image sampah 7
Login / Sign Up

Anak-anak Punk Terima Kehadiran Allah Setelah Dulu Sering Maksiat

Yudi Permana

Jalan Pulang

Image

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet | AKURAT.CO/Yudi Permana

AKURAT.CO Edisi Ramadan keempat atau yang terakhir, kami kembali hadirkan kisah-kisah inspiratif. Setelah mengangkat berbagai kisah kehidupan manusia, baik dari sisi gelap maupun terang, selama bulan puasa, kali ini tentang orang-orang yang menemukan titik balik dalam perjalanan mereka.

Pesan cerita-cerita ini adalah tentang bagaimana orang yang merasa berada di jalan yang salah, kemudian sampai pada titik tertentu menyadarinya dan kemudian menerima Allah SWT. Ada pergulatan batin, ada pasang surut, tetapi pada akhirnya mereka kembali mendekatkan diri kepada Tuhan.

Di akhir cerita, dihadirkan interview khusus tokoh yang dulu terlibat dalam berbagai kasus kriminal, tetapi kemudian insaf, sekarang memeluk Islam dan menjadi pendakwah: Anton Medan. Semoga saja cerita-cerita ini dapat menjadi bahan renungan buat kita semua.

baca juga:

* Sebagian anak punk dulu berasal dari keluarga tidak harmonis. Mereka kabur dari rumah. Di luar rumah, mereka ikut-ikutan kegiatan anak-anak punk, lalu ingin masuk lebih dalam lagi sampai diterima komunitas.
* Mereka menyadari kehidupan menjadi anak punk jalanan tidak punya tujuan yang jelas untuk masa depan. Sehari-hari mengamen di jalanan, hasilnya dipakai buat mabuk. Dan begitu-begitu terus.
* Sampai pada suatu hari, mereka menyadari momen-momen dalam kehidupan. Ada rasa haus agama. Sampai akhirnya menemukan titik balik. Awal belajar agama memang susah, tetapi pada akhirnya berhasil dan menemukan ketenangan hidup.

***

Jarum jam menunjuk pukul 16.00 WIB. Suasana di kolong jembatan Tebet, Jakarta Selatan, tepatnya seberang stasiun, Sabtu 11 Mei 2019, ramai anak-anak punk dan anak jalanan maupun yang sudah mantan.

Anak-anak muda maupun yang sudah berusia tua sama-sama mengenakan jeans belel, kulit tangan penuh tato, kuping beranting, sebagian berambut mohawk ala orang dari suku Indian, secara bergelombang datang ke tempat itu sejak siang.

Yang terdengar dari kolong jembatan bukan lagu-lagu anti kemapanan, melainkan huruf-huruf hijaiyah yang dibaca secara perlahan-lahan: A, ba, ta, tsa, ja, kha, kho...

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

Suara itu dari mulut beberapa anak punk. Mereka sedang membaca Iqra - dasar-dasar membaca kitab Alquran. Ustaz Halim Ambiya dan sejumlah relawan membimbing mereka.

Anak-anak punk maupun anak-anak penjual tisu jalanan berusia lima sampai sebelas tahun terlihat paling antusias belajar Iqra. Relawan yang membantu membimbing mereka belajar, bukan hanya mahasiswa, tetapi juga sebagian mantan anak punk yang sudah lebih pintar.

Di salah satu sudut area kolong jembatan terdapat sebuah banner bertuliskan NGEPUNKBURIT: Ngabuburit bareng anak punk dan anak jalanan. Acara sore itu digagas Tasawuf Underground. Komunitas -- tempat belajar keagamaan yang didirikan Halim.

Semakin sore, kolong jembatan Tebet semakin penuh. Pemandangan itu menjawab kesan yang timbul selama ini bahwa anak-anak jalanan jauh dari agama.

***

Sapta Maulana merupakan salah satu anggota komunitas punk jalanan yang ikut ngabuburit di kolong jembatan Tebet. Sapta sekarang sudah hijrah ke jalan agama. Setelah meninggalkan komunitas yang sering dihubungkan dengan perilaku urakan dan kekerasan, dia rajin menjalankan salat lima waktu dan mengikuti acara pengajian untuk meningkatkan keimanan.

Kepada saya sore itu, dia menceritakan pengalaman hidupnya yang kelam hingga tiba waktunya menemukan secercah harapan. Sapta berasal dari keluarga broken home. Tak tahan melihat kondisi keluarga, waktu itu dia memilih kabur dari rumah.

Sekitar 2008, Sapta mulai kenal dengan alkohol setelah ikut gabung bersama anak-anak punk jalanan. "Menjadi anak punk ikut-ikutan aja sebenarnya sama senior, karena orangtua berantem dan pisah, saya kabur. Terus dikenalin sama kawan-kawan kepada abang-abang punk. Umur masih belasan tahun, terus diajak minum-minum,” kata Sapta.

