image sungai 8
Login / Sign Up

Berisik Musik Disko di Tempat Prostitusi Kini Berubah Jadi Lantunan Quran

Dafi Yusuf

Sudut Lain

Image

Kawasan Sunan Kuning | AKURAT.CO/Dafi Yusuf

AKURAT.CO Edisi Ramadan kedua kali ini, kami hadirkan cerita-cerita denyut kehidupan dari sisi lain. Ceritanya tentang bagaimana kehidupan di tempat-tempat prositusi dan tempat-tempat pacaran di kala bulan puasa. Juga tempat penjualan minuman keras. Apakah tetap buka atau tiarap? Nanti -- tentu tidak mencerminkan secara keseluruhan -- akan terungkap dalam cerita-cerita yang disuguhkan dalam beberapa bagian. Selain itu, pada kesempatan kali ini, juga ada cerita tentang bagaimana sudut kehidupan dunia kerja seperti pengamen dan penjual jamu gendong yang saban hari jalan kaki berkilo-kilometer, apakah aktivitas mereka terpengaruh karena sambil berpuasa? Semoga saja cerita-cerita ini mendapatkan ruang tersendiri di hati para pembaca.

* Selama puasa ini, kawasan prostitusi Sunan Kuning libur setelah sebelas bulan penuh bekerja.
* Pekerja seks bisa memahami kenapa selama bulan puasa tidak boleh beroperasi.
* Mereka disiapkan sebelum memutuskan untuk meninggalkan tempat prostitusi.

baca juga:

***

Selasa 17 Mei 2019, malam, sama sekali tak terdengar hingar bingar suara house musik dangdut di Gang Siangkang, 17 Kilo, dan Kalibanteng Belok Kiri, Semarang, yang biasanya memekakkan telinga.

Kafe-kafe dengan gemerlap lampu disko tidak ada yang buka. Aktivitas pria hidung belang dan kupu-kupu malam yang selalu menghidupkan suasana malam di gang-gang kawasan prostitusi yang dijuluki Sunan Kuning benar-benar tak terlihat.

Petang itu, tepatnya semenjak awal bulan puasa, suasana tempat bisnis lendir yang berada di Kelurahan Kalibanteng Kulon, Kecamatan Semarang Barat, berubah drastis. Padahal di hari biasa, sangatlah mudah menemukan pekerja seks dengan tingkah manja yang mangkal di tiga gang kawasan yang dulu bernama Argorejo. Kawasan ini, menurut informasi, terdapat sekitar 400 pekerja seks yang beroperasi.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Ketika saya datang ke sana, yang terdengar adalah lantunan ayat-ayat suci Alquran dari Masjid Al-Hidayah yang berada di tengah pemukiman. Lokalisasi Sunan Kuning yang berada di tepi jalan raya Pantai Utara itu seolah sedang tidur, melepas penat setelah 11 bulan penuh dengan keramaian duniawi.

Tempat itu untuk sementara ditinggal pulang ke kampung halaman oleh sebagian besar pekerja seks sejak awal Ramadan, bahkan ada yang pergi sebelum itu. Mereka libur karena biasanya bulan puasa, jarang ada pelanggan datang, selain itu juga ada larangan operasi selama bulan suci.

Pada waktu saya datang ke sana, sebagian pekerja seks berbaur dengan warga asli setempat di Masjid Al-Hidayah. Mereka melaksanakan ibadah salat tarawih. Masjid Al-Hidayat merupakan satu-satunya tempat ibadah umat Islam di kawasan itu.

***

Sebelum bulan puasa, Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi Eko Putranto, mendapat surat edaran dari Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi untuk menghentikan semua aktivitas bisnis malam di kawasan Sunan Kuning selama bulan puasa. Resosialisasi merupakan program swadaya yang sudah bertahun-tahun dijalankan untuk membantu menyiapkan para pekerja seks keluar dari dunia bisnis lendir.

"Sudah dapat (surat edaran). Kita tutup total kayak kondisi tahun-tahun sebelumnya," kata Suwandi ketika saya temui di rumahnya.

Suwandi sebagai pembina dalam program resosialisasi kemudian meneruskan surat edaran itu kepada seluruh anak asuhnya. Mereka umumnya sudah paham soal itu. Itu sebabnya, ketika diimbau untuk pulang kampung selama Ramadan, tak ada reaksi penolakan.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Tapi ada sebagian pekerja seks yang memilih tetap berada di Sunan Kuning. Umumnya, mereka tidak mau pulang karena tempat tinggal mereka berada tak jauh dari sana atau karena alasan tidak punya uang untuk pulang ke kampung halaman.

“Yang rumahnya di luar kota kita pulangkan, tapi yang tidak mau ya enggak apa-apa. Tapi, kita tidak mengizinkan mereka beroperasi,” kata Suwandi.

Semua orang yang selama ini mencari penghidupan di Sunan Kuning diminta untuk menghormati umat muslim yang sedang menjalankan ibadah selama Ramadan. Khususnya kepada para pekerja seks maupun para pemandu karaoke diminta untuk membaur dengan warga sekitar.

Imbauan Suwandi didengarkan oleh mereka. Seperti pada malam itu, para pekerja seks yang masih bertahan ikut ke masjid untuk menjalankan ibadah. Menurut Suwandi, manusia membutuhkan siraman rohani agar tidak kering.

"Tarawihan seperti dilakukan masyarakat lainnya, mulai ba’da Isya sampai selesai. Nah, buat yang selama ini menetap di resos ya ada baiknya ikut salat tarawih di masjid depan gang IV,” kata Suwandi.

Mengajak pekerja seks untuk dekat dengan Tuhan merupakan salah satu tujuan program pengentasan prostitusi.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Program resosialisasi yang dilakukan Suwandi dimulai sejak 2014. Para pekerja seks mendapatkan pembinaan rutin yang intinya untuk menyiapkan mereka sebelum meninggalkan dunia prostitusi. Setiap satu bulan sekali, tepatnya hari Jumat legi, Suwandi menyelenggarakan pengajian dari Maghrib sampai Subuh.

“Selain bulanan kita juga ada pengajian yang sifatnya tahunan. Bahkan kita pernah mengundang 300 kiai yang ada di Jawa Tengah untuk hadir menghadiri pengajian di Sunan Kuning. Bahkan banyak yang kaget, masak lokalisasi ada pengajian akbar sebesar itu,” katanya.

Selama para pekerja seks mengikuti pengajian, praktis kegiatan prostitusi Sunan Kuning tidak seramai hari biasa.

Selama ini, kegiatan pembinaan rohani dan keterampilan kerja yang difasilitasi melalui program resosialisasi sudah menunjukkan hasil positif. Setiap tahun, selalu ada pekerja seks yang memutuskan pamit, meninggalkan dunia prostitusi.

Menurut catatan Suwandi pada tahun 2018, anak asuh program Resos Argorejo Sunan Kuning berkurang hampir setengah.

“Jika pada 2012 tercatat ada 741 wanita binaan, kini jumlah tersebut menurun menjadi 480 orang,” katanya.

Suwandi mendukung penuh para pekerja seks meninggalkan Sunan Kuning dan kembali bermasyarakat. Tetapi mereka harus benar-benar disiapkan lebih dulu. Itu sebabnya, dia kurang sreg dengan rencana penutupan Sunan Kuning tanpa menyiapkan mereka dengan keterampilan memadai, apalagi tiada uang tabungan.

***

Malam itu, saya ketemu Ni’mah. Dia mantan pekerja seks dan mucikari Sunan Kuning. Ni’mah berasal dari Madura.

Dia bercerita awal mula meninggalkan Madura. Tahun 1960-an, pernikahan kedua orangtua Ni’man tak direstui kerabat dari ayah. Faktor utama yang memicunya adalah perbedaan kelas sosial.

Singkat cerita, kedua orangtua Ni’mah kemudian diusir dari kampung. Semenjak itu, mereka tinggal berpindah-pindah.

“Sampai di suatu hari, saat orangtua saya tinggal di Cirebon, saya meminta izin bekerja di luar kota. Itulah babak baru hidup saya,” katanya.

Ni’mah berkali-kali pindah kerja. Sampai akhirnya, dia sampai ke Sunan Kuning. Dia fasih menceritakan kondisi kawasan pada masa lalu.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

“Saya lalu tinggal di Sunan Kuning. Dulunya cuma tanah kuburan lalu lama-lama banyak wisma dan pasang tarif pekerja seksnya juga,” katanya.

Dia mulai total memasuki dunia prostitusi pada 1986. Setelah bertahun-tahun hidup di dunia perlendiran, dia kembali tersadar. Hati kecilnya berkata ingin kembali ke jalan yang benar.

“Waktu itu, makin galau saya. Hati ini resah bercampur takut.”

“Kemudian, saya terbesit untuk menunaikan ibadah haji. Saya berangkatlah sekitar pertengahan 1992 silam.”

Dia teringat, mesti sembunyi-sembunyi untuk berangkat ke Tanah Suci agar tak ketahuan teman-teman seprofesi. Perasaannya pada waktu itu campur aduk.

“Ngumpet-ngumpet itu biar enggak ketahuan yang lain. Pastinya campur aduk antara takut sedih dan bahagia. Apalagi, saya berangkat ke Tanah Suci pakai uang tabungan sendiri.”

Sesampai di Tanah Suci dan berkesempatan meraba Hajar Aswad di Masjidil Haram, Makkah, dia menangis. “Allhamdullilah semuanya dimudahkan.”

Dengan uang tabungan sendiri, Ni’mah kemudian pergi ke Tanah Suci lagi, sampai sekarang sudah lima kali. Kini, di Sunan Kuning, warga dan pekerja seks memanggilnya dengan sebutan Hajah Ni’mah.

***

Kawasan Sunan Kuning bernama asli Argorejo. Belakangan tempat itu dikenal dengan sebutan kompleks Resosialisasi Argorejo. Lalu, siapa sebenarnya Sunan Kuning?
Sunan Kuning salah satu tokoh Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara. Sunan Kuning bernama asli Soen Ang Ing.

Dia merupakan tokoh asal Tiongkok yang menyebarkan ajaran Islam dengan berpindah-pindah tempat. Lama kelamaan, lidah orang Jawa menyebut Seon Ang Ing dengan Sunan Kuning.

Tak diketahui pasti tahun berapa Soen Ang Ing berdakwah menyebarkan Islam di Semarang. Namun, penulis Remy Silado dalam buku 9 Oktober 1740: Drama Sejarah, Dalam Catatan Seorang Tionghoa di Semarang, Liem Thian Joe, menyebut Sunan Kuning sebenarnya memiliki nama populer Raden Mas Garendi.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Sunan Kuning berasal dari kata Cun Ling (bangsawan tertinggi). Cun Ling adalah salah satu tokoh yang berperan penting dalam peristiwa Geger Pacinan tahun 1740-1743.

Dalam Geger Pacinan 1740-1743, Persekutuan Tionghoa-Jawa Melawan VOC, RM Darad jadi menyebut Raden Mas Garendi bersama Kapitan Sepanjang (Khe Panjang) dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengobarkan perlawan sengit terhadap VOC di wilayah kekuasaan Mataram.

Perlawanan itu disebut sebagai pemberontakan terbesar yang dihadapi VOC selama berkuasa di Nusantara.

Para pemberontak Jawa-Tionghoa menobatkan Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning sebagai raja Mataram bergelar Sunan Amangkurat V Senopati Ing Alaga Abdurahman Sayidin Panatagama pada 6 April 1742 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. 

Kala itu, cucu Amangkurat III yang dibuang VOC baru berumur 16 tahun -- sumber lain menyebut 12 tahun. Dia pun dianggap sebagai raja orang Jawa dan Tionghoa.

Makam Sunan Kuning hanya berjarak 50 meter dari kompleks Resosialisasi Argorejo, tepatnya di sebuah bukit Jalan Sri Kuncoro 1, RT 6, RW 2, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat. Orang menyebut bukit kecil itu sebagai Gunung Pekayangan.

Untuk sampai di kompleks makam, pengunjung harus melewati sebuah gapura bercat hijau dan menaiki jalan setapak di kompleks makam. Sebelum sampai di makam utama Sunan Kuning, ada pemakaman penduduk bernama Tepis Wiring.

Sampai di puncak bukit, ada pintu gerbang kedua dengan arsitektur khas Tiongkok yang menjadi pintu masuk area makam Sunan Kuning. Di dalam area makam terdapat tiga bangunan mirip rumah mini serta pohon-pohon besar rindang yang menjulang tinggi.

Bangunan rumah pertama diperuntukkan bagi peziarah yang hendak istirahat atau menginap. Sedangkan rumah kedua terdapat tiga makam tertulis nama Kiai Sekabat, Kiai Djimat, dan Kiai Modjopahit.

Kawasan Sunan Kuning. AKURAT.CO/Dafi Yusuf

Menurut juru kunci makam Sunan Kuning, Sutomo (74), ketiga makam itu adalah murid sekaligus pembantu setia Sunan Kuning. Dengan logat Jawa, Sutomo menyebut sebagai Patih Kanjeng Sunan Kuning.

Mbah Tomo mengatakan ada beberapa rumah yang berada di dekat makam Sunan Kuning.

“Bangunan rumah pertama diperuntukkan bagi peziarah yang hendak istirahat atau menginap. Sedangkan rumah kedua terdapat tiga makam tertulis nama Kiai Sekabat, Kiai Djimat, dan Kiai Modjopahit,” katanya.

Sutomo kemudian menunjukkan makam Sunan Kuning di bagian sisi pojok makam. Sebuah bangunan permanen khas Tiongkok dengan dominasi cat kuning.

“Bangunan itu dilengkapi dengan teras mirip pendapa sebagai tempat berziarah,” katanya. []

Baca juga:

Tulisan 1: Berisik Musik Disko di Tempat Prostitusi Kini Berubah Jadi Lantunan Quran

Tulisan 2: Pengakuan Mantan Penjual Minuman Keras

Tulisan 3: Kisah Kupu-kupu Malam di Bulan Ramadan

Tulisan 4: Seharian Keliling Tempat Pacaran Tepi Pantai

Tulisan 5: Penjual Jamu Gendong dan Rahasianya

Tulisan 6: Akhirnya Terjawab Pertanyaan Soal Kehidupan Pengamen Ondel-Ondel di Bulan Puasa

Tulisan 7: Interview Ustaz Tengku Zulkarnain dari Prostitusi sampai Hinaan

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Sudut Lain

Interview Ustaz Tengku Zulkarnain dari Prostitusi sampai Hinaan

Image

News

Sudut Lain

Akhirnya Terjawab Pertanyaan Soal Kehidupan Pengamen Ondel-Ondel di Bulan Puasa

Image

News

Sudut Lain

Penjual Jamu Gendong dan Rahasianya

Image

News

Sudut Lain

Seharian Keliling Tempat Pacaran Tepi Pantai di Bulan Puasa

Image

News

Sudut Lain

Kisah Kupu-kupu Malam di Bulan Ramadan

Image

News

Sudut Lain

Pengakuan Mantan Penjual Minuman Keras

komentar

Image

3 komentar

Image
Resta Apriatami

semoga makin banyak yg keluar dari bisnis ini dan bisa menjalani hidup yg baik

Image
emil sampeno

Semoga setelah lebaran bisa banya yg tertegur hatinya aamiin

Image
Muhamad Wahyudi

Jadi lebih adem

terkini

Image
News

Rommy Akui Terima Rp250 Juta dari Kepala Kantor Wilayah Kemenag Jawa Timur

Menurut Rommy dari rentang waktu penerimaan 6 Februari 2019 baru dikembalikan pada 28 Februari 2019 masih dalam rentang waktu pengembalian g

