image
Login / Sign Up

Media Asing Sebut Kelemahan Krusial Jokowi Dalam Pemilu Adalah Ekonomi

Wayan Adhi Mahardika

Ekonomi Ala Jokowi Vs Prabowo

Image

Pasangan Capres-Cawapres Nomor Urut 01, Jokowi-Ma'ruf Amin, di forum Debat Pertama Pilpres 2019 di Hotel Bidakara Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (17/1/2019). | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Media Asing, The Economist merilis sebuah artikel yang  membeberkan bahwa Joko Widodo (Jokowi) dalam menghadapi pemilu 2019 memiliki kelemahan besar dalam hal ekonomi.

Artikel yang berjudul “Indonesia’s Economics growth is being held back by populism” mengatakan jika Jokowi masih belum dapat merealisasikan janji kampanye pada 2014 silam terkait ekonomi.

The Economist mengungkapkan selama masa kampanye 2014 Jokowi berjanji untuk memberikan pertumbuhan PDB sebesar 7 persen per tahun pada akhir masa jabatan pertamanya. Namun kenyataannya pertumbuhan hanya mampu merangkak sekitar 5 persen sejak menjabat.

baca juga:

Selain itu, prospek untuk 2019 terlihat tidak lebih baik, terutama karena Bank Indonesia (BI) yang telah menaikkan suku bunga enam kali dalam sembilan bulan terakhir untuk menahan penurunan dalam mata uang.

Bahkan, media itu juga mengungkapkan bahwa janji Jokowi 2014 sebenarnya realistis dengan faktor demografi yang menguntungkan sekitar setengah dari 265 juta orang lebih muda dan tingkat tabungan nasional biasanya di atas 30 persen dari gdp.

Dari sisi sejarah perekonomian, Indonesia terbilang tumbuh lebih cepat dari 7 persen setahun sebelum krisis keuangan Asia tahun 1997.

Namun, media itu mengatakan tidak tercapainya 7 persen tersebut bukan salah Jokowi sepenuhnya. Penyebabnya pertama diantaranya tenaga kerja yang tumbuh kurang cepat daripada di tahun 1990-an. Kemudian, impor minyak telah lama melampaui ekspornya, meskipun tetap menjadi eksportir komoditas secara umum. Selain itu, sektor industri dan manufaktur yang semakin melemah merupakan alasan utama.

Sementara itu, pasalnya sejak 1997 Cina telah menjadi pengaruh yang menentukan terhadap perekonomian Indonesia, baik sebagai konsumen sumber daya yang melimpah dan pesaing dalam industri manufaktur. Kenaikan masif Cina memacu harga komoditas dari tahun 2003 hingga 2011 mampu menjatuhkan pabrikan pesaing di berbagai negara berkembang.

Hal itu pun disebut berkontribusi pada apa yang oleh para ekonom disebut sebagai "deindustrialisasi dini" di Indonesia.

Adapun ketika Jokowi menjabat, Bank Dunia menghitung bahwa tingkat pertumbuhan potensial Indonesia adalah 5,5 persen. Cara terbaik untuk meningkatkan jumlah itu adalah dengan menghidupkan kembali sektor manufaktur, meniru negara-negara Asia lainnya dengan menjadi bagian dari rantai pasokan global.

Akan tetapi banyak sekali masalah yang menghadang, terutama masalah kebijakan yang berkaitan asing sangat tidak populis di Indonesia sehingga harus diperbaiki.

The Economist juga memperhatikan kebijakan emas Jokowi yakni infrastruktur. Menurut artikel tersebut sektor infrastruktur belum maksimal karena listrik yang mahal dan transportasi yang lambat membuat beberapa proyek terhambat.

Namun Jokowi berusaha memperbaiki masalah itu dengan menggelontorkan USD323 miliar  (32 persen dari gdp) untuk mengatasi ini serta mengurangi subsidi bahan bakar. Dia juga membangun bandara baru, pelabuhan laut dan pembangkit listrik, serta 3.258 km rel kereta api dan 3.650 km jalan pada tahun 2022. Untuk mempercepat kemajuan, pemerintah juga mempermudah pengadaan tanah wajib.

Tetapi dalam anggaran tahun lalu Jokowi berubah arah. Pengeluaran untuk subsidi energi melonjak 69 persen dan pertumbuhan belanja infrastruktur melambat hingga membuat pembangunan infrastruktur mengandalkan perusahaan milik negara. Pemerintah juga  menginginkan 37 persen pendanaan berasal dari sektor swasta.

Selain itu, dalam pemerintahan Jokowi investasi langsung asing atau FDI juga dirasa masih kurang yang menyebabkan kurangnya manufaktur dan tenaga kerja.

OECD yang merupakan sebuah organisasi perdagangan, melihat aturan investasi langsung asing (FDI) di 68 negara kaya dan berpendapatan menengah. Ditemukan bahwa Indonesia memiliki rezim  yang paling ketat, maka tidak heran jika FDI sebagai bagian dari GDP adalah salah satu yang terendah di Indonesia.

Terlebih pembatasan impor menambah harga barang modal impor, seperti alat berat manufaktur dan konstruksi untuk infrastrukur hingga membuat biaya produksi jelas meningkat.

Kemudian masalah Jokowi lainnya adalah sampai saat ini angkatan kerja Indonesia juga dianggap belum memiliki kualifikasi yang baik dan harga tidak menarik bagi manufaktur. Para pemimpin bisnis juga mengeluh tentang kurangnya pekerja terampil Indonesia. Standar pendidikan rendah, meskipun ada hukum yang memaksa pemerintah membelanjakan seperlima dari anggarannya untuk sekolah.

Tenaga kerja lokal Indonesia juga dianggap mahal. Pasalnya, sebuah survei terhadap perusahaan-perusahaan Jepang oleh Organisasi Perdagangan Eksternal Jepang menunjukkan bahwa upah pekerja manufaktur Indonesia 45 persen lebih tinggi daripada  di Vietnam. Hal tersebut seiring dengan meroketnya upah minimum yang ditetapkan oleh pemerintah daerah yang sengaja untuk memenangkan pemilu.

Akibatnya,  upah rata-rata tumbuh dari 60 persen pada 2008 menjadi sekitar 90 persen pada 2018, menurut Ross McLeod dari Australian National University.

Disisi lain,  permasalahan perekrutan yang mendorong pekerja ke sektor informal hingga mengakibatkan perusahaan mengabaikan aturan. Untuk menghentikan permasalahan ini, maka pemerintah pusat membatasi kenaikan upah minimum pada 2015.

Walaupun dari segi ekonomi terbilang masih lemah, tetapi The Economist masih meyakini jika Jokowi adalah kandidat terbaik Indonesia. Namun dalam periode kedua Jokowi, kenaikan 7 persen dirasa masih belum dicapai karena 2019 merupakan tahun yang suram dan penuh tantangan bagi rezim pemerintahan Indonesia.[]

Editor: Prabawati Sriningrum

Sumber:

berita terkait

Image

Ekonomi

Misbakhun Pastikan RUU Pertembakauan Dibahas Lagi Usai Pemilu

Image

News

7 Potret Seru Kahiyang Ayu Bercengkerama dengan Buah Hati

Image

News

KPU: TKN dan BPN Setuju Debat Kemarin Jadi Acuan untuk Debat Berikutnya

Image

News

8 Gaya Kampanye Bertrand Antolin, dari Sosialisasi Pemilu sampai Bancakan

Image

News

Kenaikan Gaji Bentuk Kepedulian Pemerintah terhadap Kesejahteraan PNS

Image

News

FOTO Jokowi Jajal MRT Rute Bundaran HI Hingga Lebak Bulus

Image

News

INFOGRAFIS Jadwal Kampanye Akbar Pemilu 2019

Image

News

Jokowi Minta Kepala Daerah di Jabodetabek Integrasikan Trasportasi

Image

News

Mantan Jubir Gus Dur Kritik Kartu Sakti Jokowi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Merger Deutsche Bank dan Commerzbank Buat Pengangguran di Jerman Melonjak

Setelah pengumuman rencana penggabungan Deutsche Bank dan Commerzbank, serikat pekerja Jerman merasa khawatir kehilangan pekerjaan.

Image
Ekonomi

Indonesia-Jepang Rundingkan Kebutuhan Pekerja Asing di Jepang

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menerima kunjungan Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Perindustrian (METI) Jepang.

Image
Ekonomi

Menteri Rini: BUMN Untung Rp188 Triliun di 2018

BUMN di Indonesia mampu meraih keuntungan sebesar Rp188 triliun pada 2018 melampaui target selama lima tahun hingga 2019.

Image
Ekonomi

Proposal Brexit May Memicu 'Krisis Konstusional'

Proposal Brexit May pada Parlemen Memicu "Krisis Konstusional".

Image
Ekonomi

Berita Populer Sandiaga Sesumbar Selesaikan Masalah BPJS Kesehatan dalam 200 Hari hingga Bank Mandiri Bakal Akuisisi Dua Bank

Akurat.co telah memilih lima berita pilihan edisi Selasa (19/3/2019), untuk menambah wawasan serta informasi kepada pembaca.

Image
Ekonomi
Debat Pilpres 2019

Janji Sandiaga Selesaikan Masalah BPJS Kesehatan dalam 200 Hari, Mustahil!

Timboel Siregar mengatakan tidak mungkin janji Sandiaga dapat menyelesaikan masalah defisit BPJS yang memiliki masalah yang kompleks.

Image
Ekonomi

Pemerintah Cairkan Rp2,66 Triliun Untuk Rapel Kenaikan Gaji PNS

Pemerintah akan mencairkan anggaran Rp2,66 triliun pada April 2019 untuk membayar rapel kenaikan gaji PNS periode Januari-April 2019.

Image
Ekonomi

KKP Lepasliarkan Dugong di Sorong Papua Barat

Pelepasliaran 1 ekor dugong berukuran panjang 51 cm dan lingkar badan 32 cm dilakukan untuk melindungi spesies yang sudah terancam punah.

Image
Ekonomi

BKPM Ajak Investor India Kembangkan Bisnis di Luar Pulau Jawa

BKPM mengajak berbagai investor dari India untuk tidak hanya memusatkan diri berinvestasi di Pulau Jawa.

Image
Ekonomi

Pengen Hemat Saat Menganggur, Lakukan 5 Hal Ini

Karena uang tabungan kita pasti terus menyusut selama belum ada pemasukkan dari penantian pekerjaan yang dilamar.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Irwandi: Saya Tidak Lari dari Penjara, Tapi Penjara Lari dari Saya

  2. Makan Sedikit Tapi Kok Tambah Gemuk? Begini Penjelasannya

  3. Pengamat Pajak: KTP dan NPWP Jika Dikawinkan Akan Sangat Dahsyat

  4. Empat Fakta Pernyataan Sandi yang Disorot hingga Fadli Zon Diperiksa Bawaslu DKI

  5. Denny Siregar: OK OCE Sandi seperti Konsep Khilafah

  6. Pengamat Kebijakan Publik Sebut Praktik Korupsi Romy Sangat Tradisional

  7. Jadi Indro Warkop, 10 Pesona Randy Danistha yang Memukau

  8. Survei Policawave: Ma'ruf Amin Menang Mutlak dari Sandiaga

  9. Mulai Berlatih di Hanoi Hari Ini, Bagaimana Kekuatan Garuda Muda?

  10. Punya 11 Cucu, 10 Potret Rosy Riady Istri Dato Sri Tahir yang Awet Cantik

Available

fokus

Kisah Juru Pijat Tunanetra
Teror Masjid Selandia Baru
Di Balik Pakaian Bekas Impor
Available

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Cawapres: Perang Kartu Sakti

Image
Ujang Komarudin

Menanti Kejutan di Debat Ketiga

Image
Hendra Mujiraharja

Perez Memalingkan Muka dari Mourinho untuk Zidane

Image
Hervin Saputra

Seberapa Kuat "Tradisi Indonesia" di All England?

Available

Wawancara

Image
Iptek

Sepeda Listrik Jadi Polemik, Migo Beri Jawaban!

Image
Gaya Hidup

Chief Company Barbershop

Jatuh Bangun Chief Barbershop di Tangan Fatsi Anzani dan Oky Andries

Image
Hiburan

Dik Doang: Aku Sedang Berjalan di Kesunyian

Sosok

Image
News

7 Potret Seru Kahiyang Ayu Bercengkerama dengan Buah Hati

Image
News

8 Gaya Kampanye Bertrand Antolin, dari Sosialisasi Pemilu sampai Bancakan

Image
News

5 Fakta Menarik Perjalanan Karier Dede Yusuf, dari Atlet hingga Politisi