image
Login / Sign Up
Image

M. Dwi Cahyono

Sejarawan Polowijen

Dongeng Ken Dedes, Pararaton dan Polowijen

Image

Ilustrasi Ken Dedes | ISTIMEWA

AKURAT.CO, Acap dikatakan bahwa sumber kisah tentang "Ken Dedes" hanyalah kitab gancaran (prosa) Pararaton, yang ditulis tak sejaman dengan masa  Kerajaan Singhasari yang menjadi latar historis dari Ken Dedes. Pararaton ditulis paling cepat pada akhir tahun 1400 (akhir abad XV). Sebelum pararaton ditulis, kisah tentang Ken Dedes dan tokoh-tokoh yang menyertainya (seperti Pun Purwa, Akuwu Tunggulamentung, Ken Angrok, Anysapati, dan sebagainya) merupakan kisah dongeng. Kisah tutur (oral) sebagaimana disebutkan dalam baris awal teks Pararaton “Itu katururanira Ken Angrok (ini tuturan tentang Ken Angrok).

Tergambar bahwa bagian pertama dari naskah Pararaton adalah hasil "penulisan (penyuratan, pengaksaraan) atau "literalisasi" dari yang semula merupakan kisah lisan (oral) mengenai Ken Angrok, Ken Dedes, dan tokoh-tokoh lain di beberapa waktu sebelum berdirinya pemerintahan kerajaan Tumapel atau lebih populer dengan "Singhasari" hingga keruntuhannya (akhir abad XI lantas tahun 1222-1292 Masehi). Ken Dedes sebagai tokoh peran dalam kisah kesejarahan Singhasari di periode awal itu, jika faktual ada, hidup pada akhir abad XI hingga sekitar tahun 1230-an atau 1240-an. Dengan demikian, antara tahun ini hingga akhir abad XV (sekitar 250 tahun), kisah dirinya hadir di masyarakat sebagai tutur, yakni dongeng kesejarahan atau semacam "Roman Sejarah Dedes-Angrok". Kisah tentangnya baru menjadi kisah tertulis sejak akhir abad XV Masehi.

baca juga:

Dalam sumber data tekstual Masa Hindu-Buddha, yang antara lain berupa prasasti, tokoh Ken Dedes tidak terberitakan, meski ia adalah seorang wanita penting sebagai istri dari Akuwu Tunggulameting, permaisuri dari raja Angrok (Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi), dan ibu dari raja Anysapati. Memang, tidak semua istri raja dan ibu raja terberitakan dalam sumber data prasasti. Kendati belum diketemukan dalam satu atau lebih prasasti, namun bukan berarti Ken Dedes adalah ahistoris sebagaimana pernah disoal oleh C.C. Berg. Bukan tidak mungkin Ken Dedes adalah tokoh historis, yang sejauh ini baru terkisahkan dalam sumber data oral yang diterapkan, yaitu susastra gancaran Pararaton.

Tak sedikit sejarawan di masa Kolonial Hindia-Belanda (awal abad XX) hingga kini yang mengidentifikasikan arca Prajnaparmura asal Candi Putri di Desa Pagentan Kecamatan Singosari sebagai "arca potret (de potrait beelden)" atau arca perwujudan darinya. Jika benar itu adalah "arca perwujudannya", berarti Ken Dedes pernah ada dalam kesejarahan Tumapel.

Ken Dedes dan Polowijen

Bagi masyarakat Polowijen, kisah tentang Ken Dedes masih banyak dituturkan dari mulut ke mulut (cerita rakyat). Kisah-kisah itu antara lain tentang perjalanan hidup Ken Dedes sebelum "dikawin lari" oleh Akuwu Tunggulameting Ametung, atau "masa lajang Ken Dedes"; dan etape terakhir kehidupan Ken Dedes setelah suaminya (Ken Angrok) mangkat terbunuh dengan keris buatan Pu Gandring di tangan anak tirinya (Amusaoati), atau "masa tua Ken Dedes". Kedua ruas perjalanan hidupnya itu, yaitu ruas awal dan ruas akhir perjalanan hidup Dedes, tak dikisahkan dalam Pararaton. Dengan perkataan lain, Pararaton hanya memuat kisah tentang "ruas tengah" perjalanan hidupnya. Apabila ketiga ruas itu dijajarkan secara kronologis, tergambar relatif utuh perjalan hidup (balada) Ken Dedes.

Dongeng Masa Lajang Ken Dedes

Cerita rakyat (dongeng) di Polowijwn tentang "masa lajang Ken Dedes" ini berkisah tentang dirinya sejak dilahirkan hingga sebelum Ken Dedes menjalani perkawinan pertamanya dengan Tunggulametung. Kisah ini oleh warga Polowijen dan sekitarnya difahami sebagai kisah tentang "Joko Lolo", yakni pernikahan gagal (wururug) antara Joko Lolo dan Ken Dedes.

Dongeng Ken Dedes ini bahkan menjadi legenda "nuansa watu kenong", yakni sebuah artefak yang bentuknya menyerupai waditra jenong dari batu andesit, yang kini masih ada di halaman depan rumah warga pada tepi jalan desa di Kelurahan Polowijen. Dalam legenda ini, watu kenong yang sesungguhnya adalah salah satu umpak (pelandas tiang) dari rumah berkonstruksi bamboo. Dikisahkan sebagai salah satu komponen musika dari absambel gamelan yang dikutuk oleh Jokoolo yang sakti sehingga berubah dari waditra logam menjadi benda menyerupai bentuk bintang yang terbuat dari batu andesit.

Dalam kisah ini, Ken Dedes Dikisahkan sebagai wanita yang lahir di Polowijen (kitab Pararaton menyebut dengan "Panawijen, dan prasasti Kanuruhan B tdari era pemerintahan Pu Sindok menamainya "Panwijtan"). Kedua orang tua Dedes tinggal berdekatan dengan sumber air (sendang atwu sumur windu), yang oleh warga setempat dinamai "Sendang Dedes". Dikisahkan bahwa sendang ini adalah buatan dari Joko Lolo yang berwajah buruk asal Dinoyo, sebagai prasyarat untuk bisa menikahi Ken Dedes asal Polowijen yang berparas ayu.

Joko Lolo beserta pengiringnya (ngiring manten) telah tiba di Polowijen lengkap dengan perangkat pernikahannya, termasuk seperangkat alat musik pengiring. Namun, mendadak keluarga Ken Dedes mengajukan syarat yang tidak mudah bahwasanya pernikahan baru dapat dilangsungkan apabila Joko Lolo dapat membuatkan sendang atau sumur windu dalam tempo cuma semalam, mengingat bahwa air tanah di Desa Polowijen terbilang dalam dan dibutuhkan cukup air untuk pengairan sawah padi gogo (pagagan).

Berbekal kesaktian dan keinginan kuat Jokoolo untuk dapat menikahi "si cantik" Dedes, maka prasyarat yang "nyaris tak mungkin" itu disanggupinya. Luar biasa, sebelum matahari terbit, sebuah sendang yang cukup besar dan dalam telah tergali dan mulai keluarkan air (nyumber). Mengetahui pekerjaan gali sendang itu hampir rampung, bergegas keluarga Dedes membuat "siasat penggalan"'. Segeralah lesung dibunyikan bertalu-talu, seo (jemengglung), seolah pekerjaan menumbuk padi (mutu) mulai berlangsung di pagi hari. Ketika itu adalah limit waktu antara fajar (sudah mulai terang tapi matahari belum terbit) dan esok (ketika matahari awal terbit).

Keluarga Dedes menyatakan bahwa hari sudah pagi (parak esok), sementara pekerjaan gali belum sepenuhnya rampung, yang berarti Joko Lolo gagal memenuhi prasyarat nikah. Adapun menurut Joko Lolo hari hari belum memasuki pagi. Kegiatan nutu dilakukan terlampau awal, dan pekerjaan gali sendang nyaris rampung. Namun, pihak keluarga Dedes bersikeras bahwa Joko Lolo gagal membuat sendang dalam tempo semalam, yang berarti rencana nikah gagal (durung). Keputusan sepihak ini membuat marah Joko Lolo, karena merasa disiasati untuk menggagalkannya dan ia merasa malu besar karena iring-iringan pengantin dari Dinoyo-Polowijen telah tiba di lokasi nikah, bahkan sejak kemarin. Sebab kesaktiannya yang dibumbui oleh amarahnya, salah satu alat musik pengiring yang berupa kenong ditendang dan dikutuk menjadi batu, sehingga terbentuklah "watu kenong".

Semenjak pernikahan yang gagal ini, hubungan baik antara warga Polowijen dan Dinoyo ternoda. Sampai-sanpai keluar pantangan agar warga Dinoyo tidak menjalin nikahan dengan warga Polowijen. Suatu pantangan nikah ntar desa, yang mite serupa ini dijumpai pula di daerah-daerah lain, yang acapkali diyakini dengan istilah "satru Danyang (Danyang kedua desa berseteru)".

Selain itu, kisah ini mengingatkan kita kepada lenganda-legenda di daerah lain yang bertema "siasat untuk menggagalkan prasyarat", seperti pada kisah Roro Jonggrang - Bandung Bondowoso, legenda Tangkuban Perahu, legenda Kawah Sikidang, dsb. Siasat licik itu adalah pengidentifikasian tibanya waktu pagi dengan telah memulai aktifitas pagi seperti menumbuk padi. Memang, batas fajar dan pagi adalah batas yang hablur. Meski ufuk timur mulai terang, belum tentu matahari telah terbit. Peralihan perang-perang, malam-siang ini menjadi inspirasi sejumlah dongeng yang serupa (ge-gente) tersebut.

Dongeng Masa Tua Ken Dedes

Kisah lain yang dikenal oleh warga Polowijen dan sekitarnya berkenaan dengan Ken Dedes adalah masa tua Dedes. Kisah ini bertemakan "Ken Dedes Tirah", yakni kembalinya Ken Dedes ke kampung halamannya di Polowijen di masa tuanya. Walau istri raja dan pejabat tinggi, kehidupan Dedes tak bergelimang rasa bahagia. Dedes memulai pernikahannya dengan "kawin lari" atau "kawin paksa" dengan Akuwu Tunggul Ametung, yang terasa kontras dengan mudah "Kawin Wurung" diatas. Jika dalam kisah terdahulu keluarga Dedes bisa bersiasat untuk menggalakkan (siasat tolak) nikah yang sesungguhnya amat dikehendaki oleh Joko Lolo itu, dalam perkawinan dengan Tunggulametung tergambar ada kondisi "tak kuasa menolak" keinginan penguasa setingkat "ukuwu" untuk menikahi Dedes. Seolah merupakan "kutukan Joko Lolo" terhadap Dedes, yang kelak dinikahkan paksa oleh orang lain.

Kesuraman hidup perjalanan rumah tangga Ken Dedes diduduki dengan terbunuhnya suaminya (Tunggulanatung) yang telah dicoba cintanya dan memberinya buah kasih yang tengah dikandungnya, yakni janin Anysapati. Kala kasih dan cintanya tumbuh, tak dinyana suaminya tewas terbunuh oleh tusukkan keris buatan Pu Gandring di tangan Kbo Hijo yang "diotaki" oleh Ken Angrok. Ironisnya, tak lama sesudah itu Ken Dedes dijadikan istri oleh Ken Angrok, yang nota bene adalah aktor dibalik tewasnya sang suami.

Tragisnya menyusul jelang di hari tuanya, suami keduanya, yaitu Ken Angrok, yang telah belasan tahun berkeluarga dengannya dan mengaruniainya anak, akhirnya pun tewas ditusuk keris –lagi  & lagi keris buatan Pu Gandring. Dan yang lebih memilukan pelaku pembunuhan itu adalah anaknya sendiri bersama suaminya yang pertama.

Tragedi demi tragedi itu adalah "kabut hitam" dalam mahligai rumah tangga Dedes, sampai akhirnya sebagai seorang wanita ia merasakan sebagai duka yang mendalam. Tragedi yang terakhir itu, menurut dongeng lokal di Polowijen dan sekitarnya memberi dorongan kuat bagi Ken Dedes untuk meninggalkan segala kemewahan di Istana Tumapel dengan balik pulang ke kampung halamannya di Polowijen ketika memasuki usia tua.

Polowijen yang telah sekian lama ditinggalkan dipilih sebagai "tempat yang lebih menentramkan" untuk melewati hari tuanya sembari meninggalkan satu demi satu beban dukanya. Sendang berair jernih dan menyegarkan ubun-ubun yang kepanasan akibat duka nestapa, yang konon dibuat dengan sungguh-sungguh dan tulus semata untuk penuhi syarat agar busa menikahinya itu, kini justru menjadi teman setia alam melewati hari tuanya. Meski tak pernah lagi jumpa dengan Joko Lolo, atas kejadian di waktu lalu, Ken Dedes lirih berucap "maafkanlah kami". Di tepian sendang inilah Dedes merajut makna hidup, hingga ajal menjemputnya.

Apa yang terpapar di atas adalah hasil sekilas atas upaya gali (eksplorasi) terhadap khasanah dongeng Nusantara. Dongeng Ken Dedes adalah "dongeng Besar Nusantara", karena dari Ken Dedes lahirlah raja-raja di kerajaan Singasari dan Majapahit. Syukurlah sastrawan penulis (rakawi) Pararaton telah merintis upaya untuk mengabadikan dongeng Ken Dedes itu lewar ikhtiar literalisasinya. Hal ini memberikan gambaran bahwa eksplirasi dongeng, utamanya dongeng kesejarahan, telah dilakukan semenjak dulu. Bahkan dongeng yang semula oral (lisan), lantas dituliskan (literalisasi). Pararaton adalah sebuah contoh representatif untuk itu.

