image
Login / Sign Up

Jais Darga: Pelukis Indonesia Harus Lebih Agresif

Herman Syahara

Image

Jais Hadiana Dargawijaya, art dealer pertama di Indonesia. | AKURAT.CO/Herman Syahara

AKURAT.CO, Jais Darga adalah nama perempuan yang tak bisa dipisahkan dari dunia seni rupa Indonesia. Mungkin sebagian besar pelaku seni rupa senior  Indonesia mengenalnya dengan baik. Dialah art dealer pertama di Indonesia, di samping juga seorang kolektor.

Nama lengkapnya adalah Jais Hadiana Dargawijaya, mojang berdarah Garut yang kini menjadi  “wanita global”. Untuk urusan seni rupa, dia mondar mandir antara Bandung, Jakarta, Paris, dan  New York. Rumahnya memang ada di kota-kota itu.

“Kalau ingin ke New York ya ke New York, kalau ingin ke Paris ya Paris. Pokoknya kemana kaki mau melangkah, ya,  melangkah,” katanya dalam perbincangan khusus dengan AKURAT. CO.

baca juga:

Jais memang nampak selalu enjoy. Selalu ada tawa dan keriangan dalam dirinya. Tawaanya terkadang lepas. Dia amat menikmati perannya sebagai art dealer, kolektor, dan orang tua tunggal bagi anaknya, Magali yang menetap di Bali. Jais mengelola  Darga Gallery yang berlokasi di Denpasar,  yang disebutnya bukan berfungsi sebagai toko tapi juga wahana untuk ikut  mendorong terciptanya iklim kreatif.

Saat membuka Darga Gallerys pada 1977 dia menggelar pameran spektakuler yang mengejutkan publik seni rupa nasional yang bertajuk "Modern Masters of Indonesian and Europe". Darga dikabarkan memboyong puluhan karya maestro dunia seperti Corot, Renoir, Matisse, Rouault, Dufy, Picasso, Braque, Leger, Chagall, Foujita, Corneille, dan Bernard Buffet.     

Lukisan ini disandingkan dengan karya maestro lokal  Sudjojono, Affandi, Hendra, Sadali, Nashar, Srihadi, Made WiantaIda Bagus Made. Pada  1998 Jais go international  menjalin kerja sama dengan galeri  setempat  dengan mendirikan  Darga-Lansberg Galerie. Di sinilah karya-karya pelukis Indonesia yang menonjol di pajang di depan mata pasar global.

Sebelum terjun ke art dealer, yang dalam beberapa kesempatan diartikannya sebagai makelar atau pedagang lukisan, Jais sebenarnya orang teater. Pada  1977 dia pernah  bergabung dengan Dapur Teater Remy Sylado di Bandung.

Namun dia mengundurkan diri karena merasa lebih pas berada di dunia perdagangan karya seni rupa itu, yang  sebenarnya  juga diperkenalkan oleh Remy Syaldo berteman dengan dengan perupa setempat seperti  Jeihan, Achmad Sadali, A.D. Pirous, dan sejumlah pelukis Bandung lainnya. Meskipun demikian, menurut Jais, kenikmatan  menjual lukis tak jauh beda dengan drama. Saat sedang menjual lukisan seolah sedang main drama, katanya.

Pada 1980 Putri “menak” (bangsawan) Bandung itu  menikah dengan Tony, putra pemilik perusahaan jamu PT Nyonya Meneer . Setelah bercerai, Jais mendirikan Jais Art Gallery pada 1986 di Bandung. Dari kegemarannya berburu lukisan sampai ke Eropa, dia berkenalan dan kemudian menikah dengan  Hamel Didier, seorang kolektor Prancis, yang dikaruniai seorang anak bernama Magali. Pernikahan mereka berakhir pada 1997.

Berikut adalah wawancara AKURAT. CO dengan Jais Darga seputar profesinya sebagai art dealer dan dunia teater, yang malam itu sebagian riasan wajahnya belum hilang karena baru turun panggung setelah mementaskan Perempuan Sejati, bersama Putu Wijaya,  di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Jalan Braga, Bandung, pekan awal Maret 2019 lalu:

Anda  di kenal sebagai art dealer papan atas. Bagaimana Anda melihat  kualitas karya perupa kita?

Tidaklah, saya di semua layer ada. Karya pelukis kita semakin ke sini semakin bagus. Tinggal lagi bagaimana mereka bisa go international.

Bukankah sudah ada art dealer seperti Anda yang bisa memasarkan?

Harus dari dia (perupa) sendiri juga. Saya dulu pernah membuka pintu bagi karya beberapa pelukis. Kalau ada client, wartawan, atau kritikus seni rupa yang ngasih kontak yang meminta dihubungkan kepada pelukisnya saya kasih. Selanjutnya harus mereka yang lebih agresif. Karena saya  kan tidak menangani satu orang pelukis saja.

Apa ini kelemahan utama perupa Indonesia?

