image banner ramadan
Login / Sign Up

Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Maidian Reviani

Angkutan Tempoe Doeloe

Image

Kendaraan wisata delman terlihat di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019). Keberadaan delman menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga yang tengah berwisata di kawasan Monas. Setiap pengunjung bisa berkeliling dengan mengitari jalan kawasan Monas hanya dengan membayar uang sewa delman mulai dari 60 ribu hingga 100 ribu rupiah. Namun delman ini hanya boleh ada setiap hari minggu atau libur nasional. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO Kandang kuda milik Hasan berada di Kemanggisan, Jakarta Barat. Untuk menuju ke tempat itu mesti menyusuri jalan setapak.

Ketika saya jalan kaki ke sana untuk menemui Hasan, beberapakali terjebak kotoran kuda dan genangan air kencing kuda, padahal sudah berusaha awas.

Sepanjang jalan setapak, terdapat puluhan kandang kuda yang beberapa di antaranya sedang dibersihkan. Sekitar 30 kuda yang dipelihara di sana itu milik sejumlah warga. Kuda-kuda yang mayoritas berwarna coklat, siang itu, juga terlihat sedang makan rumput.

baca juga:

Kawasan tersebut terletak di belakang gedung Dewan Pimpinan Pusat Partai Golongan Karya, Slipi, Jakarta Barat, dekat kali. Hasan sedang berdiri di pojok kandang.

Koordinator kusir delman Monumen Nasional, Hasan. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Hasan, lelaki yang kini berusia 60 tahun merupakan salah satu pemilik usaha delman di Jakarta yang masih tersisa. Warga Betawi Kemanggisan itu menggeluti dunia delman sejak 1970. Saya bisa menemuinya lewat sais di tempat lain.

Saya mewawancarai Koordinator Kusir Delman Monumen Nasional itu di bawah pohon kersen.

“Dulu punya kuda cuma dua. Alhamdulillah sekarang ada enam,” kata Hasan.

Delman Hasan sekarang disewakan ke warga yang mau menjadi sais.

“Kuda saya, saya kasih ke orang buat kerja, kebetulan saya koordinator Monas juga. Jadi kasih orang aja. Biasanya pada pake Sabtu Minggu aja, sehari pada pere (libur),” kata dia.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

“Kalau ada yang mau narik biasa nggak Sabtu Minggu juga bisa, narik anak-anak di sekitar kampung. Terus kalau mau make bilang dulu sama saya.”

Delman-delman itu biasanya dipakai untuk melayani wisatawan di sekitar Monumen Nasional atau Kota Tua.

Dia menerapkan sistem bagi hasil dengan sais, tidak ada nominal yang dipatok. Pokoknya fifty-fifty.

“Kalau ngasih saya perhari. Misal pulang bawa Rp100 ribu-Rp300 ribu. Ya ngasih saya bagi dua aja. Pokoknya kalau saya tergantung rezekinya kusir aja. Jadi nggak nentu.”

Orang yang jadi penarik delman milik Hasan juga beragam latar belakang dan usia.

“Kalau di saya ada anak muda, ada juga dah tua. Jadi itu pekerjaan tetap mereka, karena biasanya tukang kuda ijazah kan gak ada, biasanya SD juga gak lulus, jadi di kuda aja mereka demen,” tutur Hasan.

***

Hasan sedang santai siang itu. Dia telanjang dada. Dada sebelah kanan terdapat tato. Bagian bawah gambar tertulis namanya besar-besar. Dia juga punya tato huruf depan namanya di lengan sebelah kanan.

Pada era Gubernur Sutiyoso, pemerintah dinilai memberikan kepastian terhadap usaha delman. Delman masih leluasa lalu lalang ke jalan raya untuk mencari penumpang, sama seperti angkutan berbahan bakar minyak sekarang.

“Zaman Sutiyoso, delman itu enak. Jadi dia selalu utamain kita, kita dikasih pelengkapan delman, bahkan bisa masuk ke dalam Monas,” kata Hasan yang siang itu mengenakan celana pendek.