Image
News

Rommy Punya Kode Khusus untuk Lukman Saifuddin

Romahurmuziy alias Rommy, membuat kode untuk Menteri Agama, Lukman Saifuddin. Kode itu adalah "B1".

Image
News

Akibat Zonasi PPDB, 685 SDN di Jember Kekurangan Siswa

Totalnya kekurangan pagu siswa di ratusan SDN mencapai 10.129 siswa yang tersebar di beberapa sekolah yang berada di 31 kecamatan di Jember

Image
News

Menjelang Putusan MK, Polres Bogor Gencar Patroli Tengah Malam

"Patroli di masing-masing Polsek Kabupaten Bogor, dilaksanakannya tengah malam,"

Image
News

Ketua DPR: Banyak Karya Sastra Dunia Berasal dari Indonesia

Salah satunya I La Galigo.

Image
News

Lebanon Tolak Rencana AS untuk Perdamaian Timur Tengah

Semua partai di Lebanon menolak pemukiman permanen warga Palestina

Image
News

Polisi Amankan Perempuan Bertato di Sekitar Gedung MK

Kami catat identitasnya.

Image
News

8.644 Hektare Lahan Pertanian di Jawa Barat Mengalami Kekeringan

Kabupaten Indramayu menjadi yang paling parah karena terdapat 1.456 hektare yang sudah tidak menerima pasokan air.

Image
News
Pemilu 2019

Tak Hadir di MK, Prabowo Pantau Sidang Putusan dari Kertanegara

Prabowo tidak menginginkan adanya akumulasi massa yang besar ketika hadir di MK.

Image
News

Polisi Tangkap Dua Pimpinan Ormas Islam JAD dan MMI di Cirebon

Masih dalam proses pemeriksaan oleh penyidik.

trending topics

terpopuler

  1. Dihantui PHK, Ini Besaran Pesangon Pegawai Giant Sesuai Aturan Pemerintah

  2. Kamu Kena PHK? Geluti 5 Bisnis Ini Saja

  3. Amnesty Internasional Surati Jokowi Minta Kasus Penyiksaan Terhadap Peserta Aksi 22 Mei Polisi Diselidiki

  4. Dihujat Warganet, Pemprov DKI Batalkan Acara yang akan Dihadiri Felix Siauw

  5. Bikin Malu, Shireen Pegang Tangan Suami Orang yang Dikiranya Teuku Wisnu

  6. Dihujat Warganet, Pemprov DKI Tetap Hadirkan Felix Siauw di Masjid Balai Kota?

  7. 6 Bisnis Ritel Ini Gulung Tikar di Indonesia, Giant yang Terbaru

  8. Street Style ala Sophie Turner dan Priyanka Chopra di Paris Bersama Jonas Bersaudara

  9. Bolsonaro Usulkan GP Brasil Dipindah ke Rio De Janeiro

  10. Didorong Sampai Tujuan, Aksi Driver Grab dan Gojek Saling Bantu Mengantar Pelanggan

fokus

Hari Bank Indonesia
Perang Dagang Tak Berkesudahan
Masalah Sungai

kolom

Image
Hasan Aoni

Duit Lanang

Image
Sunardi Panjaitan

Deklarasi Kekalahan

Image
Ujang Komarudin

MK dan Narasi Kecurangan

Image
Rozi Kurnia

Film ini Harusnya Tidak Berjudul Aladdin

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude