image sungai 8
Login / Sign Up

Mereka Menganggap Vape Penyelamat

Maidian Reviani

Demam Vapor

Image

Pengguna Rokok Elektrik (Vape), Rizki Hidayat | Dokumentasi

AKURAT.CO * Sebagian remaja percaya vape tidak berbahaya. Mereka mengatakan kadar nikotin pada rokok tradisional lebih tinggi. Sedangkan kandungan yang ada dalam vape, kata dia, lebih rendah.

* Menurut mereka vape tidak berasap seperti halnya pada rokok tradisional.  Vape hanya mengeluarkan uap air setelah proses pemanasan sehingga tidak menimbulkan bau apek, terutama pada pakaian dan badan.

baca juga:

* Mereka percaya rokok elektrik bisa membuat pemakainya meninggalkan rokok konvensional. Setelah tak pakai rokok konvensional, mereka jadi kecanduan rokok elektrik.

***

Bagi segelintir orang yang saya temui di Jakarta, seperti Julia Shara (23), menghisap e-cigarette nampak bagaikan penyelamat. Semenjak menggunakan vape, Shara merasa paru-paru basah yang selama ini menyiksanya hilang.

“Kalau saya sih menganggap vape tidak berbahaya. Karena saya dari SMA kelas satu kena paru-paru basah, terus empat tahun belakangan ini pas dicek paru-paru saya bersih. Emang vape itu yang dihasilkan itu bukan asap, tapi uap,” kata perempuan asal Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Vape pertamakali dikembangkan pada 1965. Tetapi baru didaftarkan secara massal di Cina pada 2003 dan peredarannya secara internasional dimulai 2004.

Pengguna Rokok Elektrik (Vape), Julia Shara (23). Dokumentasi

Sekarang peredarannya lebih masif lagi, terutama semenjak pasar online booming. Anak-anak remaja, bahkan tidak perlu lagi datang ke toko penjualan, mereka cukup memesan melalui toko online, barang langsung diantar sampai ke depan pintu rumah.

Jumlah konsumen vape remaja dari tahun ke tahun bertambah. Di Korea, pengguna vape remaja pada 2014 tercatat 9,4 persen, di Inggris 18 persen, di Amerika Serikat juga di atas 10 persen.

Di Indonesia, tahun 2011, angka pengguna vape yang tercatat 0,3 persen. Berdasarkan hasil penelitian Univesitas Prof. Dr. Hamka, jumlah tersebut ternyata meningkat empat kali lipat pada 2018: menjadi 11 persen.

Shara merasa ada perbedaan ketika masih menghisap rokok konvensional dengan setelah memakai vapor. Dulu, dia merasa badannya sering sakit-sakitan dan hampir setiap minggu pergi ke dokter untuk memeriksakan kesehatan. Tetapi masalah kesehatan yang amat membuatnya tak nyaman itu pelan-pelan dirasakan Shara berkurang sampai akhirnya  hilang setelah berkenalan dengan rokok elektrik.

 “Waktu masih pakai rokok, sakitnya sakit banget kayak mimisan, muntah darah, karena kan paru-paru basah. Tiap minggu ke dokter segala macem, pas pakai vape badan lebih enteng, nafsu makan juga jadi naik,” kata dia ketika saya temui di tempat kerjanya, Jakarta Selatan, Senin 1 Mei 2019.

Shara sekarang bekerja sebagai staf perusahaan distributor vape di Jakarta. Dia sudah kenal e-cigarette semenjak empat tahun yang lalu.Pada waktu itu, Shara dikenalkan dengan vape oleh teman-teman sepergaulan.

Awalnya, dia takut kalau-kalau vape meledak. Tetapi rupanya lama kelamaan dia terbujuk, kemudian merasa cocok, lalu ketagihan, apalagi cairan vape memiliki berbagai macam perasa.

 “Iseng-iseng nongkrong-nongkrong sama teman dikenalin, nih apa sih apa sih, katanya nih rokok elektrik. Ih nggak ah takut meledak. Cuma kok penasaran, akhirnya iseng nyoba kok enak. Terus pindah dari rokok ke vape,” kata Shara.

Shara menghisap vape di tempat kerja atau ketika kongkow dengan teman-temannya, bahkan juga di rumah. Orangtuanya tidak menyoal kebiasaan tersebut. Justu mereka lebih seneng  Shara memakai vape.

Shara mengklaim, pertama, kadar nikotin pada rokok tradisional lebih tinggi. Sedangkan kandungan yang ada dalam vape, kata dia, lebih rendah.

“Perbatangnya (rokok tradisional) sekitar 3 mililiter, kalau vape dia itunganya liquid, satu botolnya itu 60 mililiter. Nah satu botol 60 mililiter itu per 3 mililiter, jadi nikotinnya lebih rendah dari pada rokok,” kata dia.

Terus yang kedua, menurut dia, vape tidak berasap seperti halnya pada rokok tradisional.  Vape hanya mengeluarkan uap air setelah proses pemanasan sehingga tidak menimbulkan bau apek, terutama pada pakaian dan badan.

“Nggak bikin bau, kalau rokok kan bikin nampel di baju nempel, di rambut nempel, kalau vape nggak,” kata dia.

Pengguna Rokok Elektrik (Vape), Julia Shara . AKURAT.CO/Maidian Reviani

Dan ketiga, kata Shara, rasa yang terkandung dalam vape jauh lebih enak ketimbang rokok konvensional.

Shara sudah kecanduan menghisap vape dan dia merasa sudah sulit untuk kembali lagi menghisap rokok berbahan tembakau.

Shara amat percaya rokok elektrik bisa membuat pemakainya meninggalkan rokok konvensional karena dia telah membuktikannya sendiri.  

“Percaya banget, karena vape lebih sehat,” kata dia.

Shara tahu media massa mengangkat pemberitaan yang mengangkat hasil penelitian yang menyimpulkan vape bisa memicu masalah kesehatan tak kalah bahaya dengan rokok konvensional.  Tetapi dia tidak peduli dengan berita semacam itu karena belum lihat buktinya sendiri. Sebaliknya, dia merasa sudah membuktikan manfaatnya.

Justru, dia mempertanyakan kenapa vape dilarang, sementara rokok konvensional tetap ada dari dulu sampai sekarang.

 “Gua kemarin sempet baca berita itu, kenapa vape dilarang, tapi kenapa rokok yang lebih bahaya kenapa nggak ditutup juga, itu maksud gua. Padahal sebenarnya vape itu bagus, banyak orang-orang di luar sana paru-paru basah, aman-aman aja bertahun-tahun make vape, termasuk gua. Kalaupun ditutup alasannya karena kanker emang udah ada korbannyakah? Setahu gua sih belum ada ya, karena vape ini sudah ada sejak 2010, 2011 udah ada. Gua juga bodo amat sih kayaknya, soalnya gua ngerasain sendiri pakai rokok sama pakai vape, lebih sakit pakai rokok,” ujarnya.

“Karena gua belum pernah lihat beritanya, masalah kayak orang kena kanker karena vape. Kecuali emang kecelakaan makau vape biasanya karena human error, misal dia parawatan batrenya nggak bener, atau lilit kawatnya nggak benar, bisa meledak,” Share menambahkan.

Menurut dia selain percaya bisa menghilangkan masalah paru-paruh basah, menghisap vape bisa menghemat pengeluaran keuangan.

“Walapun untuk vape baru pertamakali starter kita, kita emang awal-awal lebih mahal daripada rokok. Kalau kita udah punya alatnya, sama aja kayak beli rokok, malah lebih murah,” kata dia.

***

Umumnya remaja-remaja pemakai vape yang saya temui mengatakan pertamakali mengenal e-cigarette setelah main bareng teman-teman mereka yang lebih dulu memakai.  Rizki Hidayat (23), misalnya.

 “Gua ditawarin katanya coba nih ki enak katanya dan iya emang enak dan sampai sekarang gua masih pakai, khususnya pas lagi stres,” kata pria kelahiran 1996.

Sebelum kenal vape, Rizki sebenarnya bukan perokok konvensional yang aktif.

“Gue langsung vape. Dulu sebenernya pernah sih pas masih SMK tahun 2013 kalau nggak salah. Cuma ya gitu nyoba dikit aja,” kata pemuda asal Tangerang, Banten, yang memakai vape sejak September 2017.

Menurut persepsi dia vape lebih enak ketimbang rokok konvensional karena tidak bikin asam pada mulut dan tidak membuat baju dan rambut bau asap.

Rizki mengaku sekarang sedang mencari liquid yang tidak mengandung nikotin. Tetapi, kata dia, jenis ini susah dicari.

Sama seperti Shara, Rizki percaya rokok elektrik dapat membantu orang berhenti menghisap rokok. Tetapi, dia sekarang ketagihan dengan vape.

“Iyalah, karena emang rasanya lebih enak,” kata dia.

Pengguna Rokok Elektrik (Vape), Rizki Hidayat. Dokumentasi

Bahkan, menurut Rizki, menghisap vape justru bisa menghasilkan duit. Contoh yang disebutkannya, pengguna vape bisa mengikuti kompetisi yang selama ini sering diselenggarakan.

“Kan suka ada kompetisi vape  juga. Nah lu bisa kembangin bakat lu di situ, bahkan bisa dapat duit kalau menang. kalau rokok biasa kan nggak bisa.”

Tetapi sebenarnya Rizki juga percaya dengan hasil penelitian yang menyebutkan rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional.

“Kalau rokok biasa asapnya lebih pekat dan dari nikotinnya emang susah terurai. kalau Vape kan mending, pake uap air jadi lebih baik. Tapi masuk ke dalam tubuh juga sih cuma sama aja.”

Kalau Shara merasa ngevape bisa menghilangkan paru-paru basah, Rizki tahunya justru kandungan dalam vape bisa berdampak buruk bagi paru-paru.

“Kanker paru-paru sih paling, yang gua tahu sih higlihtnya paru-paru, terus apa gitu gua lupa. Ya itu doang  sih yang gua tahu,” kata dia.

Dampak lainnya, vape bisa meledak dan membahayakan keselamatan penggunanya. Itu sebabnya, Rizki mengingatkan mereka untuk lebih berhati-hati dalam membeli barang.

“Makanya, vape usahain beli mode atau kepalanya yang oten atau ori. Kalau gak oten atau ori bisa meledak, dan udah banyak banget kasus begitu. Jadi kalau mau gua bilang, kalau bisa jangan terbius karena barangnya murah, karena murah belum tentu barang itu oten atau ori sih,” dia menambahkan.

Dengan adanya resiko pakai vape yang sudah banyak diberitakan media, mahasiswa jurusan jurnalistik tingkat akhir ini mengaku akhir-akhir sudah mengurangi penggunaannya.

“Kalau gua peduli dengan kesehatan juga. Biar ngevape, gue juga tetep peduli sama kesehatan, karena gua sekarang lagi nggak aktif banget ngevapelah, let say seminggu cuma empat kalilah,” kata dia.

***

Saya juga mengajak bicara Reza Fikri (23) mengenai apa saja yang dia rasakan terkait fenomena baru vape  yang begitu cepat menjamur di kalangan remaja Indonesia.

Sama seperti anak-anak muda pemakai vape yang lain, pada awalnya Reza menganggapnya sangat menarik. Staf perusahaan telekomunikasi itu percaya menghisap vape dapat menghentikan kebiasaan merokok. Tahun ini merupakan tahun kedua bagi dia pindah dari rokok konvensional ke rokok elektrik.

“Dulu gua rokok biasa. Dari SMK ke 2016 akhir. Dikatakan sekarang gua bahasa  kerennya berhijrah,” kata Reza ketika saya temui pada Sabtu 1 Mei 2019.

Reza pertamakali membeli vape seharga Rp700 ribu. Bagi dia uang sebesar itu tidak terlalu jadi soal karena dia segera merasa mendapatkan manfaat menurut versinya. Pada waktu itu, dia begitu excited karena liquid pada vape bermacam-macam rasanya. Sekali mencoba, Reza langsung ingin terus mengeksplor.

“Pertama paru-paru sih, karena lebih enteng aja dia tidak mengandung  tar. Nafas lebih teratur. Kedua, harga biar nggak beda jauh, lebih mendingan vape,” kata dia.

“Menguntungkan bagaimana? Bukankah harga vape lebih mahal dari rokok biasa?” saya tanya kepada Reza.

Reza berprinsip walaupun pada awalnya membeli vape terasa mahal, tetapi barang ini kelak bisa dijual lagi ke orang lain kalau dia sudah bosan. Berbeda dengan rokok tradisional yang sekali pakai langsung menjadi abu.

Lagipula, menurut perbandingan yang dibuat Reza sendiri, tetap saja kalau ditotal-total harga vapor jauh lebih murah dibandingkan dengan harga rokok tradisional.

Pengguna Rokok Elektrik (Vape), Rizki Hidayat. Dokumentasi

 “Karena vape barang nyata, bukan batang yang abis itu ilang. Awal-awal beli emang mahal. Nih ya gua dulu rokok biasa beli Marlboro harga Rp 22-23 ribu, nah lu kali sebulan berapa? Rp660 kan. Nah kalau Vape, awal Rp700rb, nah sekarang bulan kedua itung-itung coba, kawat buat sebulan gocap, kapas gocap buat tiga bulan, liquid buat sebulan 150. Cuma Rp250 ribu, jadi costnya lebih murah. Jadi bisa buat pacaranlah sisanya,” ujarnya sembari tertawa.

“Terus juga liquidnya bermacam-macam, kalau konvensional rasanya begitu aja. Berbagai macam rasa, well lu bisa memilih rasa yang lu suka.”

Menurut pengalaman Reza ketika masih menghisap rokok tradisional, dia merasa kurang berselera makan. Berbeda dengan ketika dia sudah memakai rokok elektrik.

“Pas masih konvensional nggak doyan makan. Justru mengurang yang akhirnya bikin kurus. Kalau makan suka kurang. Nggak nafsu makan lah istilahnya. Karena ngerasa udah kenyang ngerokok doang.”

Zaman sekarang, Bagi pemuda asal Cirebon, Jawa Barat, memakai vape sudah menjadi semacam lifestyle. Dia merasa perlu untuk mengikuti perkembangan zaman.

“Di rumah si gua nggak, kalau lagi nongkrong aja. Gua sampai saat ini belum bilang orangtua. Orangtua gua nggak bolehin, katanya bahaya, cuma gua aja yang bendel mau coba-coba. Makanya kenapa kalau mau gunain vape atau dulu masih rokok biasa ya pas lagi sama temen-temen di luar aja.”

Tetapi sebenarnya pemuda ini juga memiliki pengetahuan bahwa rokok elektrik sama bahayanya dengan rokok konvensional, terutama pada komponen-komponen yang dipakai.

“Kalau menurut gue sih sama saja. Karena pertama larinya ke paru-paru. Kalau di rokok biasa yang berbahayanya kan tar yang bikin paru-paru item. Asap kan nggak baik masuk ke tubuh kita,” katanya.

“Percaya (berefek pada kesehatan). Karena pertama elektrik itu dari kawat dibuatnya. Kawat terus ada kapas, terus ada cairan itu dibakar ama kawat itu yang bahaya. Apalagi kawatnya itu apa namanya kalau sampai berkarat dan itu yang bahaya.”

Dalam beberapa bulan terakhir, mahasiswa jurusan sastra Jepang itu merasa mulai jenuh dengan memakai vape. Pelan-pelan, dia mengurangi penggunaannya.

“Kepikiran sekitar 2-3 bulan lalu. Perlahan-lahan kayak sekarang mau berhenti karena suasana udah bosen. Masih gunain sih, cuma jarang, kalau dulu pas pakai bisa 2-3 jam, sekarang cuma 15 menit. Lama kelamaan ngerasa kayak gua pikir cuma buat gaul-gaulan aja,” kata pria kelahiran 1996.

Pertanyaan-pertanyaan mengenai apakah benar vape merupakan alat bantu untuk berhenti merokok atau apakah benar vape tidak berbahaya banyak terdengar. Seperti apa penjelasannya? Ikuti tulisan-tulisan tentang vape selanjutnya. []

Baca juga:

Tulisan 1: Mereka Menganggap Vape Penyelamat

Tulisan 2: Ternyata Vape Lebih Berbahaya dari yang Orang Pikirkan Selama Ini

Tulisan 3: Vape Bisa Jadi Cara Masuk Baru Narkoba

Tulisan 4: Cerita di Balik Industri Vape

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Demam Vapor

Cerita Di Balik Industri Vape

Image

News

Demam Vapor

Vape Bisa Jadi Cara Masuk Baru Narkoba

Image

News

Demam Vapor

Ternyata Vape Lebih Berbahaya dari yang Orang Pikirkan Selama Ini

komentar

Image

1 komentar

Image
Yudi Pranata

saya pengguna vape juga, dan emang ngerasain semenjak menggunakan vape dan beralih dari rokok, pernafasan lebih enak saat bangun tidur. lebih irit juga ketimbang rokok kalo saya bilang

terkini

Image
News

Rommy Punya Kode Khusus untuk Lukman Saifuddin

Romahurmuziy alias Rommy, membuat kode untuk Menteri Agama, Lukman Saifuddin. Kode itu adalah "B1".

Image
News

Akibat Zonasi PPDB, 685 SDN di Jember Kekurangan Siswa

Totalnya kekurangan pagu siswa di ratusan SDN mencapai 10.129 siswa yang tersebar di beberapa sekolah yang berada di 31 kecamatan di Jember

Image
News

Menjelang Putusan MK, Polres Bogor Gencar Patroli Tengah Malam

"Patroli di masing-masing Polsek Kabupaten Bogor, dilaksanakannya tengah malam,"

Image
News

Ketua DPR: Banyak Karya Sastra Dunia Berasal dari Indonesia

Salah satunya I La Galigo.

Image
News

Lebanon Tolak Rencana AS untuk Perdamaian Timur Tengah

Semua partai di Lebanon menolak pemukiman permanen warga Palestina

Image
News

Polisi Amankan Perempuan Bertato di Sekitar Gedung MK

Kami catat identitasnya.

Image
News

8.644 Hektare Lahan Pertanian di Jawa Barat Mengalami Kekeringan

Kabupaten Indramayu menjadi yang paling parah karena terdapat 1.456 hektare yang sudah tidak menerima pasokan air.

Image
News
Pemilu 2019

Tak Hadir di MK, Prabowo Pantau Sidang Putusan dari Kertanegara

Prabowo tidak menginginkan adanya akumulasi massa yang besar ketika hadir di MK.

Image
News

Polisi Tangkap Dua Pimpinan Ormas Islam JAD dan MMI di Cirebon

Masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik.

Image
News

Kisah Naeema Zehri, Perempuan Tangguh Pakistan yang Rela 'Berperang' demi Pendidikan

Naeema tumbuh besar di sebuah desa di provinsi termiskin di Pakistan

trending topics

terpopuler

  1. Dihantui PHK, Ini Besaran Pesangon Pegawai Giant Sesuai Aturan Pemerintah

  2. Kamu Kena PHK? Geluti 5 Bisnis Ini Saja

  3. Amnesty Internasional Surati Jokowi Minta Kasus Penyiksaan Terhadap Peserta Aksi 22 Mei Polisi Diselidiki

  4. Dihujat Warganet, Pemprov DKI Batalkan Acara yang akan Dihadiri Felix Siauw

  5. Bikin Malu, Shireen Pegang Tangan Suami Orang yang Dikiranya Teuku Wisnu

  6. Dihujat Warganet, Pemprov DKI Tetap Hadirkan Felix Siauw di Masjid Balai Kota?

  7. 6 Bisnis Ritel Ini Gulung Tikar di Indonesia, Giant yang Terbaru

  8. Street Style ala Sophie Turner dan Priyanka Chopra di Paris Bersama Jonas Bersaudara

  9. Bolsonaro Usulkan GP Brasil Dipindah ke Rio De Janeiro

  10. Didorong Sampai Tujuan, Aksi Driver Grab dan Gojek Saling Bantu Mengantar Pelanggan

fokus

Hari Bank Indonesia
Perang Dagang Tak Berkesudahan
Masalah Sungai

kolom

Image
Hasan Aoni

Duit Lanang

Image
Sunardi Panjaitan

Deklarasi Kekalahan

Image
Ujang Komarudin

MK dan Narasi Kecurangan

Image
Rozi Kurnia

Film ini Harusnya Tidak Berjudul Aladdin

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude