image
Login / Sign Up

Lebih Dekat dengan Kong Djie, Kedai Kopi Tersohor di Belitung

Andre Purwanto

Jelajah Indonesia

Image

Kong Djie, kedai kopi tertua di Belitung | AKURAT.CO/Alkemangi

AKURAT.CO Temaram cahaya matahari sore itu, Kamis (15/11), mengiringi laju kendaraan kami menuju bilangan Siburik, Tanjung Pandan, Belitung. Di bilangan itu, dari informasi yang kami ketahui, ada kedai kopi yang amat tersohor. Kedai tersebut juga salah satu kedai kopi tertua di Belitung. Namanya, Kong Djie.

Sampai tempat yang dituju, kami langsung menyeruak masuk. Kami memang sangat ingin melihat seluruh ruangan kedai hingga ke bagian yang paling dalam.

Dari sekian banyak ruangan, dapur adalah ruangan yang paling menarik perhatian kami. Di dapur, ada tungku perapian. Bagian bawah tungku tersebut dipenuhi oleh arang yang sudah menjadi bara. Memang, sejak pertama buka, pemiliknya memasak kopi menggunakan arang. Metode tersebut dipertahankan hingga sekarang.

baca juga:

Tungku itu sengaja dibuat menjorok keluar agar panasnya tidak terserap ke dalam ruangan. Di atas tungku, ada tiga ceret alumunium yang tinggi berbeda. Satu digunakan untuk mewadahi hasil brewing kopi, satu lagi untuk teh, dan satu lagi untuk mewadahi air yang sudah masak. Tiga-tiganya memiliki suhu yang terjaga.

Bisa dibilang, meterial bagunan maupun desain kedai Kong Djie tidak sebagus kedai kopi modern pada umumnya. Catnya saja seperti sudah lama tak dipebaharui. Alat-alat yang digunakan, baik untuk brewing maupun memasak air, masih sangat sederhana. Apalagi gelasnya, tidak sebagus kedai kopi waralaba luar negeri yang kerap jadi tempat nongkrong kids jaman now.

Tapi, bukan itu point-nya. Citarasa masih jadi nomer satu di kedai ini. Plus pelayanan yang ramah dan bersahaja. Mungkin itu sebabnya kedai Kong Djie tak pernah sepi pengunjung.

Suasana bagian luar kedai Kong Djie kala senja. AKURAT.CO/Alkemangi

Selesai menyelidik dan melempar pandangan ke segala arah, kami segera mengambil tempat duduk. Kami memilih duduk di luar, tepatnya di bagian samping kedai.

Di dalam kedai, ada sejumlah pria yang tengah bercakap-cakap. Sama seperti kami, mereka duduk di bangku panjang yang terbuat kayu. Mejanya juga terbuat dari kayu.

Lebih ke dalam, ada beberapa remaja yang duduk saling berhadapan. Salah satunya sedang asyik main gitar. Sementara di bagian luar, sejajar dengan kami, baru saja tiba serombongan pria dan wanita yang langsung mengambil tempat dan memesan kopi lengkap dengan camilannya.

Bertahan Hidup

Seiring sinar matahari yang makin meredup, suasana di kedai makin ramai. Sesekali ada tawa lepas. Hangat. Suasana itu membuat kami tak ragu untuk bertegur sapa dengan sesama pengunjung.

Buku menu dikeluarkan. Tertera sejumlah pilihan menu kopi dan teh. Sesuai tujuan, kami memilih menu kopi susu lengkap dengan camilannya, pisang bakar dan singkong goreng.

Buku menu kedai Kong Djie yang sangat sederhana, hanya kertas yang difinishing spiral dan laminating. AKURAT.CO/Alkemangi

Sejurus kemudian, kopi yang masih berasap tiba di hadapan kami. Panas. Karena tak sabar, kami langsung menyeruputnya. Wow, kami sempat tertegun kala kali pertama menyeruputnya. Harumnya dapat. Ada sedikit rasa asam khas Arabika. Hasil brewing khas Robusta-nya juga tidak ketinggalan.

Oh ya, kopi susu yang kami pesan itu disajikan dalam keadaan belum diaduk. Susunya, yang menggunakan susu kental manis, ada pada bagian bawah. Tujuan cara penyajian seperti itu, kata beberapa rekan kami, agar bisa merasakan ekstrak kopi aslinya.

