image banner ramadan
Login / Sign Up

Menabuh Genderang Perang Dagang Karena Sawit, Solusi atau Bumerang?

Wayan Adhi Mahardika

Indepth

Image

Dua unit truk mengangkut buah kelapa sawit di kawasan perkebunan sawit PTPN VI, Sariak, Pasaman Barat, Sumatra Barat, Sabtu (1/12/2018). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, sektor kelapa sawit menghadapi penurunan harga crued palm oil (CPO) sebesar 24 persen, dari 636 dolar AS per ton menjadi 485 dolar AS per ton hingga akhir Oktober 2018. | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

AKURAT.CO Hubungan dagang antara negara produsen kelapa sawit di ASEAN, dengan Uni Eropa makin panas. Pasalnya, Komisi Uni Eropa berencana untuk menghapus secara bertahap penggunaan bahan bakar nabati/BBN (biofuel) berbasis minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hingga 2030. 

Karena hal tersebut banyak masyarakat menilai tindakan Uni Eropa dan ancaman retalasi negara penghasil sawit bisa menjadi poros baru perang dagang antara negara berkembang dan maju.

Namun beberapa kalangan pengamat mengatakan bentuk balas dendam atau retalisasi itu tidak dibutuhkan dan malah menambah masalah baru.

baca juga:

Kerugian menabuh genderang perang dengan Uni Eropa

Ekonom UI Fithra Faisal Hastiadi menyebut membalas dengan mengancam tidak akan menyelesaikan masalah. Ini justru akan memperbesar masalah. 

Menurut dia, pemerintah hendaknya mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang tengah dirundung ketidakpastian. "Faktanya bahwa tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China belum sepenuhnya mereda, sehingga boikot sawit akan memaksa Indonesia harus mencari pangsa pasar non tradisional," kata dia.

Berdasarkan hasil kajian Lembaga Penelitian Ekonomi Manajemen UI, Uni Eropa adalah salah satu kawasan yang bisa menjadi alternatif pasar baru, lantaran potensi pasarnya belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Oleh karenanya, ia menyarankan agar pemerintah menghindari segala konflik dengan Uni Eropa serta menempuh jalur perundingan maupun negosiasi dalam penyelesaiaan sengketa kelapa sawit. 

Alih-alih mengancam Uni Eropa, langkah retalasi bisa menjadi ancaman balik bagi Indonesia. Alasannya, saat ini RI dan Uni Eropa tengah melakukan perundingan perdagangan komprehensif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Salah-salah bersikap, pemerintah akan terkendala merancang perjanjian yang lebih komprehensif. 

Selain itu, Indonesia sebagai negara berkembang mendapatkan kelonggaran tarif lewat skema Generalized System of Preferences (GSP) dari Uni Eropa. Lewat skema ini, beberapa produk Indonesia yang masuk ke Uni Eropa mendapat tarif lebih rendah. 

"Fasilitas GSP ini akan berakhir di 2019 atau 2020, karena itu ditentukan secara unilateral oleh Uni Eropa. Mereka bisa saja me-review atau bahkan tidak memperpanjang lagi, pada akhirnya yang rugi Indonesia," imbuhnya. 

Selain itu dari pihak LSM, Irfan Bahktiar Team leader Sustainable Palm Oil menyarankan agar pemerintah tidak lebay dan pemerintah perlu menyiapkan jawaban yang dilengkapi dengan data komprehensif terkait kondisi industri sawit Indonesia. Jawaban dan data yang dilampirkan itu harus mampu mempertegas kondisi sawit Indonesia tidak sesuai dengan tuduhan Uni Eropa. 

Menurut Irfan bargaining Indonesia sebenarnya sawit itu sendiri karena dia yakin masih dibutuhkan oleh UE. Untuk itu menurutnya Indonesia harus terima isu deforestasi dan mulai berkomitmen memperbaiki sawit secara terus menerus.

"Harusnya kita lihat apa masalah kita, jika deforestasi tunjukan data dan perlihatkan kita menyeselasikan masalah, kita tidak boleh mengelak memang ada salah di kita. Namun Uni Eropa juga tidak boleh menekan Indonesia pada  kasus yang sudah terjadi lama," ungkapnya.

Pelajaran penting bagi Indonesia untuk berinovasi

Selain itu Pengamat ekonomi, Faisal Basri, mengatakan kasus diskriminasi minyak kelapa sawit oleh Uni Eropa harus menjadi pelajaran agar Indonesia tidak bergantung pada ekspor komoditas. "Ekspor kita tidak bisa terus menerus kita genjot," imbuhnya

Ekonom senior itu menjelaskan pasar Eropa bukan satu-satunya pasar yang bisa disasar oleh produk sawit Indonesia. India, kata dia, juga merupakan pasar yang prospektif. Sayangnya, kebijakan bea masuk impor yang tinggi di India hingga 50 persen menjadi kendala besar bagi Indonesia.

Oleh karena itu, Faisal Basri menyarankan lebih baik menggenjot ekspor sawit ke India, karena pengusaha sawit masih bisa membuka fasilitas produksi sawit di negara tersebut.

"Yang harus kita lakukan adalah bikin pabrik di India, pakai produk kita. Pengusaha sawit kita hebat-hebat kok, pasti bisa," tuturnya.

Opsi lain yang kini mulai dilakukan pemerintah, lanjut dia, yakni dengan mengolah minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nabati melalui program B20 dan B30. Pemerintah bahkan tengah membidik untuk bisa mengembangkan B100 yang akan secara penuh memanfaatkan minyak kelapa sawit sebagai bahan bakar.

Faisal mengingatkan proses gugatan ke Organisasi Perdagangan Internasional (WTO) akan memakan waktu lama. Belum lagi Indonesia selalu kalah dalam gugatan ke WTO sehingga opsi yang paling tepat saat ini adalah melakukan upaya diplomasi.

"Proses di WTO biasanya lama dan kita hampir selalu kalah, mulai dari kasus otomotif (mobil Timor) dan produk pertanian (soal produk hortikultura)," ujarnya.

Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla  mengatakan akan segera melakukan balasan, atau retaliasi, kepada Uni Eropa jika kawasan itu memboikot produk kelapa sawit Indonesia.

"Kalau seperti tadi, oke kita tidak beli Airbus lagi, itu juga hak kita. Kalau Uni Eropa memiliki hak membuat aturan, kita juga punya hak bikin aturan," kata wapres (26/3/2019) lalu.

Menurut Wapres, industri kelapa sawit merupakan salah satu industri besar di Indonesia yang menyangkut sekitar 15 juta orang yang bekerja langsung maupun tidak langsung di komoditas itu. Kalla menjelaskan Indonesia dan Eropa merupakan pasar yang besar.

Dia mengatakan jika Eropa menahan produk minyak sawit Indonesia melalui aturan, pemerintah juga bisa melakukan upaya yang sama kepada produk asal Eropa. "Biasanya kita bisa selesaikan dengan negosiasi atau lewat WTO kalau memang terpaksa. Ya kita lewati dulu prosedur yang ada," jelas JK.

Pemerintah juga akan mengirim delegasi ke Uni Eropa untuk memberikan penjelasan sebagai respons atas langkah diskriminatif terhadap sawit. []

Editor: Denny Iswanto

berita terkait

Image

Ekonomi

JK Tagih Janji Cina Tingkatkan Impor Sawit Dari Indonesia

Image

Ekonomi

Pemerintah Pakai Isu Nasib Petani Lawan UE Terkait Diskriminasi Sawit?

Image

Ekonomi

RI Disebut Deindustrialisasi, JK: Itu Tidak Benar!

Image

Ekonomi

Debat Pilpres 2019

CEK FAKTA: Sandiaga Sebut Pertumbuhan Ekonomi Stagnan, Benarkah?

Image

Ekonomi

Faisal Basri: Akal sehat dan Kesadaran Nurani Bimbing Saya Memilih Jokowi

Image

Ekonomi

Menko Darmin Paparkan Hasil Upaya Diplomasi ke Uni Eropa

Image

Ekonomi

Negara-negara Ini Bisa Hidup Tanpa Asing Seperti Ucapan Prabowo, Apa Saja?

Image

Ekonomi

Perjanjian Dagang Internasional Tidak Mampu Selesaikan Masalah Ekspor Impor Indonesia

Image

Ekonomi

IMF: Brexit Tanpa Kesepakatan Akan Mengerikan!

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Yen Jepang Gebuk Dolar AS

Penurunan kurs Dolar AS ini di tengah meningkatnya minat investor terhadap yen Jepang.

Image
Ekonomi

Wall Street Makin Jeblok Karena Ketegangan Perdagangan

Ini karena meningkatnya kekhawatiran ketegangan perdagangan dapat memperlambat ekonomi global.

Image
Ekonomi

Demi Kurangi Biaya Logistik, Kebijakan Infrastruktur Harus Dilanjutkan

setelah terpilihnya Presiden Jokowi nasib pembangunan infrastruktur bakal terus dilanjutkan.

Image
Ekonomi

Pemerintah Sebut Tiga Faktor Membuat Indonesia Melirik Kerja Sama dengan Rusia

Pertama, investasi kawasan industri di luar Pulau Jawa dengan berfokus pada hilirisasi sumber daya alam.

Image
Ekonomi
Perang Dagang

Negara-negara Anggota SCO Sepakat Tolak Proteksionisme Perdagangan

Para menteri luar negeri dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) menentang Proteksionisme.

Image
Ekonomi

Ricuhnya Demo Pemilu Tak Pengaruhi Investor di Pasar Modal

Aksi unjuk rasa 22 Mei 2019 yang berujung ricuh tidak mempengaruhi investor di pasar modal untuk melakukan transaksi beli.

Image
Ekonomi
Perang Dagang

Strategi Proteksionisme Bergaya 'Old Style' Amerika Bakal Jadi Bumerang

Praktik proteksionisme gaya lama tampaknya kembali menjadi strategi yang dipakai oleh Amerika Serikat (AS) baru-baru ini.

Image
Ekonomi

Situasi Normal, Pedagang di Petamburan Kembali Berjualan

Sudah banyak mobil berlalu-lalang sejak siang tadi sehingga pedagang mulai berani membuka warungnya lagi.

Image
Ekonomi

MRT Kembali Beroperasi Penuh dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI

MRT Jakarta kembali melayani penumpang melalui keseluruhan 13 stasiun MRT, serta jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta sesuai jadwal.

Image
Ekonomi
Perang Dagang

Direktur WTO: Pekerja Berpendapatan Rendah Paling Rugi di Perang Dagang

Menguatnya kembali perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China dapat sangat memperburuk keadaan para pekerja bergaji kecil.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Selepas Ramadan, Arab Saudi Akan Eksekusi Tiga Cendekiawan Muslim

  2. Kuasa Hukum Nikita Mirzani Tunjukkan Bukti Perkawinan di Persidangan

  3. Mataram Makin Siap Kembangkan Desa Wisata

  4. Alasan Pertumbuhan Ekonomi, Belanda Akhiri Kerja Sama dengan Indonesia Pada 2020

  5. Korsel Butuh 8.000 TKI dan Bakal Digaji Rp21 Juta, Tertarik Melamar?

  6. Bebas Jebol! 5 Tips Bikin Mudik Tetap Hemat

  7. Yang Lebih Baik dari De Gea, Ada di Kasta Dua

  8. Tak Disangka, Sopir Uber Ini Adalah Penjahat Perang Somalia

  9. Kisah Catherine Coulthard, Guru Non-Muslim yang Ikut Puasa Selama 1 Bulan demi Dukung Siswa Muslimnya

  10. Arifin Ilham di Mata Jaja Miharja

Available

fokus

Sudut Lain
Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini
Available

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Indonesia Terluka

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Available

Wawancara

Image
Video

VIDEO Ketika Suara Azan Merubah Roger Danuarta

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Sosok

Image
News

6 Potret Kebersamaan Aburizal Bakrie dan Tatty Murnitriati, Romantis Abis!

Image
News

Masa Kerja Segera Berakhir, 5 Momen Kedekatan Jokowi dan Jusuf Kalla

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar