image banner ramadan
Login / Sign Up

Investasi di Dalam Negeri Tetap Menggiurkan, Meski Suku Bunga The Fed Naik

Denny Iswanto

Image

AKURAT.CO, Indonesia diprediksi akan dibanjiri oleh dana asing setelah mendapatkan predikat investment grade atau layak investasi yang diberikan oleh lembaga pemeringkat Standard & Poor (S&P).

Dengan didapatkan predikat investment grade dari tiga lembaga rating internasional yaitu S&P, Fitch, dan Moody's, maka obligasi Indonesia diperkirakan akan semakin tumbuh dan sangat menarik di mata investor asing.

Analis Fix Income Mandiri Sekuritas Handy Yunianto, saat ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (30/5) mengatakan raihan positif dari ketiga lembaga pemeringkat tersebut sangat berdampak pada obligasi, hingga akhir Mei obligasi Indonesia sudah tumbuh di kisaran 8,5% dan merupakan pencapaian yang baik.

baca juga:

"Yang perlu diperhatikan adalah, Bank Indonesia (BI) supaya tidak menaikkan suku bunga acuan untuk mempertahankan posisi ini," harap dia agar Bank Indonesia mampu melihat kondisi ini juga.

Yunianto mengungkapkan, dengan capaian predikat tersebut diprediksi aliran modal masuk akan terus meningkat dan memberikan kinerja yang positif ke obligasi atau surat utang.

"Saat ini obligasi Indonesia masih positif, yield-nya juga lebih menarik," ujar Handy.

Adapun per 29 Mei, yield obligasi Indonesia tercatat masih 6,95% atau lebih tinggi dibandingkan negara Asia lain seperti India (6,66%), Vietnam (6%), Filipina (5,16%), Malaysia (3,87%), China (3,75%), Thailand (2,63%), Singapura (2,12%), Hong Kong (1,32%) dan Jepang (0,04%).

"Yang perlu diwaspadai adalah resiko global di tengah politik pemilihan umum di sejumlah negara Eropa, Brexit (British Exit), devaluasi China Yuan, Peningkatan Fed Fund Rate (FFR) dan depresiasi nilai tukar," pungkasnya.

Kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed memang selalu mempengaruhi perekonomian domestik Indonesia dikarenakan AS merupakan salah satu negara digdaya dalam ekonomi dunia.

Bank Indonesia (BI) sebagai regulator untuk menjaga kondisi perekonomian makro memprediksi The Fed akan kembali menaikkan suku bunga acuan pada bulan Juni nanti dan dikhawatirkan akan mengganggu aliran dana asing karena likuiditas akan semakin ketat.

Apabila hal tersebut terjadi maka hal ini akan menjadi kenaikan untuk yang kedua kalinya pada 2017 setelah The Fed menaikkan suku bunganya pada Maret 2017 lalu sebesar 25 basis poin.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai kenaikan suku bunga acuan The Fed tersebut tidak akan mempengaruhi aliran modal masuk ke Indonesia yang bisa melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

"Meskipun FFR (Fed Fund Rate) naik, tidak akan mempengaruhi ke capital outflow dan volatilitas pada rupiah," kata Andry dalam paparan Macroeconomic Outlook di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (30/5) kemarin.

Andry menilai tidak terpengaruhnya aliran modal keluar atau capital outflow dari Indonesia karena rating investment grade yang didapatkan

Indonesia dalam beberapa waktu lalu oleh lembaga pemeringkat Standard and Poor (S&P).

"Risikonya kecil untuk aliran modal keluar, karena interest rate kita lebih rendah dibandingkan rata-rata, sekarang nominalnya di 4,8%," imbuhnya.

Karena kondisi perekonomian Indonesia yang cukup stabil pada tahun ini, dia juga yakin bahwa rupiah tidak akan melemah dan menyentuh titik terbawah karena pengaruh kebijakan The Fed.

