image
Login / Sign Up

Mimpi Trump dan Tugas The Fed, yang Saling 'Bertabrakan'

Wayan Adhi Mahardika

Indepth

Image

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (belakang) dan Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell. | REUTERS/CARLOS BARRIA

AKURAT.CO Dalam masa kepemimpinan rezim Republik di Amerika Serikat, tampaknya Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan The Fed (Federal Reserve) mengalami kontradiktif antara satu sama lain dalam membaca situasi ekonomi negaranya sendiri. Trump sendiri selalu menyalahkan Federal Reserve karena menempatkan ekonomi AS dalam risiko, namun data The Fed menunjukkan ekonomi dalam kondisi "cukup baik".

Memang langkah tak seirama antara Trump dan The Fed sangat membingungkan, namun Trump memiliki alasannya kenapa dia terus meneriaki bank sentral tentang keadaan ekonomi yang rapuh. Alasannya terletak pada 2016 dimana saat ia terpilih ia berjanji pada rakyatnya bahwa ekonomi bukan hanya baik namun akan meroket dan menguntungkan AS kembali.

Dengan Trump yang belum seirama dengan The Fed ini menunjukan tanda bahwa Trump belum puas dengan keadaan ekonomi AS saat ini, dan tidak dipungkiri manuver mengejutkan dari presiden republik itu akan semakin agresif jika ekonomi menurut pandangan dia belum sempurna.

baca juga:

Saat ini pertumbuhan AS sedang surut dan jauh di bawah tingkat tahunan 3%  kemudian defisit perdagangan telah melebar dan tidak ada tanda-tanda kemenangan "mudah" dalam perang dagang dengan China. Kemudian target investasi yang belum tercapai serta belanja modal bisnis akhir-akhir ini telah menghambat pertumbuhan secara keseluruhan.

Trump dalam setiap kesempatan mengatakan bahwa lapangan pekerjaan terus bertumbuh, namun sebenarnya hal tersebut merupakan tren yang terjadi  selama hampir sembilan tahun, yang dimana tren ini juga terjadi di masa Obama dengan pertumbuhan yang hanya 2 persen.

"Dia begitu fokus pada The Fed karena untuk menghindari perlambatan ekonomi yang benar-benar nyata di matanya. Itu adalah hambatan terbesarnya untuk pemilihan umum ulang nanti,” kata salah satu pejabat gedung putih, seperti dilansir dari Reuters, Senin (12/8/2019).

Dalam konteks itulah Trump mencemooh bank sentral yang pendekatan jangka panjangnya terhadap kebijakan yang berbenturan dengan kepentingannya yang lebih mendesak.

Jika kita melihat tujuan The Fed adalah menciptakan "lapangan kerja, harga stabil, dan suku bunga jangka panjang moderat" hal ini jelas bertentangan dengan, prioritas ekonomi dari politik partai yang berkuasa. Seperti harus memaksimalkan pertumbuhan tahunan, mencari  pengaruh dalam negosiasi perdagangan atau, mendapatkan momentum ekonomi dalam tahun pemilihan dengan tingkat bunga yang lebih rendah.

Suku bunga yang lebih rendah selalui menjadi incaran Trump dalam mendekati Pemilu, sebab suku bunga rendah dapat mendorong kegiatan ekonomi dengan mendorong rumah tangga dan bisnis untuk meminjam, membelanjakan dan berinvestasi. Tapi dampaknya dapat menyebabkan ekses keuangan seperti yang terjadi pada awal tahun 2000-an di pasar hipotek AS, dan inflasi.

Saat ini Trump mendesak The Fed memangkas suku bunga acuan lebih besar dan mempercepat penurunan suku bunga. Trump menilai bank sentral AS perlu mengimbangi rekan-rekan globalnya yang secara perlahan mulai melonggarkan kebijakan moneternya.

"Mereka (the Fed) harus memotong suku bunga lebih besar dan lebih cepat, dan menghentikan pengetatan kuantitatif konyol mereka sekarang," tegas Trump, dalam serangkaian cuitannya di Twitter, Sabtu (10/8/2019).

Seruan tersebut datang seiring dengan imbal hasil obligasi Pemerintah AS yang jatuh, baik untuk jangka waktu tiga bulan maupun 10 tahun. Bahkan, permintaan Trump datang tepat ketika ekonomi AS sedang menuju ke krisis keuangan. Tentu ada harapan agar krisis keuangan itu tidak benar-benar terjadi.

Trump telah menjadi kritikus Fed yang gigih meskipun menyetujui penurunan suku bunga seperempat poin pada pertemuannya seminggu yang lalu. Sedangkan pasar keuangan dan pasar saham mengharapkan pemangkasan lain pada pertemuan September, lalu satu atau bahkan dua lagi sebelum akhir tahun.

Namun sayangnya, menunggu bukan pilihan yang dimiliki Trump. Pasalnya, Trump meminta Federal Reserve untuk bertindak sekarang juga guna memangkas suku bunga acuan. Pada titik ini, Trump terpantau terus mengkritik kebijakan yang dikeluarkan Federal Reserve.

Pandangan The Fed

Jerome Powell orang yang ditunjuk sendiri oleh Trump, kemudian menjadi bahan cercaan oleh Presiden telah menekankan bahwa ia "tidak akan membuat kesalahan karakter atau integritas." Dengan kata lain, bahwa dia tidak akan mempertimbangkan prospek pemilihan Trump dalam menetapkan kebijakan.

The Fed sebenarnya telah terus-menerus menggeser persneling sejak akhir tahun lalu dengan berbagai alasan, termasuk perasaan bahwa dampak dari perang perdagangan mungkin lebih besar dari yang diharapkan, dan menurut perkiraanya  sendiri tingkat suku bunga saat ini terlalu tinggi untuk perekonomian AS.

Hak tersebut dibuktikan  dengan  pertumbuhan cepat yang dihasilkan oleh paket pemotongan pajak senilai  USD 1,5 triliun yang  berlalu pada akhir 2017 namun terjadi pengeluaran pemerintah federal yang lebih tinggi pada 2018 memudar lebih cepat dari yang diharapkan.

“Awal tahun lalu kami mencari pertumbuhan di atas tren dan melanjutkan peningkatan dalam tingkat pengangguran," kata Presiden Fed Chicago Charles Evans pekan lalu.

“Menjelang akhir tahun kami mulai bertanya-tanya apakah segalanya berjalan dengan cara yang lebih lembut. Pengaruh tagihan pajak terhadap investasi tetap bisnis lebih sulit dilihat, dan agak memudar. Negosiasi perdagangan berlangsung dengan gaya kasat dan itu menyebabkan lebih banyak ketidakpastian, " tambahnya

Sebagai tanggapan, The Fed pertama kali menunda rencananya untuk terus meningkatkan suku bunga tahun ini. Keputusan itu datang setelah kenaikan empat tingkat pada tahun 2018.

Pada pertemuan kebijakan terbaru, komite penetapan suku bunga Fed memutuskan untuk melangkah lebih jauh dengan memotong patokan suku bunga pinjaman bank sentral. Langkah itu, bisa dibilang, merupakan respons terhadap Trump namun secara tidak langsung.

Pada bulan Mei, presiden membuat para investor ngeri dengan mengancam akan mengenakan tarif pada Meksiko kecuali jika hal urusan imigran bisa selesai.

Meskipun kesepakatan telah dicapai, keterkaitan kebijakan perdagangan dengan tujuan non-ekonomi bergema di kalangan pejabat Fed, yang menjadi yakin mereka membutuhkan beberapa "asuransi" penurunan suku bunga untuk melindungi ekspansi ekonomi AS dari global yang semakin tidak menentu.

Namun penurunan suku bunga menimbulkan pertanyaan tentang apakah bank sentral akan terus mengikuti tweet Trump dimana jika iya maka The Fed ditakdirkan untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga ketika perang dagang dan tarif terus bergulir.

Karena asumsi tersebut The Fed akhirnya mulai mengambil jarak dengan Presiden AS. Seorang pejabat Federal Reserve memberikan pesan kepada Gedung Putih setelah the Fed membentuk kembali kebijakan moneter terkait volatilitas perdagangan global. Pesan itu menyiratkan jangan terlalu banyak berharap terhadap penurunan suku bunga.

Presiden Federal Reserve St Louis James Bullard mengatakan pergeseran Fed sejak tahun pertama, dari memproyeksikan kenaikan suku bunga berlanjut ke pemotongan suku bunga pada pertemuan pekan lalu, telah membuat kebijakan moneter jauh lebih longgar dan telah cukup mengimbangi ketidakpastian yang disebabkan oleh pertikaian perdagangan AS-Tiongkok.

"Serta perkembangan-perkembangan terkait global. Saya tidak berpikir itu realistis bagi the Fed untuk menanggapi setiap ancaman dan melawan ancaman dalam perang saling balas," kata Bullard. []

Editor: Denny Iswanto

Sumber: Reuters

berita terkait

Image

Ekonomi

Investor Tunggu Kepastian Penurunan Suku Bunga, Emas Belum Berkilau

Image

News

KPU Meminta DPR Revisi Terbatas UU Pemilu

Image

Ekonomi

Perang Dagang

China Peringatkan AS Tak Tambahkan Tarif Bulan Depan

Image

Ekonomi

Kebijakan Fed dan BI Soal Suku Bunga Buat Rupiah Bersorak

Image

Ekonomi

BI Turunkan Lagi Suku Bunga Acuan Menjadi 5,5 Persen

Image

Ekonomi

Jelang RDG BI, Pengamat: BI Perlu Pertahankan Suku Bunga Karena Faktor Eksternal

Image

Ekonomi

The Fed Tak Beri Sinyal Positif Penurunan Suku Bunga

Image

News

Olok-olok Logat Bicara Presiden Korea, Trump Dikecam

Image

Ekonomi

Rupiah Menguat Karena Optimistisme Investor pada The Fed dan BI

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Investor Tunggu Kepastian Penurunan Suku Bunga, Emas Belum Berkilau

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember turun 7,2 dolar AS menjadi ditutup pada 1.508,50 dolar AS per ounce.

Image
Ekonomi

Gerindra Desak Pemerintah Segera Pisahkan DJP Dari Kemenkeu

Gerindra meminta pemerintah untuk merealisasikan pemisahan DJP dari Kemenkeu yang sudah tertuang dalam RUU KUP.

Image
Ekonomi

Pembangunan Underpass Bandara NYIA Capai 74,3 Persen

Hingga pertengahan Agustus 2019, progres konstruksi underpass sepanjang 1,3 km yang dibangun di bawah bandara tersebut mencapai 74,3 persen.

Image
Ekonomi

Australia Kebanjiran Pengungsi 'Kaya' dari Hongkong

Australia melihat ada minat tinggi dalam program visa khusus millionaire dari penduduk kaya Hong Kong

Image
Ekonomi

Kemarau Panjang, Perry Optimis Inflasi Tepat Sasaran Hingga Akhir Tahun

Inflasi hingga akhir tahun 2019 tetep dalam sasaran yakni titik tengah di bawah 3,5 persen.

Image
Ekonomi

Pengusaha Bakal Rugi Rp50 Triliun Jika Pemerintah Kekeuh Segerakan Larangan Ekspor Bijih Nikel

Hal itu berpengaruh terhadap progres pembangunan fasilitas smelter dan dipastikan akan menjadi mangrak.

Image
Ekonomi

FKSPI Sebut Pengawas Intern Mampu Dukung Pencegahan Korupsi di BUMN

FKSPI dukung upaya pencegahan berbagai bentuk tindak pidana korupsi di lingkungan BUMN dengan mengembangkan whistleblowing system.

Image
Ekonomi
Perang Dagang

China Peringatkan AS Tak Tambahkan Tarif Bulan Depan

Kementerian Perdagangan China memperingatkan Amerika Serikat agar tidak meningkatkan perang perdagangan lebih lanjut.

Image
Ekonomi

Gelar Pertemuan Bilateral, Menko Luhut Tawarkan Peralatan Militer Hingga Sawit

Kedua pemimpin juga berbagi pengalaman dalam menghadapi diskriminasi sawit dari Uni Eropa.

Image
Ekonomi

Pemerintah Perlu Berikan Insentif untuk Mendorong Kreativitas Pelaku Ekonomi di Era Industri 4.0

Pemerintah dinilai perlu mendorong kreativitas pelaku ekonomi agar menghasilkan produk yang bersaing

Available
Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Lagi di Singapura, Uya Kuya Sedih Blackpink Meninggal Dunia

  2. Video Vulgar Tersebar, Duo Semangka Jelaskan Kronologinya

  3. Lukas Enembe Kritik Jokowi, Faizal: Kepala Daerah Tidak Etis 'Menghujat' Presiden

  4. 2 Jam Besuk Galih Ginanjar, Barbie Kumalasari Cuma Bahas Soal Lagu

  5. Terlibat Korupsi, Penangkapan Mantan Menteri Keuangan India Berlangsung Dramatis

  6. Alasan Simon McMenemy Panggil Bomber Timnas U-19

  7. Tyson Fury Akui Pukulan Wilder Mematikan

  8. Jadi Ibu Baru, 10 Potret Memesona Aura Kasih Dua Bulan setelah Melahirkan

  9. Lebih Sering Mager, 5 Zodiak Ini Dikenal Hobi Bermalas-malasan

  10. Tunda Bulan Madu, Roger Danuarta-Cut Meyriska Pilih Hadiri Pengajian Gus Anom

Available

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI
Available

kolom

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Available

Wawancara

Image
Video

VIDEO Jurus Optimalkan Perekonomian Domestik ala Destry Damayanti

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti, DGS BI yang Mencintai Moneter dan Fotografi

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Adek Berry, Memahami Kehidupan saat di Daerah Konflik

Sosok

Image
News

5 Fakta Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan RI Sejak Muda Asal Papua

Image
News

Terpilih Kembali Jadi Ketum PKB, Ini 6 Fakta Perjalanan Karier Cak Imin

Image
News

5 Ustaz Ini Pernah Bikin Heboh Tanah Air karena Kontroversinya