image
Login / Sign Up

Jatuh Bangun Chief Barbershop di Tangan Fatsi Anzani dan Oky Andries

Bonifasius Sedu Beribe

Chief Company Barbershop

Image

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop & Cofee | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Senin, (25/2), Jln. Ciragil I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tidak terlalu ramai. Dua lajur jalan kiri kanan agak lengang. Tapi, lahan parkir yang sedikit memakan bahu jalan, siang itu, lumayan penuh. Beberapa motor berjajar rapi, dan didepannya sekitar 4 mobil diparkir menghadap mata jalan.

Dari balik kaca, beberapa orang sedang menikmati kopi. Ada yang sedang ngemil, dan beberapa di antaranya duduk berhadapan dengan laptop di atas mejanya, ditemani segelas kopi.

Suasana di dalam lebih adem, karena di luar cukup terik. Kami mencari tempat kosong di sudut kanan ruangan itu, dan duduk sebentar. Menunggu.

baca juga:

Tak lama duduk, seorang lelaki datang menyapa kami, bersalaman, lalu mengajak kami ke sebuah ruang kerja yang letaknya di belakang. Ya, siang itu, AkuratTren berada di Chief Barbershop & Cofee, Ciragil, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Fatsi Anzani sudah menunggu kami di sana. Ruangan itu terbagi dalam dua blok, namun tidak dipisahkan secara tegas. Di sisi kiri, beberapa pegawai sedang sibuk dengan pekerjaannya, berhadapan dengan laptop masing-masing. Sedangkan di sebelah kanannya, dijadikan ruang meeting, dengan aneka perlengkapan dan perabot kantor, khas anak muda kekinian. Ruangan itu sengaja tidak ditata rapi, tetapi tetap nyaman dan menyenangkan.

"Mau nunggu si abang dulu apa gimana nih?," tanya Fatsi.

"Kita sambil ngobrol aja sambil nunggu," kata kami untuk menghemat waktu.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Fatsi dan kakaknya pada tahun 2013, saat ia masih bekerja sebagai staff supply chain di sebuah perusahaan swasta yang ditugasi mengurus produksi, logistik dan warehouse, berkeinginan untuk punya usaha sendiri.

Bersama Oky Andries, kakaknyanya, yang cukup memahami bidang marketing, mereka merencanakan untuk membuka sebuah usaha yang bisa mereka kelola sendiri.

"Kita nggak punya basic di bidang ini," akunya.

Niatan itu awalnya hanya sekedar iseng, karena dari keluarga pun mereka tidak punya darah pengusaha, meski mereka adalah orang Minangkabau. Maka, Fatsi masih tetap bekerja sebagai karyawan di perusahaan asalnya, saat usaha ini sedang mereka rintis.

Bekerja pada dua tempat dengan berbeda bidang itu dijalaninya kurang lebih 2 tahun, hingga tahun 2015. Sampai masuk pada awal 2016, mereka semakin yakin bahwa usaha yang dijalani itu sudah harus membutuhkan perhatian dan konsentrasi yang lebih penuh.

"Akhirnya, saya duluan resign. Dan 6 bulan setelah itu, kakak saya juga resign," katanya.

Mereka mantap memutuskan ini dengan pertimbangan yang sangat matang, dan tentu dengan konsekuensi kegagalan yang ada di depan mata. Fatsi adalah lulusan manajemen keuangan bisnis, yang melanjutkan studi S2-nya di Australia untuk bidang psikologi.

Tapi hebatnya, ia mengambil jalur kuliah yang bisa menghasilkan 2 gelar magister sekaligus dalam masa kuliah yang sama. Selain di bidang psikologi, ia juga lulus di bidang manajemen sumber daya manusia.

"Saya murni hanya kuliah, dan setelah itu baru kerja. Jadi saya belajar partikel subjek dulu, setelah selesai baru kerja," akunya. Padahal saat masuk dunia kerja, itu tidak berhubungan sama sekali dengan dunia yang digelutinya selama studi.

Obrolan kami berhenti sejenak saat Oky datang. Lelaki berkulit putih, berbadan tegap dan klimis itu menyalami kami dengan ramah, lalu menarik sebuah kursi, duduk di samping Fatsi, adiknya.

Tahun 2013, usaha barbershop di Jakarta tidak semenjamur saat ini. Meski beberapa yang sedang bertumbuh. Fatsi Anzani dan Oky Andries, kedua saudara kandung ini melihat bahwa ini peluang usaha yang cukup menjanjikan, karena kecenderungan lelaki kian hari kian ingin memanjakan dirinya.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Maka usaha yang dibidik adalah barbershop moderen yang sesuai dengan selera anak muda kekinian dengan mengusung konsep klasik. Mereka mengutip gaya Amerika tahun 50-an, dengan tampilan kursi tua, yang memperhatikan kebersihan dan kenyamanan.

Memberi pemisahan tegas antara barbershop dan pangkas rambut konvensional adalah kekuatan yang mereka usung pertama kalinya. Oleh karena itu, para barberman juga harus menguasai tren gaya rambut pria kekinian, update, dengan didukung peralatan dan produk penataan rambut yang moderen pula.

Usaha ini dilirik juga karena barbershop adalah bentuk usaha yang saat dijalankan pertama kalinya, hanya cukup membutuhkan guliran modal yang hanya sekali. Jika sudah memiliki keahlian pangkas rambut, seseorang bisa memulai usaha barbershop dengan hanya sekali membeli gunting, sisir, dan clipper. Usaha ini sudah bisa dijalankan.

"Tanpa sebuah outlet pun, usaha barber sudah bisa beroperasi di bawah pohon," kata Oky. Karena, kunci usaha ini ada pada pelayanan. Jika seorang barberman bisa menservis seorang konsumen dengan baik, maka 2 minggu atau paling lama 1 bulan, ia akan kembali lagi. Begitulah kira-kira keyakinan mereka di awal.

Tentu, bidikan kelas konsumen dan seberapa besar penghasilan yang ingin didapat sangat ditentukan oleh modal awal, usaha barbershop juga sangat bergantung pada servis dan juga usaha retail tambahan yang bisa mendukung unit utama.

Mereka lalu memilih sebuah tempat untuk disewakan di bilangan Senopati, dengan modal awal hanya sebesar Rp150 juta, dengan target setiap tahun mereka harus membuka satu cabang. Dan benar, target itu bisa terealisasi sampai pada tahun keempat, mereka sudah punya 4 cabang yang 2 diantaranya memiliki kedai kopi.

"Sebenarnya tahun ke-5 ini ada cabang ke-5, tapi kita masih keterbatasan di sumber daya; juru cukur dan pengelola. Jadi, kita putuskan konsen di 4 cabang ini dulu," kata Oky.

Agar jalinan kerjasama antara pemilik dan para barberman tetap terjaga, Chief Barbershop menerapkan sistem bagi hasil, bukan penggajian. Ini memungkinkan para barberman mendapatkan penghasilan yang lebih besar, saat semakin banyak konsumen mereka layani.

Chief Barbershop juga tidak menerapkan sistem sewa kursi, dimana pemilik atau perusahaan hanya menyiapkan fasilitas, dan para barberman akan menyewanya. Orang-orang yang memiliki keahlian sebagai juru cukur akan membeli atau menyewa kursi yang sudah disediakan di dalam sebuah barbershop secara berkala.

Mereka bisa mengontrak per bulan atau per tahun, kepada sang pemilik. Sedangkan hasil yang dibayarkan konsumen adalah milik para barberman itu.

Sepengetahuan Fatsi dan Oky, belum ada barbershop di Indonesia yang menjalankan model bisnis dengan cara seperti ini. Mereka menemukan praktek ini di Malaysia.

"Secara risiko, ini lebih aman bagi pemilik bisnis. Karena servis dan kualitas layanan kepada para pelanggan adalah tanggung jawab barberman. Jika dia malas-malasan, maka tidak mungkin bisa membayar kursinya dan dia akan keluar dengan sendirinya," katanya.

Suka duka menjalani bisnis barbershop pada awalnya cukup terasa. Bayangkan, dalam tiga bulan pertama, tamu yang datang hanya 1 orang setiap hari. Ini cukup meresahkan tentunya. Bahkan, sering mereka tidak punya tamu sama sekali.

"Sampai kita mikir, 'Ini benar nggak sih?," kata Oky berkelakar.

"Awal-awal tuh memang deg-degannya setengah mati. Kadang cuma dua, kadang nggak ada sama sekali," timpal adiknya.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Klien pertama adalah mereka sendiri. Beberapa di antaranya adalah keluarga dan teman yang semuanya digratiskan. Targetnya adalah, mereka memindahkan orang-orang itu dari barbershop yang pernah mereka datangi atau yang sudah menjadi langganan mereka, untuk pindah ke Chief. Dan ternyata, banyak yang puas.

Cela lainnya yang mereka temukan adalah bahwa, unit pertama mereka di Senopati hanya memiliki kapasitas parkir 2 mobil dan letaknya di jalan yang hanya searah. Ini cukup menyulitkan calon customer. Jika kendaraannya sudah terlanjur lewat, mereka tak akan mau lagi memutar balik.

"Akhirnya, pelanggannya malah diambil sama barbershop yang setelah kita," jelasnya.

Mereka menargetkan pada saat awal adalah 600 orang untuk dicukur setiap bulannya. Angka itu tentu tidak kecil, untuk sebuah usaha yang baru dirintis. Tapi ternyata, hitungan seperti itu tidak sesuai dengan usaha barbershop. Lebih mudah sebenarnya. Mereka cukup mencari atau menemukan separuh dari target itu, karena kecenderungan orang akan mencukur dua kali dalam sebulan, atau bahkan beberapa konsumen yang mencukur rambutnya setiap minggu.

"Apalagi di sini, tamu-tamu kita kebanyakan polisi dari Mabes. Itu emang harus segini potongannya," tunjuk Fatsi pada potongan rambutnya yang pendek.

Saat ini, mereka melayani tamu dengan range waktu memotong rambut paling cepat 2 kali seminggu, dan paling lama 1,5 bulan sekali.

"Pada dasarnya, setiap barberman punya langganan sendiri-sendiri, jadi sekalipun posisinya berdekatan, itu tidak masalah," lanjut Fatsi.

Cara mengikat konsumen itu, di Chief Barbershop yang memiliki 7 kursi, lebih diupayakan pada pendekatan brand, sehingga setiap barberman memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dimana pelayanan pada pelanggan adalah nomor satu. Meski dalam prakteknya, masing-masing customer sudah nyaman dengan pemangkasnya sendiri. Sehingga saat datang, ia hanya mau dicukur oleh orang yang pernah mencukur rambutnya sebelumnya.

Perlu kamu tahu bahwa saat memulai bisnis ini, dua bersaudara ini tak punya keahlian mencukur rambut sama sekali.

Sadar bahwa mereka tidak punya basic dalam hal ini karena mereka murni sebagai pebisnis, keduanya akhirnya belajar secara otodidak kepada barberman yang dipekerjakannya. Sejauh ini, mereka sudah bisa memotong rambut dengan potongan-potongan standar dan juga pernah melayani customer. Mereka belajar dalam 3 babak. Kali pertama selama empat hari, yang kedua juga empat hari, lalu dua hari selanjutnya.

"Tamunya dari teman sendiri juga. Tapi, oke sih. Karena, ada yang balik lagi cukur di sini," sahut Oky sambil tertawa.

Mereka mempelajari itu sebagai sebuah challenge untuk mengetahui tingkat kesulitan dan seluk beluk para barber mereka. Mereka harus tahu kemudahan dan kesulitan apa yang dihadapi para pemangkas, sehingga bisa me-manage mereka dengan lebih teliti.

"Akhirnya kita tahu kenapa para barber harus meminta membeli clipper atau gunting baru karena memang pada saat jika peralatan sudah tidak terlalu bagus, hasilnya juga akan tidak maksimal," jelas Oky.

Dari pengalaman belajar ini juga, mereka akhirnya tahu bahwa konsep menggunakan lampu redup pada awalnya ternyata tidak cocok untuk barbershop. Padahal, mereka lebih suka lampu barbershop yang redup. Kuning.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Itu karena lampu yang redup akan menyulitkan para pemangkas untuk melihat model dan bentuk yang lebih detail. Pandangan tentu akan buram, jika tidak didukung dengan lampu yang terang. Maka akhirnya, mereka memutuskan untuk mengganti lampu yang dulunya redup dan berwarna kekuningan, menjadi yang lebih terang, meskipun sedikit mirip lampu di salon kecantikan.

Suka duka menjalani bisnis barbershop, pada awalnya cukup terasa. Pada saat pemilihan nama saja pun, ini sudah cukup melibatkan pertimbangan yang cukup matang. Beberapa nama sempat terlintas dari istilah bahasa Inggris atau istilah Indonesia, termasuk gabungan, singkatan atau akronim nama mereka sendiri. Tetapi, pilihannya kemudian jatuh kepada 'Chief', yang memiliki makna sangat dalam.

"Chief berarti kepala atau ketua. Bisnis ini berhubungan dengan kepala, maka yang kita harapkan orang-orang yang datang ke sini bisa menjadi kepala dalam keluarga, bisnis, atau pekerjaan mereka," jelasnya, disamping Chief juga diharapkan menjadi leader atas usaha barbershop lainnya.

Jika kamu baru pertama kali ke Chief Barbershop, kamu akan merasakan suasana seperti outlet cukur rambut di Inggris atau Amerika. Ini karena konsep desainnya memang benar-benar diadaptasi dari sana.

Ditangan Dandi Achmad Ramdhani, atau yang akrab dengan sapaan Sir Dendy, seorang interior designer lulusan Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional, Bandung, ia mulai merancang tampilan barbershop ini sesuai dengan tema yang diinginkan oleh Oky dan Fatsi. Konsep interior desain itu kemudian menjalar ke branding, video profile, hingga ke konten Instagram.

Dan yang paling penting adalah para barberman, tukang cukur atau juru pangkas. Garut, pusatnya.

Mereka merekrut juru pangkas dari Garut yang sudah lama terkenal sangat ahli dalam bidang memotong rambut. Mereka mempekerjakan dua juru pangkas, pada awalnya.

Kedua orang itu adalah saudara kandung, yang kemudian memanggil kerabat mereka yang lain untuk ikut bekerja di barbershop ini. Sehingga, hubungan dari para barberman adalah sebenarnya hubungan keluarga.

"Ada yang kakak adik, ada yang bapak anak, ada yang sepupuan. Mereka manggil sendiri," jelas Oky, lelaki kelahiran 18 April 1981 itu.

Maka meski dari tampilan desain terlihat sangat internasional, tapi semua yang ada di dalam barbershop ini adalah hasil kerja tangan talenta lokal Indonesia.

Pemilihan para pemangkas dari Garut ini awalnya sedikit menuai cibiran dari pengusaha barbershop lain, yang kerap menyembunyikan identitas pemangkas mereka. Karena jika menyebut Garut, maka itu akan identik dengan pangkas rambut Asgar (Asli Garut) yang bertebaran dimana-mana saat ini, yang tentu kelasnya adalah ada di pangsa paling bawah.

Tetapi, Oky dan Fatsi berpendapat lain.

Ini adalah identitas.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Meski, proses perekrutan para pemangkas ini cukup ketat. Tidak semua yang diajak para baeberman mereka dari Garut langsung diterima, meski mereka punya keahlian yang sangat oke dalam bidang pangkas rambut. Attitude yang mereka nilai.

"Ada yang kita tolak karena memang kurang pas attitude-nya dengan SOP kita," tegas lulusan Univ. Pelita Harapan program S1 Teknik Industri ini.

Semakin serius, usaha ini pun pelan-pelan mulai menunjukan hasilnya. Lalu, mereka memaksimalkannya dengan menambah peluang lain, yang tetap berhubungan dengan dunia lelaki.

Karena space ruang tunggu di barbershop ini masih memungkinkan, mereka kemudian memilih untuk menambah item usaha pendamping untuk bisa menopang barbershop sebagai main utama bisnisnya. Sempat memikirkan usaha seperti laundry sepatu atau menjual sneakers, tapi pilihan untuk membuat coffee shop untuk menggaet tambahan dari para tamu, adalah ide yang sangat menarik. Dibukalah Chief Cofee.

"Idealnya jika orang menunggu, yang dilakukan adalah makan atau minum. Dulu kita hanya mau kopi saja. Tapi pada kenyataannya, tidak hanya itu. Orang juga lebih suka ngemil atau makan," kata Fatsi.

Belakangan ini, coffee shop yang dulunya hanya sebagai item bisnis pendamping itu, berkembang cukup signifikan. Mereka sudah memiliki roaster khusus yang sangat paham di bidang pengolaan dan penyajian kopi, dengan tetap menonjolkan hasil racikan yang lebih strong untuk lelaki.

Hasilnya, coffee shop ini ini tidak hanya didatangi oleh orang yang ingin memangkas rambut saja. Mereka adalah murni tamu cafe yang datang untuk bersantai menikmati sajian menu dan suasana cafe ini. Tidak sambil mencukur rambut.

"Secara bisnis, pada awalnya ini hanyalah simbiosis mutualisme, tapi sekarang keduanya sudah berdiri sendiri-sendiri," aku Oky.

Selain kafe, pada tahun 2014, atau hanya setahun setelah barbershop mereka berdiri, mereka melirik opportunity lain yang bisa men-support usaha ini. Adalah pomade water based, yang pada saat itu cukup kuat mengangkat tampilan lelaki yang lebih klimis dan macho.

Maka disamping menjalankan usaha barbershop, mereka juga fokus dengan produk pendamping yaitu pomade. Awalnya, mereka mengimpor. Tapi setelah pada tahun 2015, atau dua tahun setelah usaha ini berdiri, ada regulasi pengetatan impor yang membuat mereka harus memutar otak untuk hal ini.

Mereka akhirnya membidik supplier dalam negeri, yang bisa melakukan research and development untuk mengembangkan produk pomade ini yang sesuai dengan karakteristik barbershop mereka.

"Dulu kita cuma punya 3 varian, sekarang sudah punya 8 varian pomade," Oky tentu bangga dengan raihan itu.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Mereka menggaet produsen dan duduk sebagai pihak ketiga untuk memasarkan pomade ini, dengan menempelkan brand mereka sendiri, 'Chief'. Selain menjual langsung di barbershop mereka sendiri, produk ini juga didistribusikan ke barbershop-barbershop lain, termasuk menjualnya secara daring.

"Kita invest branding dan distribusi," kata Fatsi.

Saat ini, brand Chief Pomade sudah ada di gerai Guardian, Century, Grand Lucky, Ion Mall, dan Indomaret Point. Sekali lagi, ini adalah trik bisnis untuk tetap memperkenalkan brand Chief Barbershop lewat produk pamadenya.

Berhasil! Saat ini, banyak yang menggunakan produk ini, meski mereka tak mencukur rambut langsung di Chief Barbershop.

"Akhirnya sekarang orang malah lebih tahu pomadenya daripada barbershop-nya," canda Fatsi.

Selain barbershop, cafe dan pomade, mereka juga memisahkan aktivitas me-roasting kopi sebagai unit bisnis yang berbeda. Kopi yang mereka hasilkan adalah hasil racikan dan roasting-an sendiri yang dijual dan diedarkan di kedai kopi atau cafe shop yang lain.

Mereka menggarap kopi Indonesia dengan cita rasa yang lebih strong dan creamy, khas untuk lelaki. Ini yang menjadi nilai jual mereka semenjak dua tahun yang lalu, yang menjadi pembeda dengan kedai kopi yang memakai kopi hasil roasting-an dari tangan orang lain.

"Kita punya lab khusus di Kemang yang khusus untuk rosting kopi. Ini menjadi pembeda kami," Oky meyakinkan.

Kini, mereka sudah memiliki 23 barberman, dengan total karyawan sekitar 35 orang. Chief Barbershop adalah salah satu tempat langganan banyak artis dan publik figur. Ringgo Agus Rahman, Chico Jericho termasuk politisi Agus Harimurti Yudhoyono, TB Hasanuddin, dan Duta Besar Inggris, rutin bercukur rambut di sini.

Meski cakupan usaha ini sudah cukup besar dan populer, segmentasi pasar dan manajerial capability menjadi pertimbangan Chief Barbershop untuk tidak membuka cabang di luar Jakarta. Bahkan, di luar Jakarta Selatan saja pun, mereka mengaku itu belum memungkinkan.

Karena fokus dengan kualitas, maka hanya dalam radius maksimal 6 kilometer saja, jarak antara satu Chief Barbershop dengan unit lainnya yang sudah ada di 4 titik Jaksel.

Kontrol kualitas, setiap hari rutin dilakukan, salah satunya dengan memberi waktu kerja kepada para barberman yang hanya mencukur rambut satu pelanggan selama 45 menit. Dan sisanya 15 menit setelah itu, para seniman cukur atau juru paras itu bisa beristirahat.

Mereka juga memastikan bahwa Chief Barbershop tidak mau menjual franchise. Itu tidak mungkin ada, kata mereka. Termasuk, mereka tidak melayani pemanggilan para barberman ke rumah, karena akan menghilangkan experience dalam pelayanan barbershop sendiri.

"Kesempatan keluar rumah dan sedikit kabur dari istri dan anak adalah ke barbershop sebagai me time-nya laki-laki," mereka berdua kompak tertawa.

Menjadi seorang pengusaha barbershop tentu tak semudah kamu membaca tulisan ini.

Fatsi Anzani dan Oky Andries di Chief Barbershop &. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

Oky Andries dan Fatsi Anzani adalah pelaku yang dengan sungguh menjalani ini, dan terjun secara penuh agar bisa sukses. Tapi tentu, keluhan tatap pasti ada.

Dalam menjalankan bisnis ini, mereka menemui tantangan teknis yang tak bisa dihindari. Pekerjaan sebagai juru cukur adalah keahlian yang sudah melekat pada diri seseorang. Skill individu ini sulit diterjemahkan dan dipelajari. Itu karena secara teori, keahlian ini sangat instrinsik, yang cukup sulit ditransferkan oleh sang ahli. Sehingga dibutuhkan training yang harus dilakukan secara terus-menerus.

"Ini adalah tantangan kita sebagai pelaku usaha barbershop, karena kita tidak punya tenaga yang ahli dan terpelajar di bidang ini," katanya.

Maka, para pelaku usaha barbershop mau tidak mau memiliki standar kompetensi sendiri, sesuai takaran mereka, agar para barberman atau juru cukur bisa menyesuaikan keahlian bawaan mereka dengan standar itu.

Apalagi saat ini, Badan Nasional Sertifikasi Kompetensi yang berada dibawah Departemen Ketenagakerjaan, belum mengaplikasikan standar kompetensi dan sertifikasi para barberman yang bekerja di sebuah barbershop mengenai keahlian dasar mereka.

Hal inilah yang membuat para pelaku usaha kesulitan untuk menemukan talenta-talenta yang baik dan handal dalam hal cukur rambut. Hal ini yang dikhawatirkan akan menciptakan kondisi yang sangat fluktuatif. Perkembangan industri ini sangat cepat, namun belum dikawal secara baik. Maka, kekhawatirannya adalah persaingan yang tidak sehat, permainan harga yang tidak relevan, dan jaminan kualitas mutu yang akan terabaikan.

"Ini menurut kami adalah tantangan industri yang belum ada regulatornya, tidak tahu siapa yang mengatur, dan saat ini kita berjalan dengan survival aja, agar usaha ini tetap berjalan, dan sampai ke masa depannya nanti kita belum tahu," keluhnya.

Meski tak didukung penuh oleh regulasi, Oky Andries dan Fatsi Hakim kini sudah sukses.

Kamu, milenial, yang ingin mengikuti jalur usaha ini, kakak beradik ini tak pelit membagi tips sukses mereka. Keduanya punya lima poin yang bisa kamu contohi.

Hal pertama dalah busines plan. Meskipun ini terkesan sangat teoritis, tetapi ini adalah hal dasar dan wajib. Ini sudah mencakup asumsi mengenai tempat, lokasi, menu yang ditawarkan atau servis, dan penyertaan modal.

"Jika kalian sudah memulai dengan bisnis plan, kamu sudah mengerjakan 50% menuju ke pekerjaan yang sukses," Oky bilang begitu.

Kedua adalah partner. Kamu disarankan untuk membangun sebuah bisnis jangan dengan partner yang terlalu banyak. Tentu, jika terlalu sedikit atau sendiri juga akan sangat rawan dan cukup berat. Maka, carilah 1 orang teman atau rekanmu yang bisa sejalan dengan kepala yang sama denganmu.

"Ketiga itu value. Nilai apa yang kamu kejar dalam bisnis ini? Apakah murni mencari keuntungan atau ada efek lain yang ditujukan kepada customer. Dari rapi itu dia dapat kepercayaan diri untuk tampil lebih baik. Kita mengusahakan ini ada," lanjut Oky.

Keempat adalah branding. Nama memiliki efek yang sangat panjang. Maka, nama dari usahamu tak boleh asal-asalan. Harus ada filosofi didalamnya, sehingga dalam aktivitas branding, ini akan sejalan dan lebih mudah diterjemahkan klien atau mitra kerjamu nanti.

Dan yang terakhir adalah komitmen dan konsisten. Oky menganalogikan bisnis yang mereka bangun seperti seorang pelari maraton yang harus mencadangkan banyak tenaga dan sumber daya untuk menempuh sejauh mungkin rute yang akan dilewati nanti. Maka, stamina tentu sangat penting.

Berpikirlah kamu akan bisa sukses, sejak saat ini![]

Editor: Andre Purwanto

Sumber:

berita terkait

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Pengusaha Usul Pemerintah Bentuk Badan Khusus Tangani Proyek KPBU Infrastruktur Transportasi

Pembentukan badan khusus tersebut bertujuan agar pemerintah bisa fokus menyiapkan pelaksanaan tender proyek-proyek KPBU.

Image
Ekonomi

4 Proyek Berpotensi Gunakan Skema KPBU

BPTJ Kementerian Perhubungan mengungkapkan ada empat proyek yang berpotensi menggunakan skema KPBU.

Image
Ekonomi

Perjuangan Indonesia Agar Minyak Sawit Setara dengan Minyak Nabati Lain di Eropa

Agar produk minyak sawit (CPO) Indonesia ditempatkan setara dengan minyak nabati lain di pasar Uni Eropa (UE).

Image
Ekonomi

Gelar Rakor Bahas Neraca Perdagangan, Menko Darmin: Kami Evaluasi Pelaksanaan B20

Pemerintah membahas serta mengevaluasi perkembangan yang sudah dilakukan guna Neraca Perdagangan RI.

Image
Ekonomi

Pemerintah Kembangkan Ilmu Pengetahuan Teknologi Dibidang Kelautan dan Perikanan

Perjanjian ini terkait dengan kerja sama dibidang Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Kelautan.

Image
Ekonomi

Indonesia Siap Balas Uni Eropa, Perang Dagang Baru Segera Pecah?

Pemerintah mempertimbangkan opsi pelarangan produk Uni Eropa masuk ke dalam negeri sebagai bentuk balasan.

Image
Ekonomi

BUMN Tawarkan Peluang Magang Bersertifikat Untuk 9.000 Mahasiswa

BUMN bersinergi membuka kesempatan bagi 9 ribu mahasiswa untuk mengikuti program magang bersertifikat guna menjajal dunia kerja profesional.

Image
Ekonomi

Ingin Terlibat Pembangunan Infrastruktur, Swasta: Pemerintah Jangan Kasih 'Tulangnya' Saja

Selama ini swasta sudah cukup banyak dilibatkan oleh pemerintah. Namun, sebagian besar hanya proyek-proyek berskala kecil.

Image
Ekonomi

Swasta Minta Dilibatkan Dalam Pembangunan LRT Hingga Bandara

Pengusaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia menyatakan minatnya untuk bisa turut serta menggarap proyek-proyek di sektor perhubungan.

Image
Ekonomi

KLHK Lakukan Sejumlah Langkah Atasi Bencana Banjir di Sentani

Langkah strategis penanganan bencana banjir bandang Sentani disusun ke dalam dua skema yaitu jangka pendek dan jangka panjang.

trending topics

terpopuler

  1. Rhoma Irama: Korupsi Partai Bersimbol Islam Melukai Hati Umat

  2. Yuli yang Ditangkap Densus Meninggal di RS Polri, Suami Pilih Kuburkan di DKI Ketimbang Ditolak di Klaten

  3. Mulai Sekarang, Jauhi Minuman Manis Jika Tak Mau Mati Muda

  4. Alissa Wahid: Kalau Kelompok Ini Berkuasa, dengan Sistem Sentimen yang Dibangun akan Hilangkan Kesetaraan

  5. Amankan Bandar Narkoba di Kampung Bahari, Polisi Disambut Tembakan Warga

  6. Program OK OCE Dianggap seperti Konsep Khilafah hingga Azan Dikumandangkan di Ruang Publik Selandia Baru

  7. Duh, Selama Live Streaming Aksi Teror Selandia Baru Tak Ada yang Lapor

  8. Rustam: Tampaknya Anies telah Jadi Follower Presiden Jokowi dalam Pembangunan Infrastruktur

  9. Terlalu Fokus Sama Karir, Kelima Zodiak Ini Kerap Lupa dengan Pasangan Cintanya

  10. 5 Fakta Penting Kiai Anwar yang Jasadnya Utuh meski Terkubur 31 Tahun

fokus

Kisah Juru Pijat Tunanetra
Teror Masjid Selandia Baru
Di Balik Pakaian Bekas Impor

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Cawapres: Perang Kartu Sakti

Image
Ujang Komarudin

Menanti Kejutan di Debat Ketiga

Image
Hendra Mujiraharja

Perez Memalingkan Muka dari Mourinho untuk Zidane

Image
Hervin Saputra

Seberapa Kuat "Tradisi Indonesia" di All England?

Wawancara

Image
Iptek

Sepeda Listrik Jadi Polemik, Migo Beri Jawaban!

Image
Gaya Hidup

Chief Company Barbershop

Jatuh Bangun Chief Barbershop di Tangan Fatsi Anzani dan Oky Andries

Image
Hiburan

Dik Doang: Aku Sedang Berjalan di Kesunyian

Sosok

Image
News

Jadi Caleg DPR RI, Begini 10 Potret Sahrul Gunawan Blusukan sampai Diserbu Ibu-ibu

Image
News

7 Potret Seru Kahiyang Ayu Bercengkerama dengan Buah Hati

Image
News

8 Gaya Kampanye Bertrand Antolin, dari Sosialisasi Pemilu sampai Bancakan