image
Login / Sign Up
Image

Herman Syahara

Kenangan Tak Terlupakan: Lambaian Tangan Mungil dari Tanjung Lesung

Herman Syahara

Image

Gadis-gadis kecil di pesisir Panimbang. | AKURAT.CO/Herman Syahara

AKURAT.CO Pada 15 dan 16 Februari 2011, penulis menginap di Kalicaa Villa, Tanjung Lesung. Villa kelas menengah-atas  ini berada satu kawasan dengan Beach Camp, Tanjung Lesung Beach and Resort, Hotel Blue Fish,  dan Sailing Club Resort dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK} seluas 1500 ha yang dikelola PT Banten West Java (BWJ), kelompok usaha pengembang Jababeka Grup.

Sebagaimana resort lainnya di Kawasan Tanjung Lesung, Kalicaa Villa berada di bibir pantai sehingga memiliki akses langsung ke laut terbuka. Jika langit terang, Gunung Anak Krakatau jelas membayang. Saat-saat dramatis adalah ketika matahari tenggelam dengan cahaya semburat keemasan yang menyepuh laut. Semua itu dapat dinikmati dari resto dan cafe yang dibangun dekat kolam renang di bibir pantai.

Unit-unit villanya dibangun dengan berbagai tipe dan ukuran. Demikian juga dengan harga sewanya. Beberapa unit villa ada yang  dijual lepas dan dikelola oleh pengembang sehingga pemilik tinggal menikmati hasilnya. Bentuk villa umumnya sama, ditata dengan artistik lengkap dengan fasilitas air hangat, pendingin ruangan,  taman dan kolam mini,  gazebo, serta serta taman yang cukup luas.

baca juga:

Di sisi lahan Kalicaa Villa terdapat sebuah pantai tertutup  berpasir putih yang disebut Panai Bodur. Untuk memasuki kawasan ini harus melalui sebuah pintu besi terkunci dan yang dijaga petugas. Dari sini terasa,  pesona laut Selata Sunda lengkap dengan sunsetnya adalah sebuah kemewahan yang amat memesona.

Kini, semua pesona itu telah rata dengan tanah diamuk tsunami yang datang tanpa tanda-tanda gempa bumi sebagaimana biasanya. Tinggal lagi puing-puing berserakan.  Padahal, tidak sedikit masyarkat yang bergantung hidupnya dari kehadiran resort dan hadirnya turis di kawasan KEK itu.

Sejumlah turis sedang menikmati panorama pantai Tanjung Lesung. AKURAT.CO/Herman Syahara

Berikut adalah catatan yang penulis buat hampir delapan tahun silam. Setelah  beberapa penyesuaian, diturunkan kembali untuk AKURAT.CO:

Siang itu, 15 Februari 2011, saya tiba  Kalicaa Villa  (dari bahasa Sunda kali caah: sungai meluap) yang artistik ini. Dan pada sore harinya, terdorong naluri ingin  mengenal lingkungan sekitar,  saya  memutuskan jalan-jalan keluar lingkungan resort mewah yang memiliki jalan aspal cukup  mulus dan fasilitas lengkap ini.

Baru menekan pedal gas mobil beberapa menit  di jalan umum,   dua orang  remaja setempat yang sedang berjalan tanpa alas kaki, bercelana pendek, menarik perhatian saya. Penampilan mereka tak jauh beda dengan serombongan anak-anak yang hendak berangkat sekolah yang hanya mengenakan sandal jepit dengan seragam mulai lusuh.

Tentu saja, penampilan mereka jauh berkilau bila  dibandingkan dengan puluhan poster  dan baliho raksasa di seantero Pandeglang yang memajang foto Atut Chosiyah, Gubernur Propinsi Banten saat itu, yang kelihatan cantik,  rapih,  bersih, dan nampak elegan dalam seragam kebesarannya.

Saya pun menepi untuk sekadar bercakap. Setelah berhadapan, baru nampak jelas. Kulit keduanya agak gelap mungkin karena terbakar matahari. Warna  t-shirt yang mereka kenakan pun telah memudar. Di beberapa bagian sambungannya sobek. Dengan wajah agak terheran heran namun mencoba ramah,  mereka menatap kami yang masih berada di  dalam kendaraan. Untuk membuka percakapan, saya bertanya jalan arah ke pasar.

"Terus weh  ka ditu," sahut salah seorang dari mereka dalam bahasa Sunda kasar, bahasa setempat,  seraya  menunjuk ke depan. Saya menatap wajah-wajah  lugu itu. Seperti ada yang mengaduk-aduk perasaan saya. Tapi entah apa namanya. Saya lihat mereka seperti sedang mengunyah sesuatu.

"Jambu," sahut mereka seraya menunjukkan jambu batu mentah sebesar jempol kaki orang dewasa berwarana hijau. Mungkin mereka hanya iseng  memakan jambu  yang dipetik sambil lewat. Namun, hati saya  berkata,  bisa jadi juga karena mereka mulai merasa lapar sore itu.

Mengunyah jambu  yang keras  dan sepat rasanya, bukanlah perbuatan iseng yang membawa nikmat. Kalau ada, tentu mereka akan makan yang lebih lezat. Saya tergerak mengepalkan sejumlah uang  ke tangan mereka sambil mengucapkan terimakasih atas jasa mereka memberi tahu arah pasar.

Saya  melanjutkan perjalanan. Di kiri jalan yang saya lalui adalah pantai yang berpasir putih dengan laut membiru. Beberapa perahu bersandar di tepian. Di antara pepohonan kelapa, banyak rumah sederhana penduduk  yang tampaknya berprofesi sebagai nelayan dan petani.

Di kanan jalan, perkebunan kelapa, pisang,  singkong, dan semak belukar menghampar. Beberapa rumah permanen berada di tepi jalan. Namun  rumah berdinding gedek yang jumlahnya mayoritas,  menyebar hingga jauh ke dalam perkampungan. 

 Setelah puas berkeliling, saya  memutuskan pulang ke villa menjelang magrib. Di tengah perjalanan, kembali perhatian kami terpesona oleh pemandangan dua bocah perempuan berkerudung yang sedang berbincang  di pinggir jalan. Dengan wajah khas anak anak mereka melambai-lambaikan tangan ke arah kami. Kami mundur kembali karena mereka sudah terlewati.

"Mau ke mana,” sapa saya.

“Mau ngaji," sahut mereka dengan suara riang.

Ah, anak-anak yang lucu. Usianya sekitar 4-5 tahun. Tak tersirat rasa takut bertemu orang asing di wajah mereka. Mungkin sudah terbiasa melihat wisatawan yang datang ke sini. Matanya berbinar lugu. Agar ada alasan memberi "sesuatu", saya pura pura bertanya lagi.

Mereka menunjuk ke depan. Ke tempat yang sebenarnya sudah kami tahu. Kembali saya mengucapkan terimakasih seraya menyelipkan sesuatu ke tangan mereka. Sambil menggenggam pemberian itu, mereka kembali melambaikan tangan mungilnya ke arah kami yang menjauh.

Lambaian dua gadis kecil berkerudung, wajah dua remaja yang mengunyah jambu mentah, serta anak-anak bersekolah bersandal jepit,  itu sayup sayup  masih membayang saat saya mengakhiri catatan ini.

Sekarang, hampir delapan tahun kemudian, mereka pasti telah tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Tapi, apakah mereka selamat dari amuk tsunami di Sabtu malam yang menggetarkan nyali itu?[]

Editor: Erizky Bagus Zuhair

Sumber:

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Tanjung Lesung, Kawasan Ekonomi Khusus, dan Jerat Kemiskinan Itu

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Tanjung Lesung Dulu Kini dan Nanti, Dirut Blak-blakan pada AkuratTravel

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Bagaimana Tanjung Lesung Berdandan Ulang Pasca Tsunami?

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Tanjung Lesung Akan Belajar Banyak dari Aceh

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Dihantam Tsunami, Bagaimana Mimpi Tanjung Lesung Samai Nusa Dua?

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Cuma Butuh Waktu 6 Bulan, Jababeka Optimis Bangun Kembali Tanjung Lesung

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Bukan Tsunami, Tanjung Lesung Ditinggal Turis Asing Karena Alasan Ini

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Tanjung Lesung Porak Poranda, Jababeka Rugi 150 Miliar

Image

Gaya Hidup

Tsunami Selat Sunda

Luluh Lantak, Pihak Pengembang Tanjung Lesung Bicara Soal Tsunami Nahas Itu

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Gaya Hidup

Ini Dia, Sejumlah Vitamin yang Bisa Cegah Jerawat Meradang

Vitamin A, C dan E sudah sejak lama diteliti manfaatnya. Vitamin-vitamin ini, salah satunya, berguna untuk mencegah tumbuhnya jerawat.

Image
Gaya Hidup

Buat yang Masih dalam Usia Puber, Ini Cara Mudah Mencegah Tumbuhnya Jerawat

Salah satu cara mudah cegah tumbuhnya jerawat adalah rajin mencuci daerah yang berjerawat dengan sabun yang bebas lemak dan parfum.

Image
Gaya Hidup

Ini Cara Simpel Agar Wartawan Tak Gampang Jatuh Sakit

Jangan terlalu banyak konsumsi gula

Image
Gaya Hidup

Seberapa Penting Cek Gula Darah Mandiri? Ini Kata Ahli

Anda bisa mengeceknya di rumah, kapan saja

Image
Gaya Hidup

Beberapa Kebiasaan Sepele Ini Akan Menurunkan Sistem Imun

Perbanyak konsumsi vitanin C

Image
Gaya Hidup

Guys, Ada Banyak Hal Simpel Bisa Kamu Lakukan untuk Perangi Polusi

Kendaraan tak perlu dipanaskan lagi

Image
Gaya Hidup

Efeknya Kemana-mana, Kurangi Makan Daging

Banyak limbah dari ternak dan daging

Image
Gaya Hidup

Tak Mau Obesitas seperti Titi Wati? Berikut Saran Kemenkes

Usahakan banyak makan makanan rumah

Image
Gaya Hidup

Ternyata Sneakers yang dipakai Bisa Mencerminkan Karakterstik Seseorang

Ada tips mudah bersihkan sepatu sneakers

Image
Gaya Hidup

Ini Gunanya Tanggal Kedaluwarsa pada Air Mineral Kemasan

Plastik berpori bisa menarik bau dan kandungan jahat lainnya dari luar ke dalam air.

trending topics

terpopuler

  1. Sebelum Menjadi Cawapres, Ternyata Sandiaga Pernah di PHK dan 'Nganggur'

  2. Ini Lima Hal yang Membuat Indonesia Tak Mudah Dijadikan seperti Suriah

  3. Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

  4. Wanita Indonesia Dibunuh di Malaysia, Empat Tetangga Korban Diamankan

  5. Kok Bupati di Provinsi Papua Tahan Gaji 12 ASN? Ini Dia Penyebabnya...

  6. Puji Jokowi Bebaskan Ba'asyir, Ma'ruf Amin: Itu Langkah Besar untuk Kemanusiaan

  7. Penghuni Jakarta Diimbau Berhati-hati dengan Cuaca Hari Ini, Berpotensi Hujan dan Petir

  8. Terpaut Usia 11 Tahun Tidak Menjadi Aral bagi Greysia/Apriyani

  9. Setelah Bebas dari Penjara, Abu Bakar Ba'asyir: Yusril Adalah Orang yang Berani

  10. Aneh, Badan Siswa SMA di Palembang ini Seperti Punya Magnet

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Meneropong Debat Perdana Pilpres 2019

Image
Ujang Komarudin

Hantu Debat Perdana

Image
Ahada Ramadhana

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image
Achmad Fachrudin

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Wawancara

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Image
Hiburan

Ternyata Egi Fedly Inisiator Konser Musik Gratis untuk Umum di IKJ

Image
Hiburan

Sisi Lain di Balik Wajah Seram Egi Fedly

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

Image
Hiburan

Debat Pilpres 2019

10 Fakta Ira Koesno, Moderator yang Curi Perhatian di Debat Capres

Image
Ekonomi

Ekonom Tony Prasetiantono Meninggal Dunia, Rizal Ramli dan Chatib Basri Kenang Masa Debat