Meski demikian, nampaknya, penulis Pararaton belum menyatakan secara relatif utuh perjalanan hidup Ken Dedes, utamanya pada ruas perjalanan hidupnya dari lahir hingga masa lajang. Demikian pula bagaimana ruas akhir perjalanan hidupnya di hari tuanya, tak terkisahkan dalam Paparaton. Atau dengan perkataan lain, ada dua penggal ruas dongeng Ken Dedes yang "tertinggal rekam (kantor)" dalam Pararaton.

Kita bersyukur,  dua ruas perjalanan hidup Dedes itu masih tersimpan dalam memori warga Polowijen dan sekitarnya setelah jeda waktu lebih dari tiga perempat abad.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image

Ekonomi

Kolom

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image

News

Kolom

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image

Ekonomi

Kolom

Nasib Petani dan Subsidi Tersembunyi

Image

News

Kolom

Redefinisi Politik Emak-emak Paska Pemilu 2019

Image

News

Area Becek Sengketa Pileg 2019

Image

News

Kolom

Menanti Pertemuan Jokowi-Prabowo

Image

News

Politik Cinta

Image

News

Kolom

Menimbang Potret DPR 2019-2024

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

Terkait Kasus Narkoba, Petugas Keamanan Duga Nunung Dijebak

Nunung dimata petugas keamanan komplek.

Image
Hiburan

Sutradara Film Parasite, Bong Joon Ho Ingin Jodohkan Putrinya dengan Park Seo Joon

The Divine Fury akan tayang pada 31 Juli mendatang.

Image
Hiburan

Galih Ginanjar Ingin Damai Demi Anak, Ini Reaksi Menohok Hotman Paris

Galih Ginanjar sempat melontarkan pernyataan kalau dirinya ragu King Faaz adalah anak kandungnya.

Image
Hiburan

Datang dari Solo, Anak Kedua Nunung Gak Dibolehkan Bertemu

Bagus menyesalkan tidak dapat izin dari pihak berwajib terkait untuk ketemu ibunya.

Image
Hiburan

Aktor Avengers: Endgame Gabung Film Space Jam 2

Space Jam 2 dijadwalkan rilis di bioskop pada 16 Juli 2020.

Image
Hiburan

Belanja Iklan Hingga Rp6,32 Miliar, 7 Fakta Menarik Tabloid Monitor Pimpinan Arswendo Atmowiloto

Image
Hiburan

Pembantu Tidak Tahu Sejak 5 Bulan Nunung Konsumsi Narkoba

Nunung selalu beri sumbangan ke Masjid.

Image
Hiburan

Usai Prosesi Misa Requiem, Jenazah Arswendo Dibawa ke Sandiego Hils untuk Dimakamkan

Arswendo meninggal dunia karena mengidap kanker prostat.

Image
Hiburan

Film Bond 25 Kemungkinan Akan Perkenalkan Lashana Lynch Sebagai Agen 007 yang Baru

Bond 25 dijadwalkan rilis di bioskop pada 8 April 2020.

Image
Hiburan

Nunung Terjerat Kasus Narkoba, Andre Taulany: Duo Sumpek

Sule dan Andrey Taulany belum jenguk Nunung di kantor polisi.

trending topics

terpopuler

  1. Netter Sebut Jokowi 'Bloon', Gibran: Ya Pak, Maaf Pak

  2. Kesal, Regi Datau Harus Bayar Makan Sampai Rp64 Juta Karena Ayu Dewi

  3. Tuai Pujian, Kisah Aiptu Rukur Sidabutar Berhasil Mengantarkan Tiga Putranya Lulus Akademi Militer

  4. Ternyata Salmafina Didesak Wawancara Khusus Hingga Pakai Kalung Salib di Acara Rumpi

  5. Pembuat Anyaman Getih Getah di Bundaran HI Sebut Anggaran Produksi Karyanya Tak Sampai Rp 300 Juta

  6. Seorang Pria Tewas Di Dalam Mobil Berplat TNI Di Ciracas

  7. Jawab Kritik Soal Getah Getih, Rian Ernest: Memang Politisi Kelas Wahid Anies Baswedan Ini

  8. Sindir Galih Ginanjar, Pablo Benua - Rey Utami, Sonny Septian: Khilaf Sebagai Jurus Terakhir

  9. 7 Pesona Briptu Ima, Polwan yang Jalankan Misi Kemanusiaan PBB di Afrika

  10. Stasiun Televisi Undang Abu Janda, Warganet: Nggak Ada yang Lebih Berbobot?

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik