image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Akurat.co. Pernah bekerja untuk Majalah World Soccer Indonesia.

Para Pendekar, Olimpiade, dan Perseteruan Rumpun Melayu

Hervin Saputra

Pencak Silat

Image

Ganda putra cabang olahraga Pencak Silat Yola Primadona dan Hendy saat tampil dalam final nomor Disiplin Seni ajang Asian Games 2018 di GOR Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Senin (27/8/2018). Yola dan Hendy sukses unggul dengan poin 580 poin dari pasangan Vietnam, Duc Danh Tran dan Hong Quan Le di 562 poin dan pasangan Malaysia, Mohd Taqiyuddin Hamid dan Mohammad Afifi Nordin dengan 560 poin. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Empat belas medali emas yang diraih Kontingen Indonesia di cabang pencak silat Asian Games Jakarta-Palembang 2018 telah membuka “babak baru” dalam sejarah olahraga asli dari tanah melayu ini.

Bukan hanya karena 14 emas itu menjadi faktor utama dalam kesuksesan Indonesia mencetak sejarah dengan mengumpulkan 31 medali emas (perhitungan hingga 1 September 2018) sebagai rekor sekaligus menempatkan diri di posisi keempat, juga karena dorongan “kebanggaan Nusantara” untuk membawa olahraga ini ke level yang lebih tinggi seperti olimpiade.

Posisi Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 dan pelopor pencak silat telah pula memainkan “maju-mundur” keinginan untuk membawa olahraga ini ke jenjang dunia. Kejayaan Indonesia di Asian Games telah menguapkan semacam keraguan bahwa dominasi satu negara akan menyulitkan pencak silat berada di olimpiade.

baca juga:

Mungkinkah pencak silat ada di olimpiade?

Pertarungan selama sepekan pada 23-29 Agustus 2018 di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, yang juga Markas Besar Persatuan Silat Antara Bangsa (Federasi Pencak Silat Internasional), bisa menjadi jendela untuk melihat kemungkinan itu.

Asian Games 2018 tak pelak menjadi arena terbesar pencak silat sepanjang sejarah sejak Kejuaraan Dunia pertama digelar di Jakarta pada 1982 dengan sembilan negara peserta.

Posisinya sebagai salah satu bagian dari Asian Games sebagai event multicabang terbesar di dunia setelah olimpiade, telah pula mendorong gemuruh suporter yang membuktikan bahwa olahraga ini memiliki gairah sekaligus akar kultural yang kuat di Indonesia.

Bagi para pesilat dari negara manapun, pengalaman bermain di Indonesia memberikan semacam “masa depan” karena ternyata olahraga ini memiliki konsumen. Sorak-sorai penonton di Padepokan Pencak Silat untuk Asian Games adalah sesuatu yang tidak bisa “dibeli.”

Pada sisi lain, ada semacam “dimensi Asia Tenggara” ketika juara dunia kelas E 65-70 kilogram asal Malaysia, Mohd Al Jufferi Jamari, memutuskan mundur saat pertarungan final menghadapi petarung Indonesia, Komang Harik Adi Putra, bersisa dua menit saja.

Komang Harik Adi Putra (merah) dan Mohd Al Jufferi (biru) Jamari saat bertarung di kelas 65-70 kilogram putra Asian Games 2018. ANTARA/Melvinas Priananda.

Jufferi menganggap wasit tidak memberikan penilaian secara adil dan cenderung memenangkan Komang. Menyusul pengunduran diri itu, Jufferi memukul dinding ruang ganti hingga jebol. Disertai pula dengan tudingan kecurangan terhadap wasit yang memihak Indonesia oleh Sekretaris Jenderal Federasi Pencak Silat Malaysia (Pesaka), Datuk Megat Zulkarnain Omardin.

"Ini yang saya pesankan kepada semuanya. Jangan hanya karena ketamakan, semua cara dihalalkan untuk dapat emas. Kekhawatiran saya adalah soal penilaian orang (juri). Saat ini kan banyak wakil dari OCA (Komite Olimpiade Asia) yang datang, mereka akan lihat seperti apa," ucap Megat Zulkarnain di Padepokan Silat TMII, 28 Agustus silam.