Kadang-kadang orang Indonesia itu agak kurang percaya diri. Sehingga kalau mau melangkah  seperti ragu. Jadi harus dibimbing.  Tapi ada juga beberapa, seperti  antara lain Eddie Hara, yang bisa langsung percaya diri  go internationalPelukis Indonesia harus siap kalah harus siap menang.  Tapi coba go international dulu.

Anda juga dulu merintis karier sendiri, ya?

Saya juga dulu ke Paris sendiri, perempuan lagi. Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan dan Perancis beberapa kata, jalani saja. Jadi pelukis Indonesia harus lebih agresif, agresif yang elegan. Saya kalau ketemu pelukis Indonesia di sana selalu mendorong.

Misalnya ada wartawan, saya  kenalin. Karena pelukis tidak bisa hanya mengandalkan art dealer. Meskipun ada galerinya, tapi kan sudah ada kerja sama jadi harus disiplin. Kalau kita sudah dipegang oleh galeri A misalnya, kita harus mengikuti rule atau aturan mainnya.  International rule. Ada etikanya.

Kalau ada orang mencari suatu  karya tapi tidak ada di galeri saya, saya arahkan  dia ke galeri yang lain. Dan mereka juga ada etikanya, ada terimakasihnya. Mungkin dia ngasih bunga atau apa. Jadi di antara sesama art dealer tidak ada  saling ketakutan karena kita memiliki etika dan rule. Pelukisnya juga demikian, kalau sudah dipegang satu art dealerr, dia tidakan nawarin ke sana-sini lagi.

Ada kesan  pasar lukisan sekarang sedang “adem” ya?

Untuk pasar dalam negeri saat ini memang sedang adem. Mungkin orang sedang wait and see karena situasi politik. Jadi pengaruh itu ada.  Semua cooling down dulu.  Client saya sekarang  malah dari di luar.

Menurut Anda, siapa saja  saat ini art dealer papan atas selain Anda?

Itu harus tanya ke kurator atau pengamat seni rupa. Karena saya sendiri kan pemain jadi saya nggak bisa bicara menggunakan kacamata sebagai art dealer.

Ada tips, apa syarat utama menjadi seorang art dealer yang sukses?

Pertama, berani melangkah. Lalu jadilah seorang art dealer profesional dengan menjaga kepercayaan atau trust orang. Kalau sudah seperti ini, tanpa galeri pun kita sudah bisa jualan. Apalagi didukung dengan teknologi komunikasi yang canggih sekarang. Jadi yang penting adalah nettworking atau relasi dibina terus. Jangan hanya kerjasama dengan galeri lokal tapi juga buka hubungan dengan galeri internasional di luar negeri.

Apa kepuasan Anda sebagai art delaer?

Pertama, saat  saya mendapat lukisan yang saya inginkan. Kedua, saat  saya bisa menjual lukisan kepada orang yang jatuh cinta dengan lukisan yang saya beli dan mereka puas.   Itulah klimaks sebagai art dealer. Tentu ada pengalaman deg-degan saat bersaing dalam lelang. Misalnya cemas, wah duitnya cukup atau tidak nih, ya  seperti itulah.

Kepuasan lain?

Saya merasa exciting saat  dapat meyakinkan pembeli dan bertemu  dengan first layer collector dari galeri-galeri tingkat dunia. Aduh, kayaknya bisa bicara  24 jam tak henti-henti soal lukisan, art. Kadang-kadang jika sedang makan di Paris, anak saya, Magali,  sampai protes kalau lagi makan,can you stop talk about art and money, you are dinner time?

Sekarang kita bicara soal teater. Belakangan Anda rajin kembali  pentas, ya?

Iya, kenapa ya? Saya sendiri bertanya kenapa kembali lagi ke teater.  Mungkin karena diajak. Dan bergaulnya selalu (dengan sesama orang tetaer). Ibarat burung terbang sesama burung. Saya melangkah saja. Jadi saya mau pergi, ya pergi saja kemana tujuan saya tanpa planning. Nah kali saya lagi  mentok di teater, ya main saja. Ringan saja.

Jais Darga. AKURAT.CO/Herman Syahara

Sering mentas dengan Putu Wijaya?

Dulu pernah  ikut juga pada beberapa kali  pentas pentas   “Jprut” di Bali dan Surabaya sebagai bintang tamu. Kemudian beberapa waktu lalu main  di Tasik lalu di sini (Bandung). Katanya  mau  tampil lagi Juli dan Oktober 2019  di Bali.

Kapan kenalan dengan Putu Wijaya?

Perkenalan dengan Putu Wijaya sudah lama. Waktu itu Putu Wijaya pameran tunggal dan sebagai art dealer saya yang mengkurasi. Kata orang, saya yang menasbihkan Putu Wijaya sebagai pelukis (Jais tertawa). Lalu Putu Wijaya membuat buku untuk Jais yang menceritakan Jais yang membuatnya menjadi seorang pelukis.  Perkenalan saya dengan beliau tidak terpikir akan berlanjut dengan  berteater.

Tapi vokal Anda masih kuat ya?

Ya, masih adalah. Saya coba ternyata bisa. Vokal saya dulu diasah dan diolah oleh Wawan Sofyan.

Sampai kapan akan berteater?

Ya sagenahna we (seenaknya saja). Da tos usia sakieu mah kumaha dewek we (kalau sudah seusia sekarang sih bagaimana saya saja). Yang penting genah, jangan dibikin problem. Nikmati saja. Karena kebetulan semua ini (dunia teater) pernah saya nikmati tahun 70-an. Makanya  waktu seperti berputar kembali. Untuk saya tidak problem, enjoy. Malah kadang-kadang sepertu muda lagi, seperti kembali ke masa remaja. Bedanya sekarang peyot (Djais tertawa).[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

Video

Wawancara

VIDEO Pentashih Al Qur'an Penjaga Kemurnian Kalam Ilahi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

Temu Penggemar di Indonesia, Taemin SHINee: Aku Cinta Kalian

Taemin SHINee temui Shawol di Jakarta.

Image
Hiburan

Cerita Dian Sastro Latih Anaknya yang Autis Tiup Lilin

Dian Sastro bersyukur dapat anugerah anak yang berkebutuhan khusus.

Image
Hiburan

Usil Maksimal, Anak ini Kerjai Kakaknya yang Sedang Cuci Muka

Wajah sang kakak pun jadi hitam legam karena tinta.

Image
Hiburan

Cewek ini Nyanyi Sambil Tersedu di Konser Didi Kempot, Sobat Ambyar Sejati!

Dirinya menangis sambil terus bernyanyi mengikuti lagu yang tengah dilantunkan The Godfather of Broken Heart.

Image
Hiburan

Jadi Aktor Bayaran Tertinggi, 5 Film Akshay Kumar dengan Pendapatan Terbesar

Akshay Kumar menempati urutan keempat aktor dengan pendapatan tertinggi versi Forbes

Image
Hiburan

Betrand Peto Ajak Main Futsal, Ruben Onsu: Gue Gak Suka Bola

Ruben akhirnya memilih untuk memasukan Betrand Peto ke dalam salah satu klub sepakbola.

Image
Hiburan

5 Film Hollywood Bertema Persahabatan Hewan dan Manusia, Ada yang Disemprot Pecinta Binatang!

Ada yang sukses bikin mewek banyak orang

Image
Hiburan

Pengacara Sajad Ukra Bantah Tudingan Nikita Mirzani soal Tak Bertanggungjawab Atas Anak

Setelah Nikita Mirzani mengutarakan pahitnya saat hamil hingga membesarkan Azka, pihak Sajad Ukra justru membantah semua tudingan Nikita.

Image
Hiburan

Siapkan Busana Resepsi, Roger Danuarta Berdebat dengan Cut Meyriska

Untuk menentukan tema busana pernikaha, Roger Danuarta dan Cut Meyriska sempat berdebat.

Image
Hiburan

Roger Danuarta - Cut Meyriska Usung Konsep Internasional Wedding Tuk Resepsi Pernikahan

Roger Danuarta bakal tampil keren habis-habisan saat resepsi pernikahan di Jakarta.

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. McMenemy Beri Peringatan Khusus untuk Bagus Kahfi

  2. Wanita Setengah Telanjang Bikin Heboh Pengunjung Summarecon Mal Bekasi

  3. Pernikahannya Fantastis, 5 Pasangan Selebritas Hollywood ini Berakhir Cerai

  4. Ini Alasan Kenapa Satu Kamar Hotel Hanya Boleh untuk 2 Orang

  5. Dianggap Genit, Tsamara: Saya Tak Bisa Bayangkan Bagaimana Beliau Bisa Awasi Kebijakan Eksekutif

  6. Menkopolhukam-Panglima-Kapolri Balik Kanan, Manokwari Diharap Pulih

  7. Selain Spider-Man, 4 Superhero Marvel Ini Pernah Keluar dari MCU

  8. Jika Ada Orang yang Tidak Ditawari Jadi Menteri, Tapi Menolak, Namanya Geer

  9. KPK Periksa Deddy Mizwar Terkait Suap Meikarta

  10. Ruhut: Gimana Sih Kok Masih Ada yang Nggak Ngerti dengan Perhatian Pak Jokowi untuk Papua?

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI

kolom

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Image
Video

VIDEO Jurus Optimalkan Perekonomian Domestik ala Destry Damayanti

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti, DGS BI yang Mencintai Moneter dan Fotografi

Sosok

Image
News

5 Kontroversi Aceng Fikri, Mantan Bupati Garut yang Kena Razia Satpol PP

Image
News

5 Fakta Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan RI Sejak Muda Asal Papua

Image
News

Terpilih Kembali Jadi Ketum PKB, Ini 6 Fakta Perjalanan Karier Cak Imin