"Rupiah tahun ini tidak akan melemah sampai menyentuh Rp 14.000 per dolar AS," tandasnya.

Dalam keterkaitan itu, pengaruh kenaikan suku bunga AS terhadap instrumen investasi di bursa efek, tidak terlalu berimbas terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

IHSG justru mendapatkan sentimen yang positif, hingga mencapai titik tertinggi dalam sejarah pasar saham di Indonesia.

Analis Equity Market Mandiri Sekuritas, Adrian Joezer, saat ditemui di Plaza Mandiri, Jakarta, Selasa (30/5) kemarin juga optimistis IHSG bisa terdongkrak ke level 6.100 di akhir tahun 2017 karena tren positif yang diamatinya yang didukung pertumbuhan pendapatan emiten serta pertumbuhan fiskal dan konsumsi yang positif.

"Sejak awal tahun hingga sekarang (year to date) IHSG sudah tumbuh 7-8%. Sementara itu, IHSG tahun lalu ditutup pada level 5.297. Secara fundamental ekonomi kita masih kuat, apalagi pertumbuhan pendapatan emiten tahun ini mencapai 18%," ujar Adrian.

Dia menjelaskan bahwa pendapatan emiten kuartal pertama di tahun 2017 perbankan tetap meraup hasil yang paling besar mencapai Rp 19,59 triliun atau tumbuh 17% (year-on-year/yoy), barang konsumsi Rp 14,37 triliun, dan telekomunikasi Rp 12,03 triliun

"Sementara untuk pertumbuhan fiskal, pendapatan negara sepanjang Januari dan Februari 2017 mencapai Rp 170 triliun atau tumbuh 8,9% yoy dibanding periode sama tahun lalu sebesar Rp 156 triliun," papar dia.

Adrian juga merekomendasikan untuk fokus pada saham di sektor konsumer, bank dan telekomunikasi mengingat kondisi yang telah dijelaskan di atas.

Adapun saham-saham yang dipilih Mandiri Sekuritas di antaranya adalah Gudang Garam (GGRM), Indofood (INDF), Ace Hardware (ACES), Mitra Adi Perkasa (MAPI), Surya Citra Media (SCMA), Telkom (TLKM), Wijaya Karya (WIKA), Bank BRI (BBRI), Bank BTN (BBTN), dan Ciputra (CTRA). []

Editor: Juaz

berita terkait

Image

News

Istrinya Diakui Sebagai Istri Orang Lain, Jadi Alasan Bahar bin Smith Aniaya Dua Remaja

Image

News

Bahar Smith Akui Lakukan Pemukulan dan Suruh Dua Korban Berkelahi

Image

News

Pemilu 2019

Soal Ketidakpuasan Hasil Pilpres, ICMI: Mari Hormati Proses Hukum yang Berlaku

Image

Iptek

Gunakan BBG, GrabBajay Dukung Program Langit Biru Pemerintah

Image

Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar

Image

News

Aksi 22 Mei

Mahfud MD: Prabowo Tempuh Jalur Hukum, Bukan Jalur Jalanan

Image

Video

VIDEO Sasaran Kerusuhan, 10 Mobil Hangus Terbakar

Image

Ekonomi

China Desak Anggota SCO Tingkatkan Kerja Sama Hadapi Ketidakstabilan Global

Image

Ekonomi

Indepth

Permasalahan Neraca Perdagangan yang Tak Kunjung Kelar

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ekonomi

Korsel Butuh 8.000 TKI dan Bakal Digaji Rp21 Juta, Tertarik Melamar?

Pemerintah Korea Selatan tengah membutuhkan delapan ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) untuk tahun 2019 yang akan ditempatkan bekerja di berb

Image
Ekonomi
Indepth

Ide Soekarno, Diresmikan Soeharto, Kini Masjid Istiqlal Direnovasi Oleh Jokowi

Direktorat Jenderal Cipta Karya akan melakukan renovasi terhadap salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal.

Image
Ekonomi

Rintangan Ekonomi Ini Akan Menghadang Jokowi Pasca Menang Pemilu Lagi

Pengembangan Infrastruktur telah menjadi ciri khas dari konsep Presiden Jokowi.

Image
Ekonomi
Roda Ekonomi Ramadan

Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar

Ahmad bin Hanbal menginginkan agar hukum mencegah monopoli dan praktek yang tidak menyenangkan lainnya.

Image
Ekonomi

Tingkat Pengunjung Grand Indonesia Menurun Drastis Terimbas Aksi Demo

PT Grand Indonesia memperkirakan tingkat pengunjung ke mal Grand Indonesia saat aksi massa 22 Mei mengalami penurunan drastis. "Mungkin me

Image
Ekonomi

Menakar Program Infrastruktur Pasca Jokowi Terpilih Lagi

Pada tahun 2019 pemerintah mematok angka belanja modal di level Rp180 triliun.

Image
Ekonomi

China Desak Anggota SCO Tingkatkan Kerja Sama Hadapi Ketidakstabilan Global

Menghadapi ketidakstabilan dan ketidakpastian di dunia, para anggota Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) harus meningkatkan kerja sama.

Image
Ekonomi
Indepth

Permasalahan Neraca Perdagangan yang Tak Kunjung Kelar

Adapun dalamnya defisit neraca perdagangan ini lebih disebabkan oleh neraca migas yang juga mencatatkan defisit migas sebesar USD1,49 miliar

Image
Ekonomi

Jalan Tol Jadi Alasan Maskapai Kurangi Pengajuan Tambahan Penerbangan

Jumlah pengajuan tambahan penerbangan di bandara AP I hanya 1.628 atau menurut drastis dibanding tahun lalu yang tercatat 5.245 penerbangan.

Image
Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi 5,6 Persen di 2020, Core: Kalau Tidak Ada Terobosan Sulit!

Secara realistis di tengah melemahnya dimensi ekonomi global, maka pertumbuhan 5,6 persen sangat sulit tercapai.

Available

trending topics

Available

terpopuler

  1. Berburu Kuliner di Festival Ramadan Nusantara di Depok

  2. Pemerintah Batasi Akses Sosial Media untuk Tangkal Hoaks, Tompi: Itu Smartmove

  3. Ustaz Abdurrahim: Saya Sebenarnya Sudah Muak Seperti Ini, Saya Tadi Salat Tarawih Kena Gas Air Mata, Gak Enak

  4. Jadi Minoritas, Ini 10 Selebriti Dunia yang Jalani Puasa

  5. Apa yang Baru dari Xiaomi Mi Band 4?

  6. Vivo Z5x Muncul di GeekBench dengan RAM 8GB dan Android 9 Pie

  7. GMNI: Apapun Alasannya, Tak Dapat Dibenarkan Bila Polisi Menembaki Massa

  8. Kembali Telan Kekalahan, Arema Terdepak ke Posisi Dasar Klasemen Sementara

  9. Perusahaan Baja Inggris British Steel Bangkrut, 25.000 Orang Terdampak

  10. Wanita Membawa Tas Ransel Dekati Petugas: Ibu, Ranselnya Dilepas, Sekali Lagi Dilepas

Available

fokus

Sudut Lain
Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini
Available

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Indonesia Terluka

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Available

Wawancara

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Image
Olahraga

Lidia Anna Krey & Adelaide T Waromi

"Softball Itu Unik, Olahraga yang Punya Passion"

Sosok

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Ahmad bin Hanbal, Penentang Monopoli Pasar

Image
News

7 Potret Menkopolhukam Wiranto Terjun ke Lapangan, dari Bencana Poso hingga Temui Pasukan RI di Lebanon

Image
News

Hangat Banget, 6 Momen Kebersamaan Tutut Soeharto dengan Keluarga