Tuduhan seperti ini bukanlah hal baru ketika kita berbicara tentang multievent dalam regional tenggara Asia. Akan halnya pencak silat, suasana seperti ini kian nyata karena cabang olahraga ini adalah warisan negeri melayu di mana semua negeri ingin menunjukkan supremasinya di Asian Games.

Posisi Jufferi sebagai atlet Malaysia juga mengentalkan perseteruan saudara serumpun. Konflik antara Malaysia dan Indonesia dalam satu dekade terakhir menemui percikan baru di Asian Games 2018.

Kisruh ini seakan membawa pada situasi yang terjadi setahun sebelumnya ketika Malaysia menjadi tuan rumah SEA Games 2017. Kala itu, Malaysia menjadi juara umum pencak silat dengan raihan sepuluh emas, dua perak, dan dua perunggu. Sementara itu, Indonesia berada di posisi ketiga di bawah Vietnam dengan dua emas, empat perak, dan sembilan perunggu.

Lagi, karena digelar di Malaysia, saat itu ofisial Indonesia menuding juri memenangkan tuan rumah. "Sudah dari jauh-jauh hari kami tahu Malaysia akan curang. Kami siap, kami akan tetap tampil, dan kami sudah sampaikan ke mereka bahwa pasti akan dicurangi. Kalau Anda lihat, permainan anak-anak ini jauh lebih bagus dari di kejuaraan dunia di Bali,” ujar Manajer Tim Pencak Silat SEA Games 2017, Edhy Prabowo, saat itu.

Namun, lebih rinci lagi, pernyataan pelatih Tim Pencak Silat Indonesia untuk Asian Games 2018, Abas Akbar, bisa memberi clue untuk melihat polemik yang diwarnai dengan aksi protes Malaysia.

Pelatih Tim Nasional Pencak Silat Indonesia sekaligus mantan juara dunia pencak silat, Abas Akbar. AKURAT.CO/Hervin Saputra.

Di hari terakhir final pencak silat, 29 Agustus silam, Abas menganggap kemarahan Jufferi adalah hal yang biasa dan cenderung personal. Juara lima kali pencak silat SEA Games itu menyebut bahwa Jufferi emosional karena dikalahkan oleh musuh bebuyutannya.

Asal tahu saja, Komang Harik adalah pesilat yang dikalahkan Jufferi dengan skor 5-0 di semifinal Kejuaraan Dunia 2016 yang digelar di Bali. Pada partai puncak, Jufferi mengalahkan atlet asal Thailand, Koibrohem Kubaha.

“Kalau kami sih, itu (insiden pemukulan dinding oleh Jufferi) tidak masalah, itu hanya emosi sesaat. Biasa. Dan kami anggap, (Jufferi) sedikit terguncang jiwa ksatrianya sedikit. Dia juga bilang bahwa atlet Indonesia tidak salah, bagus, memang itu musuh bebuyutan, kalah tipis biasa,” ucap Abas.

Namun, di atas semua itu, kecenderungan bahwa pecahnya dominasi Indonesia dan Thailand di SEA Games sejak 1997 yang ditandai dengan gelar juara menjadi milik negara tuan rumah yang sebelumnya tak pernah juara (Malaysia 2001 dan 2017, Vietnam 2007, dan Filipina 2005), menimbulkan kecurigaan terhadap kredibilitas event. Dengan kata lain, “asalkan tuan rumah, pasti juara.”

Dan karena pencak silat adalah olahraga Asia Tenggara, maka keraguan yang biasa tercium di SEA Games itu menjalar pula ke Asian Games. Sebagai warga negara Indonesia, patutlah kita bertanya pada diri sendiri: benarkah Indonesia curang?

Kebangkitan Indonesia

“Indonesia sedikit lebih bagus dari kami. Bukan mengakui, tapi silat berasal dari Indonesia, budaya asli Indonesia sehingga sejak kecil mereka belajar pencak silat. Tapi sekarang di venue pertandingan itu juga yang menentukan mental," ujar pesilat Thailand peraih perak nomor seni tunggal putra Asian Games 2018, Ilyas Sadara, yang dikalahkan atlet Indonesia, Sugianto.

“Kalau untuk fighting (tarung) harus lebih fair jurinya mana yang poin mana yang enggak poin. Ini tidak bagus untuk pencak silat.”

Pendapat di atas adalah satu dari sejumlah suara negeri asing yang ikut “tersenggol” akibat tudingan kecurangan yang membuat Indonesia menjadi raja pencak silat di Asian Games 2018.

Namun demikian, jika kita ingin melihat sedikit ke belakang, apa yang terjadi di Asian Games 2018 tak lain adalah “kembalinya” supremasi pencak silat ke tanah asalnya. Sebab, dalam data yang bisa ditemukan di internet, dominasi Indonesia justru muncul dalam dua tahun terakhir setelah lebih dari satu dekade tenggelam dalam kekuatan yang relatif baru seperti Vietnam dan Thailand.

Sejak 2007, misalnya, Indonesia tercatat tiga kali menjadi juara umum SEA Games. Di Vietnam 2007, saat itu selisihnya tipis karena Indonesia meraih lima emas berbanding empat emas dari Thailand.

Dan prestasi itu diulangi pada 2011 sebagai tuan rumah SEA Games dengan sembilan emas, lima perak, dan dua perunggu. Yang terakhir terjadi di Myanmar 2013 dengan empat emas, empat perak, dan tiga perunggu. Namun, hanya berselisih satu emas dengan Vietnam di posisi kedua dengan tiga emas, lima perak, satu perunggu.

Sisanya dimenangi oleh Vietnam di Laos 2009 dan Singapura 2013, serta Malaysia pada 2017. Dalam catatan itu, Malaysia menjadi peraih emas terbanyak dalam satu event pada SEA Games 2017 dengan sepuluh medali.

Pencak Silat Baruga di Karimunjawa. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Catatan ini sebenarnya menggambarkan bahwa dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir, persaingan pencak silat kian merata. Namun, bagi para atlet dan staf teknis Indonesia, suasana itu adalah situasi yang memukul sebagai negara asal pencak silat.

Sinyal kebangkitan sesungguhnya terlihat sejak Kejuaraan Dunia di Bali pada 2016. Kala itu, Indonesia merebut 12 emas sebagai juara umum. Diikuti dengan menjuarai Kejuaraan Penang Terbuka 2017 dan Belgia Terbuka 2017.

Sejumlah prestasi itu menjadi alasan bagi Abas Akbar untuk membela timnya dari tudingan kecurangan. Menurut Abas, kesuksesan Indonesia adalah hasil proses panjang sejak 2016 yang ditandai dengan kegagalan mereka di SEA Games 2017.

Alhamdulillah kami diberi pemerintah persiapannya lebih panjang, dan kami fokusnya bukan di SEA Games, tapi di Asian Games. Saya dari pelatih dipanggil, intinya adalah untuk Asian Games, jadi saya berjuang di Kejuaraan Dunia (2016) SEA Games (2017), Penang Open (2017), Belgia Open 2017,” ucap Abas.

Tanpa mengesampingkan objektifitas dan prinsip sportifitas, apa yang disampaikan Abas layak dipertimbangkan. Dalam polemik tuduhan kecurangan yang dilancarkan Malaysia, Abas menunjukkan posisi dengan tegas.

“Maunya bagaimana lagi? Saya kalau anak buah saya kalah, saya mengakui kalah, tapi kalau anak buah saya menang, saya juga harus membela,” kata pemilik empat gelar juara dunia itu.

Masa Depan Pencak Silat

Akan halnya olahraga beladiri lainnya yang telah dimainkan dan akan dimainkan olimpiade (taekwondo, karate, dan wushu), posisi pencak silat tak lain memberikan kebanggaan bagi negara asalnya.

Dengan kata lain, menempatkan pencak silat di Olimpiade akan memberikan “pekerjaan baru” bagi atlet sekaligus mempopulerkan pencak silat ke dunia sebagaimana karate dari Jepang dan taekwondo dari Korea.

Terutama untuk para atlet. Sebagaimana yang dituliskan oleh laman resmi Federasi Pencak Silat Eropa (PESF), bahwa kata pencak silat merupakan “bagian integral kebudayaan kelompok etnis Melayu yang hidup di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam,” maka olimpiade akan memberikan “gengsi” bagi negara-negara melayu sekaligus negeri tetangga yang memiliki kekuatan signifikan seperti Vietnam serta Thailand.

Atlet asal Vietnam, Nguyen Van Tri, usai merebut medali emas pencak silat kelas 90-95 kilogram Asian Games 2018. ANTARA/Melvinas Priananda.

Bagi saya, sekalipun muncul protes seperti yang dilontarkan Jufferi Jamari di Asian Games, sebagai sesama atlet mereka memiliki kebanggaan memainkan pencak silat. Dalam olahraga yang terinstitusionalisasi sejak masa Majapahit menguasai Nusantara (termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam), menjadi “pendekar” berarti melestarikan pula kebudayaan leluhur yang telah dimulai berabad lalu.

Tidak ada lain, atlet adalah ujung tombak untuk menyebarkan olahraga ini ke seluruh dunia. Dalam konteks ini, atlet berarti bukan hanya atlet dari tanah melayu, namun juga dari seluruh dunia.

Dengan kata lain, untuk membawa pencak silat ke olimpiade, maka para pendukungnya harus memiliki sudut pandang yang mendunia. Pencak silat harus dilepaskan dari dimensi perseteruan bau Asia Tenggaranya.

Sejauh ini, tudingan bahwa Indonesia melakukan kecurangan memang tidak bisa dibuktikan. Namun, harapan ke olimpiade bisa diupayakan jika pencak silat menggunakan teknologi untuk meminimalisir kecurangan dan dugaan kecurangan penilaian.

“Jika mereka mau lebih menggunakan teknologi, (penghitungan) ini akan menjadi lebih jelas dan itu akan menjadi keuntungan bagi olahraga ini,” kata Pelatih Tim Nasional Pencak Silat Vietnam, Nguyen Van Thung.

Atlet pencak silat asal Iran di Asia Games 2018, Nazanin Mirmohammadtabaraghouzi. ANTARA/Dewi Nurcahyani.

Selain itu, menurut Presiden Federasi Pencak Silat Asia, Sheik Alaudin Yacoob, olahraga melayu bisa ke olimpiade jika memiliki sekurang-kurangnya 40 negara dengan komite olimpiade dan federasi yang rapi serta terstruktur dari tiga zona.

Sebagai informasi, dalam kejuaraan dunia terakhir di Bali pada 2016, ada 40 negara yang berpartisipasi. Jumlah itu lebih sedikit lima negara dari jumlah partisipan Kejuaraan Dunia 2015 di Phuket, Thailand.

Bagaimanapun, dalam sudut pandang kebudayaan, memperjuangkan pencak silat ke olimpiade bukanlah kebanggaan Indonesia semata, melainkan juga para “pendekar” dari tanah Melayu. Juga membuat wilayah Asia Tenggara mewariskan olahraga nenek moyang mereka sebagaimana Jepang memberikan karate, Korea dengan taekwondo, dan China dengan Wushu.[]

 

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Pencak Silat

Menpora Perjuangkan Pencak Silat Dipertandingkan di Olimpiade

Image

Olahraga

Kejuaraan Pencak Silat Yogyakarta Championship 2018

Euforia Asian Games, Peserta Kejuaraan Silat Junior Membeludak

Image

Asian Games

Andy Zulkarnaen

"Kami adalah Ujung Tombak Syiar Pencak Silat ke Seluruh Dunia"

Image

Asian Games

Asian Games 2018

PDIP: Pencak Silat dalam Panggung Nasional Digelorakan oleh Bung Karno

Image

Asian Games

Pencak Silat

Mengintip Kekompakan Dua "Pasangan Emas" Silat Indonesia

Image

Asian Games

Pencak Silat

Abas Akbar: Atlet Saya Berdarah-darah untuk Asian Games

Image

Asian Games

Pencak Silat

Van Thung: Teknologi akan Membuat Penghitungan Lebih "Clear"

Image

Asian Games

Asian Games 2018

Hadiri Pertandingan, PDIP: Megawati Miliki Perhatian yang Besar Terhadap Pencak Silat

Image

Asian Games

Pencak Silat

Van Tri: Saya Bangga Menang di Tanahnya Pencak Silat

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Honor Penari Pembukaan Asian Games Macet di Sekolah?

"Di mana hak yang seharusnya kami terima setelah pengabdian kami kepada negara?” tulis pengantar petisi hak penari pembukaan Asian Games.

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Wow, Ternyata Begini Kampung Halaman Rusa Maskot Asian Games 2018

Rusa dari Pulau Bawean menjadi maskot Asian Games 2018. Hewan ini tergolong unik. Begitu pula asalnya yang indah.

Image
Asian Games
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Mau Kirim Karangan Bunga pada Atlet? Begini Caranya

Kini, Masyarakat bisa memberikan apresiasi kepada atlet yang meraih medali emas Asian Games 2018 lewat karangan bunga.

Image
Asian Games
Tenis

Christoper Mengaku Tak Menyangka Bisa Bawa Pulang Medali Emas

"Pengurus Pelti kaget, bahkan saya juga kaget, karena kami hanya ditargetkan untuk meraih perunggu."

Image
Asian Games
Asian Games 2018 Jakarta - Palembang 2018

Kerja Keras dan Masa Depan Atlet Indonesia

Kerja keras berhasil membawa atlet Indonesia meraih apa yang menjadi impian mereka dan bangsa Indonesia.

Image
Asian Games
Asian Games 2018 Jakarta-Palembang

Usai Raih Emas di Asian Games, Aldila Punya Mimpi yang Lebih Besar

Persiapan Aldila Sutjiadi menuju Olimpiade Jepang 2020

Image
Asian Games
GoJek

Atlet Indonesia Panen Apresiasi dari Berbagai Pihak

Selain pemerintah, apresiasi juga datang dari perusahaan swasta dan masyarakat Indonesia.

Image
Asian Games
Basket

Ini Upaya Presiden SBP agar Clarkson Bela Filipina di Asian Games

Panlilio terbang ke New York, Amerika Serikat untuk membujuk NBA agar mengijinkan Clarkson bertanding di Asian Games 2018.

Image
Asian Games
Sepak Takraw

Raih Medali Perunggu Asian Games, Lena-Leni Belum Tentu Turun di SEA Games

Lena dan Leni masih belum konfirmasi apakah selanjutnya akan ikut SEA Games 2019

Image
Asian Games
Panjat Tebing

Usai Asian Games, 'Spider Woman' Indonesia Ingin Pecahkan Rekor Olimpiade Tokyo

Aries Susanti Rahayu tengah mengincar rekor waktu tercepat panjat tebing di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang.

trending topics

terpopuler

  1. Usai Menikah Secara Hindu, Berikut Suasana Pernikahan Ajun Perwira-Jennifer Hari Kedua

  2. Kalah Hitung Cepat, 4 Kandidat Presiden Ini Ucapkan Selamat atas Kemenangan Rivalnya

  3. 5 Anak Legenda Sepakbola Ini Coba Ikuti Jejak Sang Ayah, Siapa Bakal Sukses?

  4. Edy Rahmayadi: Siapa Cepat Menghadap Allah, Dialah yang Paling Bahagia

  5. Benarkah Hair Styling Bikin Rambut Rontok?

  6. Ketika Tokoh Tionghoa Pekik Takbir di Acara Syukuran Prabowo-Sandiaga

  7. Media Dilarang Meliput Pidato Prabowo di Acara Deklarasi Kemenangan

  8. Yunarto: Quick Count dan Real Count Abal-abal Akan Terjawab

  9. Bom Paskah Sri Lanka, Istri dan Anak Pelaku Ikut Ledakkan Diri

  10. Tidak Terlihat di TMII, Ternyata Sandi Kawal Penghitungan Suara di Jakarta Selatan

fokus

Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019
Revolusi Museum

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image
Ujang Komarudin

Saatnya Rekonsiliasi

Image
Achmad Fachrudin

Menyikapi Polemik Proses Penghitungan Suara

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

5 Potret Yane Ardian, Istri Wali Kota Bogor Bima Arya yang Curi Perhatian

Image
Hiburan

10 Potret Nadine Kaiser, Anak Menteri Susi yang Bikin Susah Kedip

Image
News

5 Potret Keseruan Sesi Foto Menteri Susi Pudjiastuti saat Dijepret Darwis Triadi