Sapta mengidolakan anak-anak punk. Di matanya, gaya mereka keren sekali. Berambut gimbal atau mohawk, telinga dan hidung ditindik, kulit tubuh dirajah, ketat, berjaket hitam, bercelana ketat dan robek-robek.

Sapta Maulana . AKURAT.CO/Yudi Permana

“Saya melihat abang-abang pakai celana dan jaket punk, itu sebenarnya pengin ikutan kayak dia, bergaya ala-ala punk. Makin lama saya jadi pengin tahu arti punk sebenarnya," kata Sapta.

Hampir setiap hari, setiap kali ngumpul, dia ikut melakukan perbuatan maksiat. Mabuk-mabukan dan memakai narkoba. Barang haram itu biasanya dapatkan anak-anak punk street dari hasil mengamen.

Makan tidak teratur, setiap hari begadang, tidak peduli keluarga, pokoknya hidup serba semrawut dan memang benar anggapan kehidupan anak punk jalanan urakan. "Sebenarnya nggak ada yang menggiurkan,” kata pemuda asal Manggarai, Jakarta Selatan. Menggiurkan, maksudnya dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun masa depan.

Sampai akhirnya, Sapta jenuh dengan kehidupan seperti itu terus. Dia menemukan titik balik kehidupannya. Saya beruntung bisa menemui dia di acara ngabuburit sore itu. Keadaan Sapta sekarang sudah hijrah dan dengan demikian bisa merefleksikan seperti apa kehidupannya yang dulu dan sekarang.

Proses titik balik kehidupan Sapta tidak terjadi sebentar. Salah satu momen yang membuatnya berpikir adalah ketika pada suatu hari terjadi peristiwa kehilangan di keluarganya. Anaknya yang masih berusia delapan bulan meninggal dunia karena jatuh sakit.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Sebenarnya ada banyak teguran keras, cuma tanpa saya sadari, seperti anak saya yang meninggal dunia di umur delapan bulan pas masih menjadi anak punk. Itu teguran cuma saya gak menyadari di situ, waktu belum hijrah."

Tapi Sapta belum benar-benar menyadari peristiwa itu sebagai teguran. Dia justru teler ketika tahu anaknya meninggal dunia. "Dari situ saya mabuk terus untuk melupakan dan stres karena masih belum terima anak meninggal. Bahkan sampai menguburkannya aja dalam keadaan mabuk karena saking nggak terimanya," kata dia.

Di lain waktu, Sapta pernah nyaris mati karena terlibat kasus kecelakaan lalu lintas. Pengalaman lainnya selama menjadi anak punk, uang yang didapat dari mengamen seharian tak pernah bisa ditabung.

"Allah sudah memberikan teguran-teguran kepada saya, banyak banget dari yang terkecil, dari dulu megang uang sekian yang tidak pernah utuh karena selalu habis aja, karena ngga bersyukur. Saya tabrakan, dan ngerasa hidup ya gitu-gitu aja. Akhirnya hijrah, karena ketemu titik jenuh," katanya.

Semakin lama, pengalaman-pengalaman buruk itu membuatnya merenung. Suatu hari, ketika sedang mabuk-mabukan, dia sharing dengan teman-temannya mengenai pergulatan batin yang dia rasakan belakangan. Dia merasa ada dorongan untuk segera meninggalkan dunia jalanan.

"Terus terucap: kita kayak gini mulu ya, nggak kasihan apa sama anak-anak kecil yang cuma nyari duit doang dengan mengamen."

Tahun 2018, Sapta makin yakin dengan niat mengubah hidup menjadi positif. Dia mulai mencari-cari informasi rujukan belajar tentang keagamaan. Sampai akhirnya dia menemukan akun media sosial Instagram dan Facebook Tasawuf Underground. Sapta terkesan dengan konten yang diposting, di antaranya foto-foto anak punk Ciputat belajar mengaji bersama Ustaz Halim.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Terus, tengah malam saya beranikan diri hubungi Ustaz Halim melalui WhatsApp. Besoknya Ustaz Halim datang ke kolong Jembatan di Tebet."

Sapta mengaku semenjak mengikuti tuntunan agama, kehidupan mentalnya semakin baik. Dulu, dia emosinya sangat gampang terbakar, sekarang sudah bisa mengendalikan diri.

"Berhijrah lebih ngedalemin, memperbaiki diri. Gak kayak dulu, nyari duit cuma buat mabuk setiap hari. Sekarang lebih tenang, nggak terlalu banyak pikiran aja. Emosi bisa terkontrol. Nggak kayak dulu, orang ngomong dikit aja gua tersinggung, maunya berantem mulu. Dulu hobi banget berantem pukulin orang."

"Sekarang emosinya timbul lagi kalau saya belum salat."

Sapta mengaku selama hidup di jalanan tidak pernah melaksanakan ibadah puasa. Tapi tahun ini, dia dia niatkan sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa sampai selesai.

"Tahun kemarin saya gak pernah puasa. Saya puasa paling dua hari doang karena belum ada niat mau puasa selama sebulan itu gak ada. Puasa pertama aja, besoknya udah gak puasa, tetap aja ngelakuin minum di siang hari, mabuk, nongkrong, ngerokok di pinggir jalan kalau dulu," ujarnya.

Setelah mengikuti kajian-kajian religi, kebiasaan buruk seperti minum alkohol dan menghisap narkoba perlahan-lahan ditinggalkan. Enam bulan setelah hijrah, Sapta mengaku sudah tidak melakukan perbuatan maksiat lagi.

Dia teringat peristiwa ketika badannya sakit-sakitan terus. Dia disarankan oleh ustaz untuk zikir sebagai cara menghadapi keinginan untuk kembali memakai narkotika. “Saya diajak ke hotel untuk mandi tobat, zikir, salat taubat. Sekarang mau minum alkohol aja sudah takut," katanya.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

Sapta yang sekarang sudah jauh berbeda dengan yang dulu ketika masih berandalan. Sapta yang sekarang sering mengucapkan kata syukur, apalagi dia sudah punya anak lagi. Dia selalu berdoa untuk guru, orangtua, keluarga, dan teman-temannya agar selalu sehat.

Sapta yang dulu tidak peduli dengan keberadaan Allah dan tidak khawatir dengan azab, semenjak hijrah, dia merasa haus ajaran agama.

"Biarin urusan gua yang mabuk, mau dosa, belakangan. Kalau sekarang sudah takut aja, karena udah dijelasin dari kitab Bulughul Maram, jadi udah ngerasa nusuk dan udah kena," katanya.

Kini, Sapta mulai mendalami Alquran. Sapta terinspirasi dengan temannya yang berasal dari Banten. Dia mampu mengaji Alquran, bahkan membaca kitab kuning. Kelak, kalau sudah berhasil belajar dengan baik, Sapta ingin menularkan ilmu kepada anak-anak jalanan dengan harapan anak pank yang hijrah semakin banyak.

"Awalnya ngelihat ada teman anak punk yang bisa membaca Alquran. Namanya si Abung dari Banten, yang selalu cerita nabi mulu walaupun dalam keadaan minum (alkohol). Walaupun banyak tato di mukanya, tapi bisa baca Alquran dan kitab kuning."

Dia belajar benar-benar dari dasar. Pelajaran membaca Alquran yang pernah didapatkan sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, sekarang sudah lupa sama sekali.

"Sebelumnya saya belum kenal huruf-huruf Arab dalam Alquran. Karena hidup di jalan sangat lama, jadi sudah lupa lagi huruf Arab. Bahkan bacaan salat, dan wudu aja lupa. Sekarang udah iqra 3. Bacaan salat sekarang sudah bisa. Baca Alquran belum bisa karena masih belajar Iqra."

***

Di antara anak-anak punk yang berdatangan ke kolong jembatan Tebet, sore itu, Bima Abdul Sholeh salah satunya. Bima dan pemuda-pemuda inspiratif itu datang dan segera mengisi ruang-ruang kosong untuk mengikuti pengajian yang dipimpin Halim. Mereka disebut inspiratif karena sudah berani memulai mengubah diri menjadi lebih baik dan positif.

Bima menemukan titik balik kehidupan setelah belasan tahun menjalani kehidupan keras di jalanan Ibu Kota. Lihatlah, pemuda ini sekarang lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengaji, membaca Alquran, dan menjalankan tuntunan agama. Bima sudah katakan selamat tinggal kepada minuman keras dan narkoba. Selamat datang kehidupan yang lebih bermanfaat.

Saya berkesempatan mengikuti pengajian itu sehingga bisa menggali kisah-kisah pergulatan batin mereka, khususnya Bima. Bima berasal dari Karawang, Jawa Barat – daerah yang dulu menjadi pusat penghasil beras utama di Pulau Jawa.

Jauh sebelum memberanikan diri belajar agama, Bima memilih kehidupan yang dianggapnya mewakili jiwa-jiwa bebas. Gerakan punk dianggapnya sebagai semangat pemberontakan dan anti kemapanan.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Jalur anak punk merupakan ideologi yang sudah 15 tahun yang lalu, karena pengin nggak mau diatur, tapi kita punya aturan sendiri yang bisa untuk kita. Mau ngatur dan gak mau diatur diri kita," kata Bima.

"Bagaimana pikiran ideologi, kemandirian. Gimana caranya kita mandiri menghidupi diri kita sendiri dengan cara sendiri, tapi tanpa merugikan orang lain. Be your self landasan kita, berdiri di kaki kita sendiri, dan lakukan sendiri apa yang kita bisa."

Aktivitas maksiat anak-anak punk jalanan yang sebelumnya diceritakan oleh Sapta, itupula yang dilakoni Bima saban hari kalau sedang tidak mengamen.