Setelah Bang Yos tak jadi gubernur, usaha delman mengalami pasang surut. Usaha sangat seret ketika Jakarta dipimpin Fauzi Bowo. Tapi secercah harapan muncul kembali setelah Joko Widodo menggantikan Foke. Tapi, sais kembali tertatih-tatih setelah Jokowi digantikan oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Pas Fauzi masuk berubah, gak boleh kita. Terus Jokowi naik boleh, Ahok naik gak boleh lagi,” ujarnya.

Koordinator kusir delman Monumen Nasional, Hasan. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Zaman Foke gak enak. Bener-bener kita dilarang. Akhirnya narik anak-anak aja di kompleks, gang-gang. Muter-muter,” tambahnya.

Setelah Ahok tak jadi gubernur dan digantikan Anies Baswedan, muncul hawa segar lagi, minimal mereka bisa beroperasi kembali di sekitar destinasi wisata Monumen Nasional, Jakarta Pusat, meskipun hanya di bagian luar saja.

Hasan mengaku pernah ngobrol langsung dengan Anies Baswedan untuk membicarakan nasib delman.

“Pas Anies boleh, cuma di luar. Tapi dah ada hubungan omongan kita buat masuk ke dalam lagi. Cuma kata Pak Anies dia lagi sibuk. Kalau lagi senggang kita ngobrol di Balai Kota ya Pak Hasan. Gitu kata dia,” kata dia.

Hasan memuji era Sutiyoso. Zaman itu, pemerintah sering melibatkan delman dalam acara-acara resmi, seperti pawai. Di situlah biasanya sektiar 500 delman kumpul dan merasakan kegembiraan bersama keliling kawasan sekitar Balai Kota mengikuti mobil hias.

“Banyak, bisa 300, 400, 500 kuda di depan Balai Kota, kita muter-muter ikutin mobil hias,” jawab dia.

Pada masa itu, delman masih dijadikan sebagai moda transportasi umum oleh sebagian masyarakat yang ingin pergi ke Pasar Tanah Abang atau Pasar Ikan.

“Kalau sekarang mah dah banyak ojek. Jadi antisipasinya cari pelanggan di Kota Tua, Ragunan, Monas, ya buat wisata aja,” kata dia.

Hasan masih ingat ketika dulu delman dilarang beroperasi di jalan-jalan utama Ibu Kota. Alasan pemerintah, kuda-kudanya kebanyakan tidak terawat dengan baik sehingga menimbulkan bau dan kotor.

“Dulu alesannya bau, kotor. Tapi sekarang kan ada dokter juga, dikasih obat supaya gak bau,” kata dia.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Sekarang, Hasan masih menunggu kebijakan Anies Baswedan. Permintaannya tak muluk-muluk, dia ingin delman dapat kembali beroperasi di pelataran Monumen Nasional seperti dulu.

“Karena itu janji Pak Anies gitu, katanya bisa dibicarakan lagi. Cuma waktu dia katanya lagi sibuk. Gatau sibuk apa,” kata dia.

Dia melihat Anies Baswedan punya keseriusan untuk merealisasikan janji. Dia teringat suatu hari pernah diberi nomor telepon salah satu ajudan Anies Baswedan.

“Waktu itu sempet dikasih kartu nomer HP ajudannya Pak Anies. Ketemu dia pake motor vespa si Pak Anies, pada nggak tahu kalau itu Pak Anies. Katanya jadi kalau ada dishub atau kepolisan usir-usir ini nomer saya. Mungkin dah pada tahu sekarang jadi pada gak usir lagi. Dulu mah sering banget polisi, Pol PP, dishubnya, kita disuruh jalan ga boleh berhenti.”

***

Hari itu, Ketua Persatuan Perjuangan Delman Betawi Nanang sedang memonitor kawan-kawan kusir delman di kawasan Joglo. Saya mewancarainya di tempat nongkrong anak-anak muda daerah setempat, sore itu.

“PPDB sendiri itu ada 740 anggota. Itu se-DKI Jakarta,” kata Nanang yang ketika itu memakai kaus motif garis-garis.

Meskipun namanya membawa nama Betawi, PPDB sebenarnya organisasi yang terbuka. Anggotanya terdiri dari sais yang berasal dari berbagai daerah. Menjadi anggota persatuan ini syaratnya harus berdomisili di Jakarta.

“Kita hanya yang KTP DKI. Dari daerah banyak emang, tapi yang domisili Jakarta dan menetap di Jakarta udah lama.”

Ketua Persatuan Perjuangan Delman Betawi, Nanang. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Di Jakarta Barat sendiri anggota yang terdaftar ada 200 kuda. Pemilik-pemilik semua sudah kita data.”

Meskipun usaha delman sekarang sedang diuji, Nanang mengatakan tidak pernah mendengar keluhan dari kusir mengenai sepinya pelanggan. Justru, di kalangan kusir delman hal yang dikeluhkan adalah soal peraturan yang dibuat pemerintah daerah. Kata Nanang, peraturan tersebut masih tidak pasti.

“Untuk mengeluh pelanggan sepi apa namanya ya udah pasang surut. Tapi buat peraturan emang buat DKI ini masih simpang siur. Karena di Monas kita mangkal di pinggir jalan. Kita di pinggir jalan penumpang pada nanya kenapa delman gak di dalam aja, kan lebih aman di dalam,” kata dia.

“Tapi kan kita balikin ke pemerintahnya, selama ini pemerintah belum ada keputusan kita beroperasi di Monas seperti dulu.”

Kalau membahas soal jaminan kesejahteraan, rupanya nama Sutiyoso benar-benar terpatri di benak para sais. Para sais merasa di era Sutiyoso usaha delman menjadi seperti anak emas. Delman mendapatkan banyak perhatian.

Kata Nanang, Sutiyoso sering melibatkan sais delman untuk acara-acara pemerintah. Nanang teringat akhir masa jabatan Sutiyoso, gubernur periode 6 Oktober 1997 sampai 7 Oktober 2007 itu menumpang delman.

“Masih gubernur Pak Sutiyoso. Sutiyoso jadi gubernur kehidupan tukang dan delman sangat diperhatikan, khususnya kebutuhan kudanya. Kita dulu tampat cari nafkahnya ya dalam Monas,” ujarnya.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

“Suyitoso setiap tahun itu selalu pakai 100 delman untuk dipawai ke HI. Dihias segala rupa. Tapi ke sininya tak ada. Sekarang udah delman biasa aja udah, dipake pawai biasa, buat hiburan. Pas Sutiyoso, delman setiap tahunnya dipake buat abang none, ultah Jakarta, pokoknya selalu dilibatkan.”

Zaman Fauzi Bowo berubah total. Menurut Nanang delman yang tadinya seperti anak emas, berubah menjadi ibarat anak tiri. Delman sering dirazia Satuan Polisi Pamong Praja. Peristiwa ketika delman ditabrak mobil petugas terjadi pada era itu.

“Masih zaman Foke, kita seperti dimusuhin sama Satpol PP. Delman ada yang ditabrak mobil Satpol PP, terus kudanya ada yang luka. Ada juga kuda yang mati. Namanya juga kita pas kejadian itu agak gak baik sama delman pas Foke itu. Jadi gak bebas. Kacau pas zaman Foke ditutup total,” kata Nanang.

“Abis Pak Sutiyoso lengser, delman abis itu dimusuhlah. Ada yang suka ada yang nggak. Yang nggak, delman dilarang total. Di wilayah Monas pun dilarang total.”

“Terus Jokowi jadi gubernur dia peduli dengan delman. Jokowi lengser naik Ahok dibabat abis lagi dah tuh.”

Kandang kuda di Kemanggisan, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Dia ingat betul ketika Ahok masih menjabat. Kuda delman dilarang beroperasi di kawasan Monumen Nasional karena dianggap sebagai penyebar virus mematikan.

“Alasan virus mematikan hanya dengan lewat sentuhan. Jadi lewat sentuhan manusia akan mati. Tapi sampe sekarang kan gak ada kasusnya, solusi dari mereka juga gak ada. Kayak saya sendiri aja sehat walafiat,” tuturnya.

Setelah muncul statement kuda delman sebagai biang penyakit, suatu hari, kusir dikumpulkan di tengah Monumen Nasional. Mereka dikumpulkan karena petugas kesehatan ingin mengambil sampel darah kuda-kuda delman yang selama ini berseliweran di destinasi kebanggaan Tanah Air.

“Beliau keluarin statement kuda berpenyakit, terus kita dikumpulin ke dalam Monas, dan satu persatu delman diambil darahnya untuk sampel. Ketika dapat hasil dua minggulah, dari 32 kuda diperiksa, 29 ekor terjangkit virus mematikan. Tapi kita gak tahu kuda mana yang terjangkit. Gak dikasih tahu sama mereka,” katanya.

Pada waktu itu terjadi polemik dan masuk ranah politik segala. Anggota DPRD Jakarta Sereida Tambunan membela para kusir. Sereida, kata Nanang, sampai datang ke kandang kuda dengan mengajak dua anak. Tujuannya, ingin mematahkan statement bahwa kuda mengandung virus mematikan.

“Kita sempat dibantu sama Ibu Sereida Tambunan dari Fraksi PDIP. Beliau turun sendiri ke kandang. Bener gak sih virus mematikan yang ada di kuda. Dia bawa dua anaknya, terus suruh nyoba. Tapi ya bu Sereida Tambunan pun naikin anaknya alhamdulillah sampe sekarang sehat walafiat,” tuturnya.

Kandang kuda di Kemanggisan, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Jadi untuk itu kita difitnah, kita dijatuhkan dengan pihak yang gak suka ada kuda di Monas.”

Akibatnya, delman pada masa itu sering diusir Satuan Polisi Pamong Praja dari Monumen Nasional.

“Dilarang mangkal, katanya ini bukan pangkalan delman.”

“Padahal sebelum Asian Gemes itu, pak wali kota Jakarta Pusat waktu itu bilang karena ini perintah gubernur, delman bisa kembali ke Monas. Tapi karena ada Asian Games kita gak boleh ada di sekitar Monas. Kita ikuti aturan, dua bulan kita gak narik,” ujarnya.

Solusi yang ditawarkan pemerintah ketika itu pindah ke sekitar Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan. Masalahnya, di tempat wisata itu sudah terdapat puluhan delman yang lebih dulu beroperasi.

“Iya kota coba dialihkan dulu ke Ragunan, tapi Ragunan memuat kapasitas delman itu udah ada. Orang-orang yang menetap narik di Ragunan dah ada, dah ada 40 delman di sana. Sabtu Minggu parkiran penuh, terus kadang mereka dioper ke dalem, keberadaan delman disana nanti jadi keganggu.”

“Jadi ditawarkan untuk ke Ragunan kita menolak, dalem arti jarak temunya juga jauh. Udah ada delman, kita ada juga yang nggak narik.”

Ketua Persatuan Perjuangan Delman Betawi, Nanang. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sampai akhirnya Ahok kalah di pemilu kepala daerah dan digantikan Anies Baswedan. Penarik delman mulai lega.

“Naiklah Pak Anies, alhamdulillah delman balik lagi ke wilayah Monas, meski gak di dalem.”

Delman meskipun zaman terus berubah, keberadaan mereka tetap ditunggu masyarakat. Kendaraan ini memiliki pasar sendiri.

“Jadi kalau dibilang orang-orang sekarang jarang dipake itu agak sedikit salah. Bukan membela delman, tapi gini, setiap ada sunatan atau Agustusan, delman selalu dipake untuk pawai. Saya sendiripun kalau Agustusan ada empat sekolahan. Biasanya tanggal 16,17,18 ada 15-20 delman dan itu tiap tahun rutin. Bulan-bulan sunat rame, delman juga banyak yang dipake pawai, arak-arakan.”

“Tapi kan kembali lagi pemakaiannya, hanya di waktu-waktu tertentu aja, kaya sunatan, pawai agustusan.”

“Pokoknya kita gak ada masalah soal pelanggan. Kalau delman kan dulu kayak khusus pribadi, tapi sekarang delman wisata aja. Misal kaya dulu di Ulujami, Palmerah, Kebayoran ada delman, tapi sekarang karena ada angkot, bajaj, ya jadi sedikit-sedikit mundur. Penerus-penurus muda ini kan males kalau ke pasar juga, jadi narik aja di perkampungan. Jadi keliatan sepi, padahal mah nggak, pindah fungsi aja.”

PPDB dibantu oleh Relawan Penggerak Jakarta Baru. RPJB , kata Nanang, menjadi jembatan komunikasi antara PPDB dan pemerintah.

“Kita dijembatani oleh mereka. Aspirasi kita sampaikan ke dia, dia yang sampaikan ke pemerintah. Tapi PPDB juga resmi, kita ada notarisnya, ada payung hukumnya,” kata Nanang, kusir sejak 1991.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Beberapa waktu yang lalu, mereka membuat perjanjian dengan Dinas Pariwisata. Delman beroperasi di area luar Monumen Nasional hanya pada akhir pekan dan hari libur nasional.

“Kita juga sempat buat perjanjian sama dinas parawisata. Kita hanya minta waktu Sabtu Minggu plus hari libur nasional. Paling itu aja. Hari biasa jadi kadang kosong. Cuma misal ada yang mau narik ya narik aja di komplek atau tempat hiburan. Kita perjanjian sama dinas parawisata juga ibarat kita siap dibina tapi tidak siap dibinasakan.”

Nanang dan sejumlah sais sebenarnya menaruh curiga kenapa delman tak boleh masuk Monumen Nasional. Di dalam kawasan wisata itu, sekarang sudah ada kereta-keretaan. Kereta tersebut mayoritas berwarna merah dan oranye.

“Yang kalau kita bilang itu ada sebenarnya ada kepentingan bisnis. Sekarang kan di Monas ada kereta-keretaan buat ngiter. Mereka masuk, jadi delman diusir karena itu. kalau delman gak ada pemasukan untuk pemerintah. Kalau kereta-keretaan ya itu persaingan bisnis,” kata dia.

“Dulu gratis seinget saya, sekarang kan bayar. Itu punya swasta. 2007 Delman dikelurkan dari Monas. Pak Muhayat Walikota Jakpus waktu itu kalau nggak salah dulu bilangnya awalnya larangan sementara karena ada renovasi jalan dan taman. Nah 2007 setelah itu tidak ada titik jelas.”

Sebagai orang yang kerap mendengar keluhan dari para kusir delman, Nanang berharap pemerintah tak hanya peduli pada delman ketika ada acara saja. Jika memang para kusir tak paham, ajarkanlah.

“Pemerintah jangan cuma peduli ama kita pas ada acara aja. Kayak Asian Games, kalau udah selesai acara bodo amat. Nanti kalau ada pergerakan ama delman, dibuatlah seolah-olah delman ada masalah inilah.

Kalau pemerintah mau bantu ya kita ayo, saya tadi bilang kita siap dibina, tapi tak siap dibinasakan. Kalau mau kuda kesehatan ya ayo kita dukung. Kalau ada niatan buat binasakan delman-delman kita siap perang. Karena ini budaya harus dilestarikan bukan dimusuhin. Rangkul lah kita. Lalu kurang mengerti ya ajarkan. Bukan dimusuhi.” []

Baca juga:

Tulisan 1: Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Tulisan 3: Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Tulisan 4: Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Tulisan 5: Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Tulisan 6: Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

komentar

Image

1 komentar

Image
Resta Apriatami

miris bgt. ini rakyat kalian loh pemerintah, kenapa malah mau disingkirkan dan digantikan sama urusan 'bisnis' yang cuma menguntungkan penguasa. LIHAT RAKYAT KALIAN

terkini

Image
News

Sambil Ngabuburit, Ansor-Banser Probolinggo Bagikan Ribuan Nasi Kotak untuk Duafa

Image
News

Polri Periksa 41 Tersangka Ricuh 22 Mei Diduga Berafiliasi Dengan Isis

"Sampai dengan hari ini masih 41 tersangka yang sedang dimintai keterangan aparat,"

Image
News

KPU Pelajari Pokok Permohonan Seluruh Gugatan Sengketa Pemilu ke MK

KPU akan mempelajari pokok-pokok permohonan pemohon untuk memastikan di mana locus persoalan dan apa substansi yang dimohonkan,"

Image
News

Pengamat: Kerusuhan 22 Mei Agar Jadi Momentum Perubahan Kultur Politik

"Peristiwa ini harus menjadi edukasi politik kita bahwa apapun kontestasi politik di Indonesia, jangan dibangun dengan budaya kekerasan,"

Image
News

Prabowo-Sandiaga Akan Hadir di Sidang Perdana Gugatan di MK

"Pak Prabowo dan Pak Sandiaga akan hadir di sidang perdana di MK pada tanggal 14 Juni mendatang,"

Image
News

BPBD Sumut: Warga Desa Terdampak Erupsi Sinabung Segera Dipulangkan

"Kedua Desa yang dikembalikan itu, yakni Desa Simpang Empat dan Desa Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara,"

Image
News

BPN Telah Siapkan Saksi Fakta dan Ahli dalam Sidang Gugatan di MK

"Saksi fakta sudah kami siapkan, untuk saksi ahli ada beberapa yang sudah kami hubungi,"

Image
News

Perlancar Arus Mudik, Jalur Lintas Tengah Sumatera Tapsel Diperbaiki

Ruas jalan cukup parah akibat pergerakan tanah ini ditimbun material bebatuan campur pasir lalu digilas menggunakan alat berat.

Image
News

MUI dan Ormas Batang Kutuk Kasus Kerusuhan Jakarta

"Oleh karena, kami mendukung aparat Tentara Nasional Indonesia dan Polri untuk menjaga keamanan dan menyelesaikan yang belum selesai,"

Image
News

PUPR Diminta Pastikan Tak Ada Jalan Rusak Bekas Galian

"Jangan setelah digali kemudian ditinggal saja,"

trending topics

terpopuler

  1. Kapolrestabes Medan: Saya Tidak Mungkin Menyakiti Kalian, Tidak Mungkin!

  2. Mantan Hakim Sebut Narasi BW Soal MK Sangat Berbahaya Sekali

  3. Jenguk Ade Komarudin, Bamsoet: Aku Selalu Merasakan Getaran Semangatmu Sampai Kini Meski Kau Terbaring

  4. Kemungkinan PAN Gabung dengan Koalisi Indonesia Kerja Makin Besar

  5. Selalu Gagal dalam Berwirausaha? Begini Tipsnya Agar Sukses

  6. Menangkan Sepatu Emas UEFA, Messi Tambah Catatan Rekornya

  7. Terkejut Diundang ke Istana, Abdul Rajab Pinjam Batik Temannya

  8. Pakai Narkoba Sejak Usia 17 Tahun, Kuasa Hukum Harap Steve Emmanuel Direhabilitasi

  9. Perludem: Membuktikan Kecurangan yang TSM Bukan Hal yang Mudah

  10. Ferdinand Sambangi MK hingga Sopir Grab Singapura Dipenjara

fokus

Sudut Lain
Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Indonesia Terluka

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Wawancara

Image
Video

VIDEO Ketika Suara Azan Merubah Roger Danuarta

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Sosok

Image
Gaya Hidup

Selalu Gagal dalam Berwirausaha? Begini Tipsnya Agar Sukses

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Menakar Mata Uang Ala Ibnu Miskawaih

Image
News

5 Potret Rupawan Anggota Brimob Asli Manado yang Dikira Polisi China