikan juga bukan semangat pasar saja. 

Harapannya, pada debat ini tumbuh kapasitas, kemampuan, dan teknis maupun produksi dari sektor lokal. Dari Indonesia sendiri. Jangan sampai kalau semuanya sudah open kita dikeroyok juga. Gak ada bedannya nanti dengan minyak, misalnya.

Kita seringkali melihat peta Indonesia banyak banget bendera dari luar negeri. Semuanya serba asing. Kita mengkritisi itu. Jika nantinya kemungkinan energi terbarukan masuk. Jangan sampai kita hanya menjadi pasar. Bagaimana kesiapan kita. Itu yang kita munculkan.

Semua itu kuncinya kemampuan sumber daya manusia (SDM) yang punya sains dan tekonologi. Nah ini yang harapan kita kedepan.

Bagaimana soal kebijakan import di Indonesia, di bidang otomotif misalnya?

Tantangannya memang sama dengan mobil atau produk yang lain, dimana semuanya serba impor. Lalu, bagaimana menghidupkan kemampuan internal kita? Kemauan produksi lokal juga harus ditingkatkan.

Proteksi pasti ada, yang jelas saat ini sejak hybrid milik Toyota atau Tesla yang kekinian banget. Sebenarnya di Indonesia juga sudah mulai muncul. Salah satunya lewat produk-produk perguruan tinggi yang bekerja sama dengan industri. Pernah ada yang dibuat dan dikembangkan namun akhirnya bermasalah juga.

Mobil listrik, mobil hemat energi, dan drone yang jadi isu Pilpres 2014 itu semuanya kita punya.

Lalu, menurut Anda, bagaimana kapasitas SDM di negeri kita?

Jika kita melihat negara maju, misalnya Singapura, mereka sudah mempunyai kapasitas ini. Singapura punya lembaga-lembaga untuk mangangkat hal-hal seperti ini. Memfasilitasi dan seterusnya. Lainnya, United State (US), misalnya, saya masih bermimpi dengan konsep pembangunan mereka. Barusan saya browsing, contohnya National Reneweble Energy Laboratory.

Semuanya punya kapasitas di kampusnya masing-masing. Kemudian ditarik ke level nasionalnya dan governance. Amerika juga punya revolusi sains dan teknologi. Sekitar pada tahun 1940. Pada saat itu keputusannya adalah mengenai big science bukan lagi small science pada waktu itu soal kebijakan pemerintahannya.

Jadi, harus ada seorang teknokrat dan ada orang-orang yang bekerja di level nyekrup dan sebagainya. Gampangannya begitu. Tapi teknokrat ini harus tahu, jangan dilepas pada orang yang tidak punya visi seperti itu.

Bagaiamana idealnya kebijakan pemerintah untuk energi terbarukan?

Jadi, kalau negara lain mereka sudah mengalami evolusi dan revolusi. Termasuk pada era saat Habibie ‘bergaya’ masuk ke teknologi. Saat itu ada konsep, jika hanya mengikuti negara lain, kita akan selamanya tertinggal. Sebab, kita hanya akan fokus mengejar sementara mereka sudah lompat ke mana-mana.

Ada namanya leapfrogging. Energi terbarukan tidak berbeda dengan itu. Itulah mengapa sekarang kita melalui ini masuk pada Debat Calon Presiden 2019.

Apakah kedua kubu sudah mengahadirkan pendidikan politik yang baik?

Tepatnya, belum sampai pada level ide, ini yang ramai di medsos. Gampangnya ‘bom-boman’. Ini lebih pada sosial politik. Case yang ingin kita lihat adalah, bagaimana wacana yang keluar dalam Debat Calon Presiden 2019 ini bisa dibungkus dalam metodologi yang oke.

Ahmad Agus Setiawan sedang mengecek alat Photovoltaic Based Power Supply and Rechager Unit for Disaster Area di Laboratorium Energi Terbarukan Universitas Gajam Mada Kamis (14/2/2019). Alat ini pernah diperbantukan ketika terjadi gempa Padang. AKURAT.CO/Wean Guspa

Sudahkah pendidikan politik itu sampai ke generasi milenial? 

Ini yang menarik, milenials bukan punya kecenderungan diam, tutup mata dan telinga. Mereka punya kapasitas untuk belajar cepat. Seolah tidak peduli tetapi sebenarnya mereka ikuti. Hati-hati dengan itu.

Kami dosen-dosen juga masih bertanya-tanya sebenarnya milenial ini benda apa. Milenial lebih cepat beradaptasi pada sisi-sisi tertentu, terutama digital. Mereka adalah digital native, yang lahir dengan gawai ditangan mereka. Mereka sangat personal sekali dengan informasi.

Informasi itu kemudian yang bisa memengaruhi pemikiran, hingga bisa memutuskan dengan cara mereka sendiri. Bukan cara orang tua. Ini agak sedikit berbeda. Perubahan pilihan untuk mengakses informasi juga harus diikuti ketika kita akan mendekati milenial. Nah, inilah yang harus menjadi perhatian.

 

 

 

 

 

 

Editor: Andre Purwanto

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Pemilu 2019

Adu Gaya Penampilan Jokowi-Ma'ruf dengan Prabowo-Sandi dalam Debat Capres Terakhir

Image

News

Debat Pilpres 2019

Kader Demokrat Pulang Usai Prabowo Salahkan Presiden Sebelum Jokowi di Debat Pilpres 2019

Image

News

Debat Pilpres 2019

Politikus Demokrat Emosi di Area Debat "Lebih Baik Kita Keluar dari Koalisi"

Image

News

Debat Pilpres 2019

Faizal Assegaf: Jokowi - Amin Tampil Bersinar, Prabowo Asbun, Sandiaga Terkesan Ngoceh Doang

Image

News

Debat Pilpres 2019

Jokowi Tidak Miliki Persiapan Khusus Hadapi Debat, Karding: Bukan Berarti Anggap Enteng

Image

News

Debat Pilpres 2019

Romo Benny Susetyo: Jokowi Tidak Mau Buat Lawannya Malu

Image

News

Debat Pilpres 2019

Sindir Prabowo, Tubagus Hasanuddin: TNI Kita Disegani Negara Lain

Image

News

Debat Pilpres 2019

OSS Diklaim Bisa Kurangi Korupsi, Tsamara: Setuju Sekali dengan Jokowi

Image

News

Debat Pilpres 2019

Bandingkan Sikap Prabowo dengan Jokowi, Abu Janda: Mental Pemimpin sama Mental Capres Setipis ATM

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Iptek

Kemendag Dorong Mahasiswa Berwirausaha di Era Digital 4.0

Menurut Global Entrepreneurship Index 2018, jumlah wirausaha di negara maju mencapai 14%, sementara di Indonesia baru mencapai 3,1%.

Image
Iptek

Letusan Gunung Raikoke Diabadikan Stasiun Luar Angkasa

Gambar menunjukkan bentuk klasik dari bulu-bulu vulkanik yang naik.

Image
Iptek

Studi Cambridge: Game Online Bantu Perangi Penyebaran Berita Palsu

University of Cambridge menemukan bahwa permainan gim online bisa meningkatkan antibodi pemainnya terhadap berita palsu.

Image
Iptek

Segera Perbarui, Android dan iOS Versi Lama Ini Dipastikan Tak Bisa Gunakan WhatsApp Lagi

Penghentian dukungan ini mulai berlaku pada 1 Februari 2020 mendatang.

Image
Iptek

Tak Haramkan PUBG, Arab Gelar Turnamen Di Jeddah

PUBG menuai polemik dan telah dilarang di beberapa negara. Di Indonesia sendiri gim bergenre FPS itu telah diharamkan di Aceh.

Image
Iptek

Jalin Kerja Sama, Bukalapak Latih Calon Perusahaan Pemula Binaan BPPT

Tujuan dari kerja sama ini adalah untuk mengembangkan akses pasar, terutama bagi tenant binaan BIT.

Image
Iptek

ASUS Luncurkan Duo Laptop Gaming Terbaru, ROG Zephyrus GA502DU dan TUF Gaming FX505

Zephyrus GA502DU diklaim sebagai laptop gaming dengan bodi dan desain paling tipis serta ringan di dunia dengan bobot 2,1kg.

Image
Iptek

Bukan Hanya PUBG, Deretan Gim Ini Juga Haram di Aceh

Mobile Legends: Bang Bang termasuk gim yang diharamkan.

Image
Iptek

Hasil Survei: Penggunaan AI untuk Deteksi Penipuan Meningkat Tiga Kali Lipat pada 2021

Saat ini memang hanya ada 13 persen organisasi yang menggunakan AI dan ML untuk mendeteksi dan mencegah penipuan

Image
Iptek

Fitur Cruise Control Terbaru BMW Mungkinkan Mobil Berhenti Otomatis Saat Lampu Merah

BMW menunjukkan cruise control generasi selanjutnya pada sebuah acara di Jerman.

trending topics

terpopuler

  1. Beda dari Sinetron, 10 Potret Harmonis Rionaldo Stokhorst dan Keluarga

  2. Denny Siregar ke BW: Dek Mbambang Sekarang Punya Sekretaris Baru yang Bisa Disuruh-suruh Melengkapi Barang Bukti? Sakti Juga Doi!

  3. Videonya Soal Prabowo Kalah di MK Viral, Emrus Sihombing: Saya Terus Terang Kagum dengan Faldo

  4. Betapa Kaget, Ibu Rumah Tangga Ini Temukan Koper Berisi 30 Ribu Butir Ekstasi

  5. Massa Tetap Gelar Aksi Depan Gedung MK, Kapolri: Kita akan Bubarkan

  6. Mantan Suami Denada, Jerry Aurum Ditangkap Karena Narkoba

  7. Motto Skripsi dari Mahasiswa UGM Yogyakarta Ini Unik Banget

  8. Tanggapi Imbauan Rizieq Shihab, TKN: Tidak Perlu Ada Pengerahan Massa, MK Sudah Transparan

  9. Sedih Betul, Arisan Ratusan Juta Rupiah, Tetapi Uang Tak Kembali

  10. Pasukan Brimob Dikirim ke Papua, Kapolda: Waspada dan Mawas Diri, Perlu Juga Hilangkan Sifat-sifat Arogan

fokus

Perang Dagang Tak Berkesudahan
Masalah Sungai
Sampahmu

kolom

Image
Hasan Aoni

Duit Lanang

Image
Sunardi Panjaitan

Deklarasi Kekalahan

Image
Ujang Komarudin

MK dan Narasi Kecurangan

Image
Rozi Kurnia

Film ini Harusnya Tidak Berjudul Aladdin

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude