image
Login / Sign Up

Kisah Togu, Pebisnis Kopi yang Meraup Untung Besar dari 'Jualan Kopi'

Andre Purwanto

Culinary Network

Image

Togu Panandaditya Siregar, Owner dari JPW Indonesia yang merupakan perusahaan di bidang kopi | AKURAT.CO/ABDUL HARIS

AKURAT.CO Terik sinar matahari mengiringi perjalanan AkuratKuliner yang siang itu, Senin (7/1), menuju bilangan Ampera, Jakarta Selatan. Kondisi jalan yang macet plus bisingnya suara kendaraan bermotor tak jadi penghalang. Pun demikian dengan asap kendaraan yang siang itu seolah tak pernah berhenti mengepul.

Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB. Matahari hampir tepat di atas kepala. Tidak ada kesulitan berarti dalam menemukan tempat yang kami tuju. Petunjuk lokasi digital yang kami gunakan menunjukkan kebolehannya. Kami pun dipandu hingga tujuan.

Nama tempat yang kami tuju itu adalah showroom JPW Indonesia. Bagi penggemar dan pebisnis kopi, nama itu mungkin sudah tidak asing lagi. JPW Indonesia sudah mulai aktif sejak 2012 silam. Fokus pada produksi kopi pilihan dari seluruh Nusantara lengkap dengan packaging-nya. Ada pula barista tools yang dijual secara eksklusif.

baca juga:

Sesampainya di depan showroom, kami sempat heran. Pasalnya, showroom itu tidak seperti showroom pada umumnya. Dari luar, showroom JPW terlihat seperti rumah tinggal. Dan memang, bangunan itu adalah tempat tinggal yang oleh sang empunya dijadikan tempat untuk menjual kopi dan semua keperluannya.

Bangunan bercat dominan putih dengan paduan warna krem kecoklatan itu memilik dua pintu. Satu pintu berukuran kecil, satu lagi pintu garasi yang bisa dilewati kendaraan roda empat. Kedua pintu itu dicat dengan warna hitam.

Kami masuk melalui pintu kecil yang jaraknya tidak jauh dari pintu rumah. Meski kala kami masuk pintu masih tertutup, aroma khas roasting-an kopi menyelinap keluar dan menggoda hidung kami. Untuk sesaat, kami menghirup dan menikmati harumnya kopi yang baru saja keluar dari roaster itu.

Pintu dibuka. Pria berbaju putih menyambut kami. Usut punya usut, ia adalah salah satu pekerja di JPW Indonesia. Pria itu kemudian mempersilahkan kami masuk.

Di dalam, ada tiga set meja dan kursi berbentuk bulat. Kami pun memilih set yang tengah.

Tak lama kemudian, sesaat setelah datangnya suguhan kopi latte, sang pemiliki showroom datang. Seperti pria sebelumnya, dengan ramah ia mempersilahkan kami kembali duduk dan mencicipi kopi yang masih fresh itu.

Ia memperkenalkan diri. Namanya Togu Panandaditya Siregar. Lahir di Pekalongan, 4 Juli 1985. Siang itu, ia mengenakan T-shirt hitam dan celana panjang berwarna senada. Sesekali, ia mengulas senyum.

“Saya memulai bisnis kopi ini awalnya tidak sengaja,” katanya mengawali percakapan.

Togu Panandaditya Siregar. AKURAT.CO/ABDUL HARIS

Dulu, Togu bercerita, sempat mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang IT. Tepatnya tahun 2008. Kala itu ia masih kuliah di Bina Nusantara.

“Nah, waktu itu kita mendirikan JPW, singkatan dari Jasa Pembuatan Website. Nama itulah yang sekarang kita pakai. Enggak nyambung kan namanya,” ungkap Togu sambil melepas tawa.

Suatu ketika, kala masih menerima jasa pembuatan website, Togu mendapat klien yang minta dibuatkan online shop. Tidak hanya tampilan web, Togu juga diminta menangani marketing-nya. Dan dugaan kami tepat, online shop tersebut menjual kopi yang kemudian membuat Togu tertarik menggeluti bisnis serupa.

Seiring waktu berjalan, Togu melihat ada peluang bisnis. Mulailah ia memutar otak. Satu demi satu kendala ia singkirkan. Pengetahuan tentang bisnis kopi yang masih minim dan modal yang cekak, baginya, bukan soal. Ia bersikukuh untuk banting stir dari bisnis di bidang IT ke ‘jualan kopi’.

Usaha jasa pembuatan website, menurutnya, masih menguntungkan. Namun, ada satu hal yang membuatnya harus meninggalkan usaha yang sudah empat tahun digeluti itu.

“Nggak tahan akan pressure-nya yang tinggi. Kerja di bidang IT itu tingkat stresnya sangat tinggi. Jadi, gue memutuskan harus beralih,” aku pria bertinggi badan 185 cm ini.

Modal Rp10 Juta

Tahun 2012, Togu memulai petualangan di dunia perkopian. Sadar masih newbie alias pemula, Togu mencari partner. Ia berkongsi dengan salah satu rekannya.

“Tapi enggak lama. Dan gue sadar bahwa untuk bisnis itu lebih baik sendiri. Dan memang enakan sendiri. Untung ruginya ditanggung sendiri. Mau marah, ya, marah pada diri sendiri aja,” bebernya seraya menghela nafas panjang.

Setahun berselang, ia murni bekerja sendiri. Tahun pertama ‘bersolo karir’, pria yang gemar olahraga basket ini mengoptimalkan ketersediaan modal yang ada.

JPW Cafe & Showroom, di Depok. AKURAT.CO/Chodijah Febriyani

“Waktu itu gue cuma punya modal Rp10 juta. Gue belanjain roaster kecil yang sederhana, mesin sealer dan beberapa kilogram biji kopi. Selebihnya untuk beli domain dan space. Gue pasarin kopi yang dikemas secara elegan tersebut dengan cara online,” kenangnya.

Kopi pertama yang ia jual adalah kopi luwak. Kopi tersebut, katanya, sangat digemari dan memiliki pangsa pasar yang besar di luar negeri. Paling sering, ia menjual kopi luwak kemasannya ke Rusia dan Belanda. Sesekali, ada pembeli yang berasal dari Amerika dan Cina.

Di dalam negeri justru aneh. Penjualan packaging alias kemasan jauh lebih tinggi dibanding penjualan kopinya. Kontan, penjualan kemasan dan jasa pengemasan menjadi core bisnis Togu.

“Waktu itu malah banyak yang tertarik pada pengemasannya. Mereka bilang kemasannya bagus dan sesuai standar penyimpanan kopi. Jadilah kita menerima order kemasan dan pengemasan,” katanya.

Untuk memenuhi permintaan pasar, Togu sempat mengimpor langsung bahan-bahan kemasan kopi dari India. Lantaran mempelajari seluk-beluk pengemasan kopi dengan seksama, Togu sudah bisa membuat sendiri kemasan kopi yang sesuai standar penyimpanan.

“Itulah gunanya saya punya mesin sealer. Bisa buat jasa pengemasan juga. Mau beli kemasannya saja silahkan. Sekalian dikemas dan dilebeli sesuai brand si pemesan juga boleh,” selorohnya.

Pria yang pernah berjualan batu akik ini menjual kemasan baik secara grosir maupun retail. Harga retail, baik yang terbuat dari kertas atau plastik lengkap dengan alumunium foilnya dibandrol mulai dari Rp5 ribu per-piece.

Menjual kopi maupun kemasannya secara retail, menurutnya, jauh lebih menguntungkan. Sebab, dari perspektif bisnis yang ia ketahui, lebih baik punya banyak pembeli retail daripada 1 orang pembeli grosir.

Gue lebih baik menjual 10 kilo kepada 10 orang daripada menjual 10 kilo kepada 1 orang. Sebab, kalau 1 orang pembeli grosir itu enggak beli lagi ke gue maka barang gue bisa dipastikan enggak kejual. Tapi, kalau 1 orang pembeli retail enggak beli, masih ada 9 orang lainnya,” jelasnya penuh semangat.

Mesin roastery yang biasa digunakan untuk memasak kopi ini berkapasitas cukup besar. AKURAT.CO/ABDUL HARIS

Omzet Rp11 Miliar Pertahun

Bisnis di bidang food and beverage adalah bisnis yang menghasilkan untung besar. Hal itupun diamini Togu. Lima sampai enam tahun berjalan dengan cara penjualan online, Togu sudah bisa menghasilkan laba besar.

Sebagai gambaran, pada Desember 2018 lalu, Togo membuka kedai kopi ‘sungguhan’ di Depok. Ia hanya butuh 5 tahun untuk memiliki kedai kopi pribadi.

“Kalau di sini kan cuma showroom, cuma fokus pada penjualan online. Nah, yang di Depok itu baru namanya kedai. Dan saya mengumpulkan dana untuk bisa membeli lahan, bangunan dan fasilitas untuk kedai tersebut. Dan itu salah satu cita-cita saya yang belum lama lalu udah kesampaian,” ungkap pria beranak tiga ini.

Gambaran lain dari kesuksesan Togu adalah jumlah average penjualan kopi kemasan perbulan yang terbilang fantastis.

“Sebulan, gue bisa menjual 700-900 kilogram. Itu untuk penjualan online aja ya. Dan growth profit pertahunnya mencapai 20%,” katanya sumringah.

Togu optimis, keuntungan bisnis kopinya masih akan terus bertambah. Apalagi kini ia membuka kedai yang notabene menjadi unit usaha yang menghasilkan secara sustainable.