"Nongkrong-nongkrong gak karuan, habisin waktu, mabuk-mabukan," kata Bima.

Sampai akhirnya dia merasa lelah dengan kehidupan yang seperti itu terus. Dalam hidup, Bima punya prinsip totalitas. Dia total menjadi anak punk. Sejak akhir 2018, totalitasnya berubah untuk menjalankan perintah Allah SWT.

"Saya sudah bosan dan capek dengan dunia hitam, semua sudah saya cobain. Makanya saya pengin putih sekalian, dan gak mau nanggung- nanggung. Kalau sudah kecebur, ya kecebur sekalian."

"Saya baru lima bulan berhijrah. Saya tekadkan menjadi putih, putih sekalian, mau menjadi hitam, hitam sekalian."

Bima mulai belajar agama setelah diajak teman sesama anak punk yang sudah lebih dulu tobat gabung Tasawuf Underground. Pengalaman hari itu mengubah cara pandang dia tentang kehidupan secara perlahan-lahan.

"Pada awalnya diajak Bang Achil untuk main ke Tebet, ada pengajian anak jalanan. Setelah saya coba lihat, langsung tertarik, karena asyik. Orang kayak saya, mau dia mengajari orang-orang kayak kita, yang ibaratnya luntang lantung gak karuan, badan aja gak keurus," katanya.

Hari-hari berikutnya, Bima semakin religius. Dia sering ikut pengajian dan membaca Alquran yang dimulai dari Iqra dan bacaan salat.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Ya saya manfaatkan sebaik-baiknya. Saya belajar dari mulai belajar salat, Iqra, baca Alquran, bacaan salat, sampai ilmu fiqih thaharah (bersuci), saya ikuti di sini, jadi gak pandang bulu."

Bima merasa faktor yang membuatnya mengikuti kegiatan keagamaan adalah panggilan. "Memang hati itu yang membulak- balikan itu Allah, kita gak tahu, karena ada kemauan pasti ada jalan. Di situ Allah juga membalikan hati untuk menjadi lebih baik. Tentu jalan yang baik kepadaku," katanya.

Proses belajar agama bagi anak-anak yang selama bertahun-tahun menghabiskan sebagian besar waktu untuk mabuk-mabukan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tapi, pria berusia 26 tahun itu tak mau putus asa. Dia selalu ingat prinsip hidupnya yaitu totalitas.

"Perubahan bertahap, kadang-kadang iman suka naik turun. Saya coba terus supaya tetap istiqomah, bagaimana caranya. Saya ingin kembali pulang ke jalan yang benar. InsyaAllah sebagai hamba, kita menjalankan kewajiban, dan juga jalan yang diridhoi."

Bagi dia, hijrah bukan sekedar mencari ketenangan dan kenyamanan. Soal ini, dia punya penggambaran yang menarik. Menurutnya kalau cuma untuk mencari ketenangan, hal itu bisa dapat dengan mudah didapat melalui narkotika. Tapi bertobat, kata dia, lebih dari itu. Bertobat berarti proses memperbaiki diri untuk meningkatkan keimanan.

"Kalau mau tenang, tanpa hijrah atau taubat, sudah bisa tenang. Bukan ketenangan dan kenyamanan, tapi gimana kepercayaan dan iman kita meningkat. Kalau cuma mengandalkan kita buat tenang dan nyaman, kita ngefly dan menyuntik aja suda bisa tenang dan nyaman," ujarnya.

"Yang kita cari bukan ketenangan aja, tapi iman kita diperkuat lagi. Salat khusyuk agar suasana batin biar bisa tenang."

Setelah berbulan-bulan mengikut pengajian, Bima merasakan sisi-sisi positif dalam kehidupannya terus berkembang. Dia merasa bersalah kalau tidak menjalankan salat lima waktu dan dia juga semakin percaya diri bersosialisasi dengan masyarakat.

Anak punk belajar di kolong jembatan Tebet. AKURAT.CO/Yudi Permana

"Gaya hidup dan pola hidup yang diubah, jiwa mah tetap punk. Kita yang tadinya buruk, kita berubah, dan yang tadinya jarang salat, kita ubah ke religi. Kehidupan nyambung, tentang sosialisasi, religi itu semua ada di agama," katanya.

Dia membandingkan dengan kehidupan sekarang dengan masa lalunya yang identik dengan urakan dan kekerasan.

"Perbedaan ada, kehidupan kita menjadi tertata, dan pola hidup agak dirubah. Karena yang dulu kita urakan, berantakan, dan kita sudah mulai tertata.”

"Jadi pribadi lebih baik, momennya kita mendekatkan diri aja kepada Allah, dan jangan tinggalin salat. Di waktu salat itu gak boleh sia-siain, kita meminta kepada Allah semuanya. Kalau zikir hanya mengisi hati yang kosong supaya kita gak ada tuhan-tuhan lain selain Allah. Jadi rohani ini butuh inspirasi," tuturnya.

"Bagi saya pedomannya, sebaik-baiknya manusia bagi saya Nabi Muhammad, itu sudah Ullul Azmi yang wajib digemari. Saya percaya sama adanya Tuhan Allah. Allah Tuhan saya satu-satunya, maha esa dan suci. Gak ada lagi Tuhan-Tuhan yang lain bagi saya."

Setelah meninggalkan dunia jalanan, Bima tinggal di pondok milik Tasawuf Underground di daerah Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Salah satu kegiatan Bima sekarang membantu mengajari anak-anak punk belajar membaca Alquran.

"Saya juga alhamdulillah sudah bisa baca Alquran. Saya amalkan yang saya bisa. Saya ngajarin teman-teman cara baca Alquran. Tidak susah, gampang mengajarkan teman-teman, karena sudah tahu karakter teman itu seperti apa. Jadi kita tahu kalau sesama teman bisa mengimbangi. Mereka sehari-hari selalu bersama."

Dia bangga kini bisa tinggal di pondok. Bima punya banyak kesempatan untuk mendalami ajaran-ajaran Alquran dan hadis melalui Halim.

"Kalau ada apa-apa, saya bisa sharing dengan Pak Ustaz Halim. Jadi sebagai sahabat dia bisa, dan sebagai guru dia juga bisa ngajarin kita, mana yang baik dan buruk," katanya.

"Jadi kita gak cukup belajar mengaji di sini (kolong jembatan depan Stasiun Tebet), kita belajar hapalan surat pendek, mengaji Alquran."

Tak semua anak punk gampang diajak belajar keagamaan. Seperti pengalaman Bima dulu, memutuskan untuk belajar haruslah dari niat hati terdalam. Kalau belum ada panggilan itu, tentu tak bisa dipaksa-paksa. Tapi dia percaya pada suatu hari nanti, teman-temannya akan menemukan jalan yang benar.

"Mengajak mereka mau ngaji agak susah karena tergantung dari diri mereka sendiri, karena ada keinginan atau tidaknya. Semua manusia diciptakan ingin menjadi baik, akhirnya ingin menjadi baik, gak mungkin mau jadi jahat terus. Karena faktor-faktor tertentu aja mereka melakukan kejahatan."

"Kalau saya ngajak anak punk, datang sebagai sahabat. Karena semua orang butuh sahabat, dari mulai teman sharing berbagi cerita, pekerjaan dan berbagi ilmu."

Kalau dihitung-hitung, jumlah anak punk yang hijrah dan sekarang bergabung Tasawuf Underground sebanyak 100 orang. Mereka sudah tak lagi menjalani kehidupan jalanan. Anak-anak itu, umumnya kini sudah mendapatkan pekerjaan yang lebih menjanjikan. Misalnya, kerja di tempat sablon, percetakan, menjadi barista di kafe. 

***

Pemuda inspiratif lainnya yang saya temui sore itu bernama supir metromini bernama Teguh. Teguh lahir di Tebet, Jakarta Selatan. Orangtuanya berasal dari Surabaya, Jawa Timur.

"Sekarang orangtua tinggal di Bojong Gede. Pada 2010 saya jadi anak punk di Bojong Gede pas masih SMP. Di sini (di Tebet, Jakarta Selatan) sejak 2014 sudah menjadi anak punk," kata Teguh.

Dia mulai tertarik menjadi anak punk sejak duduk di sekolah menengah pertama, tahun 2008. Mula-mula, dia hanya ikut-ikutan teman yang sudah lebih dulu menjadi bagian dari komunitas nonton acara-acara musik. Pada waktu itu, dia melihat penampilan anak-anak punk sangat keren dan pemberani, anti kemapanan.

Dia semakin yakin gerakan punk mewakili jiwanya setelah merasakan sendiri betapa kuat kebersamaan di antara mereka, walau baru pertamakali ketemu di jalan. Kebersamaan yang dimaksud adalah saling menghormati ketika mengamen dan saling berbagi ketika nongkrong sambil mabuk-mabukan.

"Yang saya suka dari anak punk itu kebersamaannya kental, walaupun kita gak kenal, misalnya di satu tempat di Lampung, ketemu dengan anak-anak punk, akhirnya gabung bareng seperti teman lama, erat persaudaraannya."

Teguh. AKURAT.CO/Yudi Permana

Sebenarnya pada waktu gabung bersama anak-anak punk, dia sudah menjadi supir. "Gak ada motivasi, ingin dilihat keren dan wah aja kalau dulu (jadi anak punk). Dan juga ingin dilihat beda dengan yang lain, itu doang sebenarnya motivasi. Kalau buat yang lain belum ada," katanya.

"Kalau ingin meniru (anak punk di Amerika) seperti benar-benar ingin mengkiblati sih enggak, tapi sekedar hobi dan suka aja."

Menjadi golongan punk diakui Teguh sering dipandang rendah masyarakat. Mereka dianggap urakan.

"Anak punk istilahnya dipandang orang dengan sebelah mata dan negatif. Orang memandang anak punk ini amburadul, acak-acakan, kotor, asal-asalan, jangankan ingin memandang, melirik aja ogah," katanya.

Stigma itu terus melekat, bahkan setelah teguh insaf. Suatu hari, dia pergi ke masjid dan merasa kurang percaya diri karena orang-orang di sekitar memandang dengan tatapan penuh kecurigaan.

"Karena pandangan orang bahwa yang bertato ini selalu negatif aja pemikirannya. Kadang-kadang kami ini dulu-dulu pas datang ke masjid aja masih merasa bingung. Karena orang beranggapan, jangan-jangan anak punk ini bukan mau salat, dan orang-orang melihatnya secara sinis gitu."

Teguh mengakui pola hidup golongan punk memang tidak tertata dan tidak punya tujuan yang jelas.
"Anak punk hidupnya asal-asalan, makan, minumnya. Bangun tidur, langsung makan. Kemudian langsung nyari uang buat makan, istilahnya kaya takut lapar. Terus nyari uang lagi buat macam-macam yang tidak bermanfaat," ujarnya.

Dia juga mengakui belasan tahun menjalani kehidupan bebas di jalanan tidak ada hal positif untuk mendukung masa depan yang didapatkan. Yang diraih justru sebaliknya. Sampai akhirnya, Teguh mendapatkan hidayah.

"Sebenarnya sudah percaya Tuhan ketika masih jadi anak punk, saya masih tetap percaya dengan Tuhan sampai saat ini. Allah itu satu la ilaha illallah. Tapi berhubung karena keadaan, terus suasana agama gak terlihat, akhirnya saya jatuh lagi dan bangun kembali. Tapi memang buat keyakinan, Alhamdulillah sampai sekarang Insya Allah yakin."

Panggilan untuk bertobat sebenarnya sudah terasa sejak 2010. Tetapi pada waktu itu, dia mengalami kebimbangan hebat dan gagal, kemudian mencoba lagi, gagal lagi.

Ustaz Halim Ambiya . AKURAT.CO/Yudi Permana

"Tapi ya begitu namanya godaan, setan kan lebih pintar, akhirnya jatuh, terus taubat lagi. Dari perjalanan beliau saat berhijrah, yang saya ikuti juga. Di sinilah cara saya menghidupkan suasana, istilahnya mengecas iman," katanya.

Sekarang dia bersyukur bertemu lagi dengan teman-temannya, terutama mereka yang sudah bisa menerima kehadiran Allah. Hari itu merupakan bulan kelima Teguh bergabung dengan kegiatan belajar mengaji yang dipimpin Halim.

"Setelah ikut menjadi anak punk, ternyata kita tidak tahu, di situ itu Allah menaruh Hidayah. Seperti sekarang disaat kami nongkrong, kumpul bareng, ada salah satu anak yang namanya Sapta, dia ada keinginan hijrah, dengan berpikir "masa saya harus kayak gini-gini terus,” akhirnya Sapta melihat media sosial, ternyata di situ ada satu guru yang mengajar anak-anak punk, ternyata Pak Ustaz Halim. Wah ini anak-anak nih. Akhirnya pak ustaz diundang sama Sapta untuk datang ke kolong jembatan Tebet," tuturnya.

"Akhirnya dibimbing sedikit demi sedikit, Alhamdulillah 70 persen perubahan anak-anak di sini sudah terlihat, dari yang gak bisa mengaji, menjadi bisa ngaji. Dan dari gak bisa membaca Alquran, menjadi bisa baca Alquran."

Teguh mengatakan setiap orang pasti ingin berubah ke arah yang lebih baik dalam hidup mereka, begitu juga dengan anak punk. Sebebas-bebasnya orang, pasti ingin pulang.

“Nggak mungkin kita dengan cara seperti gaya anak punk terus. Dari situ pengin ada perubahan. Akhirnya di sinilah tempat kami berubah, Ustaz Halim mengarahkan dan mengajarkan, kalau pengin berubah seperti ini peta jalan pulang."

“Sampai sekarang alhamdulillah sudah mulai mengetahui arti yang sebenarnya hidup itu seperti apa. Dan makna hidup yang dicari yang seperti apa. Sebenarnya yang ditunggu hidup itu kan cuma satu, yaitu mati. Gimana caranya saat kita mati biar sempurna."

Teguh mengatakan barang siapa yang menuntut ilmu di jalan Allah, maka Allah akan memuliakannya.

“Jadi dulu kita berpakaian anak punk, dan orang melihatnya atau memandang sebelah mata, tapi sekarang kita menggunakan sarana pakaian muslim, di situ Allah muliakan dan manusia tidak melihat tato dan tindikan kami. Tapi orang melihat peci kami, akhirnya kadang-kadang dipanggil ustaz," katanya.

Pelajaran lain yang didapatkan Teguh tentang rezeki. Suasana batin yang lebih plong membuatnya tidak khawatir lagi dengan rezeki. Dia tetap menjadi supir metromini dan sekarang lebih lapang dada.

“Kalau dulu waduh harus gimana nih biar dapat duit yang banyak. Ternyata kalau sekarang, oh ya memang harus dibarengin dengan agama."

"Kesannya udah yakin ada Allah. Rezeki sudah ada Allah yang mengatur. Intinya yang penting saya berikhtiar, saya tetap narik (menjadi supir). Alhamdulillah rezeki itu. Dulu waktu saya masih narik dan gak salat, sama penghasilan dengan sekarang yang sudah salat, segitu-gitu juga. Jadi manusia itu istilahnya seperti mobil yang harus ada remnya. Kalau mobil gak ada remnya, otomatis pasti celaka. Di sini remnya itu patokannya agama."

Memutuskan hijrah tak pernah disesali Teguh. Dia membandingkan kehidupannya yang dulu dengan sekarang.

"Saat belum tobat, istilahnya saya ini sebenarnya siapa sih. Maksudnya saya ini manusia atau bukan. Akhirnya setelah tobat, oh ternyata manusia ini harus salat, zikir dan baca Alquran. Akhirnya di situ dicontohkan Ustaz Halim secara pelan-pelan tanpa memandang sebelah mata, dengan dirangkul bareng-bareng sampai sekarang."

Teguh berkomitmen setiap minggu dia membagi waktu lima hari untuk bekerja dua hari untuk fokus belajar mengaji dan belajar membaca Alquran.

"Saya suka mengaji di rumah pas setelah salat. InsyaAllah habis salat Subuh, zikir pagi petang dan nyambung ngaji Alquran. Gimana caranya setahun ini saya bisa menghatamkan Alquran karena kitab suci ini punyak hak untuk dibaca sampai khatam," kata Teguh.

Kepada teman-temannya yang masih hidup di jalanan, Teguh berharap mereka segera menerima kehadiran Allah SWT.

"Jadi sarannya bahwa Rasulullah SAW bersabda, Allah tidak memandang harta dan rupamu. Tapi Allah memandang niat dan amalnya. Buat kawan-kawan yang belum berhijrah, ayolah kita hijrah dari sekarang, karena kematian kita tidak ada yang tahu."

"Walaupun kalau kita niat sungguh-sungguh ingin berubah dari sekarang, apabila kita nanti mati, insyaAllah akan menghapuskan dosa-dosa kita. Kan dari niat kita. Jadi dari sekarang jangan takut-takut buat kita tobat. Saya yakin Allah pasti memuliakan orang-orang yang ingin belajar agama." []

Baca juga:

Tulisan 1: Anak-anak Punk Terima Kehadiran Allah Setelah Dulu Sering Maksiat

Tulisan 2: Anak Punk Menato Tubuh Biar Terlihat Keren, Tapi Ujung-ujungnya Mereka Menyesal

Tulisan 3: Guru Anak Punk: Jangan Ajarkan Persahabatan, Mereka Lebih Hebat

Tulisan 4: Pecandu Narkoba Insaf Jadi Asisten Pemimpin Pondok Pesantren

Tulisan 5: Kisah Tobat Pak Tile yang Nyawanya Hampir Melayang Gara-gara Telan 50 Obat Terlarang

Tulisan 6: Kisah Mantan Preman: Mudah-mudahan Sih Saya Mati dalam Keadaan Sadar, Sudah Insaf

Tulisan 7: Preman Insaf, Dulu Menghajar Orang, Kini Mengajari Ngaji

Tulisan 8: Perjalanan Remaja Alim Terjerumus ke Dunia Narkoba sampai Akhirnya Tobat

Tulisan 9: Interview Anton Medan: dari Dunia Hitam sampai Menemukan Jalan Pulang

Editor: Siswanto

Sumber:

berita terkait

Image

News

Jalan Pulang

Interview Anton Medan: dari Dunia Hitam sampai Menemukan Jalan Pulang

Image

News

Jalan Pulang

Perjalanan Remaja Alim Terjerumus ke Dunia Narkoba sampai Akhirnya Tobat

Image

News

Jalan Pulang

Preman Insaf, Dulu Menghajar Orang, Kini Mengajar Ngaji

Image

News

Jalan Pulang

Kisah Mantan Preman: Mudah-mudahan Sih Saya Mati dalam Keadaan Sadar, Sudah Insaf

Image

News

Jalan Pulang

Kisah Tobat Pak Tile yang Nyawanya Hampir Melayang Gara-gara Telan 50 Obat Terlarang

Image

News

Jalan Pulang

Pecandu Narkoba Insaf Jadi Asisten Pemimpin Pondok Pesantren

Image

News

Jalan Pulang

Guru Anak Punk: Jangan Ajarkan Persahabatan, Mereka Lebih Hebat

Image

News

Jalan Pulang

Anak Punk Menato Tubuh Biar Terlihat Keren, Tapi Ujung-ujungnya Mereka Menyesal

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

LDII: Dalam Bahasa Kita Disiplin Itu Tidak Ada, Maka Kultur Disiplin Tidak Ada

"Dalam bahasa kita disiplin itu tidak ada maka kultur disiplin tidak ada,"

Image
News

Besok, Lukman dan Khofifah Diperiksa Sebagai Saksi Atas Kasus Jual Beli Jabatan

"Sesuai panggilan kami memang benar seperti itu, namun untuk lebih pastinya masih menunggu konfirmasi kehadiran,"

Image
News
Pemilu 2019

Ketua Tim Hukum Prabowo Enggan Sebutkan Nama Saksi yang Merasa Terancam

"Itu besok urusannya. Jadi jangan tanya terlalu detail. Persidangannya di MK, bukan trail by the press"

Image
News

DPRD DKI: Pembangunan Infrastruktur Bidang Perhubungan Tidak Efektif Jika Tak Memiliki Rencana Induk

“Tahun ini dipastikan ada penambahan unit bus Transjakarta,”

Image
News

Menkum HAM Belum Tahu Kesepakatan KPK dan Ditjen PAS Soal Napi Koruptor

"Belum sampai ke saya, lapasnya belum ada yang khusus untuk itu disana (Nusakambangan)"

Image
News

Paska Pemilu, Bamsoet Ingatkan Seluruh Elemen Bangsa Agar Mempererat Silaturahim

"Silaturrahim dan rekonsilitasi sangat penting untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa yang terbelah selama pemilu,"

Image
News

Kunker ke Makassar, Komisi III DPR Serap Masukan Soal RUU Pemasyarakatan

"Kami dari Panja bertemu dengan berbagai stakeholder yang berkaitan langsung dengan proses pemasyarakatan"

Image
News
Pemilu 2019

Ketua Tim Hukum Prabowo Sempat 'Disemprot' Hakim MK

"Jadi soal disini kan kita sama-sama punya pengalaman di MK. Jadi jangan terlalu didramatisirlah yang soal ini"

Image
News

Dua Orang Ibu Melahirkan di Posko Pengungsian Banjir, Salah Satu Anaknya Diberi Julukan 'Sarboy'

Bayi pertama yang lahir atas nama Eva Sarnasia, lahir pada Jumat tanggal 14 Juni 2019, pukul 01.00 WITA.

Image
News

Grup Musik Binaan Kodim 0507/Bekasi Juarai Festival Musik Jalanan TNI AD

"Grup musik ini juga memberikan sentuhan lain sehingga mampu menghipnotis semangat persatuan dan kesatuan pengunjung dan para juri"

trending topics

terpopuler

  1. 8 Potret Terbaru Mantan Kepala Bareskrim Susno Duadji, Tanam Padi hingga Kopi

  2. Kivlan Zen Akui Terima Uang 4000 SGD Sebelum Kerusuhan

  3. Begini Candaan Agung Hercules Kepada Daus Mini Saat Besuk di Rumah Sakit

  4. Soal Reklamasi Teluk Jakarta, WALHI Nilai Anies Sama Saja dengan Ahok

  5. Gilang Dirga Sebut Agung Hercules akan Dipindah ke Rumah Sakit di Bandung

  6. Waketum PAN Apresiasi Video Faldo Maldini Berjudul Prabowo Tidak Akan Menang

  7. CEO Huawei: Akibat Remehkan Sanksi AS, Pendapatan Perusahaan Menurun

  8. Isak Tangis Iringi Kedatangan Dua Jenazah Korban Kecelakaan Maut Tol Cipali di Rumah Duka

  9. Napi Vonis Mati Provokator Kerusuhan Rutan Lhoksukon Sudah Lama Rencanakan Aksi

  10. Tim Hukum Prabowo Serahkan 4 Truk Bukti Tambahan ke MK

fokus

Sampahmu
Demam Vapor
Jalan Pulang

kolom

Image
M. Rifki Fadilah

Jalan Terjal Rezim Bunga Murah

Image
Achmad Fachrudin

Menguak Tabir Kerusuhan 21-22 Mei

Image
Hasan Aoni

Turun Ranjang

Image
Achmad Fachrudin

Memelototi Persidangan Mahkamah Konstitusi

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude

Sosok

Image
News

5 Momen Baby Gaia Hibur dan Temani 'Pepo' di Rumah

Image
Sosok

FOTO Saifudin, Sudah 24 Tahun Melakoni Pekerjaan Perahu Eretan

Image
News

7 Potret Kompak Ganjar Pranowo dan Gus Yasin saat Jalankan Tugas sebagai Kepala Daerah