image banner ramadan
Login / Sign Up

Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

Maidian Reviani

Angkutan Tempoe Doeloe

Image

Kendaraan wisata delman terlihat di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019). Keberadaan delman menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga yang tengah berwisata di kawasan Monas. Setiap pengunjung bisa berkeliling dengan mengitari jalan kawasan Monas hanya dengan membayar uang sewa delman mulai dari 60 ribu hingga 100 ribu rupiah. Namun delman ini hanya boleh ada setiap hari minggu atau libur nasional. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO Tulisan ini akan terdiri dari enam cerita. Ceritanya tentang alat transportasi umum Jakarta tempoe doeloe. Mulai dari delman, becak, dan sepeda. Sekarang kendaraan-kendaraan ini memang bukan lagi primadona. Tetapi pada masanya, menurut kesaksian para sais, abang becak, penarik ojek sepeda maupun warga yang pernah menggunakannya, keberadaan kendaraan itu amat penting bagi penduduk Ibu Kota. Bicara transportasi zaman sekarang, tentu tak bisa lepas dari rangkaian alat transportasi sebelum-sebelumnya yang sedikit banyak ikut membentuk budaya masyarakat. Di bagian akhir cerita, sejarawan Ridwan Saidi melalui interview khusus akan bicara tentang sejarah kendaraan umum masa lalu hingga menyinggung sedikit mass rapid transit yang kemarin diresmikan Presiden Joko Widodo.

***

Pada tahun 1950-an, delman menjadi salah satu angkutan umum yang banyak dipakai masyarakat Jakarta. Kendaraan tersebut beroperasi dari pagi sampai malam hari. 

baca juga:

Seiring perkembangan zaman yang ditandai dengan kemunculan kendaraan-kendaraan berbahan bakar minyak, mulai 1970-an terjadi penurunan jumlah delman. Semakin lama fungsinya pun berubah. Pada era kejayaan, delman menjadi alat transportasi umum primadona, belakangan tak lebih dari sarana hiburan. Itu pun hanya beroperasi di tempat-tempat tertentu.

“Dulu kan kendaraan sangat minim ya. Jadi, belanja ke pasar pakai delman. Ke tempat kerja juga. Kalau sekarang dipakai untuk rekreasi. Kalau sekarang lebih buat main-main aja. Bedanya sekarang sama dulu gitu. Dulu transportasi dari sana ke sini. Sekarang rekreasi,” kata sais bernama Ateng, Senin, 18 Maret 2019.

Delman merupakan kendaraan beroda dua yang ditarik seekor kuda. Satu buah delman biasanya dapat mengangkut lima orang: empat penumpang dan satu sais. Sais – kusir -- adalah istilah untuk menyebut orang yang mengendalikan delman.

Salah satu sais yang masih konsisten menekuni usaha delman bernama Ateng. Ateng pria berusia 64 tahun. Dia berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Ateng telah menjadi sais di tanah kelahirannya sejak kelas enam sekolah dasar. Itu 1970-an. Melihat peluang rezeki lebih besar di Ibu Kota, dia memutuskan merantau pada 1986. Tahun itu, jumlah delman di Ibu Kota masih sedikit karena sebenarnya keberadaannya tak dikehendaki pemerintah.

Kusir delman, Ateng. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Tahun 86 tuh pertama saya ke Roxy tuh, ada respon tuh anak-anak pada main. 86 tuh,” kata Ateng.

Tarif menumpang delman rata-rata Rp100. Tetapi sebenarnya tarif tergantung pula kesepakatan dengan penumpang dengan pertimbangan jarak tempuh.

“Pada waktu itu sehubungan dengan harga yang masih minim seratus perak, 30 ribu itu dah wow banget. Sekarang narik maksimallah Rp 200-350 ribulah,” ujarnya.

Pekerjaan sebagai penarik delman di Jakarta yang ditekuni pendatang asal Sukabumi itu lumayan sukses. Dia pun mengembangkan usaha. Dia ingat pernah sampai memiliki 11 kuda yang dibeli dari keuntungan sebagai penarik delman.

“Dulu pas masih di Mangga Besar zaman Soeharto, saya sampai bisa punya kuda 11 dari hasil narik,” Ateng mengenang.

Ketika saya temui di Jalan Palem Raya, Joglo, Jakarta Barat, Ateng sedang menyiapkan kuda dan perlengkapan untuk kembali melaju. Bagi dia, meskipun sekarang Jakarta memiliki rupa-rupa alat transportasi, hal itu tak terlalu mempengaruhi usaha delman. 

“Dulu (delman menjadi alat) transportasi dari sana ke sini. Sekarang (hanya) rekreasi. Gak berkurang meskipun jadi rekreasi.”

Dia justru menyebut peminat delman justru semakin banyak. Dia mengatakan sejarah delman berulang. Yang berbeda hanya tarifnya saja.

“Jadi sebenernya karena sejarah ini berulang, cuma pelaku dan waktunya aja yang berbeda. Dulu sama sekarang peminatnya sama, malah sekarang lebih meningkat lagi. Mungkin sehubung sama bosen kali sama yang modern, kali ya kali. Karena yang naik kadang yang punya mobil, ketimbang biasa. Jadi masih dikatakan gak ada perubahan malah lebih meningkat sekarang,” kata Ateng.

Kusir delman, Ateng. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Kebijakan pemerintah Jakarta meniadakan delman sebagai angkutan umum bagi sais seperti Ateng juga tidak terlalu merisaukan. Dia mengatakan wilayah Jakarta amat luas. Barangkali yang dimaksud dengan luas itu bahwa Jakarta terdiri dari tempat pemukiman, tempat perdagangan, tempat perkantoran, tempat wisata. Dengan demikian, tinggal pintar-pintar saja sais menempatkan diri untuk mencari peluang.

“Banyak alternatif kita. Ke gang ini, kan banyak yang respon menjawab untuk naik, asal kita diem juga dateng mereka. Gak ada kendala, gak ada mengurangi hasil. Malah setiap gang juga ada kita mau ada aja yang naik. Anak-anak naik tuh bisa 20-30 orang. Alhamdulillah untuk jawab dapur mah ketemu-ketemu aja,” ujarnya.

“Antisipasi, cari alternatif yang lain. Saya narik gak ada yang ngusir. Kayak di gang-gang, saya masuk aja ke sana kumpul. Sejam dua jam pulang gak seharian.”

Ateng bersyukur tetap bisa bertahan di tengah modernisasi. Dia masih dapat penghasilan yang cukup. Ateng juga sangat jarang mendengar keluhan dari teman-teman sesama sais mengenai kesulitan mendapatkan penumpang.

“Temen-temen alhamdulillah dia bertahan dengan kuda ini karena emang mungkin udah gak terlalu puyeng, minimal dapur kejawab ajalah. Gak ada yang bilang ke saya juga. Malah kaya ke CNI malam minggu malah dia yang lelah, karena kebanyakan pelanggannya. Kadang sampai jam 12 masih ada,” kata dia.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Ateng juga sais lainnya tetap berharap pemerintah Jakarta melestarikan delman karena kendaraan ini merupakan bagian dari sejarah transportasi Ibu Kota.

“Delman kan masuknya budaya ya. Ya istilahnya memelihara ya melestarikan budaya Jakarta juga. Delman budaya nasional karena gak cuma di Jakarta aja. Ada di Padang, banyak. Malah yang namanya budaya harus dilestarikan. Jangan sampe dipunahkan, mentang-mentang modern bukan jamanya. Itu kejam kalau gitu. Saya nanti beragumentasi,” ujarnya.

“Soal pembatasan (waktu operasional) saya nggak masalah, intinya cuma minta dilestarikan jangan sampai punah. Karena sehubungan dengan kata pemerintah juga kan budaya harus dilestarikan, jadi saya ikutin ya dengan cara merawat kuda. Saya mendukung program pemerintah walaupun (pemerintah) tidak sadar,” tuturnya sembari tertawa terbahak-bahak.

***

Siang itu ketika saya temui, Eman Sulaiman sedang melihat-lihat kudanya di kandang yang terletak di Jalan Palem Raya, Joglo, Jakarta Barat. Pria kelahiran 1951 itu juga pendatang dari Sukabumi, seperti Ateng.

Eman mulai menekuni pekerjaan sebagai sais sejak umur 15 tahun. Keterampilannya didapat dari orangtua. Pada 1985, dia memutuskan merantau ke Ibu Kota. Pemikirannya sama seperti Ateng, “rumput” Jakarta lebih hijau alias tak banyak delman sehingga peluang sukses lebih besar dibandingkan di tanah kelahiran.

“Pindah 85, pas masih zaman Soeharto. Pas udah umur 40-anlah. Sekarang 68 tahun. Udah lama juga. Udah kenyang saya ama pahit manisnya,” kata pemilik dua ekor kuda.

Kusir delman, Eman Sulaiman. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Pada awal-awal dia masuk Jakarta, jalan raya masih sepi dari kendaraan umum maupun kendaraan pribadi berbahan bakar minyak. Delman berseliweran di jalan-jalan, terutama daerah pinggiran kota. Waktu itu – meskipun sudah ada larangan -- delman masih tetap menjadi pilihan kendaraan bagi warga untuk bepergian atau rekreasi.

“Dulu ramai. Sehari bisa dapet banyak pokoknya pada antri. Sekarang karena banyak saingan, kayak odong-odong puter, mobil, dulu kan gak ada, pake delman doang,” ujarnya.

Pada 1980-an, harga sewa kendaraan rakyat itu tergolong murah meriah. Sekali jalan hanya Rp100, tetapi tergantung juga kesepakatan antara sais dan konsumen. Dia terkenang hanya dengan uang Rp100, sudah bisa membeli berbagai macam kebutuhan dasar hidup.

“Kalau sekarang paling cuma Rp100 ribu. Kalau sekarang Rp100 ribu aja dipotong buat makan kuda. Kuda aja 50 ribu sehari, kayak beli dedeknya (makanan kuda). Belom buat nenek-nenek (istri) di rumah. Ya dicukup-cukupin. Apa adanyalah,” kata dia.

Bagi dia tahun 1985-1990 atau zaman pemerintahan Soeharto menjadi periode emas bagi sais. Penghasilan besar, biaya hidup murah. Mengumpulkan modal untuk mengembangkan usaha terjamin.

Kusir delman, Eman Sulaiman. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Keemasan itu 85-90-lah. Dulu kebeli kuda narik cuma dua bulan pas zaman Soeharto. Masa itu keemasan bener dua bulan bisa kebeli,” katanya.

Dia membandingkan dengan keadaan sekarang – era reformasi. Sekarang, kumpulan tabungan dari narik delman selama dua tahun, belum tentu bisa membeli kuda baru yang bagus.

“Sekarang punya duit 10 juta pengin beli kuda, gak bisa. Meski punya utang dulu. Ya itu karena nilai duitnya sekarang beda,” kata dia.

“Pendapatan dan pelanggan dulu sama sekarang samalah, gak ada perubahan. Karena risikonya buat belanja. Misal duit gocap sekarang sampai kemana nyampenya.

Kalau dulu kan udah sampai mana jauh kali duit segitu.”

“Jadi bukan soal pelanggan, tapi soal uang segitu dulu bisa beli apa aja. Kan dibilang uang 50 ribu dikasih nenek-nenek (istri) dah mengeluh. Marah si nggak, apa adanya. Dikarenakan nenek dah tahu kehidupan di perkudaan.”

Jam terbang Eman sebagai penarik delman sudah lama. Hampir semua tikungan di Ibu Kota pernah dia jelajahi bersama kudanya. Sekarang, pria tua itu sudah merasa lelah.

“Udah jauh-jauh saya. Ke Tanjung Priok, Roxy, Duren tiga. Udah lama-lama juga. Dah lama engkong mah. Dah kenyanglah. Sekarang saya mah dah tua dah umur mah kan lain,” kata Eman yang tengah duduk di kayu pembatas kuda.

“Dulu mah dari sini ke Srengseng - Kelapa Dua aja disanggupin.”

“Sebetulnya bapak dah tua, dah males narik apa males, tapi kalau males mau beli rokok, ngopi, kasih duit nenek (istri) duit dari mana. Punya asam urat juga. Nenek juga bantu juga, nyuci gosok di rumah orang. Pulang sore,” kata Eman seraya mengatakan kalau dia pensiun, tentu tidak ada lagi yang memberi makan istri dan anak.

Delman di CNI, Kembangan, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sekarang ruang gerak delman amat terbatas kalau dibandingkan tahun 1980-an. Sekarang, kata dia, sudah begitu banyak moda transportasi. Posisinya bisa dikatakan terpinggirkan, tetapi sebenarnya jumlah pelanggan delman, tak jauh beda dengan dulu. Tetapi, kata Eman, nilai uang saja yang berubah.

“Dulu sampai sekarang gak ada perubahan, dari segi uangnya aja yang beda. Jadi begini neng. Satu, kontrakan masuk anaknya dua. Mundur ke kontarakan lain anaknya tiga. Kedua, dulu misal emaknya, sekarang anaknya. Gitu, jadi pelanggan kita nggak nentu, tapi ada terus kayak tadi engkong jabarin,” ujar Eman yang kini punya keluhan asam urat.

Banyak kasus kusir delman gulung tikar menurut padangan Eman bukan karena pelanggan. Tapi karena orang tersebut tak gesit.

“Kalau kita banyak malesnya mungkin gak kejawab dapur kita. Kalau kita mau itung pasti ada gede kecilnya pemasukan. Gulung tikar itu biasanya ya itu biasanya males.

Kalau kita orangtua kan mikir ya, jangan sampai putus. Ya gitu meski telaten kalau udah begini kan,” tuturnya.

“Kalau kita lebih dari dewasa, mau kita males atau gimana? Kalau hujan begini kan males. Cuma mikir besok hidup gimana. Ya mau gak mau. Kita kan gak bisa ngutang makan di warteg.”

“Ada nih orang baru punya duit 5 juta, terus istirahat narik. Terus udah ada duit segitu doang boros pula. Yaudah bisa gulung tikar,” kata dia.

***

Udin hendak memberi makan ayam-ayam peliharaannya ketika saya jumpai di kandang kuda yang berada di Jalan Palem Raya, Joglo, Jakarta Barat. Dia berasal dari Pandeglang, Provinsi Banten.

Kandang kuda milik Udin terletak di salah satu tempat yang waktu itu tertutup tumpukan karung dan kereta. Orang yang tak pernah datang ke sana mungkin tak menyangka, ternyata di balik tumpukan karung, hidup beberapa ekor kuda: sebagian sudah tua, sebagian berukuran besar, sebagian lagi berukuran lebih kecil.

Kuda-kuda yang dipelihara Udin mayoritas berwarna coklat. Di ujung kandang ketika itu terlihat kuda besar warna putih. Kami duduk di dekat kuda putih ketika ngobrol-ngobrol tentang usaha delman.

Sama seperti Ateng dan Eman, Udin dulu pertama-tama datang ke Ibu Kota untuk mengadu nasib menjadi penarik delman. Bedanya, dia memulai usaha dari membawa delman milik orang lain dengan sistem setoran.

Mantan kusir delman, Udin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sejak lima tahun yang lalu, pria berusia 70 tahun itu pensiun dari dunia tarik menarik delman. Empat ekor kudanya sekarang dipasrahkan kepada enam anaknya.

Dia bercerita, sewaktu delman masih banyak melintas di jalan raya Jakarta, dia biasa mangkal di sekitar BNI, Jakarta Barat. Seingatnya, tarif sewa delman ketika itu Rp50 per orang. Satu delman bisa membawa empat orang. Kalau sedang beruntung, sekali naik dia bisa mengantongi Rp200.

“Terus lama-lama saya tuh kebeli kuda ngumpulin dikit-dikit. Masih zaman murah, waktu itu beli kuda juga masih zaman 350 ribu sampai 2 juta,” kata Udin.

Sekitar 2004 atau 15 tahun silam, dia mangkal di sekitar Taman Margasatwa, Ragunan, Jakarta Selatan, tiap Sabtu dan Minggu atau hari dimana banyak wisatawan datang ke sana. Pada masa itu, tarifnya Rp6,5 ribu.

“Rp500 ribu-Rp800 ribu masih ketemulah,” kata dia.

Ketika kami sedang ngobrol, sesekali kuda putih di kandang bergerak mengejutkan sambil meringkik.

Mantan Kusir Delman, Udin. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Zaman sekarang, wilayah operasi delman amat terbatas karena semua jalan raya macet sudah ada angkutan umum berbahan bakar minyak yang melayani. Sedangkan kalau dulu ketika belum banyak angkot berseliweran, trayek delman bebas-bebas saja.

“Dulu enakan, dulu bebas dimana aja kita narik. Sekarang kan udah banyak saingan. Saingannya begini, kan dulu delman aja. Sekarang ada kopaja, ada ojek. Ada istilahnya odong-odong sekarang, dulu kan gak ada. Kendaraan masih sepi. Enakan yang dulu,” kata Udin.

Pelanggan Udin pada waktu itu orang-orang kerja. Berbeda dengan sekarang yang umumnya melayani anak-anak buat ngiter-ngiter perumahan.

“Kalau biasa tempat pangkalan dulu BNI, khusus orang kerja. Dari mana pengin ke kantor. Dulu kan gak ada mobil neng, masih jaman 50 perak,” kata dia.

“Kalau sekarang paling dipakai anak-anak buat muter-muter. Ya wisata lah sekarang lebih ke sana. Hiburan neng maksud saya.”

Udin juga merasakan seperti Eman, era Soeharto (1985-an) merupakan era keemasan bagi kendaraan delman. Zaman itu, delman sering pula disewa untuk kegiatan pawai. Dalam sehari, kalau musim pawai, dia bisa mengantongi Rp800 – Rp1.000.

“Era Soeharto. Pas zaman itu, model dipakai kayak pawai, itu masih zaman Soeharto masih jaya-jayanya. Kayak ke Blok M itu dulu saya sering. Istilahnya di Blok M apa sih kalau Agustusan. Kalau sekarang kan jarang,” tuturnya.

Kandang kuda di Joglo, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Sehari bisa narik dari jam 7 sampe empat sore dapet 800 perak. Alhamdulillah bisa ngempanin anaklah. Paling serebu (Rp1.000), jarang dapet dua ribu. Ada sih ada, kalau lagi ada rejeki mah. Neng mah belum ada kali,” tuturnya.

Setelah Soeharto lengser dari kursi presiden, seingat Udin sangat jarang ada sewa-sewa delman untuk pawai. Ketika Soeharto terjadi berbagai peristiwa kekerasan di negeri ini, disusul hantaman krisis ekonomi.

“Meredup pas Soeharto gak jabat lagi. Soeharto tuh dulu bener. Meredup juga saat itu kuda langsung mahal, segala mahal. Pas pembakaran yang dulu dimana-mana, tahun 98-99. Waktu Soeharto turun dari situ tuh, kuda mahal, semuanya mahallah pokoknya,” kata dia. 

Tahun 2000-an, delman tidak boleh beroperasi di sekitar destinasi wisata Monumen Nasional, Monas. Jenis kendaraan yang dulu dibuat oleh seorang Belanda bernama Deeleman (abad 19) itu oleh pemerintah Jakarta dianggap kendaraan yang tidak steril.

“Bangsa udah tahun 2000-an saya di Monas. Dan abis itu kagak boleh. Dikarenakan kebanyakan kuda pada kotor, jadi jorok. Joroknya di mana aja. Kaya misal kusir ngempanin kudanya sembarangan, jadi kotor. Tainya juga, yang ditadangin ya ditadangin, yang kagak ya kagak. Dulu banyak tai di pinggir jalan,” kata dia.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Meski sudah pensiun dari sais, Udin berharap pemerintah tetap melestarikan delman, misalnya memfasilitasi tempat yang layak. Selain itu, keberadaannya dilindungi. Dia berharap jangan biarkan delman tertatih-tatih sendirian.

“Penginnya ditempatin yang baik. Dulu juga baik, tidak boleh di Monas dialihkan ke Ragunan. Tapi kayak tempat ini nih, ini kan punya PT ya. Jadi kalau sewaktu-waktu mereka mau gunakan, ya kita meski angkat kaki,” kata dia.

Menurut Udin seiring perkembangan zaman, model delman sekarang sudah berubah.

“Delman ini kan khas Betawi ya, tapi diganti sama kretek (kereta) dan macem-macem transportasi. Dulu kan cuma delman. Khasnya diganti. Modelnya bukan delman lagi,” kata Udin.

Delman sekarang tersebar di sejumlah tempat. Sepengetahuannya, sekarang yang masih bertahan dan jumlahnya cukup banyak terdapat di CNI (Puri Kembangan), Osbon, Intercon. “Ya mencar, gak nempat lokasinya,” tuturnya.

***

Rabu, 30 April 2008, sedikitnya 50 kusir delman demonstrasi di Balai Kota Jakarta. Mereka sebelumnya beroperasi di destinasi wisata Monumen Nasional. Tapi kemudian mereka tidak boleh operasi lagi di sana karena alasan kesehatan kuda tidak terjamin. Puluhan sais minta pemerintah mencabut kembali aturan yang melarang delman beroperasi di sekitar Monumen Nasional.

Sais yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan Delman Betawi, siang itu, ditemui Asisten Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta Aurora Tambunan. Aurora menjelaskan pemerintah sedang mengkaji bagaimana menghilangkan atau mengurangi polusi udara dari bau kencing kuda yang dikeluhkan oleh pengunjung Monumen Nasional.

"Ada survei terakhir, bau kencing kuda sangat mengganggu. Ternyata Monas nggak sama seperti yang dulu. Kalau dulu serapannya langsung ke tanah, sekarang tanah Monas telah mengalami pengerasan, jadi air kencing kuda tidak langsung diserap tanah. Dan kalau menguap baunya sangat menyengat. Banyak keluhan dari masyarakat yang berolah raga di sana, yang merupakan masyarakat Jakarta juga," kata Aurora sebagaimana laporan Lembaga Kantor Berita Antara.

Kajian yang dilakukan Dinas Peternakan Jakarta meliputi apakah bisa mengurangi polusi bau dari kencing kuda misalnya dengan memberikan pakan khusus, namun kajian itu juga belum selesai (ketika itu). "Kita cari solusi yang lebih baik, tetapi sebelum ditemukan, tolong aturan (larangan beroperasi) itu diperhatikan," kata Aurora.

Kandang kuda di Joglo, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Munadi kelahiran 1964 dan istrinya, Maswanih, kelahiran 1970, merupakan warga asli Betawi. Mereka sekarang tinggal di Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Mereka setuju dengan kebijakan mengatur delman, terutama perihal kesehatan.

“Soalnya gini, delman itu kan kadang tainya suka berserakan, itu yang akhirnya bikin mereka dibatesin untuk nggak kotorin jalanan. Jadi kalau dilarang misal meski disini aja nariknya, jangan di situ, ya wajar. Apalagi kayak Monas ya emang meski dirawat gitu lingkungannya,” kata Munadi.

“Tapi kalau dilarang (dibatasi) karena kebersihan atau kesehatan sih setuju sama pemerintah. Kan demi kebaikan sama-sama,” Maswanih menambahkan.

Yang terpenting dalam mengatur delman, kata Munadi, cara aparat pemerintah mensosialisaikan kebijakan kepada para sais diperbaiki agar tak menimbulkan friksi-friksi. Jangan lagi mengatur rakyat kecil yang sedang menekuni usaha dilakukan dengan cara kasar.

“Ya kalau emang dibatesin, ya ngomong aja, tapi yang baik-baik. Jangan kasar, kan delman budaya betawi, lestarikan, jangan kalau misal kaga boleh di sini, terus Satpol PP atau apa gitu petugas ngebentak kan kasihan, gak ada mereka Jakarta budaya Betawi yang mau dipamerin apa lagi di tengah kota begini,” tutur Munadi.

Pasangan suami istri itu merupakan warga yang dulu pernah menjadi saksi ketika delman masih berseliweran di jalanan Jakarta. Munadi yang keturunan Betawi Kembangan, Jakarta Barat, tidak terlalu ingat rincian peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Dia hanya ingat beberapa bagian dari pengalaman masa kecil.

Munadi kecil sering diajak orangtua naik delman untuk jalan-jalan atau sesekali untuk pergi ke sekolah. Fungsi lain delman pada masa lalu, kata dia, untuk mengantar ibu rumah tangga belanja ke pasar.

“Tapi pas zaman saya mah lama kelamaan udah buat hiburan aja,” kata dia.

Rumah orangtua Munadi persis di tepi jalan. Hampir saban hari, dia melihat delman melintas. Bagi anak-anak kecil, ketika delman lewat menjadi hiburan tersendiri. Tanda kalau delman sedang lewat biasanya terdengar suara khas.

“Jadi kalau ada suara klutuk-klutuk udah tuh langsung wah ada kuda, lari ke depan rumah,” kata Munadi.

Maswanih kecil juga begitu. Dia kerap melihat delman lalu lalang di sekitar tempat tinggalnya. Dia biasanya naik delman bareng adik. Adiknya berjumlah lima orang.

“Dulu dikasih duit nih ama emak buat naik delman, ajak adeknya main. Jadi minta ama abangnya muter-muter kita. Di daerah Meruya dulu banyak delman,” kata dia.

Munadi dan Mawanih tidak ingat ongkos naik kendaraan rakyat itu. Seingatnya bayarnya masih perakan, meski begitu untuk ukuran keluarga mereka tergolong lumayan besar.

“Murah pokoknya dulu kalau dibandingkan sekarang mah. Tapi bagi saya dulu itu lumayan, karena emak baba (babe) kan kerjaan juga gitu aja. Ya kita pas-pasan dulu, cuma ya masih bisa sedikit-sedikit kalau buat nyenengin anak dulu emak baba mah,” ujarnya.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Ketika delman masih menjadi angkutan umum atau sebelum terdesak angkutan berbahan bakar minyak, kata Maswanih, udara Jakarta segar sekali. Jalan raya pun tidak semrawut. Berbeda dengan sekarang, Jakarta panas dan penuh polusi udara.

“Naek kuda dulu tuh seru. Apalagi Jakarta kaga kayak gini nih dulu, sekarang polusi dimana-mana, orang pada pake masker kan sekarang. Dulu naik kuda enak, jalanan seger aja sepoy-sepoy,” ujarnya.

Munadi seperti bernostalgia kembali ketika bicara topik delman. Dia ingat, waktu masih kecil, suka suka duduk di sebelah sais.

“Saya dulu demen kalau naik delman duduk samping kusir. Kadang berebutan sama temen apa sama adek juga, saya kan anak kedua dari 13 bersaudara,” kata Munadi.

Sekarang, Maswanih sudah tidak menggunakan delman sebagai angkutan umum. Tapi dia sekali-sekali masih naik delman untuk menghibur salah satu putrinya yang masih berusia empat tahun ketika sedang ngambek. Setiap naik delman, dia selalu teringat masa-masa dulu.

“Naik sendiri juga ngapain bisa dikata orang lagi galau apa gimana. Cuma saya punya anak masih kecil umur empat tahun. Jadi kalau dia naek delman, mau kagak mau ya ikut naek. Terus pas naek, ya itu inget dulu sama adek saya gimana. Gitu,” kata dia.

Munadi menambahkan tujuan lain mengajak anaknya naik delman sekaligus ingin mengenalkan rangkaian sejarah Jakarta bahwa kota ini pernah punya angkutan umum yang namanya delman.

“Iya anak masih kecil, sering minta naik kuda. Mau kagak mau ya kita turutin. Sembari ajarin juga nih budaya Betawi nih,” kata Munadi.

Di Jakarta Barat, delman masih bisa ditemukan di sekitar CNI dan Intercon. Biasanya, delman mulai operasi pada sore hari.

“Selain di Monas, ada di Daan Mogot di Patung Gajah, tapi adanya Minggu pagi. Terus di Regency, dia Minggu pagi. Di Bintaro juga ada, tapi Minggu juga. Kemanggisan, Joglo, Intercon, Kembangan, Taman Palem tapi ada bangsa 15 ekor. Tapi paling banyak itu di Kemanggisan dan Joglo,” kata Ketua Persatuan Perjuangan Delman Betawi Nanang.

***

Kamis, 26 September 2013, Lembaga Kantor Berita Antara melaporkan sekitar 30 sais delman yang tergabung dalam Persatuan Perjuangan Delman Betawi kembali demonstrasi di depan Balai Kota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ketika itu, Jakarta dipimpin Joko Widodo yang sekarang menjadi Presiden.

Mereka menuntut Jokowi melegalkan operasional delman di sekitar Monumen Nasional. “Secara jelas, Pak Jokowi sudah pernah menyatakan bahwa keberadaan delman di kawasan Monas itu dilegalkan, asalkan tidak sampai mengganggu," kata juru bicara Relawan Penggerak Jakarta Baru Roni.

LKBN Antara menulis pengesahan itu penting agar para kusir jangan lagi ditegur Satuan Polisi Pamong Praja di Monumen Nasional. "Mereka menanyakan surat legal dari Pak Gubernur yang mengizinkan kami untuk beroperasi di Monas. Padahal Pak Jokowi sudah pernah mengizinkan secara lisan," ujar Roni.

Para sais meminta Jokowi mencabut Surat Keputusan Wali Kota Jakarta Pusat Nomor 011/754 Tahun 2007 tentang pelarangan sementara operasi delman di area Monas agar keberadaan delman di Monumen Nasional aman. Kusir-kusir delman itu juga meminta pemerintah daerah menjadikan delman sebagai perangkat penting bagi pelestarian kebudayaan Betawi.

Delman di CNI, Kembangan, Jakarta Barat. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Warga asal Meruya Selatan, Jakarta Barat, Nur Irma, setuju dengan aturan pembatasan delman, terutama karena masalah kesehatan.

“Meski orang Betawi ya saya dek, saya rada setuju kalau delman dikasih peraturan kayak gitu. Soalnya sekarang kan orang pada maunya cepet sampe tujuan, transportasi cepet di Jakarta serba ada sekarang. Jadi emang delman kalau rada dipinggrikan kalau kata saya mah wajar aja,” kata dia.

“Saya bilang gini bukan kagak mau lestarikan budaya Betawi, tapi emang kadang tai kuda tuh ngambrak dimana-mana. Bikin bau, bikin kotor.”

“Saya malah seneng lihat delman taratur nih di sini semua. Soalnya apa ya, buat mereka juga sih. Kayak kalau tempat-tempat hiburan model CNI begini pelanggannya pasti banyak. Kalau dah di tengah-tengah kota orang kan lebih demenan naik mobil apa motor gitu.”

Saya menemui Nur Irma ketika dia baru turun dari delman yang berhenti di CNI, Puri Kembangan. Dia baru saja menyewa jasa delman untuk jalan-jalan bersama dua anak lelakinya di sekitar Puri Indah Mall. Ongkosnya Rp25 ribu.

“Ini sebenernya saya nemenin anak aja sih. Sering kemari, apalagi kalau malem minggu gitu asik. Cuma sekarang ini bocah ngambek minta naik kuda tadi, biar aman jadi saya ikutan naik buat jagain di belakang gitu,” kata warga asli Betawi Meruya.

Kehidupan masyarakat Jakarta tak lengkap kalau tidak mengenal sejarah transportasinya. Itu sebabnya, Nur Irma setuju keberadaan delman tetap dilestarikan, tetapi zona operasionalnya diatur.

“Ya bagus ini bagian dari lestarikan budaya. Biar sekarang mahal, dulu kalau gak salah mah masih murah, kalau berapanya lupa tapi murah pokoknya, tapi masih sama aja enaknya. Bedanya cuma dulu kan jalanan masih sepi, sekarang ramai,” tuturnya.

“Sekarang juga yang penting anak seneng. Kita bisa kenalin juga kan ama budayanya sendiri. Kalau kata emak saya ya, anak tuh dari kecil kenalin sama budaya sendiri,” kata dia.

Selain di CNI, jika libur, Nur Irma juga kerap mengajak keluarga naik delman di destinasi wisata Monumen Nasional.

“Saya tipikal demen ngajak anak jalan kalau libur. Pernah ke Monas naik delman juga pernah.”

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Warga bernama Dedek ketika saya temui di CNI tengah bersama putrinya yang berusia lima tahun. Mereka baru saja naik delman.

Menurut dia sebaiknya pemerintah tidak perlu melarang operasional delman karena kendaraan ini merupakan bagian dari sejarah Jakarta.

“Saya sih kalau boleh saran ya gak usah dilarang ini itu. Ini kan budaya Jakarta ya, ikon Jakarta. Meski bukan orang Jakarta asli, saya kalau naik delman seneng gitu. Jangan sampai malah pemerintahnya sendiri yang batesin,” tururnya.

“Ya rangkul aja kusir delman kalau emang ada kendala atau masalah apa gitu kak. Gak perlu dilarang gak perlu, karena ini mata pencarian orang juga.”

Secercah harapan bagi kelangsungan usaha delman disampaikan Anies Baswedan ketika masih kampanye sebagai calon gubernur Jakarta Anies Baswedan. Tepatnya di Kelurahan Pasar Manggis, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa, 15 November 2016, Anies Baswedan dan istri kampanye naik delman dari Jalan Menteng Wadas Utara Dalam ke Jalan Menteng Atas Dalam.

"Kita ingin ciri khas kebudayaan Betawi mendapat tempat di Jakarta," kata Anies Baswedan ketika ditanya alasan menggunakan delman.

Menurut laporan LKBN Antara ketika itu Anies Baswedan mengatakan banyak kota besar di dunia masih berusaha mencari tradisi dan ciri khas wilayahnya. Sementara Jakarta, menurut dia, sudah memiliki berbagai warisan tradisi, salah satunya delman, yang harus dilestarikan sebagai bagian dari budaya Betawi.

"Memang delman berkaitan dengan komponen keselamatan, kenyamanan, dan kebersihan. Tetapi itu semua bisa ditangani bila ada kemauan untuk memberi ruang bagi ekspresi budaya," kata Anies Baswedan. []

Baca juga:

Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Tulisan 3: Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Tulisan 4: Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Tulisan 5: Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Tulisan 6: Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Korban Aksi 22 Mei Bisa Minta Perlindungan LPSK jika Dirugikan

LPSK juga dapat memberikan perlindungan restitusi bagi korban yang merasa dirugikan dalam aksi 22 Me.

Image
News

Ubah Cara Pandang Masyarakat Soal Perempuan Mampu Kurangi Kasus Kekerasan Seksual

Disebut mampu berdampak signifikan.

Image
News

Berbagi di Bulan Suci, TK Casa Cendekia Gelar Bukber dan Santuni Anak Yatim

Menurut Dina, Ramadan bukan hanya momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi juga demi meningkatkan hubungan sosial.

Image
News

Polri Bentuk TPF Usut Kematian Anak-anak saat Aksi 22 Mei

TPF tersebut akan memulai pekerjaannya pada Senin (27/52019).

Image
News

Sambil Ngabuburit, Ansor-Banser Probolinggo Bagikan Ribuan Nasi Kotak untuk Duafa

Image
News

Polri Periksa 41 Tersangka Ricuh 22 Mei Diduga Berafiliasi Dengan Isis

"Sampai dengan hari ini masih 41 tersangka yang sedang dimintai keterangan aparat,"

Image
News

KPU Pelajari Pokok Permohonan Seluruh Gugatan Sengketa Pemilu ke MK

KPU akan mempelajari pokok-pokok permohonan pemohon untuk memastikan di mana locus persoalan dan apa substansi yang dimohonkan,"

Image
News

Pengamat: Kerusuhan 22 Mei Agar Jadi Momentum Perubahan Kultur Politik

"Peristiwa ini harus menjadi edukasi politik kita bahwa apapun kontestasi politik di Indonesia, jangan dibangun dengan budaya kekerasan,"

Image
News

Prabowo-Sandiaga Akan Hadir di Sidang Perdana Gugatan di MK

"Pak Prabowo dan Pak Sandiaga akan hadir di sidang perdana di MK pada tanggal 14 Juni mendatang,"

Image
News

BPBD Sumut: Warga Desa Terdampak Erupsi Sinabung Segera Dipulangkan

"Kedua Desa yang dikembalikan itu, yakni Desa Simpang Empat dan Desa Tiganderket, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara,"

trending topics

terpopuler

  1. Kapolrestabes Medan: Saya Tidak Mungkin Menyakiti Kalian, Tidak Mungkin!

  2. Mantan Hakim Sebut Narasi BW Soal MK Sangat Berbahaya Sekali

  3. Jenguk Ade Komarudin, Bamsoet: Aku Selalu Merasakan Getaran Semangatmu Sampai Kini Meski Kau Terbaring

  4. Kemungkinan PAN Gabung dengan Koalisi Indonesia Kerja Makin Besar

  5. Selalu Gagal dalam Berwirausaha? Begini Tipsnya Agar Sukses

  6. Menangkan Sepatu Emas UEFA, Messi Tambah Catatan Rekornya

  7. Terkejut Diundang ke Istana, Abdul Rajab Pinjam Batik Temannya

  8. Pakai Narkoba Sejak Usia 17 Tahun, Kuasa Hukum Harap Steve Emmanuel Direhabilitasi

  9. Perludem: Membuktikan Kecurangan yang TSM Bukan Hal yang Mudah

  10. Ferdinand Sambangi MK hingga Sopir Grab Singapura Dipenjara

fokus

Sudut Lain
Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Indonesia Terluka

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Wawancara

Image
Video

VIDEO Ketika Suara Azan Merubah Roger Danuarta

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Sosok

Image
Gaya Hidup

Selalu Gagal dalam Berwirausaha? Begini Tipsnya Agar Sukses

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Menakar Mata Uang Ala Ibnu Miskawaih

Image
News

5 Potret Rupawan Anggota Brimob Asli Manado yang Dikira Polisi China