“Tahun ini, baru dari hasil penjualan online saja, gue sudah bisa menghasilkan omzet Rp11 miliar. Gue yakin, bisnis ini masih terus berkembang,” ungkapnya optimis.

 

 Togu: “Kalau gue cuma satu sih, konsisten”

Togu menjalani bisnisnya hanya dengan satu prinsip, konsistensi. Ya, cara itu benar-benar memberi dampak positif bagi usahanya. Laba yang besar, kepuasan klien hingga membuka lapangan pekerjaan baru adalah buah dari konsitensi. Nah, berikut tanya jawab singkat dengan pria yang menjadi owner dan founder JPW Indonesia ini.

Jujur, apakah kamu awalnya penggemar kopi?

Bukan. Gue bukan penggemar kopi. Tapi, karena saat ini gue bisnis kopi, mau nggak mau gue harus tahu rasa dan semua hal yang berhubungan dengan kopi.

Apa kiat dan filosofi kamu dalam mengembangkan bisnis kopi?

Kalau gue cuma satu sih, konsisten. Konsistensi itu sejak awal ya. Kalau jualan kopi, ya, mulai dari biji kopinya, pengolahannya, pengemasannya sampai penjualannya. Semua harus diperhatikan agar yang sampai ke pelanggan benar-benar yang terbaik.

Bagaimana kamu menjaga konsistensi?

Sekali waktu gue langsung mendatangi hulunya, dalam hal ini ke petani kopinya langsung. Bahkan, belum lama lalu, gue ke Papua dan melakukan negosiasi sendiri untuk benar-benar mendapatkan biji kopi. Gue juga sangat memperhatikan alat-alat yang digunakan. Peralatan juga termasuk bagian penting dari sebuah kopi yang ‘mewah’.

Kami lihat di showroom, kamu juga menjual mesin espresso.

Setelah komplit menjual kopi, dari yang masih green bean, yang sudah di-roaster, hingga yang sudah jadi bubuk, gue tetap aja dapat pertanyaan. Eh, ada enggak kemasannya doang? Setelah itu ada lagi yang nanya, eh ada nggak mesin espresso-nya? Kan, kalau jadi pedagang, kita harus bisa menjawab semua itu. Kita sekarag bahkan menyewakan mesin espresso buat yang ingin mengadakan event atau acara yang sifatnya occasional.

Selain menjual kopi, JPW Indonesia juga menjadi distributor resmi Izzo, produk Barista Tools asal Italia. AKURAT.CO/ABDUL HARIS

Apakah bisnis kopi termasuk bisnis dengan resiko tinggi? Bagaimana cara mengatasinya?

Bisa ya bisa tidak. Kesegaran kopi yang sudah di-roaster bisa dipastikan hanya sebulan. Itupun dengan kemasan yang terbaik. Kalau kemasannya buruk, ya, kurang dari itu. Soal resiko, kita sudah bisa antisipasi. Kita udah paham betul berapa banyak kopi bubuk yang bisa kita jual selama sebulan.

Apakah JPW Indonesia punya rahasia racikan sendiri?

Ya. Tapi itu sangat sederhana. Dan sepertinya itu bukan rahasia. 70 persen Arabica, 30 persen Robusta. Itu saja. Selebihnya, kita mengandalkan konsistensi pada produksinya seperti berasal dari biji pilihan, penggunaan roaster terbaik, hingga pengemasannya yang elegan. Dan balik lagi, jaga konsistensi!

Punya pengalaman unik atau yang tidak mengenakan selama menjalani bisnis?

Hmm… ada tapi gue anggap biasa. 2016 lalu, saya beli mesin roaster. Tapi, ketika sampai, barang yang diinginkan tidak sesuai ekspektasi. Itu pelajaran buat gue. Dan gue belajar, bahwa apapun tetap harus dilakukan sendiri selama itu penting dan urgensinya terhadap bisnis besar. Gue dulu juga pernah ditipu sama produsen kopi di sebuah daerah. Gue udah bayar cash tapi selalu dikirim biji kopi yang udah lama dan kutuan.

JPW Indonesia dalam bentuk kedai kopi yang resmi beroperasi pada Desember 2018. AKURAT.CO/Chodijah Febriyani

Editor: Andre Purwanto

Sumber:

berita terkait

Image

Gaya Hidup

Suasana Pekat Ibukota Jakarta, Kental di Kedai Ini

Image

Gaya Hidup

Baru! Ada Kopi Rasa Bir

Image

Gaya Hidup

Menggoda, Ada Es Kopi Susu Tante Nih! Mau Coba?

Image

Gaya Hidup

Tidak Selalu Pahit, Ini Beberapa Jenis Kopi yang Ringan Diminum Perempuan

Image

Gaya Hidup

Ada Kopi Pakai Gula Aren, Penasaran Rasanya?

Image

Gaya Hidup

Ada Loh Kopi Biji Kurma, Enak dan Sehat Juga!

Image

Gaya Hidup

Rasanya Creamy, Es Kopi Susu Kultur Cocok Buat yang Cantik

Image

Gaya Hidup

Lebih Enteng, Kopi Cold Brew Ini Pas untuk Perempuan

Image

Gaya Hidup

Tak Pakai Gula Aren, Cobain Racikan Es Kopi Susu di Kopiola

komentar

Image

2 komentar

Image
Juno Arifin

nekat juga ya dia banting stir

Image
Resta Apriatami

mantap gan

terkini

Image
Ekonomi

Jelang Debat Pilpres Ke-2: Isu Pangan akan Memanas, Ekonom Ingatkan Kedua Paslon Capres Berhati-Hati Semasa Populisme Kampanye

Image
Ekonomi

Bupati Lamandau Layangkan Surat Cinta ke Dubes Malaysia Soal Tunggakan Koperasi

Tunggakan itu kan menyangkut hajat hidup ribuan masyarakat tergabung di sembilan koperasi.

Image
Ekonomi

Jokowi Kunjungi Rusun Pondok Pesantren Darul Arqam, Santri: Saya Pikir Ini Seperti Hotel

Image
Ekonomi

Pemerintah Sediakan 100.970 Listrik Rumah Tangga di Jawa Barat

Pemberian sertifikat sambungan listrik gratis kepada 30.937 rumah tangga tidak mampu di Kabupaten Garut.

Image
Ekonomi

Soal Utang, Anggota BPK Achsanul Sayangkan BUMN Tidak Memiliki Investment Company yang Kuat

Image
Ekonomi

Gun Romli Sindir Prabowo Soal Gaji Gubernur Disangkutpautkan dengan Luas Wilayah: Haiti-Haiti Jangan Bohong Terus

Image
Ekonomi

Sambut Debat Pilpres ke-2, Ini Harapan Pengamat Energi

Persoalan terkait ketahanan energi nasional bisa diselesaikan.

Image
Ekonomi

KEK Singosari Diharapkan Dorong Perekonomian Malang Raya

Rencana pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singosari diharapkan mampu mendorong perekonomian wilayah Malang Raya.

Image
Ekonomi

Kebijakan Bagasi Pesawat Buat Penjualan Oleh-oleh UMKM Batam Merosot 40 Persen

Pelancong maupun warga kota yang bepergian menggunakan pesawat jadi berfikir ulang untuk membawa oleh-oleh.

Image
Ekonomi
Ekonomi Ala Jokowi Vs Prabowo

Tim Pemenangan Harus Tawarkan Paket Ekonomi Model Ini, Agar Bisa Gaet Generasi Milenial

Para kandidat capres secara substansi belum menyentuh pokok-pokok persoalan yang dihadapi oleh generasi milenial.

trending topics

terpopuler

  1. Puji Jawaban Joko Widodo di Debat Pilpres 2019, Tompi Matikan Kolom Komentar

  2. Dibebaskan Jokowi, Abu Bakar Ba'asyir Pilih Habiskan Waktu Bersama Keluarga

  3. Kehidupan Baru Rahaf al-Qunun, Wanita Arab Saudi yang Kabur dari Keluarga

  4. Masuk ke Mesin Daur Ulang Plastik, Hanya Bagian Kaki yang Tersisa dari Pria Ini

  5. Media Australia: Debat Calon Presiden Indonesia seperti Robot

  6. Debat Pilpres Perdana Usai, Nafa Urbach Ingatkan Masyarakat Tetap Damai

  7. Lupa Copot Plat Nomor Korban Sebabkan Dua Pelaku Pencurian Ditangkap Polisi

  8. BPJS Kesehatan : Banyak Masyarakat Indonesia Hanya Mampu Bayar Iuran Kelas Tiga

  9. Marak Ritel Terpuruk, IKEA Tawarkan Promo Produk Hingga 70 Persen

  10. Terkenal Konyol, 10 Komedian Wanita Ini Ternyata Bisa Tampil Anggun

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Meneropong Debat Perdana Pilpres 2019

Image
Ujang Komarudin

Hantu Debat Perdana

Image
Ahada Ramadhana

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image
Achmad Fachrudin

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Wawancara

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Image
Hiburan

Ternyata Egi Fedly Inisiator Konser Musik Gratis untuk Umum di IKJ

Image
Hiburan

Sisi Lain di Balik Wajah Seram Egi Fedly

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

Image
Hiburan

Debat Pilpres 2019

10 Fakta Ira Koesno, Moderator yang Curi Perhatian di Debat Capres

Image
Ekonomi

Ekonom Tony Prasetiantono Meninggal Dunia, Rizal Ramli dan Chatib Basri Kenang Masa Debat