Kala kami tengah menikmati seraya menghirup harumnya kepulan asap kopi, sang pemilik sekaligus pengelola kedai keluar dan menghampiri kami. Usai bersalaman, ia mengambil sebuah kursi kayu dan langsung bergabung bersama kami.

Pria paruh baya itu bernama Ismed. Sikapnya ramah. Pun tak pelit senyum. Tanpa buang waktu, kami pun menghujani Ismed dengan serangkain pertanyaan.

Kong Djie, kisah Ismed, adalah nama ayahnya. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya pada tahun 1943, sang ayah membuka kedai kopi sederhana. Kala itu, perang tengah berkecamuk. Perekonomian di Belitung sedang sulit-sulitnya. Begitu pula perekonomian keluarga Kong Djie.

Ismed, pemilik dan pengelola kedai Kong Djie generasi kedua. AKURAT.CO/Alkemangi

Untuk bertahan hidup, Kong Djie muda lantas berjualan kopi. Waktu itu, berjualan kopi adalah usaha yang tidak perlu terlalu banyak modal. Cukup satu kilogram bubuk kopi dan beberapa kilogram gula. Untungnya, bisa untuk membeli beras untuk makan sekeluarga.

“Kalau ditanya apa filosofi kami membuka kedai kopi, ya tidak ada. Wong kami buka kedai kopi untuk bertahan hidup kok. Bahkan kami tidak menyangka kalau sekarang minum kopi jadi gaya hidup,” katanya seraya melepas tawa.

Awal berjualan, ayahnya hanya menjual kopi hitam. Tanpa susu dan tanpa camilan. Susu, sambung Ismed, barang yang sangat mahal. Untuk sekaleng atau bahkan segelas susu, keluarganya tidak mampu beli.

“Berbeda dengan sekarang, susu kental manis waktu kami kecil itu barang mewah dan mahal. Ide menambah susu baru belakangan ini,” katanya.

Setelah melalui berbagai seleksi alam, termasuk silih bergantinya rezim, Kong Djie bisa bertahan. Tak hanya di Belitung, Kong Djie pun mulai dilirik banyak orang. Inovasi minor dilakukan Ismed untuk bisa beradaptasi dengan keinginan konsumen.

“Mungkin baru 10 tahun belakangan ini kami mengembangkan sayap. Sebelumnya, kami hanya kedai ala kadarnya. Tidak berpikir untuk jadi waralaba. Saya hanya merasa harus menjaga peninggalan orang tua saya,” kata anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Sekedar informasi, Kong Djie telah menjadi sebuah waralaba yang cukup besar sudah tersebar di seluruh Indonesia. Hingga kini, kata Ismed, sudah ada 84 waralaba Kong Djie di seluruh Indonesia, termasuk satu di Malaysia.

Pisang bakar dengan lelahan keju dan coklat jadi teman ngopi yang pas. AKURAT.CO/Alkemangi

“Teman-teman sering bertanya, apakah Anda bangga dengan pencapaian saat ini? Saya jawab, tidak! Sebab, sebelum seperti sekarang ini, saya tahu seperti jatuh-bangunnya usaha ayah saya. Kalau bangga, beliau yang berhak. Saya hanya meneruskan saja,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Menjadi besar, sambung Ismed, bukan tujuan. Seperti ayahnya, berjualan kopi hanya salah satu dari upaya untuk bertahan hidup. Konsistensi dan kesabaran jadi kuncinya. Kalaupun sukses, itu hanya bonus.

“Tidak ada strategi khusus. Kami juga tidak pernah merasa bersaing dengan siapapun. Kopi keluarga kami seperti ini rasanya. Ya, sampai kapanpun akan seperti ini,” ungkapnya semangat.

Editor: Irma Fauzia

Sumber:

berita terkait

Image

News

BMKG Imbau Warga Babel Waspadai Air Pasang Setinggi 2 Meter

Image

Gaya Hidup

Menpar Dukung Penuh Belitung Jadi Destinasi UNESCO Global Geopark

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Ini Lho yang Bikin Kamu Bakal Kangen Ngopi di Kedai Kong Djie

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Festival Tanjung Kelayang Buka Jalan untuk Penerbangan Internasional

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Festival Tanjung Kelayang Dongkrak Peningkatan Ekonomi Kreatif Warga Belitung

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Sejumlah Fakta Unik di Pulau Belitung

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Desa Terong, Peristirahatan Berkonsep Kolam Alami

Image

Gaya Hidup

Jelajah Indonesia

Welcome to Belitung

Image

Olahraga

Bangka Belitung Masters 2018

Ikuti Jejak Anthony, Ihsan Maulana Juara di Bangka Belitung

komentar

Image

1 komentar

Image
Juno Arifin

inilah kopi, yang diciptakan oleh sejarah dan nikmat nya oleh filsafat.

terkini

Image
Gaya Hidup

Banyak Varian Cokelat, Mana yang Terbaik untuk Dikonsumsi

Kamu pernah makan cokelat hitam?

Image
Gaya Hidup

Shishi-Iwa, Penginapan Berkonsep Alam dalam Hutan di Jepang

Punya 250 pohon di sekitarnya

Image
Gaya Hidup

Ada yang Baru di Kota Tua

Berapa harga tiket masuknya?

Image
Gaya Hidup

Bagaimana Soal Demam Berdarah di Papua?

Cairan melation di banyak kabupaten sudah habis

Image
Gaya Hidup

Sejak Umur Berapa Anak Boleh Makan Cokelat?

Puding pisang juga bagus untuk si kecil

Image
Gaya Hidup

Sudah Serang 159 Warga, Tangerang Makin Rawan DBD

6 kecamatan di Tangerang yang rawan DBD

Image
Gaya Hidup

Cokelat Bisa Cegah Penyakit Jantung? Ini Kata Ahli

Lihat takarannya berikut ini

Image
Gaya Hidup

Parah! 464 Penderita HIV/AIDS di Tangerang Didominasi Homoseksual

Usianya rata-rata 17-20 tahun

Image
Gaya Hidup

Besok Jadi Moderator Debat, Intip Persiapan Fisik Tommy Tjokro

Dia juga rutin minum air putih dan istirahat yang cukup

Image
Gaya Hidup

Agar Gigi Anak Tak Rusak karena Sering Makan Cokelat, Begini Caranya

Coba pakai cara ini

trending topics

terpopuler

  1. Cak Imin: Gara-gara Uninstall Saya Jadi Kerepotan

  2. Prabowo Tidak Pamer Salat Jumat, Tengku: Khawatir Massa Histeris Ingin Menyalami

  3. Pramono Anung Sebut Jokowi Telah Menerima Permintaan Maaf CEO Bukalapak

  4. Pendiri Bukalapak Sebut 'Presiden Baru', Rian Ernest: Menurutku Dia Sudah Jelas Dukung 02

  5. Ada yang Baru di Kota Tua

  6. Fahri Hamzah: Debat Pilpres Kedua Harus Ungkap Siapa Mereka Sebenarnya

  7. Yunarto Wijaya: Kalo Anda Melarang Zaky Mendukung Salah Satu Capres, Saya akan Bela Dia

  8. 'Skenario' Ahok Gantikan Ma'ruf Amin, Rustam: Pikiran Konspiratif yang Merendahkan

  9. Ketua BTP Mania Dipolisikan Alumni 212, Fahri Hamzah: Ahok Kembali Jadi Masalah

  10. Polemik Tweet CEO Bukalapak, Jack Boyd Lapian: Beda Pendapat dan Kritik Itu Hal yang Wajar

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Menanti Kejutan Debat Kedua

Image
Hervin Saputra

Al Araibi: Olahraga, Politik, atau Hak Asasi Manusia?

Image
Cosmas Kopong Beda

Masihkah Sepak Bola Modern Membutuhkan Kapten Ikonik?

Image
Cosmas Kopong Beda

The Blues (Harus) Bersabar dengan Kerja Maurizio Sarri

Wawancara

Image
Hiburan

Cerita Egy Fedly Saat Pandangan Pertama Menjemput Jodoh

Image
Olahraga

Susy Susanti

"Sekarang Saatnya Pemain Putri Mengubah Mindset"

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sosok

Image
News

Dari Ketemu Raisa hingga Pejuang Kanker, 10 Potret Sutopo Purwo yang Menginspirasi

Image
Hiburan

Ingin Sukses Jadi Youtuber seperti Jess No Limit? Berikut Tipsnya!

Image
Olahraga

Valentino Rossi

Rossi, Sosok yang Penuh Perhatian dan "Kepala Dingin"